Cerpen : Seorang Ibu yang Menunggu oleh Muhammad Syukry

Ia adalah saudara kandung satu-satunya ibuku. Bernama Muslimah, tapi sejak kecil aku sudah terbiasa memanggilnya Wo Limah. Usianya kini sudah lebih dari enam puluh tujuh tahun—jika aku tak salah menghitung. Namun, selain mengubah warna rambut dan mengisutkan kulit tubuhnya, angka-angka itu tak banyak berpengaruh padanya.

Lihatlah, sampai hari ini ia masih tangkas membersihkan sekeliling rumah papannya setiap pagi. Menyapu, menyiangi rumput-rumput liar, menyirami tanam-tanaman, semua ia lakukan dengan penuh semangat. Bahkan sesekali ia masih nekat mencari kayu bakar di hutan-hutan sekitar kampung.

Aku tak pernah bisa mencegahnya—tak pernah berhasil, lebih tepatnya. Setiap kali kuminta ia berhenti, mengingatkan soal tubuhnya yang tak boleh lagi diforsir, ia selalu berkelit dengan mengatakan bahwa tubuhnya justru akan terasa sakit-sakit bila tidak dibawa bekerja. Maka yang bisa kulakukan hanyalah membantunya sesering yang aku bisa.

Sejak kecil, aku memang sudah sangat dekat dengan Wo Limah. Ia sudah seperti ibu kedua bagiku. Sejak aku berusia dua tahun, bila hendak pergi bekerja, kedua orang tuaku selalu menitipkan aku kepadanya. Itulah kenapa kami jadi begitu dekat, sehingga nyaris tak ada hari yang bisa kulewatkan tanpa keinginan berkunjung ke rumahnya.

Rumah papan Wo Limah berdiri tak berapa jauh dari rumahku. Hanya beberapa belas meter dengan aneka pokok buah memagarinya. Di sana, Wo Limah tinggal bertiga dengan suaminya, Wo Kahar, dan anak semata wayang mereka, Bang Samsul. Tapi itu dulu. Ya, duluuu sekali, sebelum peristiwa nahas itu terjadi. Kini Wo Limah hanya tinggal seorang.

Peristiwa nahas yang kumaksud adalah kecelakaan tabrak lari yang menimpa Wo Kahar suatu pagi. Usiaku sembilan tahun waktu itu dan aku masih ingat betul, selepas kecelakaan itu, Wo Kahar terbujur koma tiga hari dan tak pernah bangkit lagi. Ia berpulang dalam ketidaksadarannya. Kami semua terpukul. Terutama Wo Limah dan Bang Samsul.

Perlu kalian ketahui bahwa sebelum kejadian itu, Wo Limah sekeluarga mungkin adalah keluarga paling bahagia di kampung kami, meski kehidupan mereka terbilang paling sederhana. Aku berani berkata begitu karena aku melihat sendiri bagaimana anak-beranak itu beraktivitas sehari-hari. Mereka selalu beraktivitas dengan penuh semangat, senang membagi senyum dan mudah melepas tawa.

Namun, selepas kejadian itu, semuanya berubah. Kebahagiaan seperti perlahan menyingkir dari kehidupan mereka, dan akhirnya benar-benar sirna tatkala setahun kemudian, Bang Samsul yang waktu itu sudah berusia dua puluh, memutuskan pergi merantau ke Malaysia bersama beberapa temannya.

Setiap hari selepas hari itu adalah hari kesedihan bagi Wo Limah. Sering kupergoki ia duduk melamun di dekat sumur di belakang rumahnya, dengan pipi basah yang akan segera ia hapus begitu menyadari kedatanganku. Walau saat itu usiaku baru sepuluh, aku cukup bisa merasakan apa yang Makwo[1]-ku itu rasakan.

Saat itu, kupikir Wo Limah bersedih hanya karena kepergian Bang Samsul. Belakangan barulah kuketahui bahwa ada hal lain yang, meski ia tak mengatakannya secara langsung, kuyakin merupakan alasan utama di balik kesedihannya yang berkepanjangan.

***

Tiga tahun setelah kepergian Bang Samsul, aku tamat SD dan lanjut ke Tsanawiyah di sebuah pondok pesantren. Itu membuatku tak bisa lagi mengunjungi Wo Limah seperti biasa. Selain memang karena jauh—sekitar lima puluh kilometer dari kampungku, aku juga mesti mukim di pesantren. Kendati begitu, kabar tentang Wo Limah masih terus kudengar dari ayah dan ibuku yang rutin berkunjung setiap awal bulan.

Perlu kalian ketahui bahwa sebelum kejadian itu, Wo Limah sekeluarga mungkin adalah keluarga paling bahagia di kampung kami, meski kehidupan mereka terbilang paling sederhana. Aku berani berkata begitu karena aku melihat sendiri bagaimana anak-beranak itu beraktivitas sehari-hari. Mereka selalu beraktivitas dengan penuh semangat, senang membagi senyum dan mudah melepas tawa.

Tak banyak yang berubah dari Makwo-ku itu pada triwulan pertama kepergianku. Ia masih sering melamun seperti saat kutinggalkan. Kabar perubahan itu baru kuterima pada akhir triwulan kedua. Kata Ibu, Wo Limah sudah berangsur mau bekerja. Macam-macam yang ia kerjakan. Mulai dari menyisik kulit gaharu, mendulang emas, menjual kayu bakar, hingga menyadap karet.

Aku tentu senang mendengar kabar itu. Berharap ia akan kembali menjadi sosok Wo Limah yang dulu, yang sehari-hari selalu riang dan suka melucu.

Selain kabar tentang Wo Limah, adakalanya ayah-ibuku juga membawa kabar tentang Bang Samsul. Abang sepupuku itu, kalian tahu, sejak berangkat ke Malaysia, jarang sekali memberi kabar. Aku tahu itu bukan keinginannya. Pada masa itu, komunikasi jarak jauh—apalagi antarnegara—belumlah semudah sekarang. Telepon genggam memang sudah mulai ramai dipasarkan, tapi belum banyak yang mampu atau merasa perlu untuk membelinya. Bahkan seingatku, di kampung kami pada waktu itu belum ada seorang pun yang punya.

Kabar pertama dari Bang Samsul kami terima setelah dua atau tiga pekan ia pergi. Katanya, ia sudah sampai Malaysia dan mendapat pekerjaan sebagai buruh di sebuah perkebunan kelapa sawit. Karena tempat kerjanya terpencil dan biaya interlokal sangat mahal, ia tak bisa sering-sering menelepon. Hanya bisa menelepon paling tidak setiap lima atau enam bulan sekali.

Kabar itu kami terima dari salah seorang anak buah Haji Muhyidin. Pada masa itu, Haji Muhyidin, juragan sembako yang kaya raya itu, adalah satu-satunya orang di daerah kami yang punya telepon. Ia memanfaatkannya dengan membuka wartel di rumahnya. Orang-orang daerah kami yang merantau ke Malaysia atau ke mana saja, jika ingin memberi kabar kepada sanak famili di kampung, pastilah melalui teleponnya.

Beberapa keluarga sudah punya jadwal tersendiri terkait kapan anggota keluarga mereka di rantau akan menelepon, sehingga ketika benda ajaib itu berdering, mereka langsung yang akan menerimanya. Adapun Bang Samsul pada waktu itu, karena ia baru pertama kali menelepon, jadilah yang menerimanya bukan salah satu dari kami.

***

Hari berganti hari, bulan bertukar bulan, tahun demi tahun berlalu. Pertengahan 2007, bertepatan dengan enam tahun Bang Samsul di rantau, aku menyelesaikan Tsanawiyah dan lanjut ke Aliyah di pesantren yang sama.

Pada tahun itu, beberapa orang di kampung kami sudah mulai memiliki telepon genggam. Termasuk ayahku. Dan atas desakan Ayah, Bang Samsul di seberang sana akhirnya juga ikut membeli benda ajaib tersebut. Sejak saat itu, kabar darinya mulai rutin kami terima. Paling tidak sekali dalam sebulan. Seringnya dalam rupa pesan singkat.

Semua masih berjalan normal—bahkan cenderung membaik dengan perubahan-perubahan Wo Limah—hingga Bang Samsul tiba-tiba berhenti memberi kabar. Berhenti begitu saja tanpa penjelasan. Itu terjadi saat aku kelas dua Aliah. Berkali-kali ayahku mencoba menghubungi nomornya, tapi tak pernah lagi tersambung. Beberapa temannya yang dulu pergi bersamanya, ketika Ayah hubungi, mengaku sudah lama tak melihatnya. Kemana abang sepupuku itu pergi, tak seorang pun yang tahu.

Bulan-bulan berikutnya, kabar gembira itu tak kunjung datang. Malah kata Ibu, Wo Limah kembali lagi ke kebiasaan lamanya: melamun di dekat sumur di belakang rumahnya. Itu jelas kabar buruk.

***

Pertengahan 2010, setelah tamat Aliyah, aku mendapat beasiswa untuk lanjut kuliah di sebuah kampus di kota provinsi. Lagi-lagi karena alasan jarak, dan juga karena sudah menjadi syarat bagi para penerima beasiswa untuk tinggal di asrama yang sudah disediakan pihak kampus, maka kembali aku terpisah dengan kedua orang tuaku dan Wo Limah, untuk beberapa tahun lamanya.

Tentu aku bisa pulang di saat-saat libur semester. Tapi aku lebih memilih memanfaatkannya untuk bekerja. Penerima beasiswa hanya mendapat fasilitas asrama di dua tahun pertama mereka kuliah. Selebihnya mesti mencari tempat tinggal sendiri. Itu artinya aku perlu uang untuk biaya sewa kontrakan—jaga-jaga kalau tak berhasil menemukan masjid yang butuh marbut—dan tambahan kebutuhan sehari-hari.

Semasa kuliah, bila menghubungi kedua orang tuaku di kampung—aku sudah punya telepon genggam waktu itu—selalu kusempatkan menanyai kabar Wo Limah. Beberapa kali kami sempat bicara dan suatu kali, Makwo-ku itu memberitahuku bahwa ia dan suaminya dahulu pernah berjanji akan menguliahkan Bang Samsul hingga menjadi sarjana. Ia sangat menyesal karena tak mampu menepati janji itu setelah kepergian sang suami. Ia mengaku, setiap hari dihantui rasa bersalah kepada almarhum. Dan rasa bersalah itu kian mendalam sejak kabar dari sang anak tak kunjung datang.

Saat itu aku hanya bisa memintanya untuk terus bersabar dan tak henti mendoakan kebaikan bagi Bang Samsul.

***

Tahun 2014 akhir, bertepatan dengan tiga belas tahun Bang Samsul pergi dan lima tahun tanpa kabar, aku resmi menjadi sarjana. Aku pulang dan terkejut mendapati perubahan Wo Limah yang drastis. Ibu memang sudah memberitahuku sebelumnya, tapi melihatnya sendiri tak urung membuatku takjub.

Wo Limah, yang saat itu sudah berusia enam puluh tiga tahun, tak lagi suka melamun. Sehari-hari ia habiskan waktunya dengan melakukan hal-hal yang jauh lebih bermanfaat, seperti membersihkan sekeliling rumah papannya setiap pagi, atau merawat sayur-mayurnya, atau mencari kayu bakar di hutan-hutan sekitar kampung. Yang paling menyenangkan tentu adalah kembalinya sosok Wo Limah yang dulu, yang pernah mengisi dan mengindahkan masa kecilku.

Aku bersyukur, benar-benar bersyukur akhirnya Wo Limah bisa terbebas dari kesedihan yang bertahun-tahun membelenggunya. Kabar yang tak kunjung datang dari Bang Samsul mungkin telah menyadarkannya bahwa memang sudah saatnya ia merelakan putranya itu. Aku tahu itu berat. Orang tua mana yang sanggup kehilangan anak semata wayang. Tak jelas pula hidup-matinya. Tapi Wo Limah berhasil.

Ya, setidaknya begitulah yang kupikirkan dan kupercayai selama ini, hingga pembicaraan singkat kami pagi tadi mengubah semuanya, membuatku kembali mempertanyakan apa yang selama dua tahun terakhir kuyakini sebagai kebenaran.

Pagi tadi, sembari membantunya menyapu dedaun kering yang rontok dari pokok-pokok duku dan rambutan di sekitar rumahnya akibat hujan badai semalam, aku iseng bertanya, ”Kenapo[2] rajin nian bersih-bersih, Wo?”

Dan dengan entengnya Wo Limah menjawab, ”Yo biar bersihlah, Ham. Biar kalau abangmu balek[3] hari ini, rumah sudah enak dipandang.”

Bungo, 12 April 2020

Catatan:

[1] Makwo : bahasa Jambi, artinya panggilan kepada kakak perempuan dari ayah atau ibu.

[2] Knapo : Kenapa.

[3] Balek : Pulang

****

Muhammad Syukry : domisili Muara Bungo, Jambi, Indonesia. Alumnus Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI)—sekarang IAI—YASNI Muara Bungo.

sumber : kompas.id, 10 Des 2020.

Tinggalkan komentar