Cerpen : Kasus Kucing oleh Bagus Dwi Hananto

AKU baru saja keluar dari izakaya yang kerap kusambangi bersama teman-teman kantor. Kami berpisah jalan di muka kedai. Namun, lantaran kebetulan sedang di sini, aku sekalian mau menyapa seekor kucing. Beberapa langkah dari kedai aku mendapati si kucing yang hendak kusapa. Masih sebagaimana biasa. “Tuan Gembul memang selalu di sinikah?” Dan seperti biasa kucing yang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Lelakiku oleh Martin Aleida

AKU tak tahu apa niat Mbah membujuk kami menginap di rumahnya. Apakah dia merasa tidak layak, dan barangkali akan bikin geger seisi desa, bila lelakiku melewatkan malam di rumahku. Karena ibuku sudah menjanda. Atau dia hendak memerangkap kami berduaan belum waktunya, berbuat mesum. Kami merebahkan diri di amben yang terbuat dari belahan bambu. Kuhamparkan selendang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Gomis Biahat oleh Ahmad Z

SELURUH tubuh pengoli [1] lumpuh dan mengeluarkan bau busuk. Satu-satunya yang membuat pengoli masih bertahan hidup hanyalah kepalanya yang masih sehat dan tidak terlihat tua. Tidak ada sehelai uban yang tumbuh di kepalanya. Wajahnya masih terlihat muda seperti lelaki berumur 50-an. Pendengarannya juga masih sangat tajam. Namun bicaranya tidak jelas. Terdengar seperti orang yang mengigau. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Delapan Bayangan dari Kunlun Shan oleh Seno Gumira Ajidarma

(Fragmen Nagabumi IV) AKU melesat keluar dan melihat betapa di antara orang banyak yang berhamburan dengan panik, Jarum Harum berkelebat ke sana kemari dalam kepungan delapan bayangan, yang memang hanya tampak sebagai bayangan, karena kecepatan yang tidak kasatmata. Di antara jerit dan teriakan hiruk pikuk dalam arus manusia, aku tidak segera mendapat sudut pandang lebih … Baca Selengkapnya

Cerpen : Aku Telah Haji oleh Sahari Nor Wakhid

HARI pertama setelah kepulanganku, aku berjalan di pasar desa dengan kepala tegak. Warga desa menyambutku dengan hormat, menyebutku Pak Haji Hamid. Namun, mereka yang mengenalku dengan baik merasa ada yang aneh. Meskipun aku telah pulang dengan gelar haji, tabiatku tetap sama. Aku masih sering marah-marah, bahkan lebih sering memamerkan gelarku. Aku duduk di sebuah warung … Baca Selengkapnya

Cerpen : Mata-mata di Kepala oleh Ni Komang Ariani

TANPA harus dijelaskan, aku sudah paham. Sore itu, sehabis mandi dan rambutku masih basah, pintu kamar kontrakanku diketuk berulang kali. Tiga orang laki-laki berkaus hitam dengan rambut yang klimis menjemputku. “Silakan, Bu. Ini waktunya.” Ketiganya tersenyum ramah. Sekilas, ketiganya tampak sebagai laki-laki baik. Namun, kedatangan mereka bukanlah untuk sesuatu yang baik untukku. Pengalaman pahitku sejak … Baca Selengkapnya

Cerpen : Banyak Maling, Banyak Rezeki oleh Kiki Sulistyo

RUM Tarus tak pernah mengunci pintu rumahnya, baik pintu gerbang, pintu depan, atau pintu kamar. Bahkan, ia kerap membuka lebar-lebar pintu gerbang dan pintu depan. Rum Tarus percaya semakin banyak orang mencuri darinya, semakin banyak rezeki yang akan didapatkannya. Keyakinan itu terbukti. Setidaknya begitulah yang dilihat para tetangga. Rum Tarus selalu tampak gembira, begitu pula … Baca Selengkapnya

Cerpen : Daun Semanggi hingga Revolver oleh Tiqom Tarra

Daun Semanggi AKU tidak ingat kapan pertama kali anak kecil itu muncul dalam mimpiku. Namun, akhir-akhir ini dia selalu hadir kapan pun aku tertidur; siang maupun malam. Kami selalu di tempat yang sama. Itu adalah sebuah taman dengan tanah lapang yang hijau. Di sebelah kiriku ada hutan lebat seperti hutan di sebuah film favoritku. Anak … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ritual Makan Malam oleh Petrus Nandi

AMA duduk dekat tungku api yang masih membubungkan asap ke loteng dapur. Serentang tangan darinya, kami duduk bersila di atas tikar sembari menerima makanan dari tangannya. Seusai mengedarkan makanan, Ama mengarahkan tubuhnya ke sebuah piring kosong yang terletak di samping kanannya. Piring itu berukuran lebih besar dari piring-piring kami. Itu piring milikmu. Ia selalu ada … Baca Selengkapnya

Cerpen : Membungkam Anarki oleh Ahmad Amroe

SIANG itu sang surya menyinari bumi begitu teriknya. Menghiasi hari dengan cahaya keemasan yang begitu menyengat apa saja yang diterpanya. Di balik itu, sang bayu bertiup semilir menyusupi, mengembuskan tipis-tipis sedikit kesejukan. Menyentuh lembut pori-pori kulit untuk sekadar membantu menepiskan kegerahan. Namun damainya suasana hati menikmati hari kini mulai berangsur pergi. Ada momen tak menyenangkan … Baca Selengkapnya