Cerpen : Ketika Listrik Padam oleh Wendoko

TIBA-TIBA lampu padam. Tidak hanya lampu di ruang makan, tempat Nita—perempuan kecil berumur sembilan tahun dan berambut kepang itu—duduk menggarap PR matematika. Tapi semua lampu di dalam rumah padam. Beberapa saat Nita terdiam. Lalu, pelan-pelan, dengan bantuan cahaya samar dari genting kaca di atap dapur, matanya mulai menyesuaikan dengan suasana gelap itu. Lamat-lamat dia melihat … Baca Selengkapnya

Cerpen : Lot 23 oleh Wendoko

BEGITU melewati pintu masuk mal, lelaki itu mencium bau tidak sedap—seperti bau apak, lembap, atau entah apa istilahnya. Bau itu seperti udara dalam kamar yang lama tidak dibuka.   Beberapa meter dari pintu masuk, lelaki itu melihat kotak-kotak kayu dan rak pajangan di area yang disebut hall. Kotak-kotak kayu dan rak-rak itu kosong, sama seperti … Baca Selengkapnya

Cerpen : “EEEHH! AAAHH!” oleh Wendoko

SIANG itu, di pinggir parit, di balik semak-semak dan rumput. “Eeehh…. Hheehhh…. Hheeehhh…! Aaahh!” “Hheehhh…. Hheeehhh…! Sialan kamu, Benito! Sudah kubilang, itu pepaya jangan dimakan. Jangan sekali-kali! Tapi kamu nekat! Sekarang, lihat ini!” “…Kenapa aku yang disalahkan, Gonzalo? Kita sudah keliling dari rumah ke rumah sejak pagi, tapi selalu disuguhkan…. Ya, pepaya! Sudah disiapkan, masak … Baca Selengkapnya

Cerpen : Perkara No 6.1/Pdt.G/2023 oleh Wendoko

Oleh WENDOKO — ”Saudara Saksi, sebagai karyawan di Perusahaan P, apakah Saudara tahu hubungan Tuan T dengan Perusahaan P?” ”Tahu, Pak Hakim. Perusahaan P adalah penyewa, sedangkan Tuan T adalah pemilik bangunan dua lantai di Distrik D yang disewa Perusahaan P.” “JADI Perusahaan P adalah penyewa dan Tuan T adalah pemilik yang menyewakan?” ”Saya, Pak … Baca Selengkapnya

Cerpen : Diego Paredes, Suatu Pagi oleh Wendoko

LELAKI tua itu, Diego Paredes, berdiri di depan lapak cukur di dekat pasar. “Selamat pagi, Lito!” Si tukang cukur, Juan Acuna—laki-laki berkulit cokelat dan berumur awal 40-an—tersenyum. Wajahnya semringah begitu melihat lelaki tua itu, Diego Paredes, di depan lapaknya. Lelaki tua itu, Diego Paredes—dan biasa dipanggil “Lito”—ikut tersenyum di balik kumis putihnya yang lebat. “Mau … Baca Selengkapnya

Cerpen : Setelah Rafael Moreno Raib oleh Wendoko

/1/ Cerita Simone, istri Rafael Moreno HARI itu awal Agustus, empat tahun yang lalu. Siang yang panas mencekik, ketika dia meninggalkan rumah. Waktu itu televisi terus memberitakan Partai Independiente yang diberangus pemerintah. Para pemimpinnya, setelah kerusuhan Juli empat tahun lalu itu, terus diburu intelijen. Banyak yang ditangkap. Bermula dari bentrokan di markas partai oposisi dan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Jendela dan Sore yang Gerimis oleh Wendoko

“JAUH DI KEDALAMAN, air laut sebiru kelopak cornflower yang paling indah dan sejernih kaca kristal. Tapi laut itu juga sangat dalam. Lebih dalam daripada yang dapat dijangkau tali jangkar mana pun, dan banyak, banyak menara harus ditumpuk satu sama lain untuk mencapai permukaan laut. Di kedalaman itu hiduplah para penghuni laut….” Lia mendengus kesal. Kalimat-kalimat itu sudah … Baca Selengkapnya

Cerpen : Nebulae oleh Wendoko

GURUKU mendongak ke langit. Katanya, gumpalan cahaya itu seperti bilah api di sumbu lilin. Warnanya kebiruan, agak gelap di tepi, dan dikerubuti serabut-serabut kuning atau jingga. Jika diamati, serabut-serabut itu seperti bergerak—merambat, menyebar, lalu merapat. Pada langit malam yang berbintang, gumpalan cahaya itu tampak besar tapi buram, seolah serpihan kabut atau awan dengan cahaya yang samar. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Gerimis di Kuta oleh Wendoko

IA duduk di teras kafe itu. Sudah lewat setengah sepuluh malam. Hujan baru saja reda. Dari tepi kanopi hijau-lumut di atasnya, ia melihat sisa hujan mengucur, seperti tirai air. Teras kafe itu agak lengang. Selain dirinya, ada perempuan berambut poni di ujung dekat kaca. Matanya berciri oriental dan hidungnya kecil, pada muka yang bulat. Perempuan itu … Baca Selengkapnya