Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Apartemen Itu Menelan Rembulan oleh Han Gagas

Posted on Kam, 11 Feb 2021

Hawa dingin langsung menggigit pori-pori kulit Mery ketika tangannya membuka daun jendela. Angin malam menghempas wajahnya yang menekuk sedih. Suaminya tidur dalam dengkur yang teratur. Anak-anak lelap di kamarnya masing-masing. Mery tak bisa memejamkan mata. Tubuhnya sebenarnya lelah karena seharian mengurusi dapur dan kebersihan rumah namun karena pikirannya yang gelisah membuatnya tak bisa tidur.

Dahulu, setiap membuka daun jendela sepasang matanya bisa menatap rembulan yang bercokol di langit malam dengan bintang-bintang yang berkilau bagai berlian. Awan-awan tipis menggumpal berjajaran, sinar bulan meneranginya membuatnya serupa kapas-kapas yang lembut beriringan.

”Sungguh kenapa aku tak mampu seperti kalian. Kenapa aku tak selalu bisa menjadi kapas yang ringan…,” batinnya.

Mery merasakan kulitnya berangsur dingin oleh semilir angin malam, ia menolehkan kepalanya menatap jam yang beranjak tua, tak menyadari bahwa langkah-langkahnya telah menyeretnya hingga sejauh ini, ke situasi hatinya yang tak lagi ia kenali, rasanya semua terasa samar-samar.

Kini awan tak lagi ada di sana, bintang-bintang yang berkelap-kerlip telah berganti dengan lampu-lampu dari kamar-kamar, dan bulan tak pernah tampak, apartemen yang tinggi itu telah menelannya. Sosok bangunannya yang tinggi bagai raksasa modern yang menguasai semesta. Andai bisa melihat rembulan dan ribuan kerlip bintang, galaunya sedikit terusir, setidaknya ia sedikit terhibur menatap keindahan malam yang menawan. Kini, ia tak mampu lagi memperoleh sesuatu yang bisa membawanya pergi dari perasaan sunyi ini.

”Entah kenapa selalu saja ada kekosongan yang melubangi hatiku setiap malam atau senja yang katamu romantis itu, anak-anak tiada di rumah atau tengah lelap, dan kau, suamiku, menarikku dalam gerakan-gerakan tubuh yang rahasia bagi anak-anak. Gerakan-gerakan tubuh yang tak sekalipun menjauhkanku pergi dari kehampaan ini.”

”Senja juga tak lagi bisa aku kenali. Sesuatu yang mengobati hatiku ketika menatap ufuk barat yang kemerahan telah lenyap ditelan sosok besar itu. Termasuk sosok ayah yang menenteng senapan burung atau alat pancing berjalan ke barat dalam lautan merahnya senja seperti hendak menaklukkan gunung yang menjulang di sana.”

Ya, puncak Gunung Merapi yang bermantel cahaya merah dari matahari, menyelinap dan menerobos gumpalan awan-awan, garis-garis cahaya yang menghunjam kaki-kaki langit terus melaju hingga ke kaki gunung, dan menghamparkan merahnya senja itu hingga di jalanan aspal di seberang halaman rumah.

Senja menyepuh emas di barat sana, membentuk gelombang patahan-patahan awan, dan lapisan-lapisan emas merah di atas gunung. Merapi tengah bermandikan cahaya. Sesekali larik-larik putih merobek lanskap langit memerah itu, burung-burung kuntul terbang menyeberang angkasa, hijrah, menempuh perjalanan yang jauh. Dan, yang paling menakjubkan adalah ketika melihat ribuan kelelawar terbang menerobos jendela-jendela di gudang tua di sudut perempatan jalan, berhamburan, ketika merah berubah jadi kelabu, dan gelap berangsur-angsur turun, ribuan kelelawar berdericit terbang lepas menyerbu langit kelam dalam latar Gunung Merapi yang mulai samar-samar menghilang.

”Semua yang tampak di mataku adalah lautan cahaya senja dengan ayah di dalamnya.”

Ayah kenapa kau terlalu lekas pergi?

***

”Ayah berharap kau menemukan lelaki yang tepat anakku….” Baru pertama kali sepanjang usiaku hingga hampir kepala tiga ini, mendengar nada suara ayah yang ragu dan dipenuhi kecemasan. Intonasi suara dan nada yang ditimbulkan, bunyinya seperti debur ombak yang disapu badai. Untuk kali pertama juga, ia tak memandangku ketika berbicara, melemparkan matanya pada sore yang tiada senja itu karena mendung membawa pesan hujan. Kenapa senja yang penuh angin itu lebih ia sukai ketimbang menatap mata anaknya yang diluapi perasaan rindu yang membubung tinggi.

”Apakah ayah sakit?”

Baru pertama kali sepanjang usiaku hingga hampir kepala tiga ini, mendengar nada suara ayah yang ragu dan dipenuhi kecemasan. Intonasi suara dan nada yang ditimbulkan, bunyinya seperti debur ombak yang disapu badai.

”Jangan khawatirkan ayah, esok ketika sore tak lagi mendung dan senja kembali hangat, ayah pasti akan baik-baik saja.”

Untuk sekian detik, aku merasa ayah tak baik-baik saja, namun bel rumah telah berbunyi, calon suamiku pasti yang telah memencetnya.

Sore yang mendung itu, ia beserta ayahnya—seorang lelaki tua kurus dan botak yang terlalu sulit tertawa dan tampak tak istimewa—melamarku, dan ayah dalam nada yang terdengar samar mengiyakan pinangan itu. Aku lega, dan bahagia. Lelaki pujaan yang tampan dengan wajah yang bercahaya itu, dengan rambut yang selalu rapi kelimis, kumis yang berjajar rapi, dan bahu yang bidang, walau gerakannya tampak sedikit kaku, ooo selalu membuat jantungku berdetak kencang.

***

Angin malam menampar muka Mery, membuatnya kembali dari bayangan  masa lalunya yang kerap datang saat ia merasa sendiri. Apakah suara pecah ayah dan matanya yang nampak gelisah itu sebenarnya hendak berkata tidak, padaku?

Dari hari ke hari, ayah makin banyak diam, apakah itu hanya perasaanku saja, bukankah mungkin karena senja tak lagi ada karena tak tampak dari beranda rumah kami; lapis demi lapis apartemen itu menutupnya perlahan-lahan, senja telah pergi, juga puncak Merapi yang agung itu, dan suamiku membawaku pindah ke rumah susun di sebelah apartemen itu; segalanya membuat ayah seperti dirundung kesedihan.

Di lantai tiga rusun yang berantakan ini, dari sini aku bisa memandang ayah di kejauhan sana yang tengah menjemur pakaiannya, menjemurnya di kawat-kawat yang berjajar di samping rumah. Berusaha sepagi mungkin dijemur, agar sinar matahari masih bisa mengeringkannya karena agak siang sudah terhalang bangunan apartemen.

Ayah tampak bergerak begitu pelan.

”Ayahmu lebih memilih tinggal di rumah itu, Mery. Sedang aku tak mampu hidup di sana, tolong, mengertilah….”

Demikianlah, untuk pertama kali dalam hidupnya, Mery seperti ditempatkan pada dua pilihan yang amat sulit, yang pada akhirnya dia harus mengkhianati perasaan ayah. Untuk pertama kalinya, dia dipaksa untuk memilih jalan yang tak dia sukai.

”Bukankah senja sudah tak nampak lagi, ayah. Dari rumah susun bukankah ayah kembali bisa menikmati senja…”

”Memang benar, tapi setiap sudut dalam rumah ini selalu memantulkan bayang ibu dan kamu yang tak mampu aku lupakan. Setiap sore kau menyapu halaman yang penuh dengan serakan daun kering sambil menikmati guyuran cahaya senja yang melimpah, setiap saat kau membersihkan setiap benda di dalam rumah ini, kau duduk di kursi belajarmu, atau menatap televisi, menyirami bunga-bunga kamboja kita, sedang ibu membikin sambal pedas di dapur, mengangkat jemuranku melipat satu per satu dengan rapi lalu menyeterikanya, dan aku rasa kenangan itu lebih dari cukup untuk mengobati rasa rinduku pada kalian, tentu jika kau benar-benar pergi.”

”Kita, kan, dekat ayah. Aku akan sering mengunjungi ayah.”

Ayah melepasku pergi dengan gerak yang samar, hanya yang selalu membuatku termangu ragu adalah: sorot matanya yang enggan menatap mataku.

***

Lama-lama Mery merasakan tulangnya seperti dilolosi: tertusuki jarum hawa dingin menjelang dini hari itu, jam masih pukul tiga, matanya benar-benar tak mengantuk. Suaminya mendengkur keras, anak-anaknya tengah pulas. Suara cicak membuatnya tersadar bahwa lalu lintas bayangannya tentang ayah tak juga benar-benar pergi.

Walau kini rumah itu tiada nampak lagi—pemerintah kota telah menggusurnya untuk dibangun pusat pertokoan—tetapi tetap saja bayangannya, dirinya bersama ayah, ibu, dan segala benda dan tanaman di sana, tak juga bisa dilupakannya. Rumah telah ambruk sesaat sebelum ayah pingsan yang dengan segera digotong para tetangga ke rumah sakit.

”Bayangan-bayangan datang silih berganti sepanjang aku berlari ke rumah sakit, dan waktu tak pernah bersahabat denganku, ketika aku datang, seorang perawat telah menutupkan tirai putih di atas mukanya. Aku menangis keras, tiba-tiba aku merasa sangat bersalah dan jadi anak yang paling tak berguna.”

[Solo, 2020]

***

Han Gagas, menulis buku, di antaranya: biografi Sang Penjelajah Dunia (Republika, 2010), kumpulan cerpen Catatan Orang Gila (Gramedia Pustaka Utama, 2014), dan novel Orang-orang Gila (Buku Mojok, 2018).

sumber : kompas.id, 11 Feb 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme