Cerpen : Elmo Menolak Bermandikan Air Coklat oleh Lia Laeli Muniroh

Barangkali ada hujan lebat semalam di gunung. Atau ada sawah terbelah dan terbawa oleh air sungai. Padahal, air sungai itu menjadi kebutuhan semua penduduk hampir satu desa. Jika saja benar ada hujan semalam, pasti ada longsor. Air sungai menjadi coklat. Sejak subuh, suara-suara penduduk desa terdengar nyaring berteriak-teriak. Mereka gempar mendapati warna air sungai yang tiba-tiba kecoklatan.

Kau berusaha sekuat tenaga mengambil air yang kecoklatan itu, lalu menyaringnya dan memasukkan ke dalam wadah ukuran besar. Kau membangunkan ketiga anak kembarmu. Epo, Ezo, dan Elmo. Sejak pagi buta isi tempurungmu diliputi kecemasan. Apakah ketiga anakmu akan mendapati air sungai yang kecoklatan? Bagaimana jika ketiga anak kembarmu enggan mandi. Apalagi hari ini hari pertama masuk sekolah.

Perlahan kau menarik selimut ketiga anak kembarmu. Kau mengatur napas pelan. Epo dan Ezo beringsut menuju kamar mandi. Mereka berdua tampak biasa saja mandi dengan air warna coklat yang telah kau saring. Mereka berdua hanya bertanya, kenapa airnya berubah menjadi kecoklatan. Kau hanya menjawab menerka-nerka. Namun, anak bungsumu, Elmo. Ia kembali berlari ke tempat tidurnya. Wajahnya tampak murung. Selimut gambar jerapah kembali ditariknya. Tubuh mungilnya bersembunyi di dalam selimut itu.

Kau hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Elmo. Kau tidak dapat memberi perlakuan keras kepada anak bungsumu. Karena kau masih ingat saat sulitnya melahirkan anak kembar bungsumu itu. Saat melahirkan anak kembarmu, kau mengira anak kembarmu hanya dua saat itu. Nyatanya masih ada seonggok daging yang bergerak-gerak menyusul keluar dari dalam rahimmu. Ternyata ada anakmu satu lagi. Dialah Elmo. Bentuk tubuhnya lebih kecil dari dua kakak kembarnya yang telah keluar terlebih dahulu.

Kau kembali duduk di ujung tempat tidur Elmo. Dengan penuh kehati-hatian. Kau usap ujung kakinya. Kau sudah tak memikirkan kedua anak kembarmu yang lain. Epo dan Ezo sedang duduk di kursi meja makan menikmati sarapan. Sarapan yang sederhana dan ala kadarnya. Telur mata sapi adalah menu sarapan pagi yang paling mereka sukai.

Perlahan kau tarik selimut gambar jerapah itu. Elmo memang anak yang suka mencari perhatian. Jika diberi perlakuan keras ia akan melawan. Elmo semakin merekatkan selimutnya. Tandanya ia menolak mandi. Kau segera memeluk Elmo, lalu kau bisikan bahasa cinta. Tubuhmu harum sekali, Elmo. Ibu suka sekali. Kamu siap-siap mandi biar tambah ganteng, ya!

Sejenak wajahmu mendongakkan kepala ke arah jam dinding. Jarum pendek mulai bergerak meninggalkan angka tujuh. Sementara jarum panjangnya menuju angka empat. Kau harus segera bergegas. Hari ini hari pertama masuk sekolah. Kau mengelus wajah Elmo. Ia tampak menggeliat mesra. Kau meraihnya, lalu berulang kali kau memeluknya erat penuh kasih. Kau mulai menguasai seluruh tubuh Elmo. Dengan sigap kau menggendongnya menuju kamar mandi. Kedua mata Elmo terbuka lebar dan kembali mendapati air yang kecokelatan.

”Ibu … aku tidak mau mandi dengan air coklat. Nanti tubuhku gatal-gatal. Aku sikat gigi saja.”

Elmo tidak sempat sarapan. Ditawarinya roti isi telur ceplok dan keju lapis untuk dimakan sepanjang perjalanan. Kau harus mempercepat semuanya agar dapat sampai di sekolah tepat waktu. Kau memacu si kuda besi yang kau tunggangi delapan puluh kilometer per jam.

Kau terpaksa menjadi wanita wonder woman. Hampir segala sesuatu kau kerjakan sendiri setelah suamimu meninggal setahun yang lalu. Kau hidup mengandalkan uang pensiun suamimu. Begitulah kau dapat menopang hidup ketiga anak kembarmu. Kau mengangkat kedua ujung bibirmu saat sampai di sebuah bangunan yang dinamakan ’sekolah’.

Bukan. Bukan sekolah layaknya di perkotaan dengan gedungnya yang mentereng. Apalagi dengan berbagai fasilitas sekolah yang memadai. Di sini tidak ditemukan semua fasilitas itu. Sekolah yang didirikan sangat sederhana. Bangunannya terbuat dari anyam bilik bambu. Atapnya terbuat dari jerami-jerami kering yang ditumpuk secara teratur. Itu pun dapat terwujud karena adanya Pak Zay pendatang baru di desamu.

Satu tahun lalu Pak Zay menjadi penduduk resmi di desamu. Ia menikahi gadis desa di kampungnmu dan memilih menetap. Pak Zay mulai resah dengan kondisi kampungmu yang tampak ketinggalan zaman. Ia menggerakkan penduduk dan mendirikan pusat pendidikan untuk anak usia dini. Dengan modal bahan-bahan yang berasal dari alam. Sebuah taman kanak-kanak berdiri di tengah sawah. Semua penduduk berduyun-duyun mendaftarkan anak-anaknya ke sekolah tersebut. Begitu pun denganmu, kau memiliki amanah menjadikan ketiga anak kembarmu mengenyam pendidikan yang layak. Begitulah apa yang disampaikan suamimu sesaat sebelum napasnya berakhir.

Kau hentikan deru mesin kendaraanmu. Kau sandarkan kendaraanmu di bawah pohon kersen. Ketiga anak kembarmu disapa tenaga pengajar. Elmo tampak lebih cepat berbaur dengan temannya. Dadamu terasa lapang melihat ketiga anak kembarmu dapat bersekolah. Kau menatap ketiga anak-anakmu dari kejauhan. Mereka berbaris di depan halaman sekolah. Mereka tampak ceria menggerakkan tubuhnya menari diiringi nyanyian sebelum masuk ke kelas. Mereka terdengar nyaring diajari cara berdoa. Pun mereka meminta kepada Tuhan agar lingkungan sekitar tetap terjaga. Bebas menikmati segala apa yang telah alam berikan.

Kau duduk pada sebuah bangku di bawah pohon kersen. Samar-samar kau mendengar desas-desus ibu-ibu yang mengantar anak-anak mereka. Kau bergeming. Tak memberi sedikit pun argumen kepada ibu-ibu yang sama-sama menunggu.

”Mungkin siang nanti akan jernih lagi airnya. Biasa kan, habis hujan suka keruh airnya.”

”Tapi udah siang gini, airnya tak kunjung jernih.”

”Tahu gak, aku belum mandi sejak pagi, belum masak apa-apa. Gimana nanti pulang sekolah belum ada makanan yang dimasak untuk anakku.”

Pembicaraan ibu-ibu tak kunjung berhenti. Mentari terus meninggi saat semua anak-anak keluar kelas. Mereka disambut ibu-ibunya yang menunggu. Kau gegas menyambut ketiga anak kembarmu. Kau tak banyak bicara lagi saat dipastikan ketiga anakmu sudah duduk di atas kendaraanmu.

Kau menyusuri jalanan yang berbeda. Bukan jalan pulang ke rumahmu. Sepanjang perjalanan kau terus bertanya pada ketiga anak kembarmu. Bertanya tentang pelajaran pertama. Ketiga anakmu kompak menjawabnya.Belajar tentang cita-cita. Kau menahan tawa saat ketiga anakmu mengutarakan cita-citanya masing-masing.

”Kenapa kamu ingin menjadi penjaga lingkungan, El?”

”Aku tidak mau bermandikan air coklat, Ibu. Aku akan menjaga lingkungan agar air sungai tetap jernih. Aku ingin kembali menikmati air sungai yang jernih.”

Kau mengerutkan jidatmu hingga tampak seperti jerami yang kepanasan. Kau terus menyusuri jalan setapak melalui jalur sungai. Kau semakin penasaran, mengapa sampai siang ini, air sungai tak kunjung jernih.

Kau hentikan deru mesin kendaraanmu. Kau sandarkan kendaraanmu di bawah pohon kersen. Ketiga anak kembarmu disapa tenaga pengajar. Elmo tampak lebih cepat berbaur dengan temannya. Dadamu terasa lapang melihat ketiga anak kembarmu dapat bersekolah. Kau menatap ketiga anak-anakmu dari kejauhan. Mereka berbaris di depan halaman sekolah. Mereka tampak ceria menggerakkan tubuhnya menari diiringi nyanyian sebelum masuk ke kelas.

”Ibu … aku sudah lelah. Kita mau ke mana.”

”Kita akan mencari sumber air sungai ini. Kenapa warnanya tak kunjung bersih.”

”Kenapa ibu peduli. Yang lain juga tidak ada yang mencari tahu.”

”Kamu mau mandi pakai air warna coklat terus-terusan? Katanya kamu mau menjaga lingkungan, El?”

Kau menghentikan laju kendaraanmu saat kau melihat buldoser tengah mengeruk-ngeruk tanah. Menjungkirkan bongkahan tanah itu ke air sungai yang mengalir. Undakan tanah dan akar-akar yang muncul ke permukaan dipaksa menyumbat aliran sungai. Sepanjang lima meter sungai itu nyaris dipadati tanah yang dikeruk buldoser.

”Ibu … apa yang mereka lakukan?” tanya Elmo.

”Mereka manusia-manusia serakah.”

”Bagaimana kita mandi, Bu?”

”Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kamu pun tidak dapat mewujudkan cita-citamu, El. Apalah daya kita. Kita hanyalah ikan-ikan yang menjadi korban.”

***

Lia Laeli Muniroh,Pegiat literasi dan penikmat sastra. Bergiat di komunitas menulis NIMU CLUB. Tulisannya tersebar di media massa nasional seperti; Kompas.id, Radar Bromo, Radar Kediri, Radar Banyuwangi, Suara Merdeka, RIAU SASTRA, Idestra, dan Cendana.com. Domisili di pesisir pantai Pangandaran.

sumber : kompas.id, 10 Jun 2023.

Tinggalkan komentar