Cerpen : Aku Ingin Menjadi Seekor Anjing oleh Jagad Wijaksono

Semenjak hari itu, aku selalu ingin menjadi seekor anjing. Aku selalu berangan-angan bagaimana bahagianya jika aku tak lagi menjadi manusia sial dan papa. Aku membayangkan betapa bahagianya bila aku dapat menjadi seekor anjing berbulu coklat keemasan, anjing-anjing yang dicintai walaupun tak bertuan. *** Hari itu langit seperti sedang pilu. Warnanya abu-abu. Aku terduduk di undakan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Tut, Tut, Tut, Waktunya Maut Menjemput oleh Jagad Wijaksono

Kuendus firasat buruk. Entah bagaimana aku selalu dapat merasakan suram dari firasatku yang tajam tentang orang-orang sengsara bernasib muram. Aku seakan memikul kutukan akan kematian, entah sejak kapan, aku seperti dapat merasakan hawa dingin dari kematian, firasatku akan bekerja dengan begitu tiba-tiba ketika aku berjarak begitu dekat dengan kematian. Malam itu seperti malam-malam lainnya yang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Di Bawah Tiang Gantung oleh Jagad Wijaksono

Di bawah tiang gantung aku seperti menyaksikan orang-orang di hadapanku berdoa bersama, dari tangan-tangan mereka yang terangkat sedada dan terbuka membentuk mangkuk aku seakan melihat cahaya yang memancar. Aku menyipitkan mata karena langit telah menjadi sekeping logam yang memantulkan segala terang dan terlalu menyilaukan. Matahari yang telah naik lebih dari sepenggalan bersinar terik. Di samping … Baca Selengkapnya

Cerpen : Hantu dalam Foto Alexey Titanrenko oleh Jagad Wijaksono

Apa yang lebih menyebalkan dari terombang-ambing di antara dunia fana dan dunia yang abadi. Antara hidup dan mati? Aku tak pernah mencium wangi surga bahkan bau asap neraka. Semua karena ada yang tak tuntas di tapal batas. *** Malam itu Bednaya Devushka berjalan dengan langkah kakinya yang gontai. Ia berjalan menyusuri jalanan St. Petersburg setelah … Baca Selengkapnya

Cerpen : Lonceng Gereja oleh Jagad Wijaksono

Herman memutuskan untuk pulang dari perjalanan panjangnya setelah sekian lama. ** Dalam perjalanan pulang, kepala Herman dipenuhi oleh bayangan sosok istri dan anaknya. Ia mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali ia berkumpul bersama Lestari dan Kinanti anaknya. Namun, Herman kesulitan mengingat waktu-waktu yang telah lewat. Begitu banyak hal yang terlupakan, Herman merasa seperti amnesia. ”Ah bukankah … Baca Selengkapnya