Cerpen : Langit Kelabu di Hiroshima oleh Arie Fajar Rofian

Aku sungguh tidak ingat kapan tepatnya pertama kali memiliki keinginan untuk mengunjungi Hiroshima, kota yang pernah menjadi saksi sejarah betapa kejamnya perlakuan manusia terhadap manusia lainnya. Mungkin, itu muncul dari potongan video dokumentasi perang yang pernah kusaksikan di layar televisi sewaktu kecil. Atau, potongan gambar dari buku pelajaran Sejarah yang hanya kubaca mendekati hari ujian.

Ketika aku menceritakan keinginan itu pada Sora, kekasihku, awalnya dia hanya menanggapi dengan senyum kecil yang sedikit canggung. Kami sedang duduk santai di permukaan sofa kecil di apartemennya di Tokyo, menyaksikan serial drama percintaan secara maraton, menghabiskan akhir pekan dan waktu yang tak pernah benar-benar luang. Setelah jeda hening yang terasa lebih panjang dari biasanya, Sora baru menanggapi keinginanku secara serius.

”Kurasa kau tidak perlu alasan besar dan sedramatis itu untuk mengunjungi Hiroshima,” katanya sambil membetulkan posisi punggungnya agar lebih nyaman, menoleh dan menatapku lekat. ”Jika ingin pergi, ya pergi saja, akan kutemani kapan pun kau mau.”

Dan, kami pun pergi pada akhir pekan berikutnya. Tak ada persiapan khusus, hanya makanan ringan, sebuah buku, dan pakaian yang melekat di badan.

Kereta Shinkansen yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan yang sulit diimbangi oleh nalar. Setiap kali aku menatap ke luar jendela, pemandangan berubah begitu cepat seolah-olah sedang melompat dari satu tempat ke tempat lainnya, tanpa melalui transisi. Padang hijau berganti ke kota kecil, kota kecil berganti ke hamparan sawah, hamparan sawah kembali ke padang hijau. Aku menyandarkan kepala pada sandaran kursi, berupaya memahami irama perjalanan ini, alih-alih mengimbangi.

Di dalam gerbong kereta Shinkansen yang bersih sekaligus sunyi, suasana terasa seperti berada di dimensi lain yang belum pernah aku kunjungi, terlepas ruang dan waktu. Sebuah pengumuman kemudian mengalun dengan lembut, dalam dua bahasa secara bergantian: Jepang dan Inggris. Namun, aku hanya mendengar suara halaman buku yang sedang dibalik menggunakan ujung jari.

Sora, perempuan berambut hitam legam yang tergerai indah, duduk di sebelahku, sibuk membaca sebuah buku. Buku bersampul warna merah dengan ujung yang sedikit terlipat itu seolah lebih menyita perhatiannya ketimbang proses perjalanan menuju Hiroshima, yang baginya mungkin terlalu lama dan membosankan. Sesekali Sora mengalihkan pandangan dari lembar buku, sekadar memastikan keadaanku baik-baik saja tanpa melibatkan kata-kata, lalu kembali tenggelam dalam kesibukan yang sama.

Perempuan itu selalu punya cara untuk menunjukkan perhatiannya tanpa harus memperlihatkan dengan jelas bahwa dia sedang memperhatikan. Pun, sebaliknya, aku sangat menyukai sikap acuh tak acuh Sora dalam setiap perjalanan yang kami lewati, seolah dia secara sengaja memberiku sedikit ruang untuk berdialog dengan diri sendiri, menjadi bagian dari perjalanan itu sendiri, tidak seperti beberapa perempuan yang sebelumnya pernah kukencani.

Begitulah keheningan terjadi di antara kami. Keheningan yang tak terasa canggung dan mengganggu, melainkan lebih seperti kebiasaan yang tercipta seiring berjalannya waktu. Dalam keheningan yang sama, aku kerap memandangi ekspresi wajah Sora. Mata perempuan itu seperti bingkai jendela, selalu membuatku bertanya-tanya mengenai apa yang ada di baliknya.

***

Kami tiba ketika kumparan awan berwarna abu-abu menggelayut, seperti selimut usang yang terlalu sering dicuci. Langit di atas Hiroshima tampak menyimpan sesuatu yang tak terucapkan, sebuah ketiadaan yang terasa berat sekaligus membebani.

”Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan,” kata Sora, memecah sunyi. Suaranya lembut seperti kabut pagi, melayang dan menguap tanpa jejak, berbaur dengan udara tipis yang menghantarkan hawa dingin.

Aku hanya mengangguk setuju, tidak yakin apakah dia benar-benar membutuhkan tanggapan secara verbal. Sepanjang perjalanan tadi, dia jarang berbicara. Dan, kalimat tersebut adalah kalimat pertamanya semenjak kami turun dari kereta Shinkansen beberapa menit yang lalu.

Sora merapatkan mantel berwarna abu-abu yang dikenakannya, dan rambutnya yang hitam lurus tergerai hingga menyentuh bahu. Dia berjalan dengan tenang, tanpa menyisakan sedikit pun rasa ragu, tidak terlalu cepat atau terlalu lamban. Sementara, aku langsung mengekorinya, satu-dua langkah di belakang, seperti bayangan yang berusaha menyamakan irama.

Kubah Genbaku berdiri di hadapan kami. Rangka besi yang melengkung seperti tulang rusuk manusia, dinding-dinding bata yang retak dan sebagian telah hancur; tampak rapuh sekaligus abadi, semacam luka yang tak kunjung sembuh. Bangunan itu memancarkan aura suram, tetapi anehnya juga menenangkan.

Muram.

Sora menggamit tanganku erat, seolah khawatir aku bakal kehilangan jejak di antara kerumunan para turis yang berjalan lambat, yang beberapa di antaranya memegang bunga atau menggenggam kamera. Mereka sibuk berpose, mengambil gambar, atau hanya sekadar diam membeku seolah kejadian-kejadian kelam di masa lampau yang merupakan cikal bakal berdirinya monumen itu berlintasan, menampilkan visual yang terlalu mengerikan untuk ditanggung seorang diri.

Kami melangkah mendekat, berupaya mendapatkan sudut pandang yang lebih baik. Setiap langkah seperti memasuki sejarah yang tidak sempat kami alami, tetapi terasa sangat akrab. Bom, kehancuran, dan rasa kehilangan atas segala hal; semua itu seperti debu radioaktif, tersebar hingga ke segala penjuru mata angin.

Aku dapat mendengar langkah sepatu kami yang beradu dengan jalanan yang beralas kerikil, berharmonisasi dengan gemerisik sungai yang mengalir tenang—mungkin enggan mengganggu suasana. Di sekitar kami, turis-turis bercakap dalam berbagai bahasa yang tidak dipahami.

”Muram,” kataku lirih, tidak ditujukan kepada siapa-siapa, kecuali bicara pada diri sendiri. Aku tak pernah menyangka bahwa hanya dengan menyaksikan bangunan bersejarah itu secara langsung, perasaan muram dapat berkecambah dalam kecepatan cahaya, semacam mendapati fragmen dari sebuah mimpi buruk pada siang hari.

”Kau tahu, Ari-san,” Sora kembali berbicara, tanpa menoleh, hanya terus menatap Kubah Genbaku dengan ekspresi yang sukar kuselami, ”kakekku bersama beberapa kerabatnya ada di sini saat kejadian itu.”

Aku segera menoleh, merasa sedikit terkejut karena itu merupakan kali pertama Sora menyinggung keluarganya sejak kami bersama. Aku terdiam beberapa saat, terjadi jeda hening yang sama seperti ketika aku mengungkapkan keinginan untuk mengunjungi Hiroshima pada pekan lalu.

”Dia selamat?” tanyaku setelah menyadari kesungguhan yang terpancar dari ucapan Sora.

”Tidak,” jawabnya, tenang sekaligus pelan. ”Kau tahu, Ari-san, bahwa orang-orang yang ada di bawah ledakan itu, mereka langsung menghilang. Tidak tersisa tubuh, hanya bayangan di atas batu.”

Aku tidak tahu harus berkata apa. Meski perjalanan ini diinisiasi olehku yang sebenarnya dilatari oleh rasa penasaran, sepanjang jalan, aku hanya membayangkan rentetan percakapan ringan; tentang restoran ramen di sudut jalan, atau hal lain yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk diperbincangkan.

Angin sore berembus pelan, mengibarkan helai-helai rambut Sora, sebagian menutupi keningnya. Aku menatapnya dalam diam, berupaya memahami apa yang sedang gadis itu pikirkan, tapi wajahnya terlalu tenang, tidak sebanding dengan kalimatnya yang menyertakan nuansa suram. Entah itu rasa takut, duka yang mendalam, atau kekecewaan terhadap kenyataan; aku tak bisa menebaknya secara pasti.

Barangkali, aku pikir demikian, jeda hening yang terjadi pada pekan lalu bukan dilatari ketidakpercayaan atau kejanggalan Sora atas keinginanku mengunjungi Hiroshima, tetapi lebih karena ada hal yang tak ingin digali oleh ingatannya di tempat ini. Dan, aku terlalu naif sekaligus bodoh untuk bisa memahami hal sesederhana itu.

Aku memutuskan untuk tetap diam, alih-alih menanggapi yang entah akan berdampak seperti apa. Rasanya terlalu lancang bagiku untuk mengatakan sesuatu, seolah kata-kata dapat mengotori apa yang baru saja diucapkan oleh Sora.

Dalam pikiranku, Hirsohima bukan hanya tentang bom, tetapi bagaimana tentang manusia saling menghancurkan, dan entah bagaimana, juga saling mencintai. Aku dan Sora merupakan hasil dari bentuk paradoks itu. Aku, pria Indonesia, cucu seorang veteran yang berperang melawan Jepang, berdiri di samping kekasihku yang lahir dari keluarga yang luka-lukanya berasal dari bom buatan bangsa lain. Bom yang, secara tidak langsung, berhasil memerdekakan bangsa Indonesia; berhasil memukul mundur Jepang dari tanah Nusantara.

Gerimis tiba-tiba menyapa tipis, seolah langit Hiroshima tak sepenuhnya ingin menangis, tetapi juga tak ingin terlalu bahagia. Aku berbalik menggenggam tangan Sora, lebih erat dari genggaman sebelumnya, tetapi tidak bermaksud mengekang. Jari-jarinya terasa dingin, seolah baru saja dicelupkan ke dalam aliran sungai.

Kali ini, aku mendapati mata Sora menelusuri Kubah Genbaku secara saksama, serupa seseorang yang mencoba membaca kembali babak paling kelam dalam hidupnya di masa lalu. Sora bukan korban langsung dari peristiwa yang terjadi pada tahun 1945 itu—dia bahkan baru lahir berpuluh-puluh tahun setelahnya. Namun, cara Sora menatap, membuatku yakin bahwa luka yang dihasilkan dari peristiwa nahas itu adalah miliknya juga.

”Apakah di sini ada yang menjual nasi Padang?”

Aku mencoba memecah situasi canggung dengan pertanyaan yang tak kalah canggung, sekadar asal bicara agar Sora tidak terlalu mendalami perasaannya. Aku tak ingin menyesali perjalanan ini, mengingat dari perjalanan ini pula aku menyaksikan sisi lain Sora yang tak pernah kudapati sebelumnya.

Lelucon buruk ini kan yang membuatmu jatuh cinta padaku?

Sora menatapku tajam, bercampur dingin, lalu tertawa terbahak-bahak ketika aku mulai merasa bersalah atas leluconku yang mungkin membuatnya tak nyaman. Tawa yang menjadikan wajahnya bersinar meski langit terlihat mendung. Tawa yang memastikan bahwa apa yang terjadi di tempat ini di masa lalu tak akan berpengaruh pada hubungan kami di masa mendatang.

”Ari-san, leluconmu buruk sekali.”

”Lelucon buruk ini kan yang membuatmu jatuh cinta padaku?” timpalku, lalu berlari menghindari tetes gerimis; menghindari kepalan tangan Sora yang sudah menggantung di udara.

Selesai.

Arie Fajar Rofian

sumber : kompas.id, 01 Jan 2025.

Tinggalkan komentar