Cerpen : Dua Perempuan di Satu Rumah oleh AS Laksana
Sampai tiba hari kematiannya, Oktober 1984, Seto sudah melakukan enam perbuatan tak pantas, memecahkan tempurung lutut anak buahnya yang berkhianat, dan menulis 37 puisi yang menyedihkan. Ia ditembak mati pada dini hari dan mayatnya dibuang di dekat petak-petak tambak di pesisir utara Semarang dan kelihatannya memang sengaja ditaruh di tempat yang mudah dilihat orang. … Baca Selengkapnya