Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Lemari Tua oleh Risda Nur Widia

Posted on Ming, 02 Okt 2022

HARI-HARI menjadi sulit bagi Tarno. Pria berumur dua puluh lima itu harus lebih pandai menyembunyikan diri di rumah pengapnya dengan pintu serta jendela yang selalu terpejam. Ia seperti itu karena orang-orang kini sedang menjadi malaikat maut baginya.

Zaman memang telah melahirkan sekelumit tuduhan yang tak pernah ia—atau teman-temannya—lakukan. Orang-orang mencari dan memburu mereka seperti bandit karena dianggap sebagai perusak tatanan masyarakat yang telah menyekutukan Tuhan dan agama dalam gerakan partai terlarang: Pekai.

Malam menua di luar. Tujuh kali anjing menggonggong dan sebanyak tujuh kali juga Tarno mendengar rengekan minta ampun yang mengiang teraup angin masuk ke kupingnya. Namun, cepat suara itu padam oleh suara berisik truk melintas. Keheningan pun merayap dengan rasa khawatir di dada Tarno.

“Seperti inikah nasibku yang terpuruk dalam ketakutan sendiri?” Pitamnya seraya memeluk kedua lutut di dalam lemari jati tua milik ibunya.

Tarno ingin menangis saat memikirkan semua itu, tapi tidak ada air mata yang keluar. Ia mencengkeram lututnya semakin kencang, hingga tanpa sengaja dirinya malah mendengarkan suara perutnya yang kelaparan.

***

Rasa lapar yang bercampur sedih terkadang menciptakan perasaan bersalah yang sulit dipahami. Ia merasa sudah mengkhianati kawan-kawannya dalam Barisan Tani Indonesia di desanya yang kini entah ada di mana. Kawan-kawannya itu mungkin sudah mati dieksekusi di tepi Sungai Wedi di Pandansimping oleh para tentara, atau mati di tangan para warga di pinggir Jembatan Kebo Mati.

“Sungguh cara mati yang tidak pantas,” desis Tarno.

Demikianlah beberapa hari lalu, setelah muncul siaran radio dari pusat pengamanan militer di kota yang mengabarkan matinya para jenderal dan Pekai dianggap sebagai dalang; mendadak dendam, amarah, dan kebencian masyarakat seakan segera meminta tumbal. Ditambah berita-berita sadis dari dua koran militer Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha mengenai pembunuhan para jenderal itu: sudah cukup melahirkan tafsir suci bahwa sepenggal kepala orang Pekai adalah kunci masuk surga.

Di tengah kelaparan, pikiran Tarno tiba-tiba meloncat pada cita-citanya masuk ke Barisan Tani Indonesia. Dahulu ia ingin menjadikan desa kecilnya Kraguman sebagai daerah makmur. Apalagi desanya merupakan wilayah agraris luas dengan petak-petak sawah; rincik air cernih dari hulu Sungai Wedi; serta ikan-ikan tawes yang hidup subur. Namun, walaupun demikian, desanya termasuk tempat banyak orang miskin tinggal. Kesenjangan sosial yang tinggi antara pemilik tanah dan pekerja sudah menjadi sesuatu yang tidak bisa terhindari lagi.

Ayah dan ibunya pun termasuk orang-orang miskin itu. Mereka memang rajin menggarap sawah, tapi tak pernah cukup untuk membuat perut keluarga mereka kenyang.

“Coba saja kalau Bapak bisa baca dan tulis,” sering ayahnya mengeluh. “Bapak pasti tidak akan kena tipu menggadaikan tanah peninggalan simbahmu.”

“Sabar, Pak,” sahut istrinya. “Yang mengalami hidup susah seperti ini tidak hanya kita.”

Tarno yang mendengarkan itu merasa sedih. Ia tahu sejarah petaka yang menimpa keluarganya ini dimulai dari rayuan setan tanah di desanya yang serakah. Para tuan tanah itu dengan berbekal janji serta cita-cita pemerintah dalam Undang-Undang No 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria berhasil menghasut orangtua Tarno.

“Kalian bisa menggadaikan sementara tanah kalian itu kepadaku,” bujuk Tukiman saat itu kepada Ayah dan Ibu Tarno.

“Tapi cuma tanah ini tempat kami bergantung,” Ayah Tarno ragu. “Kami takut tidak bisa menebusnya nanti.”

“Tenang saja, Pak,” Tukiman tersenyum licik. “Pemerintah mencintai orang-orang kurang mampu seperti Bapak. Jadi, ada aturan bagi para pemilik tanah untuk membagikan tanah mereka sebagai lahan produksi. Nanti Bapak bisa tetap bertani di tanah Bapak yang telah digadaikan itu, dan hasilnya kita bagi dua, sama rata.”

“Benar seperti itu?” Ayah Tarno mulai tergiur.

“Itulah cara pemerintah menyayangi kita semua agar hidup makmur bersama,” tambah Tukiman semringah.

Akhirnya cita-cita landreform meninabobokan Ayah dan Ibu Tarno. Namun, setelah menggadaikan tanah, bukan hidup yang layak yang mereka dapat. Mereka harus menggarap sawah yang bukan lagi milik mereka sendiri, dengan sebagian besar dari hasilnya yang melimpah diserahkan kepada Tukiman. Setiap kali panen besar, Tarno dan keluarganya hanya mendapat jatah tidak sampai dari seperempat.

Ajaibnya, di tengah segala kekurangan itu, Tarno masih sempat jatuh cinta. Tidak jauh-jauh pula, cintanya berlabuh di Aini, putri Tukiman.

“Lekaslah lupakan, Bung,” kata seorang sahabatnya. “Kau hanya mencari masalah!”

“Tidak! Dia juga mencintaiku!” balas Tarno kukuh.

Namun, Tarno tahu kalau Aini telah dilamar seorang pemuda kaya dari Jogja. Maka sebagai lelaki yang ingin memperjuangkan cintanya, ia mencoba melamar Aini.

“Saya ingin menikahi anak Bapak,” ungkap Tarno saat datang ke rumah Aini. “Berikan saya izin untuk melakukan itu.”

“Dasar monyet!” rutuk Tukiman. “Kau ini babu. Jangan mimpi bisa menikahi anak tuanmu!”

“Tapi, saya manusia, Pak,” jawab Tarno bergetar.

“Babu adalah monyet!” Tegas bapak Aini menimpali. “Jadi, kau adalah hewan! Jangan bermimpi menikahi manusia!”

Tarno pulang dengan hati nelangsa. Ia pun tidak bisa berbuat banyak ketika pernikahan Aini diadakan besar-besaran di Kraguman.

Pada hari pernikahan Aini semua warga diundang. Pertunjukan wayang digelar setiap malam selama seminggu. Namun, ingar bingar itu terasa pedih di hati Tarno. Bahkan di tengah pesta pernikahan itu, Tarno harus kehilangan ibunya karena penyakit kuning.

“Kau telah menghina kami!” pekik Tarno menangisi ibunya. “Aku akan membalaskan semua pedih di hatiku ini padamu, Tukiman.”

Setahun setelah ibunya meninggal, ayahnya menyusul. Mati di tengah sawah karena tersambar petir. Kematian kedua orangtuanya itu membuat Tukiman semakin semena-mena. Jatah panen sawah untuk Tarno tidak lagi diberikan. Ia bahkan tidak diizinkan menggarap sawahnya lagi. Itu yang membuat Tarno makin meradang dan bergabung dalam organisasi tani.

Semua wacana yang berbau revolusi saat itu memang berhasil membius Tarno. Apalagi Tarno sudah bertekad ingin mengambil kembali haknya dari Tukiman.

“Tukiman harus membayar semua perbuatan busuknya!” Janji Tarno pada dirinya sendiri.

Demikianlah, nyaris setahun belakangan, acap terjadi gerakan aksi oleh Tarno dan kawan-kawannya. Bahkan memasuki April, gerakan protes petani itu meluas di Klaten. Para petani kaya yang merasa terancam mencari pengayoman pada gerakan PNI. Penculikan dan pembunuhan terjadi. Memasuki malam 30 September 1965, para jenderal diculik, syahdan ditemukan mati di Lubang Buaya.

“Partai Pekai adalah pelaku pembunuhan. Mereka harus dibubarkan!” Komando dari pusat militer kepada masyarakat dan tentara.

Satu per satu kawan-kawan Tarno di BTI menghilang. Seorang karibnya pun beberapa hari lalu ditemukan mati di tepi rel kereta dengan kepala terputus dari tubuhnya. Nasib Tarno hampir sama. Ia sempat diciduk aparat di wilayah Piungan saat ingin bersembunyi di Prambanan oleh pemuda Marhaen.

“Pekai anjing!” Tegas mereka berang. “Mati kalian membusuk di sini!”

Tarno disekap di sebuah sekolah tua yang tidak dipakai. Pada hari kesepuluh, Tarno digiring masuk ke truk bersama puluhan orang lain.

“Kalian ikut bantu tentara angkat pasir di sana,” jelas seseorang entah siapa saat menaikkan Tarno dan rombongan ke dalam truk yang akan meluncur ke Sungai Wedi . “Kerja yang baik!”

Sesampainya di Sungai Wedi, mereka tidak lekas disuruh mengambil sekop atau cangkul. Mereka malah digiring menuju Jembatan Kebo Mati dan berbaris menghadap arah barat. Dari atas jembatan itu, Tarno melihat satu per satu orang dihabisi.

“Ampuuuun!” pekik mereka memilukan.

“Setan keparat,” cetus seseorang penjagal mengayunkan goloknya. “Mati saja kalian para pembuat onar!”

Tubuh Tarno kaku melihat semua itu. Namun, suara letusan senjata menyadarkannya bahwa ia juga dalam jurang maut yang sama. Ia kemudian mengerling untuk melihat seorang dari barisannya ditembak persis di kepala.

Satu per satu, dua puluh baris orang-orang yang dijajarkan di atas Jembatan Kebo Mati berjatuhan begitu mengenaskan ke arus kali yang deras. Hingga tiba giliran Tarno untuk merasakan dingin peluru itu.

“Apakah di dunia ini yang ada hanyalah penindasan?” gumam Tarno di detik-detik akhir sebelum peluru berlari ke arahnya.

Dor! Dor! Dor! Desing tembakan nyaring memekakkan telinga Tarno. Ia terjatuh. Pandangannya gelap.

Namun, ia tidak mati. Malaikat maut masih bermurah hati kepada Tarno. Letupan suara peluru dan ketegangan yang mencengkeramnya ternyata membuat Tarno pingsan terlebih dulu. Tubuhnya terperosok jatuh ke sungai yang deras di bawah.

***

Bergetar tubuh Tarno mengingat semua kejadian itu. Bahkan, malam ini, setelah beberapa kali mendengar deru truk dan langkah para serdadu, Tarno ingin menghambur keluar saja dari lemari persembunyiannya. Menyerahkan hidupnya kepada semua orang itu. Tarno ingin mati bertemu kawan-kawannya yang malang. “Kita semua harus mati demi keadilan yang tak pernah dapat direnggut!” Geramnya sekali lagi.

Terdengar kentung gebyok dari kejauhan. Tarno tahu pertanda dari suara itu. Warga sedang berburu para anggota partai yang tersisa. Tidak butuh waktu lama, suara kentung gebyok terdengar semakin mendekat.

“Anjing Pekai itu pasti bersembunyi!”

“Bakar saja rumah ini agar tidak menjadi markas Pekai!”

Tarno bergeming mendengarkan gemuruh kemarahan itu. Tarno pun masih tetap diam ketika asap mulai menyesaki dadanya dan lidah api menjilati pintu lemari. (*)

Risda Nur Widia. Alumnus Pascasarjana PBSI Universitas Negeri Yogyakarta. Karyanya sudah dimuat di media lokal dan nasional. Buku tunggalnya Berburu Buaya di Hindia Timur (2020).

sumber : Media Indonesia, 02 Okt 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme