Cerpen : Dinda Obat Pandemi oleh I Wayan Kertayasa

Dinda, entah kenapa dua tahun belakangan ini dunia menjadi serius begini. Ada virusnya, banyak dukanya, kata orang bertahan untuk menjadi waras saja sudah cukup. Sebegitu seriusnya dunia akhir-akhir ini Dinda.

Aku harap kita jangan terprovokasi keadaan ini, kamu tetap mencintaiku sebagaimana dunia sebelum dua tahun ini. Aku prihatin kepada kerabat yang mondar-mandir cari tahu keadaan keluarganya di rumah sakit. Ada yang kritis sendirian di Ruang Kamboja, ada yang sesak napas dan ada yang meninggal sendirian tanpa pelukan orang tercinta.

Apa yang sebenarnya dunia ingin sampaikan kepada kita umat manusia Dinda? Apakah usia semesta sudah tua renta sehingga gampang sakit-sakitan Dinda? Aku kira tidak demikian, sebab di desa ada sungai, sawah dan dekat gunung udaranya masih segar seperti permen mint. Itu makanya kenapa aku lebih suka mengajakmu pacaran ke desa-desa ketimbang ke kota yang macetnya minta ampun.

Dinda, apakah kita mesti kembali ke kehidupan yang dulu saat bekerja bukan prioritas, saat bersama keluarga menjadi obat dari segala macam penyakit. Siapa yang sebenarnya membuat kita begini Dinda.

Berkompetisi siang dan malam hingga lupa jalan pulang ke rumah, hingga sempat pulang sebulan empat kali. Semakin ke sini kita semakin menjadi pintar atau hanya menjadi pesuruh zaman saja. Aku tidak mau berspekulasi tentang kaum globalis yang mana berperan dalam peradaban dunia ini Dinda. Aku tidak pintar untuk menganalisa seperti pengamat di TV sebelah. Aku juga tidak pandai berpendapat tentang teori konspirasi yang banyak orang bicarakan. Dinda, kamu ingat Pak Made Pondal yang kerjanya nongkrong minum tuak setiap hari? Tiba-tiba dia menjadi sosok yang didengarkan pendapatnya tentang teori konspirasi. Aku tidak tahu kenapa bisa begitu, mungkin karena dia sering menonton podcast.

Dinda pacarku tersayang, izinkan aku bercerita kepadamu tentang apa yang terjadi di rumah sakit. Lorong-lorong di sepanjang Ruang Kamboja pengap Dinda. Perawat di sana-sini menggunakan pakaian APD lengkap, ada nama di dadanya dan di punggungnya ditulisi ”sedang berjuang melawan covid”. Aku membayangkan berjam-jam memakai baju seperti itu apakah tidak kekurangan oksigen. Tapi aku yakin mereka orang baik yang rela mengurangi kenyamanannya untuk pasien. Aku bukannya mau menakut-nakutimu Dinda, jangan pernah lewat Ruang Jempiring, di sana tempat karantina pasien Covid. Aku saja dilarang oleh satpam agar jangan sembarangan masuk ke sana. Dari jarak aman aku saksikan jendela tertutup, bagian luar ruangan ditutupi plastik. Pokoknya di sana kamar pengasingan menurutku Dinda. Jangan sampai aku atau kamu berada di sana sebab siapa yang bertanggung jawab jika kita sedang kangen-kangennya.

Dinda kalau misalnya dunia ini terus memakai masker maukah kamu pindah ke planet lain bersamaku? Di sana kita buat republik sendiri, aku jadi presiden dan kamu ibu negaranya. Minimal untuk melihat senyummu tidak tertutup masker. Minimal tidak pernah ada pertemuan yang terlewatkan karena kamu memakai masker. Ini jujur aku bilang kepadamu, sejak dunia mewajibkan manusia memakai masker, saat itu imunku berkurang karena senyummu ditutupi masker. Memang bisa aku lihat dari tatapan matamu bahwa kamu sedang tersenyum, tapi itu masih kurang Dinda. Kalau misalnya kerabat dan orangtuamu mau ikut pindah silakan, aku juga akan beri tahu ke orangtua dan sanak familiku. Kita angkat mereka menjadi menteri atau karyawan di istana. Tapi kerjanya tidak usah serius, cukup memastikan kehidupan berlangsung secara layak dan harmonis. Kemanusiaan dijunjung tinggi agar kekerasan dalam bentuk fisik atau mental tidak ada di sana.

Dinda pacarku yang selalu membuatku kangen, kamu merasakan tidak? Gaya berpacaran kita sudah berubah semenjak dunia sedang tidak baik-baik saja? Mulai dari memelukmu mesti cuci tangan dulu, menciummu tidak boleh sama sekali. Sudah hampir dua tahun aku tidak bisa merasakan cium darimu. Minimal mencium keningmu saja aku mesti memastikan bibirku bebas dari segala macam virus. Padahal dulu tidak ribet begini Dinda. Apakah kamu mau aku cium di tempat yang tidak seorang pun tahu, minimal biar perasaan kita sama-sama nyaman. Aku takut jika sampai ada orang melihat, bisa jadi kamu akan dikarantina dituduh melakukan kontak dengan OTG. Sungguh aku tidak ingin itu terjadi kepadamu. Kalaupun itu terjadi, aku akan ikut karantina denganmu. Minimal aku bisa sama-sama denganmu dan tahu bagaimana keadaanmu.

Dinda, dunia ini memang benar-benar sedang serius menunjukkan keangkuhannya. Tidak ada lagi sore di pantai yang ramai. Jalan menuju pantai ditutup rapat, jalan menuju matahari tenggelam dijaga ketat petugas. Padahal hanya itu yang kita punya di dunia ini Dinda, hanya itu yang membuat kita nyaman setidaknya merasa baik-baik saja. Ke mana kita akan mencari sore yang seperti dulu lagi Dinda? Saat aku dan kamu bebas berlarian membelah ombak mungil. Saat aku mengajakmu menyaksikan perahu-perahu nelayan berlayar pulang menemui cintanya. Atau saat sibuk menghitung jumlah lumba-lumba yang muncul ke permukaan. Hal-hal seperti itu sungguh berharga bagiku sebab kalau untuk membahagiakanmu dengan uang aku belum bisa. Aku kerja paruh waktu kadang dirumahkan karena ada kebijakan pembatasan kerja di lingkungan kantor. Gajiku yang seukuran UMR itu dipotong lagi Dinda, aku tidak apa-apa sebagai rakyat biasa atau sebagai karyawan kontrak aku ikut aturan yang berlaku.

Banyaknya waktu luang yang aku miliki terbuang percuma sebab tak bisa merayakan cinta denganmu. Hanya di kamar teleponan siang dan malam bersamamu, lalu sore-sore berkhayal di suatu pantai atau gunung berdua denganmu. Kamu membuatkan aku teh hangat, sedangkan aku bermain gitar. Kita berdua memandangi dunia ini dari ketinggian menyaksikan kecemasan orang-orang yang terkurung di rumahnya sendiri. Sebenarnya bisa saja aku tidak berkhayal lalu mengajakmu ke gunung, tapi untuk lewat perbatasan kita mesti menunjukkan surat bebas virus. Aku tidak berani ikut tes, aku juga tidak punya uang banyak untuk tes.

Pacaran kita sekarang lebih kepada kata-kata saja Dinda. Memang aku bilang kangen, bilang cinta atau bilang ingin memelukmu itu semua bukan dalam rangka gombal. Itu benar dari dalam hatiku, namun lelah juga tanpa pertemuan dan tanpa pacaran sebagaimana mestinya. Apalagi konser musik sudah tiada, biasanya setiap malam minggu kita nyanyi lagu favorit di angkringan samping taman kota. Aku tak menyangka dunia menjadi membosankan begini. Ini bertentangan dengan konsep hidupku yang ingin merayakan hari-hari penuh kerinduan. Sungguh di zaman sekarang kerinduan itu tidak ada harga dirinya Dinda. Kamu lihat pekerja rantau tidak bisa pulang kampung. Mereka terkurung di kamar kos dan kontrakan merayakan hari raya dengan baju baru, tapi hati kesepian.

Dinda, mentalku sedang tidak baik-baik saja. TV di rumahku setiap hari memberitakan kematian. Setiap saat bicara Covid melulu. Perasaanku semakin khawatir saja bilamana ada berita yang bilang Covid rawan terjadi di kluster keluarga. Dinda bagaimana TV di rumahmu? Apa sama beritanya begini juga? Kata Dinda pacarku tersayang, TV di rumahnya tidak ada berita Covid. Beritanya kebanyakan seputar selebriti yang punya aktivitas baru selama pandemi ini. Entah, aku mesti bahagia atau bagaimana mendengar berita ini. Mungkin dalam beberapa hari ke depan aku akan banyak nonton berita artis saja, meskipun banyak joget-jogetnya minimal aku menonton tidak merasa diburu oleh virus.

Dinda, kamu harus berjanji kepadaku seandainya ada gelombang virus susulan kita mesti menghadapinya sama-sama. Minimal aku yakin bahwa cinta adalah obat dari segala kecemasanku. Dengan begitu, aku tidak mesti antre beli obat di apotek atau repot memeriksa keadaan tubuhku ke dokter. Aku tahu tugas dokter sudah banyak di rumah sakit, bahkan katanya mereka kewalahan menangani pasien yang membeludak di mana-mana. Aku tentu tidak mau membebani dokter-dokter itu lagi. Rasanya aku bisa menjaga imunku baik-baik saja asal bisa bertemu denganmu setiap hari. Syukur-syukur kalau boleh memeluk dan menciummu seperti sedia kala, pasti semuanya akan baik-baik saja.

Dinda, kalau saja kerinduan ada harga dirinya di masa pandemi ini, aku rasa rumah sakit tidak akan sepenuh ini. Sebab, di antara kerinduan itulah ada obat yang tidak bisa dibeli di apotek mana pun. Resepnya tidak usah atas rekomendasi dokter mana pun sebab tidak ada kata-kata yang mampu mendefinisikan kerinduan. Tidak ada karena-karena mengapa rindu dan pertemuan itu menjadi obat atas berbagai macam penyakit. Ini ramuan alami yang Tuhan berikan kepada umat manusia. Namun, itu hanya pendapat halu saja Dinda, ingat pacarmu ini bukan dokter atau ahli kesehatan. Aku hanya karyawan biasa yang sedang berjuang menjadi karyawan tetap agar nanti aku bisa menafkahimu dengan gaji yang layak minimal lebih dari UMR. Dinda, tetaplah memakai masker dan jaga jarak meski itu berat bagi kita yang sedang pacaran ini. Entah sampai kapan protokol kesehatan akan diterapkan, biarkan itu menjadi urusan pemerintah. Urusan kita dan kepentingan kita adalah menjaga cinta ini agar setiap hari semakin erat saja. Karena untuk ukuran kita yang menengah ke bawah ini hanya perlu perbanyak merayakan cinta saja.

Dinda kekasih sanubariku, tenang saja meskipun ke mana-mana kita menggunakan masker, minimal mata masih bisa menyaksikan sore terbenam. Bukankah, itu saja kebahagiaan yang kita miliki secara gratis di dunia ini Dinda. Bukankah sore yang terbenam di sebuah pantai yang ada lumba-lumbanya itu menjadi tempat favorit kita Dinda. Aku tidak mau melihatmu bersedih begitu, kita sabar saja dulu berdoa sama-sama agar pantai segera bisa dikunjungi. Agar aku dan kamu bisa berlarian ke sana kemari dengan riang gembira.

Sementara kita menikmati sore di rumahku saja dulu. Kebetulan rumahku di sampingnya ada sawah lalu halamannya luas, semoga kelihatan sore terbenam dari sini. Kalau misalnya kamu bosan, biar aku yang baca puisi, bermain gitar atau bermain piano. Setidaknya dengan nyanyian, kamu bisa melupakan dunia ini sedang sakit. Atau minimal kamu bisa merasakan konser yang setiap akhir pekan kita saksikan. Meskipun suaraku tidak semerdu mereka, meskipun chord yang kumainkan masih chord dasar, tapi tidak apa-apa Dinda. Kamu bisa ambil hikmahnya bahwa aku ikhlas bernyanyi untukmu.

Kemarilah Dinda duduk di sampingku, lihat akhirnya sore terlihat dari sini. Tidak usah sungkan-sungkan, kamu peluk saja aku sebagaimana mestinya. Maskernya dibuka saja sebentar agar aku dengar napasmu. Tidak akan ada orang melihat kita sedang pelukan Dinda, tenang saja aku yang tanggung jawab. Bukankah hanya pelukan di sore yang merekah meningkatkan imun. Walaupun kata orang berjemur pagi juga meningkatkan imun, tapi kalau sendiri untuk apa. Jangan ragu peluklah sebagaimana aku pacarmu, sebagaimana sore yang sebentar lagi terbenam. Aku takut kalau seandainya sore dengan langit kemerah-merahan itu menghilang, maka kiamatlah dunia ini. Bagiku ada dua hal yang tidak boleh hilang di masa pandemi ini, pertama, kerinduan seorang anak kepadamu ibunya. Kedua, sore kemerah-merahan di suatu tempat yang jauh dari keramaian.

Sekian saja yang bisa aku sampaikan Dinda, lebih kurangnya nanti aku lengkapi jika ada kesempatan. Teruslah mencintaiku sebab imunku dan kesehatanku tergantung bagaimana cara kita merayakan cinta di masa pandemi ini. Meskipun kerinduan tidak ada harga dirinya di masa ini, aku harap kamu jangan mencontoh itu. Peluklah aku sebagaimana mestinya, sebab kamu adalah obatku dalam segala macam virus, sebab dengan cintamu imunku terus meningkat. ***

I Wayan Kertayasa, pengajar literasi di Yayasan Was. Saat ini, penulis tinggal di Banjar Kedungu, Taro, Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali. Novel yang sudah diterbitkan Romansa Lagu (2020) dan antologi puisi Semoga Aku Sampai (2021).

sumber : kompas.id, 21 Jan 2022.

Tinggalkan komentar