Cerpen : Daun oleh Yuditeha

STASIUN kecil itu hampir tenggelam oleh senja. Cahaya jingga memantul pada besi tua yang menghitam, membentuk bayangan panjang dari kursi-kursi semen yang terkelupas. Beberapa orang berdiri di ujung peron, menunggu kereta seperti menunggu alasan yang tepat setiap kali tak bisa kembali. Di antara mereka, seorang perempuan dengan mantel hijau lumut duduk sambil memeluk tas jinjing … Baca Selengkapnya

Cerpen : Requiem di Kirov oleh Baron Yudo Negoro

AKU tidak mengenal Nureyev. Tapi saat ia tampil bersama Royal Ballet Inggris, kabar itu mengingatkanku pada Kateryna Melnyk, apalagi pagi tadi aku menyusuri belakang panggung Teater Kirov, bangunan batu di Leningrad yang selalu lembap bahkan saat musim panas. Ia mengarah ke ruang tanpa jendela, studio latihan di sayap timur. Di situlah aku sering melihat Kateryna … Baca Selengkapnya

Cerpen : Budi Anarko oleh Kurnia Gusti Sawiji

DIA tahu bahwasanya pertarungan adalah bayangan yang bertaut di dalam setiap langkah dan gerak-gerik peradaban manusia. Dia juga tahu bahwa nama adalah rantai-rantai yang mengikat umat manusia dengan bayangan-bayangan mereka. Maka dari itu, seyogianya mereka yang terlahir tanpa nama, tetapi menerima adanya nama disematkan ke atas mereka adalah seumpama mengikat diri dengan rantai-rantai. Nama “Anarko” … Baca Selengkapnya

Cerpen : Penghulu Abal-abal oleh Novia Syahidah Rais

NAMANYA Najib. Usianya empat puluh lima tahun. Tubuhnya kurus, rambut tersisir rapi, dan wajahnya tenang dengan senyum ramah yang senantiasa menghias bibirnya. Ia bukan tokoh penting di masyarakat, tapi Najib memiliki profesi rahasia yang tidak diketahui tetangga bahkan istrinya, yaitu sebagai penghulu nikah. Tepatnya nikah siri. Tentu saja bukan penghulu resmi sebagaimana petugas KUA, bukan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Rumi Tidak Menjawab oleh Muhammad Aswar

KONYA, musim semi yang tak seperti biasanya. Bunga almond mekar sebelum waktunya, dan para peziarah datang lebih awal, mungkin karena mereka lelah menunggu perdamaian yang tak kunjung tiba di tempat-tempat yang bahkan tak mereka pahami. Di antara peziarah itu, ada seorang lelaki bernama Taha, umur empat puluh dua, jurnalis lepas dari Amman, Yordania. Ia tidak … Baca Selengkapnya

Cerpen : Siklops oleh Kiki Sulistyo

PENYIAR sedang membahas Wallace Chambers—dalam acara peringatan hari independen—ketika suara radio tiba-tiba padam. Azzam yang duduk berayun-ayun di kursi goyang membuka mata. Ia menengok ke arah radio, lalu ke arah Habsyi yang tidur telungkup di lantai. Saat petugas dari kantor pusat datang tiga bulan sebelumnya untuk mengantar kebutuhan, Habsyi luput memberi tahu bahwa mereka membutuhkan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Bayang-bayang Kebun Karet oleh Yulizar Lubay

DI tengah siaran berita Nasional tentang bahaya gerhana matahari total, warga Kampung Kebun Karet digegerkan dengan penemuan mayat seorang lelaki yang tergeletak di pinggir jalan sepi. Ketakutan menyebar cepat sekali. Di warung-warung kopi, warga mulai membahas tentang seseorang atau beberapa orang yang berjuluk Bayang-bayang. Di warung kopi, para lelaki duduk melingkar dengan suara ditekan, kadang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kesaksian Pemuda M dalam Pembantaian Soma Bren oleh Juli Prasetya

AKU tahu kalian semua membenciku, menyimpan dendam tujuh turunan kepadaku. Tapi aku bersedia menerima itu semua, menanggung itu semua, karena yang kulakukan itu adalah atas nama cinta. Cinta yang murni dan tulus, cinta seorang pemuda kepada gadis pujaan hatinya. Biarlah sejarah menuliskan semua ketololanku, dan pengkhianatanku kepada bangsa ini. Tapi sekali lagi kukatakan kepada kalian, … Baca Selengkapnya

Cerpen : Tubuh sebagai Mikrofon oleh M Dandy

FORMULIR itu setebal lima halaman—meski kertasnya ringan, isinya berat. Dicetak dengan huruf sans-serif berukuran kecil dan spasi rapat, setiap lembar menyimpan ketegangan yang tidak bisa ditumpahkan dengan suara. Judulnya tertulis tebal di bagian atas: DOKUMEN 12A/06 – PERMOHONAN IZIN BICARA (INDIVIDU NON-HAKIM, NON-MILITER, NON-DIPLOMATIK). Di bawahnya, terpatri logo bergambar lidah yang dikelilingi rantai dan tertera … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kriminalitas Meja Makan oleh Damhuri Muhammad

PERSENTUHAN mula-mulanya dengan perkakas tajam berawal dari omelan-omelan ayahnya di meja makan saat ia masih berusia 9 tahun. Salman ingat betul raut muka jengkel ayahnya, hanya karena bawang goreng yang terhidang bersama lauk lain di meja makan tidak berbunyi kriuk-kriuk di mulutnya. “Rasanya seperti mengunyah jamur mentah saja,” gumam ayahnya sebelum tergesa-gesa melepehkan kunyahannya melalui … Baca Selengkapnya