Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Anak Ayam pada Awalnya oleh Martin Aleida

Posted on Ming, 03 Jul 2022

Sudah tua begini. Kaki tinggal setungkai. Ku tak tahu bagaimana aku akan mati. Walau seorang anak kampung sejati, sudah tak mungkin aku memanjat, tergelincir. Tewas terjatuh dari pohon kelapa.

Begitu bangun subuh tadi, aku menemukan ketiga anak ayam, yang ingin kubesarkan, terkapar. Leher patah terkulai. Darah mengering di tenggorokan. Aku percaya mereka bertiga pun tak menyangka seperti itulah nyawa mereka akan dicabut. Berdarah. Terasa perih. Aku merasa punya andil dalam kematian ini, karena membeli mereka dari pasar kemarin. Aku, juga ayam-ayam yang berusia dua minggu itu, sadar bahwa kematian adalah takdir yang tak tahu kapan akan datang. Di mana. Bagaimana.

Sebelum mati, seorang kawanku terlebih dulu kehilangan tanah airnya. Paspornya dicabut. Karena dia hanya setia kepada presiden dari pemerintah yang menyekolahkannya di Eropa. Sejauh-jauh bangau terbang akhirnya akan kembali juga ke sarangnya. Pepatah ini tidak menemukan pembenaran pada dirinya. Karena yang dia hadapi bukan onak dan duri di sarangnya, Indonesia. Tetapi, penangkapan, pemenjaraan, atau mati dengan kekerasan. Sudah lebih dari setengah abad dia hidup di Amsterdam. Di daratan rendah yang jauh itu dia berwasiat. Ingin mati dikremasi.

”Bah, kalau seorang muslim meninggal, jenazahnya tak boleh dibakar. Haram hukumnya,” istrinya buka suara.

Sebagai anak Melayu tersekat leher kawanku itu mendengar nasihat sang istri. Tercenung. Merasa dihadang kekalahan, jawabnya sambil menelan liur: ”Terserah kalian yang hiduplah. Kalau ajal sudah menjemput, aku ‘kan sudah tak bisa berbuat apa-apa. Mau kalian apakan pun jadilah…”

Ketiga anak ayam yang mati di tanganku itu akan kupelihara di pekarangan rumah. Di pinggir kota kecil, di balik bukit. Sudah kuputuskan untuk takkan mati di kota besar ini. Aku ingin beringsut menjauh ke tepi. Sudah tak tahan aku dikepung keramaian kota besar yang kusut-masai ini. Tegak bulu kudukku setiap kali melihat, atau mendengar, ambulans yang menjerit-jerit menyibakkan jalan untuk jenazah yang dilarikan terburu-buru ke pekuburan. Seakan-akan jenazah pun harus berebut liang lahat. Kalau sudah tinggal jadi jenazah, aku tak mau dibikin congkak di tengah jalan. Seperti itu.

Pernah pula kusaksikan dengan pilu, peti mati orang miskin kota yang diusung empat orang memanjat pemisah jalan. Tingginya satu setengah meter. Buru-buru dilarikan sebelum diterjang lalu lintas. Wahai, Tuhan… Terbayang dibenakku, kepala almarhum terantuk-antuk ke dinding peti. Dilarikan… Beradu nasib dengan pengemudi mobil dan motor yang tak peduli dengan manusia, apalagi yang sudah tinggal jenazah.

Aku tahu akan ada yang mencerca. Atau malah meludahi wajahku yang berkeriput, dingin, kaku. Karena kuingin berangkat ke pemakaman diusung para sahabat, sanak-saudara, dengan langkah seperti diseret. Perlahan. Sebagai tanda beratnya perpisahan dengan kemuliaan hidup yang telah khatam kujalani. Yang harus kutinggalkan untuk memenuhi panggilan yang tak kuasa kutampik. Kupikir, harapan semacam itu hanya akan bisa kugapai jauh di kaki bukit. Bukan di kota ini. Bandar yang dulu, ketika kujejaki pertama kali, trem gratis masih berseliweran di tengah jalan. Kendaraan pribadi bisa dihitung. Naik mobil adalah kemewahan, bukan kesengsaraan seperti sekarang. Belum lagi kalau dibaca berita, kotor udaranya nomor satu di planet Bumi.

Ku tak tahu kapan aku akan mati. Sebelum kubeli, dengan menjual segala yang kupunya, akan kusewa sebidang tanah yang luas, barang satu-dua tahun. Nanti, kalau memang cocok barulah kubeli.

Tanpa buku petunjuk tak mudah menempuh hidup yang tak teraba di mana ujungnya. Namun, aku tahu, di samping merawat kebun, membesarkan ayam dan hewan ternak lain, romantisme hidup akan tetap hangat. Takkan menguap. Ada cinta yang harus kujaga terus: Istriku. Dia tentu akan menyemangatiku. Sebagaimana di pelaminan dulu, dia akan kusandingi berjalan kaki mendaki menuruni bukit. Hangatnya genggaman tanganku. Juga sapaan matahari pagi semoga akan memperlambat arus yang perlahan-lahan menjadikan ingatannya hanyut entah ke mana. Di kota yang kutinggalkan, bangun pagi, sering dia terperangah melihatku, dan bertanya kepadaku yang tergolek di sampingnya semalam suntuk: ”Siapa kau? Bagaimana kau bisa di sini, ha..?”

Pagi, berjalan sambil berjemur di bawah hangatnya matahari, dia sering tersasar. Kepada mereka yang ingin membantunya menemukan jalan, dia selalu menyebutkan nama beberapa perumahan mewah. Tambah jauh saja dia kehilangan arah. Menjelang malam barulah dia menggedor pagar.

Banyak teman yang mengatakan gejala hidup menua memang begitu. Juga tak sedikit buku yang mengatakan seperti itu. Aku memahami, memaafkannya. Cuma satu yang menyakitkan hati. Dia lupa pada tanda lahirnya. Tompel setelempap tapak tangan, yang mekar sedikit saja di atas lutut kanannya. Tanda lahir yang akan kukenang sampai pun aku mati.

Begitu kuatnya hasratku untuk membuat dia ingat kembali pada tompel yang telah mempertemukan kami. Saya ajak dia ke Gambir. Kutunjukkan pertigaan di mana aku selalu berdiri menunggunya pulang sekolah. Dari puluhan anak gadis yang menikung dengan sepeda mereka, mataku tak lepas mengamati dengkul mereka. Dan tompel itu. Tompel kekasih yang menyembul bagai anggerek hitam dari balik roknya itu. Aku protes ketika dia bilang dia selalu memilih rok lebih panjang dari teman-teman, untuk menutupi tanda lahirnya itu.

Pertigaan jalan itu pernah membuat kami bertengkar. Aku masih ingat benar. Kakakku mengirimkan selembar kaos oblong putih. Lis biru melingkar di lehernya. Berpatut-patut diri dengan kaos itu, aku berdiri di seberang pertigaan jalan, menunggu kekasihku pulang sekolah. Gejolak asmara melambung tinggi. Tiba-tiba sebuah sedan hitam berhenti di depanku. Seseorang keluar dari pintu belakang. Dengan senyum bergigi emas yang jijik menyeringai dia membentangkan tangan. Mempersilakan aku masuk. Sadar akan dua ekor singa dalam satu mobil yang mau memangsaku, cepat-cepat aku menyeberang.

Pengalaman yang menyiksa batin itu kuceritakan. Tak kusangka, aku menuai badai. Beberapa lama pujaanku itu ngambek. Seakan-akan dia tak sudi lagi dijemput. Bahwa aku ini tak lebih dari pasangan bandot haram yang berorientasi seksual menyimpang. Berbulan-bulan aku didiamkan. Tapi, aku tidak menyerah. Takkan. Dia tetap kutunggu di pertigaan jalan itu. Mungkin sikapnya itu sebuah batu ujian untuk menguji diriku, dan mafhum bahwa aku hanyalah korban.

Kemarin, kuajak lagi Istriku ke pertigaan jalan yang menempati titik paling penting dalam hidup kami. Banyak yang kuceritakan tentang penantianku di pertigaan jalan itu. Juga ketika aku merasa sangat terhina ketika sebuah sedan mencoba mengajakku kencan sesama jenis.

”Banci..!” tiba-tiba Istriku setengah berteriak. Dengan kokohnya dia memeluk tubuhku. Terkekeh-kekeh. Hingga napasnya menggeh-menggeh. Dipagutnya leherku. Membuat orang yang lalu lalang cemburu, ternganga, dan dalam hati mungkin mempertanyakan apakah asmara mereka akan bertahan sampai seuzur kami.

Tak kusangka ingatannya setajam itu untuk sepenggal jalan hidup pada setengah abad lalu. Katanya, dan dia tak pernah lupa, bahwa acapkali, ketika hendak pulang sekolah, kami nonton bareng di bioskop Megaria. Sepeda disandarkannya begitu saja ke tembok bioskop. Sedikit pun tak khawatir akan disambar maling. Dia menatap mataku. Tanpa sungkan, katanya: ”Waktu kita nonton ketiga kalinya, dalam gelap Abang mencium tanganku…” Terkekeh-kekeh dia tertawa. Menggeh-menggeh.

*

Ku tak tahu bagaimana aku akan mati di ladangku di atas bukit. Stroke? Entahlah. Thaddeus Costrubala, seorang dokter, menulis di majalah The Runner bahwa mereka yang pernah lari maraton persis sejauh 42.195 meter, akan terhindar dari serangan jantung selama delapan tahun. Aspal menjadi saksi. Aku pernah mengikuti enam maraton sambil meliput untuk majalah di mana aku diberi nafkah. Yang pertama, ketika memasuki hit the wall, saat organ hati mengambil alih fungsi sebagai penyalur energi, pada jarak sekitar 10 kilometer menjelang finish, aku terkencing-kencing. Karena terlalu banyak minum di pos yang disediakan panitia. Namun, itu sebuah pertanda bahwa tubuhku terhidrasi lebih dari sempurna.

Aku tak tahu tanda-tanda macam apa yang akan datang mengingatkanku menjelang maut. Kupikir, kalau sedang menyiangi tanaman di ladang, dan tiba-tiba aku merasa sempoyongan, pandanganku gelap, dengan cepat akan kukirimkan pesan WhatsApp kepada cucuku di kota bawah sana. Segeralah naik! Larikan aku ke rumah sakit. Paksa dokter mengoperasi dadaku. Lantas pukuli jantungku yang masih saja berdenyut, supaya terdiam. Mati. Tapi, apakah mereka berkenan?

Telah kulihat, kurenungi berhari-hari, patung ”Aku dan Ajal”*) di sebuah pameran. Juga di studio si pemahat. Diam-diam ingin kusentuh tangan lelaki yang berdiri dengan bimbang di tepi liang lahatnya itu. Ingin kuteguhkan pijakan kakinya. Busungkan dadanya. Supaya dia rela serela-relanya menghadapi ajal di masa ekstrim yang ganjil tak terpermanai ini. Barbar seperti setengah abad lalu, manakala setengah juta manusia dibinasakan. Tak sempat berdoa.

Kini, jenazah juga tidak dimandikan. Doa dijauhkan. Maut menyambar seperti karma. Cepat-cepat dibungkus dengan plastik. Buru-buru dilarikan ke pemakaman yang baru kemarin rumputnya disiangi. Pekuburan kelihatan seperti padang yang ditumbuhi nisan-nisan kayu yang tidak diserut. Nama almarhum-almarhumah tak sedikit yang ditulis dengan ejaan sekenanya. Tak ada kembang. Tak ada doa. Suami, atau istri, atau anak, siapa saja, dilarang mendekat. Mereka ditodong supaya meratap jauh-jauh. Diperlakukan lebih berbahaya dari subversi. Sementara para penggali kubur makan nasi bungkus siang-malam dengan lahap, tangan telanjang, di tepi lubang kuburan.

Di berbagai tempat pecah perseteruan dengan alat kekuasaan. Terkadang berdarah. Karena sanak saudara merebut jenazah, yang dengan tegas mereka pertahankan tidak mati karena corona. Tapi, jantung. Stroke. Tak kurang yang nekad seperti bergabung dalam perang gerilya. Malam-malam, mengendap-ngendap, tentu, mereka menyelinap ke pekuburan. Dengan sakral memangku dan membawa pulang jenazah untuk dikuburkan diam-diam. Entah di mana. Baru sekaranglah ayat Yasin menjadi semacam bacaan Ilahiah yang terlarang didengungkan.

Di depan toko penjual oksigen, ada yang menempelkan telepon genggam ke kuping. Sesenggukan. Dalam barisan antrian, di depannya hanya tinggal dua orang. Suara meminta dia pulang sajalah. Karena yang menunggu gas penyambung nyawa itu sudah dikapani. Segera didorong ke dalam ambulans. Kematian dibungkus begitu ringkas. Rohani mereka, yang ditinggalkan dan yang buru-buru diberangkatkan, kehilangan wujudnya. Sudah tak menyatukan antara yang hidup dan mati.

Kusaksikan itu semua. Ku tetap tak tahu bagaimana aku akan mati. Seperti anak ayam, atau… ***

*) Dolorosa Sinaga

Martin Alaida menulis sejumlah cerita pendek, juga novel. Penerima penghargan kesetiaan berkarya Kompas (2013) dan Do Karim Award dari budayawan Aceh (2006). Karim adalah pembawa kabar dari garis depan dalam pertempuran rakyat Aceh mengusir Belanda.

Wayan Kun Adnyana, Profesor bidang Sejarah Seni Rupa, merupakan perupa kontemporer yang telah berpameran tunggal di berbagai kota baik Indonesia maupun manca negara, seperti Jakarta, Yogyakarta, Ubud, Tainan-Taiwan, Kalamazoo-Amerika Serikat, dan Sydney-Australia. Sejak Maret 2021 mengemban amanah sebagai Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

sumber : harian Kompas edisi 03 Juli 2022 di halaman 10 dengan judul “Anak Ayam pada Awalnya”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme