Kau tidak hanya menemukan ombak menderu dengan cara tak beraturan, pondok-pondok kayu, jajaran kapal para nelayan yang diparkirkan setelah seharian melaut, dan batu karang yang pelan-pelan mulai ditindih warna senja. Tetapi—bila cukup sial—kau akan menjumpai seorang nelayan yang tak pernah menepikan perahunya. Nelayan itu tetap membentangkan layarnya di tengah terjang ombak dan malam yang mulai datang di tepi Beloam. Pelaut itu seakan berusaha untuk pergi melupakan sesuatu di tengah deru ombak yang kencang.
Dan ketika kau melihat nelayan aneh di tengah deru ombak yang ganas dan gugusan senja yang mulai tampak muram itu, tengoklah ke salah satu tebing karang di tepi pantai. Di sana pasti muncul seorang wanita dengan rambut tergulung. Ia berdiri di sudut tebing terjal menatap laut lepas dengan mata sendu. Ia kemudian secara mendadak menjatuhakan dirinya ke dalam laut.
Tetapi, wanita itu akan muncul lagi di suatu waktu apabila ombak terlihat pilu dan seorang nelayan tampak di ujung laut tertatih-tatih mengarungi ombak.
Demikianlah semua kejadian itu bagai merayakan sebuah kisah sedih serta kutukan yang diembankan kepada mereka. Kisah pilu yang mungkin masih diingat oleh beberapa orang di desa tersebut.
***
Kisah ini dimulai dari kesedihan dan diakhiri juga dengan kesedihan. Sialnya, kesedihan itu dimulai dari keindahan seorang wanita inges yang menjadi damba bagi setiap pria di desa. Berpuluh-puluh tahun lalu, ada seorang dedare, bernama Iroq, yang baru saja menetap secara permanen di desa Sekaroh. Ia seorang warga pendatang yang langsung menarik perhatian karena kesempurnaan ragawi yang dimilikinya. Sialnya, kesempurnaan itu malah menjadi nasib buruk untuknya kelak. Nasib buruk itu terjadi ketika Iroq jatuh cinta pada seorang pria bernama Soranadi.
Cinta Iroq sekilas tampak biasa saja. Ia jatuh cinta pada seorang pria yang merupakan tetangga desa tempatnya tinggal saat ini. Tetapi umur pria itu jauh lebih tua dari umurnya. Waktu itu Iroq masih berumur 20 tahun, sedangkan Soranadi sudah memasuki lima puluh. Hanya saja fisik Soranadi belum menunjukan kemunduran yang banyak ditunjukan seperti orang-orang tua di desa. Soranadi masih terlihat bugar. Wajahnya—walau sedikit dihiasi keriput dan gurat kasar karena tempa kerasnya laot —masih terlihat tampan.
Selain berumur tua, Soranadi juga memiliki riwayat hidup yang misterius. Sekitar 22 tahun lalu, pria itu ditemukan terdampar di tepi Pantai Beloam. Saat ditemukan, ia kehilangan seluruh ingatannya. Soranadi bahkan tidak mengenali dirinya sendiri. Karena nasibnya yang malang, seorang warga desa—bernama Papuq Atiah—merewatnya hingga sembuh. Ketika tubuhnya sudah kembali pulih dan dapat melakukan segala aktivitas dengan normal, Soranadi memutuskan untuk kembali ke laut.
”Apa kau yakin ingin melaut?” Tanya Papuq Atiah.
”Ya, mungkin di laut aku akan menemukan ingatanku lagi,” jawab Soranadi mantap. ”Ingatanku mungkin sedang disimpan oleh salah satu ikan yang hidup di sana.”
”Kalau begitu kau bisa membantuku menangkap dan menjual ikan,” kata Papuq Atiah. “Umurku sudah tua. Jadi aku membutuhkan kawan untuk membantuku.”
Akhirnya, Soranadi kembali menjadi seorang pelaut. Ia menjadi nelayan paling handal di laut Beloam. Semua ikan dapat ditangkapnya. Dari yang besar, hingga yang kecil. Ikan-ikan itu tidak dapat lolos dari sekat-sekat jaringnya, atau runcing mata kailnya. Kapal yang digunakannya pun selalu penuh dengan ikan. Tetapi pria itu tidak pernah merasa bahagia dengan apa yang diperolehnya.
Selama beberapa tahun menjadi nelayan, ia tidak pernah berhasil menemukan ingatannya. Bahkan di suatu senja yang muram, ia dengan ikhlas mencoba merelakan ingatannya. Sejak saat itu, ia bertekad untuk memulai segalanya sebagai hal baru. Laki-laki paruh baya itu mencoba menata ulang satu persatu puing kehidupannya yang runtuh karena ingatan hilang. Walau sesekali ketika melaut masih saja ia secara iseng bertanya megenai ingatannya pada ikan-ikan itu, hingga para nelayan lain menganggapnya gila.
”Tolong katakana siapa aku, wahai ikan?” Katanya pada setiap ikan yang berhasil ia tangkap. ”Aku membutuhkan jawaban kalian!”
Ikan-ikan itu tentu tidak menjawab. Ikan-ikan itu hanya megap-megap menghela napas sesak karena ditarik ke atas daratan. Pun warga yang melihatnya acap mengumpat.
”Kau gila berbicara pada ikan,” timpal seorang warga yang mengetahui perangai ganjilnya. ”Hingga dunia ini kiamat, kau tidak akan pernah dapat jawaban dari ikan-ikan itu.”
Pada akhirnya ia merelakan juga kisah hidupnya di masa lalu. Ia menjalani hari-hari yang monoton sebagai seorang nelayan. Tetapi di tengah kefrustasiannya, ia menemukan denyut baru dalam hidup. Pria itu menemukan cinta pada seorang wanita desa yang berumur jauh di bawahnya.
Awalnya, ia tidak yakin dengan kegelisahan yang dirasakan itu. Hanya setelah sebulan pertemuan pertamanya, Soranadi kembali berjumpa dengan dedare bernama Iroq—seorang warga baru desa. Sikap Iroq yang malu-malu dan hati-hati sering membuat Soranadi kikuk. Dan, sebagai pria yang kasmaran, Soranadi tetap mencoba mencari celah untuk mendekat.
Pelan tapi pasti, Soranadi bisa mulai mendekati Iroq. Ditambah kedatangan Iroq begitu pasti di dalam hidupnya. Setiap kali Soranadi merapatkan kapal di desa Sekaroh, Iroq selalu menjadi pembeli pertama ikan-ikannya.
”Aku beli empat ikan tunanya,” kata Iroq setiap kali membuka pembicaraan dengan wajah gugup.
Soranadi dengan kiku menanggapi, ”Oh, tentu.”
”Terima kasih,” jawab Iroq setengah tersenyum.
Dengan sikap manja seorang wanita yang ingin dipeluk, Iroq memperlihatkan gelagat cintanya kepada Soranadi. Bahkan Iroq selalu menunjukan rona wajah yang berbeda dari banyak pembeli lainnya. Hingga akhirnya, Soranadi dapat mendefinisikan kalau itu adalah cinta. Maka, kisah cinta dengan jenjang umur berbeda pun dimulai. Dari rasa kiku hubungan mereka, berubah menjadi sikap penuh kepastian. Pun belum genap satu purnama menjalin hubungan, mereka sudah duduk berdua di kedai makanan pinggir pantai.
***
Cinta yang tidak terdefiniskan terus hidup di benak Iroq dan Soranadi. Iroq tidak menghiraukan usia Soranadi yang terpaut banyak. Sikap Iroq ini semakin menjadi, karena banyak wanita muda di desanya menikah dengan pria lebih tua.
Iroq menyukai kematangan perangai Soranadi. Bagi Iroq, pria tersebut tidak hanya menjadi seorang kekasih—Soranadi juga dapat menjelma menjadi seorang ayah yang tidak pernah ia temui. Figur yang hilang diseret oleh ombak dan tidak pernah pulang di hidupnya.
”Aku merasa aman di sampingmu,” kata Iroq malam itu. ”Aku merasa seperti bertemu dengan ayahku.”
”Aku akan terus menjagamu,” jawab Suronadi seraya mencium kening wanita itu.
Malam itu Iroq merasa sangat yakin dengan cintanya. Ia pun akhirnya memberikan segala yang dimilikinya. Termasuk tubuh dan kesucian kewanitannya. Mereka melabuhkan cinta yang menggebu pada persetubuhan yang liar di lepas pantai.
***
Tiga minggu kemudian, Iroq mendatangi Soranadi di tepi pantai. Kali ini tidak dengan wajah berseri yang sering Iroq tunjukan. Bukan juga dengan wajah malu-malu saat membeli ikan-ikan hasil tangkapan Soranadi. Iroq datang dengan seraut wajah masygul yang penuh ketakutan.
”Aku hamil,” kata Iroq.
”Hamil?” Soranadi nyaris tidak percaya.
”Iya, aku hamil setelah kejadian waktu itu,” ulang Iroq.
Soranadi pun bersedia menikahi Iroq. Tapi Iroq menyuruh Soranadi ke rumahnya.
***
Sesuai apa yang diinginkan kekasihnya, Soranadi mendatangi rumah Iroq. Dengan penuh keyakinan, Soranadi datang. Soranadi kemudian disambut seorang pria dan wanita yang sudah sangat tua—yang merupakan papuq dan papuq nine Iroq. Tetapi kedua sosok senja itu—ketika melihat Soranadi—langsung berteriak histeris.
”Kau kembali! Kau masih hidup!” Rengek papuq nine Iroq. ”Ramalan itu benar!”
”Ramalan? Kembali?” Soranadi bingung.
Papuq Iroq tidak kalah heboh menyambutnya. Ia memeluk Soranadi begitu erat.
”Kau adalah anak kami yang hilang 20 tahun lalu. Kau hilang digulung ombak saat pulang dari Malaysia. Kami mengira kau sudah mati. Tapi, empat tahun lalu, kami bertemu seorang dukun. Ia mengatakan kau masih hidup dan ada di ujung pulau ini. Kami pun pindah ke sini. Ramalan itu benar!”
Papuq Iroq menjelaskan panjang lebar mengenai pertemuannya dengan seoarang dukun. Papuq Iroq menceritakan kalau mereka menunggu sangat lama dirinya. Papuq Iroq bahkan merasa was-was kalau ramalan dukun itu salah.
”Kami semua takut sebelum bisa bertemu denganmu, kami sudah mati,” jelas Papuq Iroq lagi.
Tentu mendengar kisah tersebut, Soranadi takjub. Tapi ia dengan cepat mengutarakan maksudnya.
”Aku datang ke sini untuk melamar anak gadis yang tinggal di rumah ini,” jelas Soranadi.
”Tetapi, wanita itu adalah anakmu sendiri.”
”Tidak mungkin,” ulang Soranadi. ”Ini semua pasti hanya rekayasa.”
”Ia anakmu,” kata papuq Iroq.
Mendengar kisah itu, Soranadi menyesal. Begitu juga dengan sepasang suami-istri tua tersebut. Geram dengan apa yang terjadi, mereka mengusir Soranadi. Papuq dan papuq nine Iroq bahkan melaknatnya sebagai iblis tidak berhati karena menghamili anaknya sendiri.
***
Demikianlah kesedihan ini dimulai dan diakhiri. Pria itu akhirnya memilih kembali menjadi pelaut. Tetapi ia tidak ingin mendaratkan kapalnya pada pulau mana pun. Ia memilih pergi dengan rasa bersalahnya.
Sama halnya dengan Iroq. Setelah melahirkan, Iroq terus menunggu Soranadi yang disadarinya adalah ayahnya sendiri. Iroq menghabiskan hidupnya dalam kesunyian yang murung. Bahkan Iroq mengakhiri hidupnya di tengah senja yang sendu dengan menjatuhkan dirinya ke laut. (*)
Risda Nur Widia : Buku tunggalnya Bunga-Bunga Kesunyian (2015), Tokoh Anda Yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault (2016), dan Novel Igor: Sebuah Kisah Cinta yang Anjing. Cerpennya tersiar di berbagai media nasional dan lokal.
sumber : kompas.id, 16 Apr 2020.