Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Beruang Biru oleh Sasti Gotama

Posted on Ming, 05 Mei 2024

Gerbang Sekolah Al-Shati, 21 Maret 2008 Sebelum menyadari apa yang terjadi, tubuh mungil Rania melambung ke udara, lantas terempas ke tanah. Barusan terjadi ledakan, sangat keras, bahkan hingga kini telinganya masih berdenging. Sebelumnya ia mendengar suara mendesing dari langit dan ia mendongak: semacam laba-laba besi raksasa yang mengapung di udara. Sebelumnya lagi, saat keluar gerbang bersama murid lain, ia lihat pemuda kurus berwajah muram yang berdiri canggung sambil memeluk boneka beruang berpita merah –mungkin hadiah ulang tahun– menoleh ke kiri dan kanan, tampak mencari wajah anak yang ia kenal di antara ratusan murid yang menghambur keluar gerbang.

Pemuda itu telah lenyap. Sebagai gantinya, Rania melihat gumpalan, serpihan, potongan, dan semuanya berwarna merah. Murid-murid yang terlempar ke tepian seperti dirinya kehilangan hasrat untuk bersuara. Seorang siswi berkepang dua dan berbaju seragam garis-garis hitam seperti dirinya tampak pias. Ia mematung, tak bangkit, tak juga lari. Namun, setelah mengamati lebih jelas, Rania sadar bahwa kaki kiri gadis kecil itu telah terlempar entah ke mana.

Dengan tubuh gemetar, Rania mengumpulkan seluruh kekuatan. Tenaganya seakan telah terisap habis. Namun, ia tetap memaksa dirinya untuk berdiri. Lalu ia berjalan, berlari, menembus kabut debu, menyusuri jalan aspal di tepi laut, kemudian berbelok ke lorong-lorong sempit yang tak muat dilewati kendaraan roda empat. Ia sampai. Pintu rumahnya terbuka. Tanpa mengucap salam, ia menerobos masuk.

”Rania, kau sudah pulang?” teriak ibunya dari ruang menjahit. Namun, ia tak menjawab. Mulutnya masih kaku. Ia masuk ke kamarnya, duduk di pojok ruangan, dan memeluk lututnya yang gemetar. Kakinya masih utuh, tetapi tidak dengan siswi berkepang dua itu. Siapa yang akan menyambung kakinya? Mungkin akan banyak anak yang kelak kakinya terlepas. Rania tak mau itu. Ia akan jadi dokter kaki yang menjahit kembali kaki-kaki yang terlepas.

Kamp Al-Shati, 26 September 2023

Perut di hadapannya terburai, isinya meluber-luber keluar. Dengan tenang, ia masukkan satu demi satu isi perut itu, lantas menjahitnya dengan rapi. Setelah menyimpul benang dan memotong sisanya, ia ulurkan boneka beruang itu ke si gadis mungil.

”Tedi sudah tak sakit lagi,” ucapnya. Si gadis kecil tersenyum lebar. ”Terima kasih, Kak Rania. Tak akan aku pinjamkan ke Zahra.”

”Tapi Rima, Zahra mungkin tak sengaja bikin Tedi terluka.”

Gadis kecil itu mengentakkan kaki. ”Tetap saja. Seharusnya ia tak merebut Tedi dariku.” Usai mengucap itu, gadis itu berlari pergi keluar rumah dan hampir menabrak ibu Rania yang membawa sepiring anggur hitam.

”Kulihat di depan tadi ada Zahra. Ia jongkok dekat gerbang. Wajahnya becek betul.”

Rania tertawa. ”Tak sengaja ia bikin perut boneka Rima robek. Sudah kujahit. Untuk Zahra, biar nanti kubuatkan untuknya boneka beruang.”

Alih-alih ikut tertawa, ibunya memandang Rania dengan sendu. ”Seharusnya saat ini kau menjahit kulit orang, bukan boneka. Seharusnya setelah lulus, kau belajar di fakultas kedokteran, bukannya membantu…”

”Tidak, Mama,” potong Rania. ”Bukan salah Mama. Aku malah bersyukur bisa punya waktu belajar menjahit. Dari hasil menjahit thawb-thawb ini, aku menabung cukup banyak. Jika sudah cukup, aku akan mendaftar.”

Ibunya menggumam tak jelas dan berjalan ke arah dapur. Baru saja hendak meletakkan anggur-anggur itu di meja, tubuh ibunya mendadak limbung. Piring berisi anggur itu melayang, lantas jatuh dan hancur berkeping-keping bersamaan dengan bunyi tubuh ibunya yang menghantam lantai. Rania menjerit, berlari ke arah ibunya, dan memanggil-manggilnya. Namun, ibunya hanya membalasnya dengan suara ngorok yang terdengar sumbang.

Lorong Rumah Sakit, 26 September 2023

Pria kurus berkulit cokelat itu merogoh kantong jas putihnya dan meraih ponselnya yang bergetar. ”Sudah kubilang aman, kau tak perlu khawatir.”

Ia melangkah melewati lorong yang padat dengan orang berlalu-lalang. ”Nanti kutelepon. Aku mau masuk UGD,” ucap pria itu begitu sampai di depan pintu. Ia masuk ruang triase 2 dan pandangannya hinggap pada seorang gadis muda yang membaca kitab di sebelah wanita tua yang terbujur di atas tempat tidur. Udara disesaki suara monoton dari alat-alat yang berkedip di atasnya. Mata wanita tua itu terpejam, mulut dan hidungnya tertutup masker yang terhubung dengan selang oksigen, sementara tangan sebelah kiri terbidai oleh dua sendok kayu panjang yang diikat oleh sepasang jilbab di bagian atas siku dan bawah pergelangan tangan.

Usai memberi salam dan menunjukkan papan nama di dada kanannya: dr. Zaen Sp.OT, ia mengeluarkan lembaran hitam dari map. ”Incomplete fracture,” ucapnya sambil menunjuk pada foto hitam putih yang ia terawangkan ke arah lampu kamar. Dengan bahasa Arab sederhana yang terpatah-patah, ia coba menjelaskan bahwa kedua tulang lengan bawah si wanita tua itu retak, tetapi tidak sampai patah sepenuhnya, jadi nanti tidak perlu operasi terbuka, cukup dilakukan reduksi tertutup dengan gips. Itu pun dilakukan jika kondisi pasien sudah cukup stabil setelah penanganan dari neurolog untuk stroke pendarahannya.

Gadis itu mengangguk-angguk seolah Zaen hanya menjelaskan tentang tata cara membikin kismis dari anggur segar. ”Kau yang membidainya?” tanya Zaen sambil menunjuk bidai sendok jilbab itu. Gadis itu mengangguk. ”Kau berbakat jadi perawat,” cetus Zaen. Tanpa ia duga, gadis itu menjawab, ”Saya ingin jadi dokter.”

Zaen mengangkat bahu. ”Boleh-boleh saja. Kau bisa jadi apa pun yang kaumau,” ucapnya sebelum keluar.

Saat ia mengisi rekam medis pasien di meja setengah lingkaran di tengah UGD, ia bisa mencuri dengar pembicaraan gadis itu dengan perawat yang memberinya resep. Hanya sepotong-potong yang ia dengar, tetapi ia bisa menyimpulkan bahwa gadis itu yatim. Di sini, si gadis tak punya kerabat lain. Satu-satunya keluarga hanyalah ibunya. Ia izin pulang sebentar untuk mengambil uang. Zaen diam-diam meraih secarik kertas dan menyalin alamat pasien tersebut: kawasan kamp Al-Shati. Nama penanggung jawabnya Rania. Bibir Zaen tersenyum.

Ruang Dokter, 7 Oktober 2023

Zaen baru saja menyesap susu hangatnya ketika map itu terangsur ke arahnya. ”Ingat pasien stroke pendarahan yang patah tulang itu? Ia meninggal hari ini,” ujar dokter Ali, ahli neurologi.

Zaen mendongak. Susunya terasa pahit. ”Kapan?”

”Subuh tadi. Sekarang di ruang jenazah, menunggu diambil oleh keluarganya.”

Tanpa berkata-kata lagi, Zaen bangkit dan meninggalkan susu hangatnya. Ia berjalan dengan langkah panjang menyusuri lorong menuju ruang jenazah. Namun, tiba-tiba lorong itu menjadi padat. Petugas administrasi, perawat, dan bidan berlarian. Begitu juga pengunjung rumah sakit –entah pasien atau keluarga pasien. Salah seorang perawat berhenti dan menjelaskan kepada Zaen bahwa ada tentara. Banyak. Mungkin ratusan. Tank-tank berbaris di luar. Semua disuruh ke halaman rumah sakit.

Mendengar itu, bukannya ikut arus manusia yang menuju halaman, Zaen berlari ke bagian belakang RS. Rania, nama itu mendengung di kepalanya. Tangannya terasa dingin dan basah. Ia harus cepat.

Ia tepat waktu. Gadis itu baru keluar dari ruang jenazah. Wajahnya sembap, hidungnya merah. Zaen berhenti di hadapannya. Napasnya terengah-engah. ”Masih ingat saya, Rania?” tanyanya di sela-sela napasnya yang memburu. Gadis itu mengangguk. Zaen mengembuskan napas berat. ”Mungkin ini aneh, tapi saya ada permintaan.”

Dalam Taksi, 13 Oktober 2023

Taksi itu melaju kencang ke arah perbatasan Rafah. Dari balik jendela, sambil memangku boneka beruang biru, Rania memandangi debu-debu cokelat yang beterbangan, sementara latarnya adalah gedung-gedung yang tinggal separo. Asap membubung tinggi. Tenggorokannya terasa kering. Ia terbatuk-batuk kecil.

Sebotol air mineral terulur ke arahnya. Dari kursi penumpang depan, Zaen tersenyum. ”Harusnya kau tak usah sungkan meminta air ke suamimu sendiri. Basahi tenggorokanmu itu, istriku.”

Rania tersipu, lantas meraih botol itu dan mereguknya dua teguk. Setelah itu ia memandangi pemandangan di luar jendela yang entah berapa tahun lagi bisa ia lihat kembali.

”Kementerian sudah menunggu kita. Surat-surat sudah beres. Sampai di Kairo, kita langsung terbang ke Indonesia. Setelahnya kau harus banyak belajar,” cetus Zaen. ”Ujian masuk kedokteran itu rumit.”

Rania menoleh ke arah suaminya, lantas mengangguk. Jalan hidup memang tak ada yang tahu. Sebulan yang lalu ia hanyalah anak yatim dengan mimpi-mimpi mustahil, sekarang Tuhan menghamparkan jalan lebar bebas hambatan. Perawat bedah asisten Zaen di OK kenal baik dengan seorang imam masjid yang kemudian menikahkan Rania dengan Zaen. Imam itu punya kenalan pula di departemen agama yang memudahkan pengurusan surat-surat mereka. Lalu, pemerintah negara Zaen membantu mengurus perizinan untuk pulang ke Indonesia. Dan di Indonesia, Zaen menjanjikan akan menyekolahkan ia ke universitas.

Tiba-tiba taksi berhenti. Di depan ada kecelakaan tunggal. Si pengendara motor terpental ke pinggir aspal dengan kaki yang tertekuk aneh. Zaen menoleh ke belakang. ”Tunggu sebentar, ya. Kita masih punya waktu, kan?” Rania tersenyum, lantas mengangguk. Zaen membuka pintu, meloncat keluar, dan berlari ke arah korban.

Tiba-tiba Rania mendengar suara dengungan yang semakin lama semakin memekakkan telinga. Dari jendela, ia memandang angkasa. Ingatannya mundur ke masa itu, ketika laba-laba raksasa terbang dan mendengung dan menjatuhkan tahi-tahi jahanamnya. Namun, yang ia lihat kali ini jauh lebih besar dari laba-laba besi masa itu. Sebelum ia tahu apa yang terjadi, pandangannya gelap.

Surabaya, 13 Oktober 2023

Bocah lelaki itu meraih bus biru kecil sebelum berlari ke kamar ibunya, lantas memeluk sang ibu dari belakang. ”Ibuk, ayah pulang kapan?”

Tanpa menoleh, Nin menjawab, ”Mungkin dua hari lagi.”

Bocah lelaki itu bersorak, lantas berlari kembali ke arah televisi besar yang menyiarkan kartun kesukaannya. Saat lagu pembuka dimainkan, bocah itu menari sembari ikut bernyanyi. Sementara itu, Nin menekuk wajah, membiarkan air matanya tumpah agar setelah ini, ia bisa tersenyum dan menyambut suaminya yang kembali dengan membawa istri baru. Baru kemarin suaminya menelepon secara singkat. ”Aku tak bisa lama-lama. Intinya aku ingin menolong gadis yatim di sini. Aku menikahinya dan ia akan pulang bersamaku. Tapi, kau tak usah khawatir. Nanti kujelaskan lebih terperinci.” Dan panggilan itu terputus.

Nin berbisik pelan. ”Aku tahu, ini ketetapan-Mu. Tetapi, aku belum bisa ikhlas, Tuhan. Aku ingin suamiku pulang, tetapi hanya ia sendiri, tidak dengan yang lain.” Lalu ia terisak kembali.

Baca Juga: Lebaran Politik

Di Dekat Puing-Puing Taksi, 13 Oktober 2023

Tanpa tahu penyebabnya, Zaen terbang sesaat di udara panas bersamaan dengan suara ledakan memekakkan telinga. Ia terjatuh tepat di sebelah pengendara motor yang terluka. Bahunya terbentur aspal dan nyerinya setengah mati. Namun, rasa nyeri itu mendadak lenyap ketika ia melihat serpihan yang dahulunya adalah taksi. Di antara puing-puing logam itu, berserakan cabikan, gumpalan, potongan. Semuanya merah.

Zaen mengerang pilu. Ia memang menikahi Rania, tetapi tak pernah menyentuhnya. Ini hanya taktik agar Rania bisa lolos sampai ke negerinya. Sesampai di Surabaya, akan ia bebaskan Rania dari ikatan perkawinan. Akan ia berikan mimpi baru untuknya: menghafal nama tulang, menyusuri jalur pembuluh darah, dan memahami bagaimana hormon bekerja. Awalnya Rania tak setuju karena sebetulnya ia tak ingin pergi. Walau memberi perih, ini adalah negerinya. ”Kelak, kau bisa kembali setelah menjadi dokter. Kau bisa membantu banyak orang,” ucap Zaen waktu itu untuk meyakinkannya. Meski begitu, Rania tetap ragu. Pikirannya baru berubah ketika dua hari usai Zaen memberinya tawaran, kediamannya hancur oleh serangan udara. Tak ada tempat untuknya pulang.

Zaen bercerita bahwa ia memiliki seorang istri yang baik dan anak yang lucu di Indonesia. ”Kau pasti akan menyayangi mereka. Anggap anakku sebagai adikmu sendiri.” Mendengar itu, Rania tersenyum. Dari dulu ia ingin memiliki adik. Karena itu, dari sisa kain yang bisa ia selamatkan dari puing-puing kediamannya di Al-Shati, ia buatkan boneka beruang untuk ”adiknya” yang segera ia temui. Sayangnya, ia tak akan pernah bisa menyerahkan beruang biru itu. (*)

—

SASTI GOTAMA : Emerging Writer UWRF 2022. Pemenang I Hadiah Sastra ”Rasa” 2022. Naskah ”Rahim” karyanya termasuk kategori Naskah Menarik Minat Dewan Juri Sayembara Novel DKJ 2023.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 5 Mei 2024

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme