Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Terusir oleh Ade Mulyono

Posted on Rab, 24 Feb 2021

Kesedihan sepertinya makin akrab dengan perempuan muda beserta bayinya. Sudah berhari-hari derita tak bosan mengepung hidupnya. Baru saja menginjakkan kaki di pekarangan rumah salah seorang warga di desa sebelah ia sudah disembur: “Istri orang kumunis, ya? Merad!” begitulah orang itu mengusirnya.

Perempuan itu pergi membawa air matanya. Kembali ia terlunta-lunta dari satu desa ke desa lainya—dari satu kesedihan ke kesedihan lainnya.

Keputusasaan tergurat di wajahnya yang layu. Setan pun mulai bergelantungan di pikirannya—membisikkan rayuan. Menggoda dirinya bahwa mengakhiri hidup ialah satu-satunya jalan terbaik untuk dirinya saat ini.

Apa lagi jika perempuan muda itu mulai mengingat-ingat perlakuan orang-orang terhadap dirinya. Semakin tenggelam saja ia dalam penderitaan: karam di pusaran duka. Sepertinya sudah tidak ada lagi makhluk bernama manusia yang bisa dimintai pertolongan, meski hanya untuk menumpang berteduh dari terik matahari yang menyengat dan hawa dingin yang menusuk hingga ke putihnya tulang saat malam menjelang. Barangkali itu pertolongan yang kelewat mahal. Nasi basi pun tidak ada orang yang mau memberi. Bagi mereka memberikan makan ayam lebih berguna daripada menolong dirinya.

Terlebih susu di dadanya juga sudah kering. Tak ada lagi sumber penghidupan yang dapat menenangkan perut bayinya.

Setelah berjalan puluhan kilometer meninggalkan sebuah desa yang baru saja menolak kedatangannya,  perempuan itu kemudian duduk di tebing sungai untuk melepas lelah sambil mengurut telapak kakinya yang bengkak.

Lagi-lagi rayuan setan yang berbisik di pikirannya mengganggu ketegarannya.

“Sungai yang dangkal, tetapi jika melompat dari atas tebing sanggup meremukkan tulang,” gumamnya dalam hati.

Di pangkuannya tergolek bayinya. Sesekali menguap. “Nak, mari susul Bapakmu ke surga,” ujarnya sambil menitikkan air mata. Untuk kesekian kalinya dihantam matanya dengan tangis sepuas-puasnya, “Kata orang-orang Bapakmu tidak akan pulang. Bapakmu sudah dibuang di tengah laut. Betapa kejamnya bangsa ini. Memperlakukan manusia seperti binatang.”

Perempuan itu masih berbicara kepada anaknya yang hanya dijawab dengan senyuman. Sambil tangan mungilnya menjahili bibir Ibunya yang basah disiram air matanya sendiri.

Perempuan muda itu, tidak menyangka akan terusir dari kampungnya. Kota T di ujung akhir tahun 1966, sama halnya dengan kota-kota lainnya: Jawa, Sumatera, atau Pulau Dewata sekalipun. Di mana hari-harinya diliputi kengerian. Masyarakat dihantui kecemasan dan ketakutan karena keadaan sedemikian mencekam. Kalau tidak membunuh mereka akan dibunuh, begitulah kira-kira yang terselip di kepala setiap orang yang dipenuhi kecurigaan.

PKI (Partai Komunis Indonesia) telah menjadi momok. Orang-orang yang terlibat dengan partai berlambang palu arit itu akan dikejar-kejar, ditangkap, dibuang, bahkan direnggut nyawanya. Tidak sedikit pula dari mereka yang tidak tahu-menahu menjadi korban. Salah satu dari mereka yang menjadi amuk warga dan terusir lantaran dicap PKI ialah perempuan muda beserta bayinya yang sedang beristirahat di tebing sungai.

Perempuan muda itu kemudian bangkit sambil menggendong bayinya yang mungil. Cukup lama dirinya memandangi sungai. Terlihat bayangan suaminya saat diseret malam hari oleh sejumlah orang lengkap dengan senjata dan dilemparkan ke dalam truk.

Setelah peristiwa mengerikan itu, ia pun meninggalkan kediamannya. Barulah di tengah jalan ia mulai berpikir ke mana harus pergi? Sementara untuk mendapatkan sesuap nasi terpaksa ia mengemis dari satu pintu ke pintu lainnya.

“Kamu PKI?” selalu begitu pertanyaan yang pertama kali keluar tiap kali penghuni rumah mendapati perempuan muda itu berdiri di depan pintunya sambil mengulurkan telapak tangan. Tentu berharap ada sesuatu yang bisa diperoleh meski sering kali menggenggam angin setelah dihardik, “Merad! (pergi).”

Sebagaimana kebiasaan penduduk kampung, satu peristiwa akan cepat tersiarnya, meski puluhan kilometer jauhnya. Disiarkan dari satu mulut ke mulut lainnya—dari satu warung ke warung lainnya. Ringkasnya, dari satu desa ke desa lainya.

Mula-mula perempuan itu menaikkan kaki kanannya sebelum meloncat. Tiba-tiba ia dikejutkan suara lelaki yang menyeru, “Hai, apa yang kamu lakukan di situ? Kamu mau bunuh diri?”

Seorang lelaki tua berdiri tepat di belakang perempuan muda yang hendak menghabisi deritanya. Di sampingnya berdiri mematung seorang perempuan yang juga tak kalah tuanya. Keduanya baru saja pulang dari kebun, tampak sepasang kakinya masih berpupur lumpur.

Sebagaimana kebiasaan penduduk kampung, satu peristiwa akan cepat tersiarnya, meski puluhan kilometer jauhnya. Disiarkan dari satu mulut ke mulut lainnya—dari satu warung ke warung lainnya. Ringkasnya, dari satu desa ke desa lainya.

Perempuan muda itu awalnya diam saja. Kedua orang tua itu pun mendekatinya sambil berujar, “Jangan lakukan itu. Lihat anakmu. Kamu tidak kasihan?”

Setelah mengumpulkan keberaniannya perempuan muda itu menjawab, “Entah, ke mana lagi kami akan pergi. Setiap desa yang kudatangi selalu saja disambut dengan tatapan ganjil. Tidak ada satu orang pun yang bisa dimintai pertolongan.”

“Apa masalahmu. Kamu masih muda, jangan putus asa begitu.”

“Apa hanya karena suamiku orang Lekra, mereka semua melihat kami berdua seperti melihat anjing yang najis untuk disentuh.”

Sepasang orang tua itu hanya melemparkan pandangan. Kini, keduanya diliputi kebingungan. Setelah berbisik dan bertukar pendapat, akhirnya sang istri membimbing tangan perempuan muda itu, “Ikutlah dengan kami,” ujarnya sambil tersenyum.

***

Hujan turun membasuh malam, hawa dingin mulai menyergap penghuni rumah tua yang terbuat dari bambu dan anyaman. Rumah itu jaraknya cukup jauh dari pemukiman. Di dalam rumah itu, perempuan muda yang diketahui bernama Juminten, beserta bayinya akhirnya dapat berteduh, juga memperoleh makanan untuk menyambung nyawanya yang sudah beberapa hari hanya diisi angin dan air. Dari pengakuan mulutnya, diperolehlah sebuah keterangan mengenai seluk-beluk dirinya, juga kejadian yang menimpa dirinya.

Suaminya, katanya, adalah penyair Lekra. Meski dekat dengan beberapa orang penting di Jakarta, namun suaminya tidak ikut berpolitik. Suaminya hanya merasa tergugah jiwanya melihat penderitaan rakyat hingga ikut bergabung dengan Lekra. Oleh karenanya, suaminya beberapa kali mengunjungi kantor Lekra di Cidurian, Kota Jakarta. Itu sebabnya suaminya jarang pulang, katanya dapat tugas untuk turun ke bawah, supaya dapat melihat langsung penderitaan rakyat jelata.

Namun, takdir berkata lain. Pasca-peristiwa penculikan jenderal di Kota Jakarta, suaminya didatangi beberapa orang yang mengenakan baju loreng. Tanpa basa-basi suaminya diringkus dan dimasukkan ke dalam truk. Setelah kejadian itu, ramai-ramai orang berkumpul di depan rumahnya sambil berteriak: “Ganyang PKI. Usir. Usir.” Juminten pun diusir dari rumahnya, dari tanah tumpah darahnya.

Di bawah kuasa sang malam, ditemani cahaya remang lampu minyak, tiga kepala orang dewasa duduk melingkar. Di pangkuan Juminten bayinya tertidur pulas, barangkali rembulan telah memberikan mimpi indah untuknya.

“Bapak dan Ibu hanya tinggal berdua?” tanya Juminten setelah menceritakan peristiwa yang dialaminya.

“Anak kami sudah mati beberapa bulan yang lalu di Kota Jakarta. Dan kami berdua hidup dalam kecemasan,” jawab perempuan tua itu lirih.

“Tapi, kalau boleh tahu, anak Bapak dan Ibu meninggal karena apa?”

Lelaki paruh baya itu dan istrinya saling memandang. Keduanya tak memberi jawaban.

“Maaf jika pertanyaanku mengusik hati Bapak dan Ibu.”

Setelah diam beberapa saat, perempuan tua akhirnya menjawab, “Anakku mati ditembak. Saat kerusuhan meletus di Jakarta.”

Betapa kaget Juminten mendengarnya. “Kenapa anak Ibu ditembak?” tanya

Juminten, “Apa kesalahan anak Ibu?”

“Kesalahan anak kami sama persis dengan kesalahan suamimu yang sekarang entah di mana, yakni sama-sama anggota Lekra,” sambung lelaki paruh baya itu sambil menenggak air teh dari tekonya.

Tiba-tiba saja Juminten memeluk kedua orang tua itu sambil menangis meraung-raung.

Ketiga orang itu saling berangkulan dan menangis. Ketiganya menangisi nasibnya yang malang. Menangisi sesuatu yang telah dirampas dan selamanya tidak akan dikembalikan. Selamanya pula ketiganya akan menangis. Sungguh pun hingga mereka menangis darah, meminta sesuatu yang telah dirampas dari hidupnya, sekalipun itu hanya kata maaf, mereka tidak akan pernah memperolehnya. Entah sampai kapan.

“Itu sebabnya kami cemas Jumi. Sebab, ada saja yang masih mendatangi kami di sini. Mengacak-acak rumah ini. Dikiranya kami menyembunyikan seseorang. Nok Jumi tidak usah takut. Nanti kalau ada yang datang lagi, katakan saja kamu anak kami berdua,” perempuan tua itu menjelaskan keadaannya yang membuat hati Juminten ciut.

***

Malam telah sampai pada puncaknya. Tinggi dan sunyi. Juminten belum bisa memejamkan matanya. Pikirannya berkecamuk. Kini, ia tidak hanya memikirkan dirinya dan anaknya saja, melainkan juga sepasang orang tua yang sudah baik hati menerima dirinya. Akan tetapi, di situ persoalannya. Di luar cuaca masih panas. Orang lebih gemar mengumbar kemarahan daripada mengikuti kejernihan akal pikiran. Jika sudah begitu tidak ada ampun. Tidak ada pilihan: Disingkirkan atau diringkus. Syukur kalau tidak dicincang. Pendeknya, Juminten tidak mau menjadi benalu bagi sepasang orang tua yang belum kering air matanya lantaran menangisi kematian anaknya.

Sementara ia sendiri bingung kemana lagi harus pergi. Di bolak-balikan badannya kadang ke kiri, kadang kanan, tetapi hatinya bertambah gelisah.

“Tidak ada cara lain. Tekadnya harus ditunaikan dengan cepat,” pikirnya.

Perlahan-lahan Juminten bangkit dari ranjangnya. Ditatap bayinya, sekali-dua kali diciuminya anak semata wayangnya itu. “Kamu baik-baik ya di sini,” bisiknya.

Dengan satu gerakan cepat Juminten sudah berdiri di atas kursi. Tentu sesudah menyiapkan tali yang akan mengalungkan lehernya. Semuanya sudah dipikirkan. Tidak ada jalan keluar. Negara yang seharusnya melindungi justru mensponsori. Dengan satu gerakan yang tenang Juminten memasang kuda-kuda untuk menyingkirkan kursi tempat ia berdiri.

Bruuug.

Kursi pun jatuh dengan sekali sepak.

***

Ade Mulyono. Menulis fiksi dan nonfiksi. Novel perdananya “Lautan Cinta Tak Bertepi”. Sedang menyiapkan novel keduanya “Namaku Bunga”

sumber : kompas.id, 24 Feb 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme