Cerpen : Malam Pertama Calon Pendeta oleh Gde Aryantha Soethama

  Karena pendirian Ni Krining yang kukuh dan tulus terus-menerus, Aji Punarbawa perlahan-lahan melunak juga. Ia menerima, kendati tak rela, dan bingung, bagaimana mungkin seorang istri setia mendesak suami kawin lagi? Jangan-jangan ini siasat, agar perempuan itu bisa melepaskan diri. Sudah berulang kali Aji menolak, sekian kali pula Krining mendesak. “Engkau yang memutuskan, Ning. Jika … Baca Selengkapnya

Cerpen : Bantiran oleh Gde Aryantha Soethama

Bertiga mereka menapak pematang di tengah sawah yang kering kerontang, berbulan-bulan dibiarkan terbengkalai oleh penggarap dan pemiliknya. Bantiran di depan, disusul Kartaman. Paling belakang seorang serdadu memanggul senapan laras panjang. Dekat sebuah batu datar sebesar gerobak, Bantiran berhenti. Sinar bulan separo bundar membuat batu itu berkilat. Sebatang pohon kamboja tegak di sebelahnya, daun-daunnya gugur oleh … Baca Selengkapnya

Cerpen : Surga untuk Petani oleh Gde Aryantha Soethama

Seorang petani uzur, di desa kaki gunung, menghabiskan 90 tahun, seluruh hidup, untuk bercocok tanam. Ia lahir di gubuk tengah sawah, di sebelah lenguh sapi dan kotek ayam. Usia sembilan bulan ia diajak ke ladang oleh ibunya memetik cabai. Masa kanak-kanak, remaja, dewasa, kawin, beranak cucu dan bercicit, ia lakoni sebagai petani. Ia sungguh-sungguh petani … Baca Selengkapnya

Cerpen : Hari Baik oleh Gde Aryantha Soethama

Pendeta itu ringkih dan renta, jalannya perlahan, terbungkuk-bungkuk, kadang beberapa langkah ia berhenti mengatur napas, mempererat genggaman tongkatnya agar tumpuan lebih kuat, sebelum tubuh sanggup berayun lagi ke depan. Sekujur kulitnya keriput, tapi matanya bercahaya, wajahnya berwibawa. Jika ia datang di tempat upacara dan orang tergopoh-gopoh memapahnya, ia selalu menolak dengan menggerak- gerakkan kepala sembari … Baca Selengkapnya