Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Liang Kubur Eksekutif oleh Risda Nur Widia

Posted on Ming, 08 Agu 2021

BAGI Abullah, semua kuburan itu adalah pintu menuju surga –dan pahala adalah kuncinya. Sayangnya, dua pemikiran ini saling bertentangan. Mereka percaya dengan keyakinan masing-masing yang sulit untuk dibenarkan secara langsung.

Demikianlah seluruh permasalahan ini dimulai ketika ayah mereka masuk rumah sakit di pagi hari, kemudian meninggal siang harinya. Mereka lantas segera membawa pulang jenazah tersebut ke rumah untuk diurus keluarga. Setelah dimandikan dan disalati, Karta dan Abullah malah berdebat sesuatu yang tidak ada solusinya.

”Pokoknya bapak harus kita kuburkan di kompleks kuburan bagi orang-orang seagama,” tukas Karta dengan tegas. ”Bapak jangan dikuburkan pada kuburan umum atau kuburan agama lain.”

”Tidak ada bedanya bapak dikuburkan di mana, Mas,” sahut Abullah. ”Karena pada akhirnya tubuh bapak akan menjadi tanah.”

”Kau jangan durhaka,” Karta menimpali. ”Bapak bisa celaka kalau kita salah menguburnya.”

Karta kemudian menjelaskan kalau ayahnya bisa saja tersesat masuk surga orang lain bila salah dikuburkan. Abullah yang mendengar itu merasa geli. Namun, kakaknya bersikap seperti batu yang sulit dibelah.

”Yang lebih parah dari tersesat dan tidak bisa pergi ke surga karena kita menguburkannya di tempat yang salah,” lanjut Karta. ”Bapak bisa dianggap murtad karena kita salah menguburkannya pada kuburan agama lain.”

Perselisihan itu terjadi selama satu jam. Karta masih tidak mau mengalah dengan keputusannya. Ia bersikukuh ingin menguburkan ayahnya pada kompleks pemakaman seagama. Akhirnya, Abullah mengalah. Ia mengikuti keinginan kakaknya karena tidak ingin menyiksa mayat ayahnya yang membutuhkan pemakaman hari itu.

*

Abullah dan Karta segera menuju pemakaman seagama yang jaraknya sekitar lima kilometer dari desa. Mereka ingin memastikan lebih dahulu apakah di sana ada lahan kosong yang akan digunakan untuk mengubur ayahnya atau tidak. Di sana mereka pun segera menemui seorang pengurus kuburan yang sedang bersantai.

”Mau ngubur, Mas?” tanya penjaga. ”Kompleks kuburan ini sepertinya penuh, Mas. Pagi tadi lahan kosong yang tersedia sudah dipakai.”

”Haduh!” Karta mendengus. ”Bagaimana ini?”

”Apa benar-benar tidak ada lahan lain di sini, Pak?” Abullah mengejar. ”Kasihan jenazah bapak saya. Dia harus segera dikuburkan.”

Penjaga itu melirik Karta dan Abullah dengan iba. Akhirnya, penjaga kubur itu mengajak Karta dan Abullah berkeliling untuk memastikan. Hanya, saat berjalan memastikan kompleks kuburan itu, Karta, Abdullah, dan si penjaga kubur terlibat pembicaraan kurang menyenangkan.

”Kompleks kuburan ini sebenarnya sudah sangat penuh sejak tahun lalu,” jelas si penjaga. ”Banyak orang ingin di kubur di sini. Padahal, kuburan umum yang ada di desa mereka tersedia.”

”Memang apa alasan mereka ingin dikuburkan di sini, Pak?” Abullah bertanya lugu.

”Aneh alasannya, Mas,” penjaga kubur itu mengerling pada tamunya. ”Mereka takut kalau saudara mereka tersesat atau menjadi murtad karena salah dikuburkan di tempat kuburan orang-orang tidak seagama dengannya.”

”Itu bukan aneh, Pak,” Karta jengkel menimpali. ”Bahwa si mati bisa tersesat dan menjadi murtad, bahkan masuk neraka, karena salah dikuburkan itu, benar!”

Penjaga kubur itu melengos ke arah Karta. Penjaga kubur itu mendadak merasa bersalah karena telah mengucapkan hal itu. Si penjaga kubur meminta maaf. Abullah sendiri merasa kurang nyaman dengan sikap kakaknya.

”Saya ingin tanya,” suara Karta terdengar ketus. ”Bagaimana rasanya bila bapak gagal masuk surga karena hal sepele, seperti salah dikuburkan di tempat yang bukan seharusnya?”

Penjaga kuburan itu hanya diam. Ia tidak berusaha menyahuti pertanyaan Karta. Sementara Abullah berusaha untuk mengalihkan suasana.

”Bapak sepertinya benar,” tukas Abullah di tengah keadaan yang memanas itu. ”Kuburan di tempat ini sudah penuh.”

”Kita harus menguburkan jenazah bapak di kompleks pemakaman seagama!” potong Karta.

”Sebenarnya ada satu tempat yang cukup luas untuk menguburkan jenazah bapak Anda,” si penjaga kubur memberikan solusi. ”Kompleks kuburan itu juga diperuntukkan bagi jenazah dengan agama yang sama dengan bapak Anda. Tapi, bagi siapa saja yang ingin dikubur di sana harus membayar.”

”Tidak masalah!” suara Karta meninggi. ”Berikan kami alamatnya!”

Penjaga kubur itu segera memberikan alamat yang dimaksud. Karta pun segera pergi setelah mendapatkan alamat itu. Sementara Abullah meminta maaf dan berterima kasih kepada si penjaga kubur karena telah membantu mereka.

*

Karta dan Abullah segera menyeret gas motornya menuju kompleks pemakaman yang dimaksud oleh penjaga kuburan itu. Setelah sampai di kompleks pemakaman tersebut, mata Karta dan Abullah langsung mendapati keluasan dan kemegahan tempat tersebut. Bahkan sebelum memasuki pemakaman tersebut, mereka sempat melihat sebuah gapura dengan tiga pilar yang sangat besar. Kompleks kuburan itu juga sangat rapi. Setiap ujung rumput di tempat itu bagai dipangkas seukuran satu dengan lainnya.

Abullah dan Karta membawa motor mereka pelan ke arah kantor pusat pengurusan makam tersebut. Sesampainya di sana, mereka segera menemui bagian administrasi pemakaman.

”Ada yang bisa kami bantu, Pak?” tanya seorang petugas. ”Silakan duduk.”

”Terima kasih,” jawab Karta dan Abullah. ”Kami ingin memesan satu liang makam di sini.”

”Oh, ya, silakan buka katalog ini,” si petugas menyodorkan sebuah katalog kepada Karta dan Abullah. ”Anda bisa memilih jenis kuburan macam apa yang diinginkan.”

Karta dan Abullah melongo melihat tiga katalog dengan warna yang berbeda tersebut, yaitu hijau, silver, dan emas. Namun, ketiga Katalog itu malah membuat mereka bingung.

”Mengapa ada tiga jenis katalog?” tanya Abullah. ”Apa bedanya tiga katalog ini?”

”Jadi, Anda pasti baru pertama ke tempat ini,” si petugas tersenyum. ”Katalog ini adalah kriteria dan kelas yang akan Anda pilih untuk memakamkan jenazah kerabat Anda.”

”Maksudnya?” Karta menyahut.

”Begini, Pak,” si petugas sabar menjelaskan. ”Katalog kuburan warna hijau itu adalah kuburan kelas tiga. Biasanya dipakai untuk orang-orang kurang mampu. Katalog warna silver itu adalah kelas premium. Si mayat nanti akan mendapatkan tambahan layanan doa dan perawatan setiap pekan. Terakhir yang emas adalah kelas supereksekutif. Ini kuburan jenis paling mahal karena akan banyak bonus, seperti doa, perawatan kuburan, bunga, dan bila perlu tambahan orang untuk menangisinya. Konon semakin banyak orang yang melayati, si mayat akan semakin disegani sebagai seseorang waktu hidup dahulu.”

Abullah tercenung dengan tawaran tidak masuk akal tersebut. Ia baru kali pertama mendengar ada sebuah prestise kelas sosial dalam proses penguburan jenazah seseorang.

”Memang berapa harga satu liang kubur berdasar kelas warna ini?” tanya Abullah lagi.

”Murah sekali, Pak,” jawab si petugas. ”Untuk katalog warna emas tiga puluh juta, warna silver lima belas juta. Untuk warna hijau lima juta. Tapi khusus warna hijau, kami kadang memakamkan jenazah dengan hewan peliharaan.”

”Loh, ini bukan makam manusia saja?” Karta bertanya bingung.

”Tentu ini makam manusia. Khusus untuk orang-orang seagama pula,” tambah si petugas. ”Cuma, kami menyiapkan makam bagi hewan peliharaan si jenazah bila mati kelak. Jadi, bila mereka sama-sama telah mati bisa saling bertemu di alam arwah.”

”Tidak masuk akal,” Abullah memotong.

”Harganya juga terlalu mahal.”

”Tidak masuk akal bagaimana, Pak?” si petugas bertanya.

”Tidak mungkin arwah seseorang yang sudah mati dapat bertemu,” sambung Abullah.

”Oh, itu kepercayaan orang saja, Pak. Kami hanya menyediakannya,” si petugas tetap ramah.

”Tapi, Anda menjual satu petak kuburan di sini sangat mahal,” tambah Abullah lagi. ”Kami hanya ingin menguburkan jenazah ayah kami, bukan membeli tanah untuk dibangun rumah.”

”Bapak harus mengerti bahwa harga sebuah kuburan bisa menentukan masuk atau tidaknya seseorang ke surga, Pak,” balas si petugas dengan ketus. ”Anda tidak perlu memaksakan pula bila tak mampu.”

”Gila!” sambar Abullah bangkit. ”Ini tidak masuk akal!”

Abullah pun meninggalkan tempat itu. Karta sendiri bingung dengan tawaran-tawaran dan situasi yang terjadi. Akhirnya, Karta mengikuti langkah adiknya.

*

Sesampainya di rumah, Karta dan Abullah kembali berdebat. Seperti pertama masalah ini bermula, Karta masih kukuh dengan keputusan agar ayahnya dikubur pada kuburan orang-orang yang seagama dengan ayahnya. Tetapi, bagi Abullah semua kuburan tidak ada bedanya. Abullah juga menambakan kepada kakaknya, masuk atau tidaknya ayah mereka ke surga bukan karena di mana ia dikuburkan, melainkan amalnya semasa hidup.

”Kau tega melihat ayahmu tersesat dan masuk neraka karena tidak berkumpul dengan orang-orang seiman?” tanya Karta.

”Tapi, apa kau tahu kalau orang-orang yang seiman itu akan masuk surga juga?” bantah Abullah.

Kedua saudara itu terus berdebat hingga sore menjelang. Jenazah ayah mereka semakin dingin teronggok di ruang tengah. Para tamu pun sudah pergi karena begitu lamanya proses pemakaman tersebut.

Di tengah perdebatan sengit dua saudara itu, tiba-tiba salah satu anggota keluarga berteriak dari belakang.

”Jenazah bapak! Jenazah bapak!” teriakan itu menyeret semua orang berkumpul. ”Jenazah bapak dibawa jutaan semut!”

Karta dan Abullah segera memeriksa. Mereka kemudian tertegun tidak percaya ketika melihat jenazah ayah mereka dibopong oleh jutaan semut menuju suatu liang besar di belakang rumah mereka. (*)

 

RISDA NUR WIDIA : Alumnus PBSI UST dan Pascasarjana PBSI UNY. Buku tunggalnya, Berburu Buaya di Hindia Timur.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 8 Agustus 2021

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme