Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Yang Terjadi Setelah Senja oleh Arie Fajar Rofian

Posted on Rab, 04 Jun 2025

angit terik bersorak panas, membakar apa pun yang berada di bawah naungannya. Matahari yang menggantung di atas tak mengenal belas kasihan; sinarnya tajam dan menusuk-nusuk dari atap beton gedung perkantoran hingga kulit-kulit yang berseliweran di permukaan yang kian lama kian legam. Sementara, asap knalpot beragam kendaraan bermotor memanjat pelan, sekaligus berlomba-lomba menggapai udara, lalu larut dalam pekat beraroma mesin terbakar.

Jalan raya gemetar oleh deru mesin dan suara klakson yang bersaut-sautan seolah tak sabar ingin tiba ke tempat tujuan lebih dulu, aspal terasa seperti kawah hitam yang mendidih dan enggan dijejaki oleh siapa pun—tetapi terpaksa dijejaki. Orang-orang berlalu-lalang serupa sekumpulan semut yang hendak mengerumuni remah makanan, sibuk dengan tuntutan angka-angka yang berkelebat di kepala demi bertahan hidup.

Di antara kesemrawutan itu, Budi berdiri di permukaan trotoar, merapatkan diri ke arah bayangan papan reklame yang berisi ucapan selamat atas dilantiknya Presiden dan Wakil Presiden yang baru. Ucapan selamat yang dibarengi harapan-harapan yang nyaris tak masuk akal, terlalu normatif dan mengada-ada lantaran harapan yang sama juga kerap digaungkan setiap berganti pemerintahan, tetapi tidak ada yang benar-benar menjadi nyata.

Kaus berwarna putih dengan gambar pasangan calon presiden beserta nomor urutnya melekat di badan Budi, beberapa bagian sudah terkena lunturan dan bercak hitam sehingga tampak lebih mirip seperti kain pel ketimbang pakaian. Celananya robek di lutut kiri, warnanya tak jelas apakah benar-benar abu-abu atau hanya abu-abu dikarenakan dekil yang menumpuk selama bertahun-tahun. Entah. Topi usang bertengger di kepala Budi, menahan rambutnya yang keriting agar tidak ke mana-mana, yang memberontak setiap kali angin berembus usai kendaran melintas kencang di hadapannya.

Di tangan Budi, tergenggam gitar tua dengan senar yang tak lagi utuh dan sempurna. Senar nomor dua sudah tak ada, senar nomor lima tak lagi mengeluarkan suara, dan senar nomor tiga hanya mampu mengeluarkan bunyi lemah jika dipetik keras-keras. Gitar yang lebih mirip bongkahan kayu dengan semacam tali yang diikat seadanya, mengalungi leher Budi yang licin akibat keringat berlebih.

Namun, gitar tua tersebut sudah lebih dari cukup bagi pria berusia dua puluh tiga tahun itu, bahkan terlalu mewah mengingat beberapa bulan yang lalu dia hanya bermodalkan alat musik buatan tangan seadanya berupa kecrek yang dirakit menggunakan beberapa tutup botol minuman ringan berbahan kaleng yang dipipihkan lalu dipaku pada permukaan kayu berukuran kecil.

Lampu lalu lintas menyala merah, Budi segera mengangkat gitar tuanya, kemudian berlari mendekati barisan kendaraan bermotor yang terpaksa berhenti dari segala ketergesaan. Sedan mewah berkelir hitam, seorang sopir duduk di depan, sedangkan majikannya pria paruh baya berjas sedang membaca koran di kursi belakang dan tampak tak tertarik dengan keadaan di sekitarnya, demikian Budi menyimpulkan usai berdiri lebih dekat. Berdasarkan demografi tersebut, Budi sudah menyiapkan lagu yang cocok untuk dinyanyikan: Can’t Smile Without You.

Tatapan khas matanya masih yang lama. Kau ajak bicara, seketika ku kembali jatuh cinta. Sialan dia, sakit dan air mata sia-sia.

Budi mulai memetik gitarnya, memainkannya semacam kebiasaan yang terus diulang-ulang, bukan karena dia ahli dalam bidangnya, melainkan lebih kepada tak punya pilihan selain melakukan hal tersebut. Suaranya serak, tidak lebih bagus dari dentingan senar gitar yang dipetiknya, mengadu nyaring dengan suara mesin kendaraan yang berdesing—terutama suara mesin bus tua yang berada di barisan terdepan. Sopir sedan berkelir hitam melirik sebentar ke arah Budi, lalu mengangkat telapak tangannya, tanda tak berkenan memberinya uang.

Budi berbalik badan dan nyaris meninggalkan sedan itu sebelum mendengar suara kaca jendela bagian belakang diturunkan.

“Ini karena pilihan lagunya, bukan karena suaramu yang sangat apa adanya itu,” ucap si pria paruh baya sembari menyerahkan uang lima puluh ribu rupiah yang diterima Budi dengan senang hati dan mata yang berbinar-binar. “Kamu tahu siapa yang pertama kali menyanyikan lagu itu?”

“Barry Manilow, rilis tahun 1978 dalam album Even Now.”

“Sepertinya kamu masih harus belajar lebih banyak lagi, Anak Muda. Tapi, saya mengakui bahwa pengetahuan musikmu cukup lumayan, setidaknya untuk ukuran orang-orang seusiamu.”

“…” Budi tak sempat menanggapi.

Kaca jendela bagian belakang mobil sedan menutup secara perlahan, dan pria paruh baya itu kembali membuka lembaran koran, tanpa menjelaskan lebih jauh arti di balik kalimat terakhirnya; kembali bertingkah tampak tidak tertarik dengan keadaan di sekitarnya. Budi hanya tersenyum menanggapi hal itu, menyadari jawabannya yang barangkali keliru atau kurang tepat.

Beberapa orang yang sedang menyebrangi jalan memperhatikannya sejenak, lalu meneruskan perjalanan tanpa menoleh lagi. Mereka terburu-buru, tak perlu larut dalam interaksi antara seseorang berpakaian necis di dalam mobil mewah dengan seorang pengamen bertampang lusuh. Meski anomali, hal itu kerap terjadi kapan saja, di mana saja; tak ada yang terlalu istimewa.

Lampu lalu lintas masih menyala merah, Budi beranjak menghampiri pengendara sepeda motor berjenis skuter, seorang perempuan muda berhijab dengan helm bogo yang mengenakan kaus polos disertai kardigan rajut berwarna mencolok, celana jin, dan sepasang sepatu sneakers bermerek Converse. The Nuruls, simpul Budi sekenanya, merujuk dari cara berpakaian perempuan dengan kacamata bulat itu.

“Sepertinya sama ….”

“Tatapan khas matanya masih yang lama. Kau ajak bicara, seketika ku kembali jatuh cinta. Sialan dia, sakit dan air mata sia-sia,” perempuan muda itu menyambung lirik yang dinyanyikan oleh Budi, turun dari sepeda motornya, lalu berjoget sambil melakukan live di akun media sosialnya. Dia merasa seperti menemukan teman di tengah antrean kendaraan yang menunggu lampu merah.

Lampu lalu lintas berganti hijau. Seperti penantian panjang yang tak boleh terlewatkan, para pengendara di belakang mereka segera menekan klakson, sebagian menyerukan cacian mengingat panas yang terus menyengat. Si pengendara sepeda motor skuter hanya menyeringai canggung, kembali duduk manis di jok kendaraannya. Lalu, perempuan muda itu melesat, meninggalkan Budi beserta kemacetan tanpa sepeser rupiah pun yang berpindah tangan.

Detik berganti menit, menit berganti jam, tanpa terasa senja mulai merayap. Langit berubah warna, cerah menjadi muram yang tak tertahankan, tetapi jalan raya tetap bergemuruh. Satu lagu lagi, dan setelah ini dia akan mengakhiri aktivitas bersama gitar tuanya, Budi menetapkan demikian dalam hatinya. Maka, pada nyala lampu merah terakhir, dia menaiki bus antar kota yang sesak dan dipenuhi bau keringat, hendak membawakan lagu favoritnya.

Tanpa salam, tanpa kata pembuka, terlebih kalimat basa-basi panjang yang berharap belas kasihan dari para penumpang bus, tetapi tak ingin didengar oleh siapa pun: Budi langsung menyajikan penampilan pamungkasnya. Penampilan bergairah, menggebu-gebu, dan penuh semangat, seolah-olah dia bernyanyi tanpa bisa bertemu hari esok.

“Oke gas oke gas. Tambah dua torang gas.”

***

Di permukaan trotoar yang kotor, di mana debu dan harapan berbaur, Budi duduk sambil melepaskan gitar yang mengalungi serta membebani lehernya. Dengan napas yang dalam, dia menyudahi segala hal yang berkaitan dengan jalan raya yang terhampar di hadapannya. Sejenak menatap langit yang perlahan kehilangan cahaya dan didominasi kelabu, mengisyaratkan akhir dari sebuah hari yang panjang.

Pulang bukanlah tujuan selanjutnya usai senja berhasil menyapa. Budi berdiri dari permukaan trotoar, berjalan cepat meski tidak tergesa-gesa, menelusuri gang kecil untuk membersihkan diri di sebuah toilet umum di dekat pemukiman yang padat penduduk, tempat di mana dirinya bertransformasi. Dari balik papan pintu toilet yang lapuk dimakan rayap, Budi gesit membersihkan tubuhnya, mengganti pakaiannya, menatap cermin sambil memantaskan diri pada dunia yang segera dijajakinya.

Tak sampai lima belas menit, Budi muncul dengan pakaian yang sama sekali berbeda, tak mendefinisikan dirinya ketika senja belum tiba dan dia terjebak bersama gitar tuanya yang tak sempurna. Kemeja flanel berwarna cerah, sepasang sepatu Air Jordan 1, dan celana kargo yang di salah satu sakunya tersimpan ponsel keluaran terbaru membalut tubuh Budi; mengemas ulang dan memberinya nilai tambah yang signifikan.

Ini karena pilihan lagunya, bukan karena suaramu yang sangat apa adanya itu.

Berjarak dua kilometer dari tempatnya berganti pakaian, aroma kopi dan bermacam-macam kue yang menggoda menyambut kedatangan Budi. Di ruangan yang bergaya klasik itu, Budi menyaksikan orang-orang tampak terkurung oleh rutinitas kaum urban yang tiada habisnya: kopi di satu tangan, gelak tawa yang dibuat-buat agar menarik atensi orang lain, serta percakapan kosong yang tak bermakna apa-apa kecuali sekadar mengisi waktu yang tidak pernah benar-benar luang.

“Selamat malam, Kak Budi,” sapa seorang perempuan berwajah manis yang berdiri di depan mesin kasir. Sapaan yang hangat, menandakan bahwa itu bukanlah kali pertama mereka bertemu. “Tumben jam segini sudah datang, biasanya agak malam.”

“Kebetulan saya baru bertemu klien di dekat sini,” jawab Budi tanpa bermaksud berdusta, menganalogikan orang-orang yang ditemuinya, baik di dalam mobil, bus atau pun sepeda motor adalah klien baginya.

“Oh, begitu. Mau pesan apa hari ini, Kak Budi?”

“Seperti biasa, almond croissant dan caramel macchiato.”

“Baik, akan segera disiapkan.”

Usai membayar pesanannya, Budi memilih tempat duduk di salah satu sudut teramai kafe dengan atmosfer yang hangat itu. Sebelum duduk, Budi mengeluarkan Iphone yang memiliki tiga lensa kamera berukuran mencolok dari saku celananya, meletakkannya di permukaan meja. Sebuah penegasan bahwa dia memang layak berada di tempat itu, merayakan sesuatu yang lebih dari sekadar penampilan.

Sambil menunggu pesanannya datang, Budi menatap lurus, mengamati dari kejauhan seorang perempuan yang berdiri di meja kasir dan tadi sempat membuat dadanya berdebar-debar. Perempuan yang menjadi alasan utama Budi mengunjungi kafe itu setiap malam, memesan menu yang sama karena itu adalah menu yang direkomendasikannya saat kali pertama berkunjung.

Budi tahu dan sadar, besok ketika matahari terbit, dan langit menyala terang, dia akan kembali menelusuri jalan raya yang bising dan berdebu sambil memetik gitar tuanya, mengais rupiah yang mungkin tak seberapa. Di lain sisi Budi pun tahu dan sadar, tak ada salahnya menikmati fatamorgana yang semu meski hanya untuk sesaat. Setidaknya, begitulah cara dunia bekerja.

Selesai

Arie Fajar Rofian, pegiat literasi yang berdomisili di Karawang

sumber : kompas.id, 04 Jun 2025.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme