Cerpen : Km 83 oleh Raudal Tanjung Banua

SUNGGUH di luar “nurul” kata orang-orang sekarang. Setiap tahun, Jalan Lintas Timur Sumatera (lazim ditulis “Jalintim”) di Km 83 selalu terendam banjir. Artinya, belum ada yang dilakukan pemerintah untuk membebaskannya dari kutukan menahun itu. Setiap kali orang berkata, “Tahun ini paling parah; kendaraan antre sampai dua atau tiga jam.” Tahun berikutnya, “Ini paling parah! Antrenya … Baca Selengkapnya

Cerpen : Gema Takbir Bukit Tigapuluh oleh Raudal Tanjung Banua

Langit pengujung Ramadan terlihat bersih. Awan tipis menyisih persis di pucuk meranti. Daun-daunnya mengembang serupa atap. Sesekali olang mengepak di dahan paling tinggi. Di sana rajawali yang disucikan kaummu itu membangun singgasana. KAUTENGADAH, ingat surau kecilmu yang juga dinaungi sebatang meranti tua. Apa kabarnya bulan puasa begini? Tambah ramai atau makin sepi? Apa kabar kawan-kawanmu … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ikan-ikan Buta Rumphius oleh Raudal Tanjung Banua

TAK sekali pun ia menoleh ke belakang. Ia ingin segera berdayung, seakan melarung beban hidup yang tersandang. Tapi saat mendorong perahu, ia dengar napas memburu. Memaksanya menoleh. Ternyata si sulung, dalam seragam putih-biru, mengejar. ”Kenapa balik, he? Ayah ’kan su bilang tak punya uang?” Anak kelas dua SMP itu tenang sekali bilang, ”Beta bosan janji terus, Yah. Lebih … Baca Selengkapnya

Cerpen : Rumah Makan Kelok Awas oleh Raudal Tanjung Banua

GEMBIRA betul pemuda perantauan itu sampai di kawasan perbukitan Kelok Awas. Meski jalan naik-turun berkelok-kelok menambah rasa lelahnya mengemudi, ia tak peduli. Kawasan itu sudah dekat kampungnya. Selepas turunan panjang, ia akan melewati beberapa kampung lagi untuk sampai ke rumah tempat ia dilahirkan, tetapi itu sudah membuat lega hati. Jalan akan lebih lempeng dan aroma … Baca Selengkapnya

Cerpen : Tiga Helai Karet Gelang di Tangan Seorang Ayah oleh Raudal Tanjung Banua

Setelah upacara ”pemakaman” guruku yang menguras perasaan, aku beruntung menemukan sebuah warung bubur sederhana pinggir jalan, persis di seberang gerbang Lembah Pujian. Di kompleks perumahan berlembah hijau dengan ricik sungai itu, guruku –dan guru banyak orang– menyepi sebelum meninggal. Jenazahnya sudah berada di ruang sunyi kurukudu sekarang, begitulah sebutannya dalam ritual Marapu. — MENGENANG kembali … Baca Selengkapnya

Cerpen : Penggalian Nusa Kapal oleh Raudal Tanjung Banua

Menumpang perahu mesin, pada suatu terik siang, sampailah saya di muara Sungai Way Apu yang lebar. Kota kecil Namlea tempat bertolak terlihat seolah terapung di seberang Teluk Kayeli. Alferd Russel Wallace, naturalis Inggris, yang tahun 1861 sudah berburu burung, capung, dan kupu-kupu di muara Way Apu pasti tidak menduga bahwa di tempat air meluah, ada … Baca Selengkapnya

Cerpen : Bambu-Bambu Menghilir oleh Raudal Tanjung Banua

Bambu-bambu menyatu dalam ikatan tali rotan, berderet menunggu para penggalah melompat dari tepian. Sambil bercakap, mereka melompatlah, lalu dengan galah kayu di tangan, mereka bertolak ke tengah sungai, ke arus liar. ”Hati-hati kau, Serel!” Seorang lelaki bertopi koboi berteriak di atas batu. Serel menyeringai. Ia yang terakhir melompat sebelum bambu-bambu itu mulai melaju meninggalkan Kampung … Baca Selengkapnya

Cerpen : Aroma Doa Bilal Jawad oleh Raudal Tanjung Banua

Apakah doa punya aroma? Setiap kali pertanyaan ini datang menggoda, aku akan teringat seorang tukang doa yang setia di masa kecilku. Entah mengapa, tiap kali mengingatnya, lafaz doa serasa bangkit bersama aroma yang membubung dari hidung ke dalam batin. Adalah Bilal Jawad, lelaki setengah baya yang sudah dianggap sebagai tukang doa keluarga di kampungku lantaran … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ibrahim dari Barus oleh Raudal Tanjung Banua

ORANG mungkin hanya mengenal Hamzah dari Fansur, kota yang pernah masyhur di Dunia Timur. Kota itu kini merana dengan nama yang lampus: Barus. Tapi tidak. Barus tak mungkin hilang dari ingatan sebagai tempat kelahiran nama-nama agung. Engkau tentu akan menyebut Hamzah Fansuri, salah satunya, atau satu-satunya nama yang kau hapal di luar kepala. Ya, Syeikh Hamzah … Baca Selengkapnya

Cerpen : Bersin oleh Raudal Tanjung Banua

DI tengah suasana hening dan tenang, mungkin dengan kekhidmatan atau bahkan ketegangan, sebuah bersin niscaya bisa jadi pemantik yang membalik keadaan. Ia bisa mengubah hidung menjadi meriam yang menyalak tiba-tiba di tubir benteng pengintaian. Di kampungku bertahun-tahun lalu, terjadi sebuah perampokan disertai pembunuhan. Korbannya seorang nenek yang tinggal sendirian, namun rutin mendapat kiriman uang dari anak-anaknya … Baca Selengkapnya