Aku dan Rie mengamati bunga dalam pot yang sudah bertahun-tahun kami rawat. Bunga itu terlihat segar, bahkan ketika kami lupa menyiramnya. Bunga itu seolah tidak membutuhkan air. Kuncup bunga itu tetap mekar…
Tag: Risda Nur Widia
Cerpen : Cerita tentang Bunga oleh Risda Nur Widia
AKU dan Rie mengamati bunga dalam pot yang sudah bertahun-tahun kami rawat. Bunga itu terlihat segar, bahkan ketika kami lupa menyiramnya. Bunga itu seolah tidak membutuhkan air. Kuncup bunga itu tetap mekar…
Cerpen : Tarung Laut oleh Risda Nur Widia
Oleh RISDA NUR WIDIA* — Pagi belum membuka gelapnya ketika dengan kaki bergetar, Pahar menggeret kapal memancing milik pamannya yang diparkir di naje. Dengan seluruh kekuatannya, kapal itu Pahar seret menuju bibir…
Cerpen : Surat Arwah oleh Risda Nur Widia
Aku pulang larut dengan menjinjing kepala pening seraya menuntun sepeda gen-chari hadiah mantan kekasihku. Sepanjang malam aku minum-minum sendiri di mise tanpa niat merayakan festival Hanabi. Aku tidak berselera ikut tenggelam dalam lautan lima ribu warga…
Cerpen : Cumbu Ular oleh Risda Nur Widia
Kawa berlari seperti babi betina yang panik dikejar harimau. Rimbun semak berduri hutan Soe ia terjang dengan badan bergetar. Gadis berambut ikal itu tidak memedulikan luka-luka kecil yang menerpa kulit sawo matangnya—hingga…
Cerpen : Malam Arwah oleh Risda Nur Widia
PENSIUN sebagai kyouyu shougaku [1] di Tokyo, Takara Kairi memutuskan tinggal di kota kecil Kamikatsu. Kota itu merupakan wilayah tenang yang berada di Prefektur Tokushima, dan tempat yang ingin ditinggali oleh almarhum…
Cerpen : Tarian Kelelawar Biru oleh Risda Nur Widia
/1/ Tangisan Sebutir Peluru Semua orang di Rafah, wilayah sekitar Gaza, mengenal baik Abu Hasaant. Ia orang baik, tapi sering berpikiran tak masuk akal setelah putrinya, Ammal, terkena peluru nyasar seorang Tzahal…
Cerpen : Lemari Tua oleh Risda Nur Widia
HARI-HARI menjadi sulit bagi Tarno. Pria berumur dua puluh lima itu harus lebih pandai menyembunyikan diri di rumah pengapnya dengan pintu serta jendela yang selalu terpejam. Ia seperti itu karena orang-orang kini…
Cerpen : Api Kota Smyrna[1] oleh Risda Nur Widia
Syahdan di hadapan Hatem, kota Smyrna seperti sosok sekarat yang menanti Dewa Thanatos[2] menjemputnya. Sepanjang mata bergelimpang puing gosong bangunan, matang bangkai unta dan kuda, serta cabik-cabik pedang serdadu yeniceri[3] yang tertinggal di tubuh ratusan manusia….
Cerpen : Liang Kubur Eksekutif oleh Risda Nur Widia
BAGI Abullah, semua kuburan itu adalah pintu menuju surga –dan pahala adalah kuncinya. Sayangnya, dua pemikiran ini saling bertentangan. Mereka percaya dengan keyakinan masing-masing yang sulit untuk dibenarkan secara langsung. Demikianlah seluruh…