Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sore Bersama Ibu oleh Annisa Hertami

Posted on Ming, 28 Feb 2021

Ibu mengaduk chai tea hangat yang kubuatkan untuknya. Ibu suka chai tea buatanku. Katanya aku pintar menakar susu, teh hitam, jahe, dan rempah-rempah yang pas. Kami duduk di ruang tamu. Sayup-sayup terdengar suara TV menyiarkan iklan komersial tentang produk kecantikan di ruang sebelah.

”Dulu mereka bilang cantik itu kuning langsat, sekarang cantik itu putih,” ujar Ibu tiba-tiba mengomentari suara iklan di TV.

Aku hanya tertawa kecil.

”Tapi, kamu tetap putri Ibu yang paling cantik Nduk,” Ibu melanjutkan sambil meneguk chai tea perlahan.

Aku tersenyum tipis, menatap cengkih dan bunga lawang yang mengapung di chai tea-ku. Aku melihat bahwa warna chai tea itu hampir serupa dengan kulitku, coklat susu. Mungkin itu maksud Ibu mengomentari iklan TV tadi. Tapi pikiranku tidak di situ.

”Ibu tidak ingin menikah lagi?” Aku sebetulnya bukan ingin membicarakan tentang hal ini, tapi entah kenapa kalimat itu yang meluncur dari mulutku.

Ibu hanya menatapku sejenak dan menggeleng.

”Belum,” jawab Ibu datar.

Kami terdiam, tenggelam dalam lamunan masing-masing. Aku teringat pernikahan Ibu. Ibu pernah menikah tiga kali. Semuanya kandas, kecuali yang terakhir, Ibu ditinggal mati lebih dulu. Pernikahannya yang pertama seharusnya menjadi sebuah pernikahan yang bahagia. Dari pernikahan itulah lahir aku, putri semata wayangnya. Kata Ibu, saat itu merupakan salah satu hari paling menggembirakan dalam hidupnya. Aku tahu Ibu tidak berbohong. Aku melihat sendiri pada sebuah foto usang. Ibu menatapku penuh kebahagiaan saat aku masih merah dalam gendongan.

Sayangnya, kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Hanya satu tahun setelah kelahiranku. Kemudian keluarga kecil Ibu diteror oleh seorang perempuan. Perempuan itu mengaku memiliki anak dari Ayahku, dan mengancam untuk membunuh bayi dan dirinya sendiri jika tidak dinikahi. Lebih lagi, dia juga memaksa Ayah untuk meninggalkan kami. Bapak perempuan itu adalah bos di tempat Ayah bekerja. Ayah masih pegawai rendahan saat itu. Ayah merasa tidak punya pilihan. Bukan, Ayah punya pilihan, Ayah memilih untuk meninggalkan aku dan Ibu sendirian.

Aku tersadar dari lamunanku saat mendengar suara sendok yang jatuh berdenting. Ibu tertidur di kursi tamu, menjatuhkan sendok teh kecil di genggamannya. Ibu juga terbangun karenanya.

”Wah, sudah waktu Ashar, sebentar, ya, Nduk, Ibu sembahyang dulu, kamu sudah sembahyang?”

Aku hanya meringis. Ibu tersenyum dan beralih ke ruang sebelah, menggelar sajadah dan mukena. Sambil menunggu Ibu sembahyang, aku menatap foto masa kecilku yang dipajang di dinding ruang tamu oleh Ibu. Tenggelam kembali dalam lamunanku. Aku memang tidak mengingat dengan baik kisah pernikahan pertama Ibu, atau perceraiannya dengan Ayahku itu. Tentu saja karena masih balita umurku pada saat itu. Justru, yang banyak menghantuiku adalah pernikahan keduanya. Pernikahan sialan itu. Aku meyakini, itu juga sangat melukai Ibu.

Aku masih TK nol besar waktu itu. Ibu menikah lagi dengan seorang juragan besi. Kata Ibu, pernikahan itu hanya sebentar. Ibu tidak pernah mau mengingat dan membahasnya. Aku pun tidak pernah sudi memanggilnya Bapak sampai kapan pun. Seingatku, juragan besi itu bukan orang yang menyenangkan. Dia suka sekali membentak dan juga kasar kepadaku ataupun Ibu. Aku masih terlalu kecil untuk memahami keadaan. Tapi aku tahu, pernikahan itu tidak pernah membawa kebahagiaan buat Ibu.

Pada suatu siang yang terik. Aku sedang bermain masak-masakan di halaman belakang. Ada Ibu yang sedang sibuk membersihkan daun talas dengan pisau di situ. Biasanya Ibu gunakan sebagai bahan membuat buntil untuk dijual.

Ibu seperti tidak menyadari kehadiranku. Aku melihat sudut bibir Ibu membiru. Aku tahu pasti si juragan itu habis memukul ibuku. Tidak lama, Ibu tiba-tiba menangis meraung-raung. Ibu kemudian membawa pisau yang terhunus dan menancapkannya ke pintu berkali-kali seperti kesetanan.

Aku mematung dan menangis karena ketakutan. Pisau menancap di daun pintu. Ibu jatuh tersungkur masih setengah histeris. Aku berlari memeluk Ibu dalam diam dengan tubuh gemetaran.

Setelah dewasa, aku baru tahu, juragan besi itu mengkhianati Ibu dan kabur membawa seluruh tabungan Ibu yang disiapkan untuk sekolahku. Ia juga pergi membawa seluruh perhiasan dan meninggalkan utang yang harus dilunasi ibuku hingga bertahun-tahun kemudian.

Aku meneguk chai tea-ku yang sudah hampir habis. Aku melirik jam, sudah 40 menit lebih. Ibu masih belum selesai sembahyang. Aku tahu Ibu punya kebiasaan berdoa lama setelah selesai sembahyang. Tapi ini sudah terlalu lama. Aku tidak sabar karena sebetulnya hendak menyampaikan sesuatu pada Ibu.

Saat hendak kutengok, tiba-tiba Ibu muncul dengan sepiring tahu susur panas, lengkap dengan cabai hijau pedas.

”Kamu pasti lapar, kan, ini barusan Ibu belikan tahu kesukaanmu,” ujar Ibu sambil menyodorkan piring itu kepadaku.

“Ah, kapan Ibu membelinya? Aku tidak tahu,“ ujarku sedikit terkejut.

”Kamu kebanyakan melamun dari tadi.” Ibu tersenyum.

”Paklik Budi nanti mau ke sini, Ibu bilang ada kamu di rumah, dia senang sekali.”

Ah, Paklik Budi, dia adik kandung ibuku yang nomor dua. Ibu sendiri adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara. Dulu, kata Ibu, saat pernikahan salah satu saudaraku, seperti umumnya selalu ada sesi foto keluarga. Biasanya keluarga besar berfoto semua, kemudian baru dibagi per anggota keluarga yang lebih kecil.

Waktu itu, aku menangis berteriak-teriak dan tidak mau difoto. Aku marah pada Ibu karena aku merasa hanya keluargaku yang tidak lengkap saat berfoto. Aku tidak punya Ayah. Sedang semua sepupuku berfoto dengan Ibu dan Ayahnya. Akhirnya Paklik Budi bilang padaku, bahwa dia akan jadi Ayahku. Aku kemudian mau difoto bersama, dan bilang pada Ibu aku mau punya Ayah seperti Paklik Budi. Aku tersenyum mengingat hal itu.

”Nduk, Paklik Budi tanya ke Ibu, kamu kapan menikah?”

”Bu….” Aku hendak mengatakan sesuatu, ya, tujuanku semula datang ke rumah Ibu sore ini, tetapi dipotong ibuku.

”Ibu cuma menyampaikan. Nanti, kan, kamu juga ketemu, bisa kamu jawab sendiri.”

Aku mengangguk dan akhirnya diam sambil mengunyah tahu susur yang masih hangat. Sebetulnya diam-diam aku kagum dengan ibuku. Aku yakin, aku sudah menjadi bahan gunjingan para tetangga di desanya sebagai perawan tua yang belum kawin. Usiaku sudah menginjak kepala tiga. Dan pertanyaan-pertanyaan seperti Paklik Budi selalu ditanyakan keluarga besarku, Budeku, Pakdeku, Bulikku. Pasti ditanyakan juga oleh tetangga-tetangga di desa.

Tapi tidak dengan Ibu. Ibu sama sekali tidak pernah bertanya apa pun tentang itu dan tidak peduli dengan desakan orang-orang di sekitarnya. Aku tahu, Ibu diam-diam justru membelaku.

Pernah setahun yang lalu. Aku sempat bilang pada Ibuku bahwa aku enggan menikah. Dengan alasan aku tidak percaya sama sekali dengan ikatan pernikahan. Aku sudah mengantisipasi dengan menyiapkan jawaban-jawaban jika Ibu marah saat aku mengutarakan pikiranku. Ibu sedang mengaduk sayur waktu aku menyampaikan hal itu.

”Nduk, hidupmu adalah milikmu sepenuhnya, pilihanmu, Ibu bisa apa selain mendukungmu,” Ibu menatapku sesaat, kemudian sibuk mengaduk sayur kembali.

”Jangan pedulikan omongan orang lain, bukan mereka, tapi kamu sendiri yang menjalani hidupmu.”

Untuk seorang wanita yang hidup di desa, jawaban Ibu sungguh di luar dugaanku. Aku mengira, pengalaman-pengalaman Ibu tentang kegagalannya menikah barangkali yang membuatnya setenang itu menghadapi pikiranku. Dan aku meyakini, tentu Ibu tidak ingin aku mengalami hal serupa dengannya.

Pernikahan Ibu yang terakhir, bisa jadi pernikahannya yang paling bahagia. Meskipun harus kembali dipisahkan pada akhirnya. Aku masih SD waktu itu saat Ibu bilang dia menemukan Bapak untukku. Ya, aku kemudian memanggilnya Bapak. Seorang pria pendiam yang senang menembang Jawa sambil memberi makan perkutut peliharaannya.

Ketika Bapak, kemudian meninggalkan Ibu lebih dulu karena serangan jantung, butuh waktu yang sangat lama bagi Ibu untuk sembuh dari dukanya. Dan seingatku, aku tidak betul-betul ada di samping Ibu waktu itu. Aku justru sibuk dengan pikiranku sendiri. Sibuk dengan lukaku sendiri. Aku menyalahkan Ibuku atas semua hal yang terjadi.

Hubunganku dengan Ibu merenggang. Aku memutuskan untuk keluar dari rumah Ibu, menjalani hidup sendiri. Mungkin baru beberapa waktu terakhir, hubungan kami membaik kembali. Kadang-kadang aku datang mengunjunginya, seperti sore ini.

”Bu, sebetulnya ada yang harus aku sampaikan pada Ibu.”

”Apa itu Nduk, katakan saja.” Seperti biasa Ibu menaggapiku dengan tenang.

”Ibu tahu, kan, aku enggan menikah, aku tidak percaya itu semua.”

Ibu menghela napas sesaat, kemudian tersenyum dan mengangguk. Tentu saja Ibu sangat tahu betapa kerasnya aku dalam hal itu. Dan ia tidak bisa menyalahkanku sepenuhnya karena ia merasa ikut andil atas traumaku pada pernikahan. Hal yang diam-diam juga menghantuinya dengan rasa bersalah.

”Itu aku yang dulu, Bu, yang masih marah, dendam, dan trauma.” Aku terdiam sejenak menatap mata Ibu. Ibu tampak sedikit bingung dan berusaha menebak apa yang sebetulnya hendak kusampaikan.

”Bu, besok calonku mau berjumpa dengan Ibu.”

Ibu tampak seperti tidak percaya mendengar hal itu. Sekilas kulihat, ekspresi wajahnya sama bahagianya dengan wajah yang ada di foto usang saat menggendongku. Ibu kemudian memelukku erat sekali.

”Aku buatkan chai tea lagi, ya, Bu.”

Ibu mengangguk. Matanya berkaca-kaca. Aku meninggalkan Ibu di ruang tamu seorang diri. Seorang Ibu yang sedang bersyukur karena doa-doanya yang panjang akhirnya dikabulkan.

Annisa Hertami, pekerja film, tenaga pengajar dan penulis. Kini bermukim di Yogyakarta.

Slamet Riadi, lahir 27 Februari 1967 di Malang. Menamatkan pendidikan di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Kini bermukim di Bantul, DIY.

sumber : kompas.id, 28 Feb 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme