Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Bersin oleh Raudal Tanjung Banua

Posted on Ming, 20 Okt 2013

DI tengah suasana hening dan tenang, mungkin dengan kekhidmatan atau bahkan ketegangan, sebuah bersin niscaya bisa jadi pemantik yang membalik keadaan. Ia bisa mengubah hidung menjadi meriam yang menyalak tiba-tiba di tubir benteng pengintaian.

Di kampungku bertahun-tahun lalu, terjadi sebuah perampokan disertai pembunuhan. Korbannya seorang nenek yang tinggal sendirian, namun rutin mendapat kiriman uang dari anak-anaknya di rantau. Uang itu dikumpulkannya untuk membeli emas. Meski ia tinggal sendiri, emas berupa kalung dan cincin itu sering ia pakai ke mana-mana. Dan tentu saja itu menerbitkan liur penjahat budiman sekalipun.

Tidak jelas benar apakah si perampok membunuh nenek karena kepergok, atau perempuan malang itu dihabisi sebelum ia beraksi. Yang jelas, si nenek ditemukan tewas berlumuran darah, bersamaan dengan raibnya kalung dan cincinnya. Bahkan juga sepasang subangnya yang dari suasa. Seorang cucunya, di antara isak tangis dan ingus yang dilecitkan hidung, mengatakan bahwa si nenek berencana mengganti subang suasa itu dengan emas pula, meski niat itu belum lagi kesampaian. Perampokan itu telah merenggut segalanya.

Tidak lama kemudian polisi berhasil meringkus pelaku yang tak lain tetangga korban, yang ternyata masih ada hubungan darah. Proses penangkapannya cukup mudah, selayaknya si pelaku bersin di tengah orang-orang yang mengerubungi lokasi dengan khidmat ketika petugas memasang garis polisi serta mencatat sana-sini. Seorang polisi menemukan sepotong puntung rokok merek tertentu di bawah pohon kopi dekat sudut dapur. Dan dengan naluri anjing pelacak, si polisi menggerutu—jelas, ia pun berusaha mempertahankan suasana yang tenang jika bukan tegang itu.

“Ha, puntung rokok!”

Seorang rekannya membungkuk, dan tanpa menyentuh puntung kecil itu, ikut bergumam. “Hmm, masih baru, sisa semalam…”

Tak dinyana, seorang laki-laki ceking tetangga si nenek, dengan tergesa menimpali—seolah ia digelitik bersin tak tertahan. “Rokok saya bukan merek itu, Pak!”

Sontak semua mata memandang kepada asal suara yang memecah ketenangan, seakan bunyi “Hasyi!” membesar jadi halilintar. Menyambar dan mengurak kekhidmatan orang-orang. Sejenak mencairkan ketegangan tapi sekaligus menciptakan ketegangan baru.

Tanpa banyak bicara, polisi menggiring laki-laki itu ke atas mobil patroli.

“Mari tunjukkan di kantor kalau rokok bapak bukan merek itu,” kata si polisi penemu puntung rokok. Si ceking pun tak menolak, seolah ia diajak ke kantor polisi benar-benar hanya untuk perkara puntung rokok. Maka tanpa raung sirene, mobil patroli membawanya pergi. Itu hanya karena perkara bersin. Hasyi!

PERISTIWA di masa remajaku itu, bertahun-tahun kemudian, terhubung secara agak ajaib dengan pengalamanku membaca sebuah tulisan tentang bersin di jurnal kebudayaan cukup terkenal. Tulisan itu menceritakan tentang pengarang Belanda—konon cemerlang—yang mati muda, Frans Kellendonk namanya. Suatu hari ia menyeberangi Sungai Amstel, Amsterdam, naik kapal feri. Sambil bergerak perlahan di bawah matahari musim gugur ke tepi seberang, ia dan penumpang lain mengalami suatu rasa khidmat yang hening dan dalam, tenang dan tenteram. Tetapi ketika harmoni alam mulai meresap penuh di sekitar, mendadak ia terserang sebuah refleks yang datang dari rongga hidung berbunyi keras: bersin. Maka berantakanlah semua. Ketentraman dan suasana damai bagai diusir sekali kibasan tangan![1]

Bukan kebetulan, sebagaimana Kellendonk, aku pernah mengalami peristiwa serupa. Ketika itu, aku sedang menghabiskan rasa bosan dengan berkeliling ibu kota kabupaten tempatku tinggal, Bantul, melewati pohon-pohon angsana yang berderet rimbun di tepi jalan. Selepas Masjid Raya dengan gentong sisa rekor Muri di depannya—dan kini dibiarkan tengadah hampa ke langit kota—aku melihat orang ramai menuju sebuah lapangan. Dan tiba-tiba, entah tangan gaib apa yang menarikku untuk ikut serta membelokkan setang motor ke sana.

Ternyata di lapangan itu ada panggung campursari untuk Peringatan Hari Jadi Kabupaten Bantul. Setelah memarkir motor (bayarnya di muka dengan harga dua kali lipat), aku telah begitu saja berada di tengah-tengah penonton yang duduk di lapangan rumput. Penonton yang di belakang berdiri, tapi tidak sedikit pun suasana terasa gaduh. Padahal pengunjung lapangan membludak, sejumlah orang dari kampung-kampung sekitar Bantul bahkan rela datang naik gerobak yang ditarik traktor sawah!

Nah, jangan tergoda dengan moda gerobak yang ditarik traktor sawah, sebab di Bantul yang diguyoni sebgai ndeso itu, memang ada-ada saja kreasi orangnya. Jangankan untuk seni tradisi yang mereka gemari, untuk mengelola hal-hal keseharian pun mereka terbilang mumpuni. Coba, mereka biasa membawa jerami untuk pakan ternak di atas motor atau sepeda ontel dengan mengikutinya memanjang ke samping kiri dan kanan. Saking panjangnya, ujung jerami sampai hendak memalang jalan; toh pengendaranya santai saja melewati lalu-lintas yang ramai. Pengendara lain yang malah mesti pandai-pandai menghindar, dengan sikap tahu sama tahu. Tak ada soal. Jangan kaget pula jika suatu ketika anda melihat sebuah Datsun tua membawa sekam dengan muatan yang buncit seperti seekor sapi mengandung, melenggang acuh memasuki jalan kampung. Itu biasa. Santai wae, Dab! Malahan sebuah padepokan seni di sekitar Sendang Kasihan, telaga pemandian Putri Pembayun di masa lalu, bisa dengan ringan—sebenarnya keterlaluan—membuat tajuk acara seperti “Tari Imaji Nari”, “Niru Imaji Niru”, “Masak Musik Masyuk” atau “Main Mime Menggelikan”. Terlepas dari itu semua, sebuah jurnal kebudayaan yang terbit di Bantul toh pernah dengan bangga mengadopsi spirit Bantul ndeso itu! Dipikir-pikir spirit begini memang barokah.

Hasyi! Sebenarnya aku ingin merejan bersin saat menceritakan bagian ini, supaya, bayangan anda tentang mBantul ndeso buyar sudah. Tapi, bersin tak bisa direjan, bukan? Maka dengan sesadar-sadarnya kumohon kepada anda untuk tidak tergoda tetek-bengek Bantul. Mohon perhatikanlah ungkapan “penonton yang duduk di lapangan rumput”. Tepatnya, “…aku telah begitu saja berada di tengah-tengah penonton yang duduk di lapangan rumput.” Ganjil? Tidak. Sebab, berbeda dengan tontonan jenis musik lain, campursari benar-benar sebuah tontonan santai, adem-ayem, ora neko-neko.

Lihatlah, sepasang pembawa acaranya, laki-perempuan, berbusana sopan seturut tata krama. Yang laki-laki mengenakan pakaian Jawa lengkap (meski tanpa keris), dan yang perempuan berkebaya dengan rambut disanggul bulat lonjong seperti bentuk Gunung Merapi. Mereka masuk dari samping panggung dengan membungkuk-bungkukkan diri. Dari tempat saya berdiri mereka tampak seolah-olah mengendap-endap. Setelah mengucap “Assalammualaikum” berbarengan, mereka menyapa penonton—kami semua—dengan sapaan yang akrab sekali. “Pendemen campursari sekalian….”

Meski sejatinya aku bukan pendemen atau penggemar campursari, mendengar sapaan itu aku merasa ada suatu ikatan yang tak biasa menguat dalam diriku. Entah apa. Aku pun segera memantapkan posisiku: duduk dengan ketakziman penuh beralaskan sandal di lapangan rumput. Penonton lain juga begitu, sebagian dari kami duduk beradu siku dan lutut, dan terasa ada ikatan suci halus yang mempersatukan kami. Tak lama kemudian, lagu-lagu campursari mengalunlah. Penyanyinya bukan nama-nama terkenal, tapi tak jadi soal. Toh lagu-lagu yang mereka bawakan—kadang berduet, kadang sendirian—tetap renyah di kuping. Aku sendiri tak yakin bisa membedakan rasa lagu yang dibawakan penyanyi terkenal atau tak terkenal. Bagiku, sesuai namanya, campursari itu persis gado-gado yang bumbu dan rasanya standar. Tapi bukan itu yang penting. Aku, bersama ratusan mata dan telinga yang lain, telah dibuat mengalir dalam ketenangan dan kekhidmatan malam yang agung. Kami seolah berada dalam lindungan bintang-bintang adiluhung. Khusyuk, merasuk.

Akan tetapi ternyata kiamat dini meski kami tanggungkan ketika bulan di langit yang jernih perlahan bergeser ke bukit-bukit arah Goa Selarong. Pembawa acara, masih menyapa dengan “pendemen campursari”, mengumumkan bahwa sesi pertama pertunjukan malam itu sudah berakhir, dan sesi berikutnya akan diisi deretan para penyanyi dangdut pilihan.

Tiba-tiba suasana berubah gaduh. Orang-orang serentak berdiri. Ada yang berdiri untuk langsung berjingkrak dan bersorak-sorai, ada yang berdiri sambil menggerutu, lantas pergi. Aku sendiri terlambat bangun, tapi segera menyadari bahwa surga kami telah bubrah, direnggutkan. Deretan penyanyi dangdut yang namanya cukup dikenal di seantero Yogya, seperti Denok Renita dan Ana Sanjaya, segera menggoyang panggung. Meskipun aku yakin mereka pasti juga bisa bercampur sari, jelas bukan untuk itu mereka diundang. Mereka mesti menggoyang panggung dengan suara dan gaya yang lebih menantang.

Jadi ketika Ana Sanjaya berduet dengan Pak Camat Plered membawakan “Malam Terakhir”, itu justru lagu pembuka yang mengurak ketenangan panggung: dan penonton pun bergoyang. Pengalaman itu aku tulis di sebuah harian lokal sebaai “bersin kultural.”[2] Hasyi!

KINI, sebuah bersin yang tak terduga-duga menguak kedamaian dan ketenraman tempat aku tinggal. Sebuah kampung yang teratur dan tertib, dengan anak-anak yang mengaji dan penduduk rajin bersembahyang ke mushala yang bersih. Mushala itu dijaga ustad Marwan yang tak banyak cakap, kecuali saat berkhotbah. Hidupnya hanya untuk berbuat. Dan khotbah adalah perbuatan.

Aku kira tak ada kampung lain sedamai tempat tinggalku. Ciri damai pertama ala novel romantik dapat kusebutkan: burung-burung berkicau riang di ranting-ranting pohon pacar, dan di sebalik gerumbul daun pisang. Setiap petang merpati berpacu di atas atap, dilepas remaja tanggung yang bersorak gembira dari tepi sisa sawah terakhir. Meskipun kudengar mereka bertaruh kecil-kecilan, mereka tak pernah berkelahi.

Sementara itu, kedamaian kedua ala novel detektif dapat kuceritakan lewat sosok seorang warga. Kami memanggilnya Mas Dobleh. Dalam sore yang longgar, selalu longgar, laki-laki anggota kethoprak tobong yang hampir tutup itu, sering terlihat bermain senapan angin di balai-balai depan rumahnya. Tapi senjata itu lebih banyak menemaninya, leyeh-leyeh, dilap dan diminyaki, lalu dibaringkan di sampingnya, sehingga tak mengancam perdamaian. Hanya saja, sesekali ia menembak iseng burung yang terbang atau membidik layang-layang rusak yang nyangkut di tiang listrik atau bubungan rumah. Bagian terakhir ini rasanya cukup mengancam, namun senyumnya yang teduh seolah dinaungi kumisnya yang tebal, sungguh membuat kita terbebas dari rasa terancam. Apalagi Mas Dobleh, entah sudah berapa lama, menjabat sebagai kepala keamanan. Sebuah senapan angin kukira cocok belaka dengan tugas sebagai kepala keamanan.

Hubunganku dengan Mas Dobleh tergolong baik. Ia tahu aku seorang wartawan. Meskipun aku dalam berbagai kesempatan bilang aku bukan wartawan, melainkan penulis tanpa ikatan, tetap saja ia—sebagaimana orang kampung lainnya—memanggil aku “Mas Wartawan”. Dan jika melihat aku pagi-pagi berdiri di depan pagar rumah, mereka—sebagaimana Mas Dobleh—akan sama-sama menyapa, “Prei, Mas?” Maksudnya, libur atau tak ke kantor? Aku cukup menjawab ya atau mengangguk sopan, meski sepanjang hari aku tak pernah ke kantor karena memang tak punya kantor; toh bangun siang terbukti menyelamatkanku dari sapaan ramah itu. Tapi lebih dari itu semua, bagi Mas Dobleh aku adalah wartawan karena wartawan mendapat jatah koran (padahal aku berlangganan), dan karena itu, ia bisa ikut nebeng membaca rubrik Kriminal. Itulah yang membuat kami dekat meski belum tentu saling mengenal.

Sesekali pada malam hari, aku beserta bocah-bocah kampung diajak Mas Dobleh mencari burung. Kami membawa lampu stromking ke tepi sawah di mana berderet pohon-pohon mahoni. Deretan pohon mahoni dekat sungai kecil itu kami goyang-goyang, dan anehnya, dan gerombolan burung pipit akan ke luar mengejar nyala lampu sehingga kami tinggal memungut burung-burung itu di udara. Makhluk liar yang tiba-tiba jinak itu kami masukkan ke dalam kain sarung yang sudah diikat. Begitu jinaknya, bersuara pun burung-burung itu tidak.

Suatu malam, bukan burung-burung yang kami bawa pulang, tapi suara-suara. Betapa tidak. Ketika kami berjalan di kampung yang tenang dan lewat di depan rumah Bu Gendhuk, yang juga tenang, tiba-tiba telingaku mendengar sesuatu dari rumah semi permanen itu. Bersin! Begitu pekanya telingaku akan bersin, sehingga malam yang tenang itu kurasakan meletupkan bebunyian asing di bubungan. Bagi kebanyakan orang, juga anda, bersin mungkin tak lebih letup berisik ujung. Tapi bagiku yang sangat peka, berkat pengalaman yang sudah-sudah, bersin bisa membuatku kenal jenis kelamin dan usia pemiliknya. Begitulah, yang kudengar malam itu bukan bersin perempuan, bukan pula milik anak laki-laki kecil Bu Gendhuk.

Soalnya adalah, suami Bu Gendhuk bekerja di Semarang dan hanya pulang tiap Sabtu malam. Minggu malam ia meluncur lagi ke Semarang. Total hidupnya dihabiskan bolak-balik antara pantai selatan dan pantai utara Jawa. Tanpa harus mengokang senapan angin, Mas Dobleh tahu situasi, aku kira. Sebagai kepala keamanan dan pemain kethoprak, ia pasti hafal nama-nama hari. Tapi jika lupa, kewajibaku mengingatkannya, “Ini hari Selasa, Mas, dan bersin yang kudengar barusan milik laki-laki dewasa!”

“Hus, ngawur kamu!”

Mas Dobleh cepat-cepat menarik tanganku dan segera berlalu. Ajaibnya, bocah-bocah calon petualang yang berbaris di tengah kami segera ikut ambil bagian. Naluri bocah tampaknya membuat mereka mengerti. “Wis yo, kita intip!” Mulyono tiba-tiba saja berbisik. Mas Dobleh mencegahnya, tapi Mulyono bukan burung yang jinak. Anak laki-laki itu sudah berlari ke samping rumah Bu Gendhuk, diikuti beberapa bocah lainnya.

Kami menanti.

Tiba-tiba Mulyono berteriak, “Ada bapak-bapak!”

“He, jangan bikin masalah kowe!” teriak Mas Dobleh tertahan.

Tapi lagi-lagi keajaiban malam menggerakkan tungkai-tungkai beberapa bocah untuk lari menyusul. Aku pun tak luput dari keajaiban. Naluri kanak-kanak membawaku berlari ke arah dapur. Mas Dobleh ikut berlari. Tepat, seorang laki-laki berkelebat ke luar dari pintu, dan kucekal lengannya. Susah-payah ia melepaskan diri, dan akhirnya berhasil lolos. Tapi itu tak penting lagi. Kami telah mengenali siapa dia. Sukarji!

BESOKNYA ada gempar lebih besar. Bu Gendhuk disidang di rumah Ketua RT. Dalam sidang yang dipimpin Dalijo—mantan anggota FPI—terungkap bahwa Sukari bukan satu-satunya yang berkelebat keluar dari pintu dapur. Ada Dulrokhim. Ada Solihin. Dan yang lebih mengagetkan: juga Pak RT, Ustad Marwan dan Mas Dobleh!

Mataku nanar. Aku merasa semua orang mendadak bersin, serentak dan bertubi-tubi. Tak sanggup aku mengenali bersin itu, berhari-hari, berminggu-minggu, membuat kampung kecilku demam membaca melebihi sakit segala flu!

Kedamaian dan ketentraman mendadak sirna dari bumi.(*)

 

Rumahlebah Yogyakarta, 2013
(untuk Indra Tranggono)

Catatan:

[1] Will Derks, “Tubuh Liar, ‘Realisme Grotesk’ dalam Cerita Melayu” (Kalam No 15, 2000).
[2] Raudal Tanjung Banua, “Kudeta di Jagad Kultural” (Bernas Minggu Legi, 5 Januari 2003).

 

Raudal Tanjung Banua mengelola Komunitas Rumahlebah dan Jurnal Cerpen Indonesia di Yogyakarta. Buku cerita pendek terbarunya, Kota-kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai, akan segera terbit.

sumber : Koran Tempo, 20 Oktober 2013.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme