Tubuh itu menari mengikuti arah angin. Diiringi desau dedaunan ia bergerak. Pelan, pelan, begitu pelan. Guruh pecah di udara. Tariannya berhenti. Tubuh itu masih melayang, menggantung, tidak menapak tanah. Nyawanya lenyap. Ibuku tiada.
Langit menghitam, tapi enggan turunkan hujan. Raga ibuku masih menggantung dan aku hanya bisa terpaku. Tali jerat di lehernya telah melenyapkan suara merdu berikut lantunan lagu-lagu pengantar tidur untuk melelapkanku.
Tak akan ada lagi dekapan hangat dan suara detak jantung yang berpacu dengan tetes air hujan yang menembus atap rumah kami yang bocor. Tak akan ada lagi suapan makanan dari jari-jemarinya yang gemulai- yang menyisakan sedikit kesenangan masa muda yang pernah ia rengkuh. Tak akan ada lagi senyuman- walau hanya senyum yang disunggingkan untuk menyenangkan penonton. Senyum yang menjadi penghiburanku. Senyum yang seolah berkata, kita baik-baik saja. Kita bahagia.
Ibu tidak pernah sejahat ini kepadaku sebelumnya. Ibu selalu menemaniku, bahkan jika aku dicemooh tetangga dan orang asing karena keadaanku. Ibu selalu bangga memanggilku anaknya dan menyebutku miliknya. Tapi kali ini, ia tidak membawaku turut serta. Mengapa Ibu meninggalkan gadis kecil yang juling dan gagap sendirian?
Aku tergagap memanggilnya. Suaraku tercekat di tenggorokan. Bercampur dengan segukan tangisku, aku tak tahu suara macam apa yang akhirnya keluar dari mulutku. Aku hanya meyakini bahwa itu adalah jeritan batinku. Jiwaku menjerit memanggilnya. Ibu..!!
Aku mencoba berhenti menangis. Tapi, nyatanya, aku hanya diam sejenak mengambil napas, lalu meneruskan isakanku lagi. Bahkan jika aku ingin berhenti, air mataku meleleh dengan sendirinya. Kali ini, jasad tak bernyawa itu tak akan hidup lagi untuk menghapus air mataku dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Sekarang, aku tidak baik-baik saja. “Ibu jahat!” Desir angin membawa serta suaraku.
Bisakah Ibu memberitahuku apa yang harus kulakukan sekarang? Tidak adakah orang yang mendengar tangisanku atau melihat tubuhmu yang menggantung dari bawah lereng bukit sana? Bagaimana aku harus melalui hari-hari esok? Ah, tidak. Aku bahkan tidak habis pikir bagaimana untuk melewati malam ini.
Kuelus selendang merah yang sejak tadi kudekap. Kurentangkan dan kubelitkan pada leherku. Kutarik dengan erat kedua ujungnya. Beberapa kai percobaan dengan tenaga yag lebih besar. Tapi, ia tak mampu merenggut nyawaku seperti tali jerat pada lehermu, Ibu. Aku belum mati juga. Sial!
“Ibu, mengapa harus di atas bukit ini kau menggantung diri?!” Tidak ada orang yang melihatmu mati di sini. Hanya ada aku dan kesepian- yang kau tinggalkan bersamaku. Mengapa di saat sekarat pun, kau masih harus merasa terasing dan mengasingkan diri?!
Bukit ini- kau sering mengajakku ke sini. Mengajariku menari- satu-satunya hal yang bisa kau wariskan dan satu-satunya hal yang menjadi penghiburanku.
“Di atas bukit ini”, katamu, “adalah satu-satunya momen kita bisa berdiri lebih tinggi dari semua orang-orang kampung, yang selalu saja memandang kita rendah”.
“Dari atas bukit ini, kita bisa memandang pada atap-atap rumah mereka, pada kesombongan mereka, pada keangkuhan mereka, dan pada menara-menara rumah ibadah tempat mereka mengadukan hidup- mungkin juga mengadukan mengapa orang-orang seperti kamu dan Ibu masih juga hidup”.
“Tapi, kita tidak bisa melihat rumah kita dari sini, Bu?”
“Apa yang kamu sebut sebaga rumah itu, sayang, adalah petak kecil dengan atap bocor di sana-sini, lantai tanah yang selalu lembab, dan dinding yang banyak lubangnya ditutup seadanya”
Dari atas bukit ini, kita bisa memandang pada atap-atap rumah mereka, pada kesombongan mereka, pada keangkuhan mereka, dan pada menara-menara rumah ibadah tempat mereka mengadukan hidup- mungkin juga mengadukan mengapa orang-orang seperti kamu dan Ibu masih juga hidup
Rumah itu terlalu malu untuk menyebut dirinya sendiri sebagai rumah. Ia tidak menjulang tinggi, mentereng dan menggugah mata. Rumah kita begitu pemalu. Ia mojok sendirian di sudut kampung. Dan hanya rumah itu yang kita miliki.
Ibu, harus kuapakan jasadmu? Apa yang harus kulakukan? Aku tidak pernah menyelenggarakan pemakaman sebelumnya. Yang aku tahu hanya bahwa orang mati ditanam di dalam tanah. Seperti ketika aku menggali lubang untuk menguburkan kucingku di halaman depan rumah. Aku tidak pernah menghadiri rumah duka siapapun. Kau satu-satunya keluargaku dan satu-satunya kematian yang harus kuhadapi. Tapi, tidak ada yang memberitahuku bagaimana melakukannya.
Mengurus jenazah memang tidak mengikat kewajiban pada semua orang. Tapi, pada yang bukan semua orang itu pun, siapa pula yang sudi untuk mengurus jenazahmu? Seorang penari yang melenggak-lenggokkan tubuhnya untuk mendapatkan uang. Bergerak dari belaian laki-laki yang satu ke laki-laki yang lain. Ia hina! Terkutuk! Anaknya yang tidak normal itu buktinya. Seperti itu sebutan orang-orang kampung kepadamu, Ibu.
Mungkin Pak Haji dan keluarganya akan memandikan dan menutupmu dengan lapisan-lapisan kain putih. Tapi, siapa yang akan menggali kuburan untukmu?
Siapa yang akan membayar upah mereka? Dan di tanah siapa kau akan dikuburkan? Setelah tak lagi bernyawa pun, kau masih luntang-lantung.
Bagaimana jika aku turut mati saja, Ibu? Biar aku tak usah memikirkan pemakamanmu dan kehidupanku. Tapi, selendang merahmu ini tidak cukup kuat menjerat leherku. Bagaimana jika kugelindingkan saja tubuhku ke lereng bukit di bawah sana, Ibu? Mungkin aku bisa mati kan, Bu? Ibu, apakah kematian menyakitkan?
Ibu, ibuku yang cantik, kau tidak benar-benar mati, bukan? Dunia seharusnya bersikap ramah bagi orang-orang yang cantik. Seperti Dinda, temanku- ah tidak, ibunya melarangnya bermain denganku. Dinda cantik, semua anak kecil dan ibu-ibu di kampung kita menyukainya. Ibu juga cantik, tapi mengapa ibu-ibu di kampung kita tidak menyukai Ibu?
Apalagi ketika sedang menari, kecantikan ibu bertambah-tambah. Aku ingat suara gendang dan gerakan tari Ibu yang terpatah-patah. Ciamik sekali. Bapak-bapak berebutan ingin ikut menari sedekat mungkin dengan Ibu. Tapi, itu sudah lama sekali. Ketika setiap hajatan masih diisi dengan tari-tarian dan bukannya pengajian. Ketika kelompok tari Ibu masih sering diundang untuk itu.
Sekarang, pengajian ada di mana-mana. Dakwah di setiap hajatan. Pernikahan, kegiatan kelurahan, hingga agenda ibu-ibu arisan setiap minggu dan bulan. Kelompok tari Ibu bubar dan Ibu kehilangan mata pencahariaan.
Tapi, Ibu masih tetap cantik. Bahkan jika debu-debu tepung adonan kue hinggap di wajah dan rambutmu, dan aroma asap tungku pembakaran menempel di bajumu, kau masih tetap cantik. Ibu adalah Ibu tercantik di kampung ini.
Hingga suatu hari, kecantikan Ibu menjadi petaka. Karena orang-orang yang tidak cantik ternyata membenci orang-orang yang cantik.
Istri juragan beras di kampung memergoki suaminya tengah diam-diam memberikan kita seliter beras. Diberikan cuma-cuma karena kita tentu saja tidak punya uang. Tapi, si Istri tidak memahami kebaikan itu. Baginya, Ibu menggoda suamiya. “Perempuan sundal!” Ia memaki dan meludah jijik tepat sebelum meninggalkan halaman rumah kita.
Sejak hari itu, dunia tidak pernah ramah bagi kami. Tidak juga bagi ibuku, walaupun ia cantik. Kabar menyebar dari mulut ke telinga, merambat di udara menuju gendang telinga ibu-ibu yang tidak menyukai perempuan cantik. Atau mungkin saja, mereka hanya tidak menyukai ibuku.
Aku bertanya pada ibu apa artinya perempuan sundal dan ibu hanya menjawab sebaiknya aku tidak usah tahu. Tapi, hampir setiap hari aku mendengarnya, Bu. Di jalan-jalan kampung hingga di pasar tempat Ibu menjajakan kue-kue. Lalu kita pindah ke pasar lain, tempat kata-kata itu tidak terdengar. Tapi, hidup semakin melelahkan, Bu. Pasar itu terlalu jauh dan dagangan Ibu sering tak laku. Lalu, Ibu semakin sering menangis sejak itu.
Baca juga : Apartemen Itu Menelan Rembulan
Ibu mulai mengajariku menari. Hingga hari-hari ketika Ibu sering menangis, kita pun semakin sering menari. Di atas bukit ini. Dengan gendang kecil dan selendang merah milikmu. Ibu mengajariku Jaipongan. Menekuk badan, bergerak menurut ketukan gendang. Aku ingin kita selalu bisa menari bersama. Tapi, orang-orang kampung mengatakan itu dosa. Menari Jaipongan itu porno.
Aku tidak banyak mengerti perkataan orang-orang kampung, Ibu. Yang aku tahu, kata demi kata yang mereka ucapkan, semakin membuat Ibu tampak lelah. Semakin sering menangis. Lalu tertawa. Tapi, aku tidak tahu apa yang Ibu tertawakan.
Hingga hari ini tiba. Kita akan menari seperti biasanya. Tapi, Ibu lupa membawa selendang dan memintaku pulang ke rumah untuk mengambilnya. “Ibu jahat!” Aku kembali dengan selendang merah itu dan menemukan ibuku menggantung tak bernyawa.
Dan bapak? Siapa pula yang harus aku panggil bapak itu? Apakah aku pernah bertemu dengannya, Ibu? Mengapa aku tidak bisa mengingatnya? Mengapa juga aku terpikir tentang Bapak di saat-saat seperti ini.
Ibu, tali jerat ternyata telah lama menjerat hidup kita. Menjerat Ibu, karena Ibu cantik dan menjeratku karena aku tidak cantik. Aku juling, gagap dan tidak punya bapak. Teman-teman berlarian menjauhiku ketika ibu-ibu mereka memanggil untuk makan siang dan tidak kembali lagi.
Hanya masalah waktu hingga jeratan tali itu semakin erat dan mencekik. Dan saat itu tiba ketika kulihat tubuhmu menggantung dalam jeratan tali yang nyata di hadapanku.
Polewali Mandar, 21 November 2019
****
Salehati menyelesaikan pendidikan jurusan Ilmu Hubungan Internasional di FISIP Universitas Hasanuddin. Menggemari sastra, filsafat dan politik dan menghabiskan banyak waktu merenungi kehidupan yang fana ini. Aktif menulis puisi, opini dan ulasan buku untuk diri sendiri.
sumber : kompas.id, 13 Feb 2021.