Sudah belasan tahun saya tidak lagi kembali melaut seperti kebanyakan saudara di tanah kelahirannya. Di desa kami, seingat saya, hampir keseluruhan orang tua tidak dapat membaca ataupun menulis, termasuk orang tua saya. Usia saya hampir menginjak masa tua, dua tahun lagi akan sampai pada masanya. Hampir 20 tahun yang lalu, terakhir kalinya melaut bersama Bapak mengarungi lautan moyang. Lautan yang ia umpamakan ialah belantara suka-duka, segalanya kita pertaruhkan di sana, tidak terkecuali nyawa.
Kata Bapak saat masih segar bugar, ”Nenek moyang kita adalah pelaut, Nak.” Saya mengiyakan lantaran kami dan penduduk Desa Ngaikali mayoritas adalah seorang nelayan.
Saya masih teramat pengecut dibandingkan dengan Bapak yang seakan telah menyatu dengan lautan. Sebelum menikah, bahkan sampai ajal menjemputnya. Ia seorang pelaut sejati. Hidup dan matinya diperuntukkan dengan berlayar. Terkadang bila rembulan tak lagi bersinar sempurna, desir angin yang bergemuruh, dan debur ombak seolah mencapai dada. Itulah pertanda nelayan tidak akan melaut. Lalu sebagian nelayan serta istrinya berjalan kaki sejauh mata memandang, kala sore tiba menuju tengah pantai. Mencari kerang bawang, kerang wuluh, siput laut, juga tebalan demi asap di dapur agar tetap mengepul. Begitulah keberlangsungan hidup seorang nelayan bila libur melaut. Ada pula yang sampai berutang kepada pemilik kapal dengan catatan jalan hidupnya ikut berlayar bersama pemilik kapal.
Ingatan masa lalu memang sukar terlepas dari kepala. Meskipun saya sempat mengadu nasib ke Malaysia. Hampir 20 puluh tahun saya tinggal di sana. Bekerja sebagai Warga Negara Indonesia yang mungkin legal. Pernah tebersit kekhawatiran saya mengenai kabar yang beredar di desa, bahwa cukup banyak warga dari desa saya pun dari desa seberang tertipu oleh calo pencari kerja yang mengiming-imingi pekerjaan dengan pendapatan yang fantastis. Kerja yang gampang ketimbang menjadi nelayan atau petani. Dan dalam hitungan 2 atau 3 tahun utang dapat dibayar lunas dan berlebih. Naasnya, ada yang kembali dalam bentuk peti mati dan tak jarang dari mereka menetap dengan keadaan yang tak pasti kapan akan pulang.
Tak ayal dari beberapa orang mengatakan bekerja sebagai nelayan seperti sedang menjudikan nasibnya, yang hasilnya masih belum dapat dipastikan. Ditambah bila keadaan makin sulit untuk berlayar dan isi dalam dompet keluarga menghidangkan tanda tanya. Dapur harus tetap mengepul. Tiga anak tak bisa terus-menerus dijanjikan kata, ”Esok Bapak pasti belikan mainan.” Tidak! Tidak seperti masa kecilku dulu. Demi perut supaya terisi, kita rela menunggu Bapak pulang dengan membawa barang 10 ekor ikan. Tak banyak yang didapatkan sampan kecil milik Bapak yang berlayar di pagi hari. Kadang kita juga rela menunggu Ibu pergi ke ladang orang meminta barang 1 atau 2 buah singkong, atau ubi tanah demi mengganjal perut kosong bila Bapak tak urung pulang.
Pedati telah berputar lebih cepat dari perhitungan zaman. Kembali mengenang masa kecil di tepian pantai membuat saya seteguh lelaki pada umumnya yang menahan air mata supaya tidak tumpah dan mengalir menuju lautan. Betapa menyesalnya bila jauh dari orang tua. Saat mendapati kabar kematiannya hanya lewat telepon sejauh yang tak dapat kita kira. Tumpukan utang yang saya pinjam dari seorang kaya dengan bunga yang tak boleh telat bayar membuat keberlangsungan hidup rumah tangga melampaui pemilik kapal.
Sehari bekerja harus dapat menyetor uang seratus ribu, awalnya. Terus-menerus bertambah sampai berani meminjam uang ke koperasi yang tiap kali ditagih ke rumah suka bersembunyi di rumah tetangga. Dari masalah sepele itulah saya kemudian berani pergi ke Negeri Jiran.
Pedati telah berputar lebih cepat dari perhitungan zaman. Kembali mengenang masa kecil di tepian pantai membuat saya seteguh lelaki pada umumnya yang menahan air mata supaya tidak tumpah dan mengalir menuju lautan.
”Biarlah saya sendiri yang ke Malaysia, E.” Istriku Suyatmi terus merajuk, ”Kau rawatlah anak-anak kita.” Meski dengan lembut dan sekeras apa pun saya coba menahan, kekhawatirannya sama dengan perempuan lainnya. Perihal kesetiaan. Bukankah tidak mungkin seorang yang bertahun lamanya tinggal tanpa temu pasangan akan tumbuh kerinduan untuk bercinta pada yang lain meski bukan pada kekasihnya sendiri?
”Tidak, E. Saya ikut bersamamu. Dengan kita sama bekerja di sana, maka hasilnya lebih cepat kita membayar utang puluhan juta itu!”
Kami akhirnya berangkat bersama ke Malaysia. Beruntung di tempat kerja, kita dapat bertemu barang seminggu sekali, kadang sebulan atau dua bulan lamanya. Saya dapat memakluminya. Sampai suatu hari kita sudah tak lagi memanggil masing-masing dari kita dengan sahutan kata ”E” yang bila mana di desa saya itu ialah panggilan sayang suami dan istri. Penduduk desa yang sebaya dengan saya memanggil demikian, tak terkecuali yang lebih tua seperti orang tua saya. Kini Suyatmi memanggilku dengan panggilan sayang layaknya orang Malaysia.
”Abang,” suatu hari ia menggoda saya, saking lamanya kita tidak bertemu. Ah, mengingat hal-hal yang menurut saya romantis membuat saya tak terlalu melenakan kepedihan.
Saya masih ingat waktu di Malaysia dulu. Ketika bertemu seseorang yang ternyata tetangga satu dusun di Desa Ngaikali. Ia lebih muda dari saya. Saya memanggilnya Man Hadi, mengikuti tradisi di desa yang memanggil suami dan istri yang telah memiliki anak. Kita memanggilnya berdasarkan nama anak tertuanya dengan imbuhan ”Man” bagi si suami dan ”Bun” bagi si istri. Ia sama dengan saya mengadu nasib tapi seorang diri. Masalahnya pun sama dengan keluarga saya, dikejar-kejar utang. Namun naasnya, nasib membuatnya pontang-panting sampai melarikan diri dan bertemu dengan saya saat diseret Petugas Patroli Malaysia. Berselang beberapa bulan kemudian, ia pulang lebih dulu ke tanah kelahirannya dengan memakai ongkos dariku.
”Sudah tak usah dihiraukan perihal uang, Man Hadi. Insyaallah saya ikhlas…” berkali-kali saya mendorong dua tangan saya, menghentikan keteguhan Man Hadi yang seperti bertemu malaikat penyelamat.
”Suatu hari saya akan menggantinya, Man Yan,” serunya, mengulang-ngulang sampai berlalu.
Hingga pada akhirnya saya harus pulang ke tanah kelahiran. Saya pulang menyusul istri saya yang pulang setahun sebelumnya. Beruntung saat saya pulang sebelum terjadi pandemi Covid-19 merebak ke seluruh dunia. Tidak bisa saya bayangkan nasib saya yang kembali jauh dari keluarga dan tinggal tanpa bertemu istri di Negeri Jiran.
**
Saya masih di tepian pantai. Memandang kapal-kapal yang telah dihias oleh beberapa nelayan. Fajar telah menyingsing. Kokok ayam di kandang tetangga yang berdekatan dengan pantai nyaring terdengar. Satu persatu seorang nelayan berdatangan memeriksa kapalnya untuk berlayar hari ini menuju lautan, pun beberapa anak muda mulai kelihatan batang hidungnya. Setelah 3 tahun berlalu tanpa adanya selamatan desa, akhirnya di masa pandemi yang kabarnya entah bagaimana ujungnya. Akhirnya penduduk desa dapat merayakan rokat tase yang biasa diadakan setiap setahun sekali.
Saya mulai beranjak dari tempat duduk di tepi pantai. Menyapa sesama nelayan yang saya temui. Sesekali ada yang menggoda, ”Kapan bhiteknya dibawa ke sini?” ucap salah seorang nelayan. Saya sempat membalasnya sebelum tiba kembali di tepian pantai bersama beberapa nelayan membawa bhitek buat sesembahan.
Air laut mulai pasang. Debur ombak dari kejauhan menggulung-gulung pelan sampai ke tepian. Dan bila kita masuk ke pantai, airnya sudah mencapai lutut orang dewasa. Penduduk desa sudah banyak berkumpul di tepian pantai. Ada yang sudah menaiki kapal dan sampan dari nelayan, ada pula yang masih menunggu; biar dekat dengan bhitek agar menghasilkan potret atau rekaman video yang lebih sempurna untuk dipamerkan di media sosial. Bhitek yang terbuat dari bambu itu membentuk sampan, di atasnya terdapat buah-buahan, sayur-sayuran, dan segala yang diperlukan buat sesembahan. Kali ini tidak ada kepala sapi seperti tahun lalu, cuma wadah arang yang telah dibakar dengan doa bersama kemenyan. Segala telah siap. Saya bersama beberapa nelayan membawa bhitek masuk ke pantai.
Tali tampar sudah terikat sempurna pada bhitek. Kali ini yang membawanya sampan milik saudara sepupu saya. Sebelum mesin dinyalakan untuk membawa bhitek berlayar bersama kapal dan beberapa sampan lainnya. Saya merasakan gumpalan kabut menelusup masuk ke tubuh saya. Ada aroma yang aku kenal.
Perasaan saya tiba-tiba lebih bergairah, lebih berani dari terakhir kali pergi melaut bersama Bapak. Dengan berani saya mengiyakan godaan teman-teman nelayan untuk duduk menaiki bhitek sendirian menuju ke lautan dan akan menenggelamkannya.
Sampan yang membawa bhitek lalu berlayar dengan kecepatan debur ombak di dada, diiringi kapal-kapal yang dihias dengan umbul dan bendera sisa Agustusan, pun sampan-sampan juga mengikuti laju sampan yang membawa bhitek. Saya melihat Man Hadi bersama keluarganya. Ia sempat menyapa saya dengan teriakan layaknya seorang nelayan. Saya bergairah sekali serta gembira di atas bhitek.
Dengan gagahnya sambil membusungkan dada menantang debur ombak, embusan angin yang tak henti-henti menampar wajah saya. Saya hanyut terbawa perasaan yang seolah-olah merasakan roh Bapak hadir di menemani saya.
Kalibuntu, September-November 2021
Catatan:
1. E = Umumnya suami istri yang kelahiran 80-an di Desa Kalibuntu memanggil pasangan mereka dengan sahutan E
2. Rokat Tase = Selamatan desa atau petik laut
3. Bhitek = Wadah sesajen yang dibentuk seperti sampan atau kapal
***
Emroni Sianturi lahir di Probolinggo, Jawa Timur, 6 Desember 1995. Bergiat di komunitas kamianakpantai.com. Sejumlah karya puisi, cerpen, dan esainya banyak dimuat di berbagai media cetak dan daring, juga pernah diterbitkan dalam buku antologi bersama. Suka nyeletuk tentang Luta dan Cinka di Fanpage: Lelaki Warna dan Instagram: @lelaki_wa12na
sumber : kompas.id, 18 Des 2021.