Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Cerita tentang Bunga oleh Risda Nur Widia

Posted on Ming, 13 Apr 2025

Aku dan Rie mengamati bunga dalam pot yang sudah bertahun-tahun kami rawat. Bunga itu terlihat segar, bahkan ketika kami lupa menyiramnya. Bunga itu seolah tidak membutuhkan air. Kuncup bunga itu tetap mekar dengan indah tanpa terpengaruhi oleh cuaca kota Kyushu yang panas.

”Kenapa bunga ini tak pernah layu?” Tanya istriku dengan pipi merahnya setelah menelan lima sloki arak jenis sheisu yang dibelinya di Kobe. ”Itu bunga pemberian temanmu, ’kan?”

”Aku tak tahu, tetapi indah, bukan?”

Istriku mengangguk dengan ekspresi datar dan lugu yang mirip raut burung kecil shima enaga yang pernah kulihat di taman nasional Shiretoko. Selain itu aku juga teringat temanku yang selalu menggunakan topi.

Hisashi menanam bunga hime sayuri di ubun-ubunnya. Bunga yang—dengan kelopak berwarna putih dan tangkai sari ungu yang acap mengingatkan setiap orang dengan musim panas di Hokkaido; khususnya ketika melihat cahaya petang di jembatan Tsuru no Mai dengan Gunung Iwaki di belakangnya—tumbuh dengan baik. Bahkan bunga itu tak harus menunggu musim panas. Bunga itu mekar setiap hari di ubun-ubun Hisashi.

Sejak pertama aku—dan hanya aku satu-satunya—melihat bunga hime di ubun-ubun Hisashi, bunga itu tidak pernah layu. Bunga itu seolah bunga mitologi Tsubaki yang abadi, dan hanya tumbuh secara ajaib di Gunung Fuji. Aroma wanginya tak hilang. Maka, mudah menemukan Hisashi. Setiap kali mencium aroma bunga hime, baik di kantor, onsen, izayaki, dan tempat lainnya; sudah dipastikan kalau Hisashi ada di sekitar situ.

Aku pernah bertanya terkait ajaibnya bunga di ubun-ubunnya itu.

”Mengapa bunga di ubun-ubunmu itu tak pernah layu?” Tanyaku kepada Hisashi.

”Mungkin arwah ibuku yang menjaganya,” jawab Hisashi datar.

Biarkan aku membuat taman bunga di dalam dirimu, Hisashi.

Pria itu sejenak termenung setelah mengatakan itu kepadaku. Lalu, ia menjelaskan sejarah mengenai bunga di ubun-ubunnya. Bunga itu tumbuh sejak usianya sepuluh tahun—tepatnya bunga itu mulai ada setelah ibunya meninggal karena kecelakaan. Usai pemakaman ibunya, Hisashi selalu bermimpi bertemu dengan ibunya di taman dengan para hewan dengan wujud kombinasi antara manusia dan kura dan sering disebut sebagai Kappa. Di dalam mimpi itu, ibunya sibuk menyisir rambutnya seraya mengisahkan taman bunga yang ingin dikerjakannya—tapi tak sempat.

”Biarkan aku membuat taman bunga di dalam dirimu, Hisashi,” kata ibunya. ”Agar kau tidak kesepian di dunia.”

Mimpi Hisashi memang aneh. Namun Hisashi tetap bermimpi bertemu ibunya dengan para Kappa hampir selama setahun—setiap malam. Dan sama seperti mimpi-mimpinya, ibunya acap mengatakan akan membuat taman bunga di dalam dirinya. Sampai kemudian Hisashi menceritakan mimpi itu kepada neneknya. Wanita tua itu lantas memanggil pendeta untuk mengadakan upacara penyucian diri yang sering disebut sebagai Harae oleh warga lokal. Tetapi Hisashi merasa menjadi monyet yang pernah dilihatnya di kebun binatang Aso-Shi karena para pendeta melemparinya kacang.

”Apakah setelah itu kau tidak lagi bertemu dengan ibumu?” Aku menyela ceritanya.

Hisashi menggeleng dan mengatakan kepadaku kalau perbuatan yang dilakukan oleh neneknya itu hanya merendahkan harga dirinya. Mimpi itu tetap datang, dan Hisashi tidak hanya disisir oleh ibunya, tetapi ia juga diajak untuk menanam bunga. Adegan menanam bunga itu selalu berulang di sisa umurnya yang kesepuluh.

”Kau pasti bosan,” kata ibunya dalam mimpi. ”Tapi ini akan berharga bagimu kelak.”

Hisashi tidak berupaya menceritakan mimpinya kepada neneknya—karena hal yang sama pasti dilakukan lagi kepadanya. Demikianlah Hisashi menjalani segalanya dengan pasrah di dalam mimpi. Sampai suatu hari, menjelang usianya sebelas, Hisashi tidak lagi bermimpi bertemu ibunya. Akan tetapi pada salah satu mimpi terakhirnya, ada satu detail adegan yang berubah.

Setelah ini aku akan hidup kembali menjadi sesuatu yang tidak aku ketahui apa. Tapi aku berharap dapat menjadi bunga yang tumbuh di halaman rumahmu.

”Waktu yang diberikan kepadaku habis, Hisashi,” kata ibunya menitik air mata. ”Setelah ini aku akan hidup kembali menjadi sesuatu yang tidak aku ketahui apa. Tapi aku berharap dapat menjadi bunga yang tumbuh di halaman rumahmu.”

Hisashi setelah itu tidak pernah bertemu dengan ibunya. Hisashi bahkan tidak pernah lagi bermimpi sejak usianya menginjak sebelas. Tidurnya selalu kosong. Hari begitu saja berganti setiap kali Hisashi memejamkan mata di malam hari. Cuma ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya. Tunas bunga hime mulai tumbuh di ubun-ubunnya. Setiap hari batang bunga itu semakin menampakkan dirinya. Hisashi pun tidak merasa takut dengan hal ini. Ia merasa bahwa mungkin saja bunga yang tumbuh di ubun-ubunnya adalah reinkarnasi arwah ibunya.

Berbeda dengan nenek Hisashi. Wanita tua itu panik. Ia segera membawa Hisashi ke rumah sakit Kumamoto Shinto.

”Apakan cucuku baik-baik saja, sensei?” Tanya nenek Hisashi. ”Apa yang terjadi dengan cucuku?”

”Tidak ada yang salah dengan cucumu, Obachan,” jelas dokter itu. ”Tapi kejadian ini di luar nalar. Rasanya tidak mungkin sebuah tanaman dapat tumbuh di atas kepala manusia.”

Hampir selama enam tahun, Hisashi merasa dirinya menjadi tahanan perang Uni Soviet di Tiongkok karena kalah sebagai sekutu perang dunia kedua. Ia hidup dalam tekanan karena harus menjadi obyek observasi para dokter. Selain itu ia juga harus menggunakan topi agar tidak ada yang tahu mengenai bunga hime itu. Cuma semua penderitaan itu tidak menghasilkan apa pun. Maka menginjak usia dua puluh satu tahun, ia memutuskan tidak pernah datang lagi ke rumah sakit.

Aku janji tidak ada orang ketiga.

”Aku berusaha hidup normal setelahnya,” tambah Hisashi. ”Toh tidak ada apa pun yang membuatku menderita dari bunga ini.”

”Aku akan tetap menjadi orang kedua setelah nenekmu yang mengetahui mengenai bunga itu,” ucapku dengan tulus. ”Aku janji tidak ada orang ketiga.”

Aku tidak sengaja mengetahui bunga di ubun-ubun Hisashi. Peristiwa itu terjadi sekitar akhir tahun lalu, ketika aku berkunjung ke apartemennya. Hisashi yang lupa mengunci pintu rumahnya, sempat membuatku khawatir. Aku pikir rumahnya yang berada di sekitar distrik Jotomachi didatangi perampok. Aku secara perlahan masuk. Tak ada tanda-tanda perampok di apartemen Hisashi. Aku malah melihatnya termangu tanpa kaus dan topi. Pada kepalanya terlihat sekuntum bunga.

Hisashi sempat kaget dengan kemunculanku. Ia segera mengambil topinya.

”Apakah itu gantungan kunci?” Tanyaku segera.

Semula ia diam saja. Tapi kemudian karena tidak ada pilihan, ia menjawab, ”Ini bunga sungguhan.”

Semula aku tidak percaya. Akan tetapi ketika ia menunjukkannya kembali padaku, bunga itu bukan properti semata. Itu bunga asli.

”Semoga kau tidak takut,” katanya kepadaku. ”Karena ini hal yang tak masuk akal.”

”Sama sekali tidak,” balasku datar. ”Banyak hal di luar sana yang lebih aneh dari ini. Misalnya memotong jarimu sendiri untuk gantungan kunci.”

”Terima kasih banyak, kawan,” Hisashi juga mengatakan secara datar.

Setelah itu kami dapat dikatakan menjadi sahabat baik di kantor maupun di luar pekerjaan. Aku menjadi tahu hal-hal yang dilakukan oleh Hisashi di luar dunianya sebagai editor. Ia ternyata adalah seorang pencinta tanaman. Apartemennya penuh dengan tumbuhan hias. Ia menyirami tanaman itu dengan teratur setiap hari. Begitu pengertiannya dengan tanaman-tanaman hias itu, Hisashi tidak segan meninggalkan kantor untuk memeriksa mereka.

Aku berpikir semua hal konyol itu Hisashi lakukan karena ada kaitannya dengan bunga hime yang tumbuh di ubun-ubunnya. Bunga hime itu barangkali memberikan sensitivitas intuisi yang berbeda pada Hisashi. Ia lebih bisa memahami tumbuhan daripada orang-orang pada umumnya. Jadi terkadang aku merasa tidak aneh kalau tiba-tiba Hisashi menitikkan air mata tanpa sebab setelah melihat sebuah bunga yang mati di dalam pot.

”Apakah kamu tidak lelah untuk mengetahui sesuatu yang tidak orang lain pahami?” Aku sempat bertanya kepadanya. ”Setiap hari kau hanya merasakan kesedihan yang rumit.”

”Mulanya aku merasa lelah,” jawab Hisashi. ”Tapi tampaknya bersedih pada suatu hal yang rumit tidak membuat dunia ini kiamat lebih cepat.”

Hisashi memang tidak masuk akal, tetapi aku tidak banyak mendebatnya. Aku tahu dunia Hisashi tak semudah memahami bahwa malam selalu datang dengan warna gelap; dan pagi dengan warna yang cerah. Dunia Hisashi ada di antara ketidakpastian dan terombang-ambing tanpa warna yang mudah dipahami.

Secara tiba-tiba hari itu Hisashi mengajakku untuk mencari makan malam di kedai oden. Cuma aku tahu istilah ”makan malam” sebenarnya hanya cara untuknya menceritakan sesuatu kepadaku. Ia selalu menggunakan tabiat ini untuk menjelaskan hal-hal rumit kepadaku. Terakhir, ia mengajakku minum sake untuk membicarakan karya-karya Akutagawa dan motif pengarang hebat itu bunuh diri.

Aku tak mencoba menyinggung hal apa yang ingin dikatakannya selama menyantap oden. Kami lebih sibuk dengan lobak, tahu, dan daging dalam balutan bumbu dashi kuah oden. Setelah makan, aku masih tidak melihat gelagat bahwa Hisashi akan mengatakan sesuatu. Akan tetapi setelah meneguk dua sloki kecil sake, Hisashi baru mengeluarkan suara.

”Aku baru saja mengundurkan diri dari pekerjaanku,” terdengar suara serak Hisashi. ”Tapi aku tak tahu apakah itu sesuatu yang benar atau tidak.”

”Keluar?” Aku sempat terkejut. ”Apa rencanamu?”

Sebenarnya sangat disayangkan pilihan yang diambil oleh Hisashi. Penerbit pasti mengalami kerugian besar. Aku ingat bahwa ada tiga penulis besar di dalam penerbit yang ditemukan oleh Hisashi. Dari tiga penulis itu penerbit telah cukup banyak mendapatkan keuntungan.

Tiba-tiba, aku berpikir Hisashi akan pindah ke penerbit yang lebih besar.

”Kau salah bila berpikir ada kantor penerbit lain yang menawariku bergabung!” Kata Hisashi mengetahui pikiranku. ”Aku ingin membuat taman dan toko bunga.”

”Toko bunga?” Aku semakin tidak paham dengan pikiran Hisashi. ”Di kota ini?”

”Tentu bukan di kota ini,” jawab Hisashi. ”Tapi….”

Hisashi sejenak tercekat. Ia kemudian menceritakan bahwa setelah sembilan tahun tidur tanpa mimpi, semalam ia kembali bertemu ibunya. Ternyata ibunya tidak bereinkarnasi menjadi bunga di ubun-ubunya, tetapi menjadi setangkai bunga yang tidak sengaja ia tanam pada suatu taman di halaman rumahnya pada suatu kota kecil. Karena mimpi itu kemudian ia memilih untuk mengundurkan diri.

Kau akan selalu mengingatku dengan bunga ini.

”Tapi apakah kau yakin dengan mimpi itu,” tegasku kepada Hisashi.

”Memang terkesan konyol,” jawab Hisashi. ”Aku hanya mengikuti intuisiku saja.”

”Tapi kau bisa menanam bunga di kota ini, kan?”

”Memang, tapi aku akan mencoba mengikuti mimpiku.”

Akhirnya malam itu kami berpisah. Cuma sebelum berpisah, Hisashi mematahkan bunga hime di ubun-ubunnya. Bunga itu kemudian diberikannya kepadaku.

”Kau akan selalu mengingatku dengan bunga ini,” kata Hisashi. ”Kau adalah sahabatku.”

Sejak itu aku tidak pernah bertemu dengan Hisashi. Aku juga tidak tahu ke mana kawan baikku itu pergi.

Selama bertahun-tahun, aku membawa bunga hime pemberian Hisashi. Aku membawanya ke mana pun aku pindah. Bunga itu tetap baik-baik saja dengan banyaknya perubahan. Bahkan setelah aku menikah dengan istriku dan memiliki dua anak yang kini telah berusia masing-masing dua puluh empat dan dua puluh satu, bunga hime pemberian Hisashi masih kurawat baik.

”Jadi bunga ini memang tidak akan pernah layu?” wajah istriku semakin merah karena mabuk.

”Begitulah,” jawabku datar. ”Semoga bunga ini tetap indah!”

Aku dan Rie menatap bunga itu tanpa banyak mengetahui masa depan macam apa yang akan kami hadapi di masa tua seperti ini. Begitu juga mungkin dengan Hisashi yang entah di mana dengan bunga-bunga di hidupnya.

Catatan:

  1. Onsen: pemandian air panas yang berasal dari sumber air panas alami.
  2. Izayaki: tempat makan atau minum yang menyediakan makanan atau minuman yang berkandungan alkohol.
  3. Sensei: sebutan untuk seorang yang memiliki kemampuan khusus. Sensei tidak selalu merujuk pada guru. Ia bisa seorang dokter, arsitek, ataupun dosen.
  4. Obachan: sebutan dekat untuk memanggil wanita yang lebih tua (nenek).

Risda Nur Widia. Pengajar di Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta. Sedang menempuh pendidikan doktor di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (UNY). Buku tunggalnya Berburu Buaya di Hindia Timur (2020). Cerpennya tersiar di berbagai media.

Thomas Ari Kristianto, sekolah S-1 Desain di Institut Teknologi Bandung, selanjutnya S-2 di Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), lalu S-3 Arsitektur di kampus yang sama, tetapi belum lulus. Sekarang mengajar desain di ITS, menjalankan firma arsitektur interior, serta mengoleksi dan menaruh perhatian pada dunia seni rupa.

sumber : harian Kompas edisi 13 April 2025 di halaman 10 dengan judul “Cerita tentang Bunga”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme