Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Mbah Yai oleh A. Zulfa Muntafa

Posted on Jum, 26 Feb 2021

Setelah salat Isya, seluruh santri pondok pesantren Roudlotut Thullab baik putra maupun putri mengikuti kajian kitab kuning yang dipimpin langsung oleh pengasuh pondok, Kiai Haji Abdul Muhaimin. Para santri lebih sering menyebut beliau Mbah Yai.

Kang Adi adalah salah satu santri dari Mbah Yai yang bisa dibilang istimewa. Selain sudah terhitung senior, dia juga dianugerahi kecerdasan di atas rata-rata. Dari segi hafalan saja misalnya. Para santri lain baru hafal sebaris nazam jika dibaca minimal tiga kali. Bahkan, ada yang membaca tujuh hingga empat belas kali baru hafal. Sedangkan, Kang Adi hanya sekali baca, nazam itu langsung melekat di kepalanya.

Barangkali Mbah Yai juga menyadari hal ini, maka beliau memperlakukan Kang Adi dengan tidak biasa pula. Seperti pada kegiatan mengaji ini. Jika para santri lain sudah duduk berjejer dan siap dengan kitabnya masing-masing, Kang Adi justru membawa kipas anyam di tangannya dan duduk tepat di sebelah Mbah Yai, tak lain untuk mengipasi beliau. Memang Mbah Yai sendiri yang memintanya. Kalau ada pertanyaan-pertanyaan spontan dari Mbah Yai, entah tentang isi kitab atau pun gramatika bahasa Arab, Kang Adi dengan cepat dan lugas langsung bisa menjawabnya. Kemudian jika Kang Adi sedang berhalangan dan tidak bisa mengikuti kajian, Mbah Yai tidak berkenan dikipasi oleh santri lain. Waktu itu pernah sekali Kang Misbah yang mengipasi beliau, tapi Mbah Yai malah berkata sudah, tidak usah, Kang. Kamu fokus maknani kitabmu saja.

Sebenarnya Kang Adi juga tidak mempermasalahkan. Walaupun sambil mengipasi, toh dia tetap paham dan mengerti apa yang diajarkan oleh Mbah Yai. Hitung-hitung juga melayani beliau. Lagi pula, ilmu akan lebih bermanfaat dan berkah jika pemiliknya menghormati dan melayani gurunya.

Ini berlangsung hingga bertahun-tahun.

Setelah sekian lama Kang Adi menuntut ilmu di sini, dia memutuskan untuk pamit boyong dan menikah. Di kampungnya, di Kota S, Kang Adi menjadi kiai besar yang mempunyai pesantren sendiri dengan santri ribuan.

***

Pondok pesantren Roudlotut Thullab memiliki koperasi sendiri. Kebetulan posisi pondok berada di pinggir jalan raya sehingga bisa dibilang strategis untuk membuka usaha. Mungkin karena faktor strategis ini, kebanyakan tanah yang terletak di pinggir jalan memiliki harga yang mahal. Di sini disediakan kitab-kitab yang diajarkan di pondok dan tentu saja barang kebutuhan para santri sehari-hari sehingga mereka lebih mudah untuk membeli sesuatu yang mereka perlukan.

Sejak adanya koperasi ini, Kang Sar yang semula santri tua biasa, sekarang menjadi salah satu santri yang \’dekat\’ dengan Mbah Yai. Dialah yang menjaga koperasi dan dipercaya Mbah Yai untuk mengelolanya secara mandiri. Tapi sesekali Mbah Yai tetap menengoknya dan terkadang memberikan masukan.

Pagi ini kebetulan Mbah Yai datang dan beliau melihat ada rokok yang persediaannya masih relatif banyak dan ada rokok yang stoknya sudah habis. Kang Sar pun kena semprot.

“Kalau kulakan barang ya sedikit-sedikit saja, Kang. Sambil dititeni mana barang yang laku dan mana yang kurang diminati. Kalau habis baru nyetok lagi.”

“Nggih, Yai,” kata Kang Sar dengan senyum agak canggung.

Begitu seterusnya. Jika Mbah Yai berkunjung dan ternyata ada yang kurang pas, beliau segera menegur Kang Sar. Tentu teguran seorang kiai kepada santri adalah teguran sayang yang bersifat mendidik.

Setelah beberapa waktu yang lama, tibalah bagi Kang Sar untuk sowan ke ndalem dan pamit boyong. Di desanya, di kota B, Kang Sar pun menjadi pedagang sukses yang memiliki toko besar dan cabang di mana-mana.

***

Seperti biasa, Mbah Yai dan para santri melaksanakan kajian rutinan tiap bakda salat Isya; tapi kali ini seperti ada yang kurang. Hingga kajian hampir berakhir, tak ada tanda-tanda hadirnya Kang Hamdan.

“Kang Hamdan mana ya, Kang? Dari tadi saya perhatikan kok enggak ada,” tanya Mbah Yai sembari memperhatikan satu per satu para santrinya dari kiri ke kanan.

“Di kamar, Yai. Tadi sebelum ngaji dia mengeluh agak kurang enak badan,” jawab Kang Budi yang memang teman sekamarnya.

“Oh. Ya sudah,” jawab Mbah Yai singkat.

Sesudah kajian selesai, Mbah Yai segera menuju ke kamar Kang Hamdan berniat untuk menjenguk santrinya itu. Tapi tak disangka-sangka, ketika Mbah Yai masuk, terlihat badan Kang Hamdan masih begitu segar; duduk santai di pojok kamar dengan ponsel di tangan kanan dan sebatang rokok yang masih menyala; melekat di mulutnya.

“Kaaang!! Bukannya ngaji malah main HP! Merokok lagi! Maumu apa?!” bentak Mbah Yai dengan menatap tajam santrinya itu.

Kang Hamdan jumpalitan. Dia refleks membuang rokoknya dan melempar ponselnya ke bawah bantal, baru kemudian berdiri dengan tangan sedekap dan kepala tertunduk. Dia benar-benar panik serta bergumam dalam hati, “Waduh! Kena hukuman pasti aku.” Benar saja, setelah kemarahan Mbah Yai agak mereda, beliau dawuh.

“Kaaang!! Bukannya ngaji malah main HP! Merokok lagi! Maumu apa?!” bentak Mbah Yai dengan menatap tajam santrinya itu.

“Besok bakda Subuh, kamu langsung ke sawah, Kang! Sirami semua tanaman di sana! Semuanya!”

“Nggih, Yai,” jawab Kang Hamdan pasrah.

Esok paginya, Kang Hamdan bertolak ke sawah untuk melaksanakan takzir-an karena ulahnya semalam. Kebetulan Kang Amin dan Kang Ihsan juga berangkat; bukan untuk menyelesaikan hukuman tapi memang tugas mereka untuk merawat sawah. Mereka bertiga pun pergi bersama. Ketika di jalan, Kang Ihsan nyeletuk.

“Makanya, kalau waktu ngaji ya berangkat, Ndan. Malah main HP sambil merokok di kamar,” sindir Kang Ihsan.

“Iya, San. Kapok aku dimarahi Mbah Yai. Bukan karena ta\’ziran ini. Kamu kan tahu sendiri kalau Mbah Yai itu jarang marah. Sekalinya marah, mak dhek mak tratap di hati,” kata Kang Hamdan menyesal.

Kang Amin hanya mendengarkan percakapan mereka berdua sambil tersenyum.

Sesampainya di sawah, Kang Hamdan langsung menyirami setiap tanaman.

Untuk informasi saja, sawah Mbah Yai luasnya sekitar satu setengah hektar. Bisa dibayangkan betapa capeknya jika harus menyiram semua tanaman di sana. Sementara Kang Hamdan sibuk dengan hukumannya, Kang Amin dan Kang Ihsan sedang matun, semacam mencabuti rumput-rumput liar.

Hari pun makin siang dan sinar matahari makin terik. Kang Amin dan Kang Ihsan sudah selesai dengan pekerjaannya. Di kejauhan, Kang Hamdan masih terlihat belum kelar.

“Hamdan! Bantuin nggak?” teriak Kang Amin memberi tawaran kepada temannya.

“Nggak usah, Min. Yang dihukum aku. Kalian istirahat saja sudah,” sahut Kang Hamdan mantap.

“Oke. Kami tunggu di sini. Nanti pulangnya bareng,” pungkas Kang Amin.

“Iya,” sahut Kang Hamdan.

Selesai menyirami semuanya, Kang Hamdan istirahat sebentar di dekat Kang Amin dan Kang Ihsan yang sedari tadi menunggunya. Setelah dirasa cukup, mereka bertiga kembali ke pondok.

Tibanya di pondok, Kang Hamdan langsung menuju ndalem untuk laporan kepada Mbah Yai bahwa hukumannya sudah dilaksanakan. Bertepatan dengan itu, ternyata ada tamu, Habib Ali Muhammad. Kang Hamdan pun mendekat ke Mbah Yai dengan langkah malu-malu dan sedikit menundukkan kepala.

“Sudah, Yai,” katanya lirih.

“Iya, Kang. Jangan ulangi ya?” jawab Mbah Yai halus.

“Nggih, Yai.”

Tiba-tiba Habib Ali menarik tangan Kang Hamdan dan diperhatikannya telapak tangannya pelan-pelan. Kang Hamdan agak kaget dan merasa canggung tapi hanya bisa mengikuti saja.

“Tanganmu adem, Kang,” kata Habib Ali tiba-tiba.

Kang Hamdan hanya bisa tersenyum bingung namun tetap merasa senang karena dipuji oleh seorang habib.

“Hehe. Terima kasih, Bib,” jawabnya walaupun tidak begitu mengerti apa maksud perkataan Habib Ali. “Kalau begitu saya mau bersih-bersih badan dulu, Bib. Mohon pamit, Yai,” tukas Kang Hamdan.

“Iya, Kang,” kata Mbah Yai dan Habib Ali hampir bersamaan.

Hari-hari kemudian berlangsung seperti biasa.

Sesudah beberapa tahun belajar di sini dan dirasa cukup, Kang Hamdan pamit pulang; boyong. Di kampungnya, di Kota P, dia menjadi petani berhasil yang memiliki sawah sangat luas dan selalu memanen berbagai komoditi besar tiap tahun.

Rembang, Januari 2021

***

A. Zulfa Muntafa, mahasiswa dan santri asal Kemadu—Sulang, Rembang, Jawa Tengah. Saat ini, penulis berstatus sebagai mahasiswa semester enam di program jurusan Pendidikan Bahasa Arab Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang.

sumber : kompas.id, 26 Feb 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme