Saan membenturkan kepalanya ke meja tepat pada saat api mulai membakar sebuah sedan mewah di tepi jalan di daerah pinggiran kota Jakarta. Sudah berbulan-bulan ia tidak menghasilkan tulisan. Padahal waktu terhampar luas selama wabah memaksa orang-orang berdiam diri di rumah. Apalagi dirinya yang memang takut bersenda gurau dengan maut. Apa-apa yang ada di luar rumah semua mengundang bahaya. Konon juga udara.
Teman-teman Saan sesama penulis satu per satu mengabarkan terbitnya buku-buku baru mereka di media sosial masing-masing. Tentu saja dengan endorser yang, dalam satu dan lain hal, saling mengungguli satu sama lain. Tapi lihatlah dirinya kini. Ia lebih sering membuka laptopnya untuk menonton video porno daripada mencoba menulis.
Wabah belum ada tanda-tanda akan berlalu. Saan masih saja buntu. Sejauh ini, pandemi telah berhasil meninggalkan luka lebam parah di bahu kirinya ketika ia terjatuh saat membetulkan genting. Ia tidak berani menyewa orang untuk pekerjaan yang awalnya ia pandang sepele itu, selain karena khawatir orang itu mungkin membawa korona, juga karena honor tulisannya kian menipis untuk sekadar dibagi kepada orang-orang dari luar rumah. Situasi ini harusnya sudah lebih dari cukup baginya untuk kembali menekuni apa yang dulu ia yakini sebagai satu-satunya keahliannya. Namun, ia mulai ragu dan membenci dirinya karena itu.
Seharusnya tidak susah mencari ide di hari-hari ini. Itu yang Saan yakini. Mengapa? Karena semua hal yang muskil, yang dulunya tidak pernah punya tempat di dunia nyata, kini hampir setiap hari berseliweran di dinding berita.
Kadang muncul tanpa diminta. Satu hal yang perlu ia lakukan hanyalah membacanya sampai tuntas, lalu menuangkan semua ketakmasukakalan itu ke dalam cerita. Orang-orang yang mudah takjub dengan hal yang tak masuk akal akan menelannya mentah-mentah. Keyakinannya itu perlahan goyah.
Tak satu pun cerita yang Saan tulis menemukan ujungnya. Ia makin merutuki diri. Saat mencoba menulis sesuatu yang serius, jatuhnya jadi komedi. Maunya membikin cerita romantis, malah dia sendiri hampir muntah membacanya. Ia pernah coba-coba membuat tulisan yang menyindir pemerintah, tapi ia tidak yakin akan tetap bisa menulis dari dalam penjara.
Sementara, Saan berkutat dengan kengeriannya, api terus menghanguskan sedan mewah di tepi jalan di daerah pinggiran kota Jakarta itu. Massa berdatangan mengerubungi mobil malang itu seperti lalat mendatangi bangkai. Ada dua korban tewas ditemukan di kursi depan. Persis saat otak Saan yang butuh kafein menggerakkannya untuk bangkit menyeduh kopi, orang-orang mendengar sirene polisi dari kejauhan.
Polisi tiba setelah api padam. Kedatangan polisi di tempat kejadian bertepatan saat Saan kembali khusyuk di depan laptopnya. Di dalam kepalanya, berdiri sebentuk bangunan cerita. Seorang istri menyewa empat orang pembunuh bayaran untuk menghabisi suaminya, laki-laki yang telah membuatnya menjual seluruh warisan orangtuanya demi melunasi utang. Namun, draf naskah itu ia cetak hanya untuk menemukan tempatnya yang pantas bersama sobekan kertas lain di bawah meja. Omong kosong apa itu! Macam sinetron-sinetron kegemaran istrinya. Sampah layar kaca yang selalu jadi alasan istrinya menolak ajakan bersanggama. Padahal, hasrat harus dituntaskan begitu ia datang bukan?Gara-gara omong kosong itu, Saan semakin banyak mengunduh film biru dan semakin sering berlama-lama di kamar mandi.
Saan menatap layar komputernya dengan putus asa. Ia mulai tergoda membuka folder favoritnya. Namun, ia menemukan dirinya tidak bersemangat dan itu membuatnya murka. Come on! Bahkan barangnya sendiri sekarang menuntut konsentrasi penuh sebelum bisa berfungsi. Tepat saat ia menutup layar laptopnya begitu saja tanpa prosedur yang semestinya, dua unit ambulans tiba sambil meraung-raung di TKP. Kedua mayat yang hampir mustahil dikenali akhirnya dipindahkan. Aroma daging gosong menyebar ke udara. Suara orang-orang yang berkumpul di sekitar tempat kejadian semakin riuh. Beberapa di antara mereka fokus mengetik sesuatu di layar menyala di tangan mereka.
Beberapa yang lain sibuk mengambil gambar kedua korban dan ambulans, bergantian menggunakan kamera depan dan belakang. Bunyi klik berhamburan. Semakin ramai orang yang datang, Saan semakin frustrasi. Ia makin bingung akan menulis apa.
Sepertinya semua cerita sudah pernah dikisahkan. Rasa tidak percaya diri mulai menggerayangi otak Saan, merayap bagai sel-sel kanker yang pelan-pelan mengisap daya hidup. Mencuri semua ide di kepalanya. Sensasi yang sama yang ia kenali saat dulu membaca buku puisi seorang penyair yang menyebut-nyebut merek biskuit kegemaran istrinya. Saan semakin ingin menjedotkan kepala ke meja berkali-kali. Kenapa ia tidak terpikir akan hal itu sama sekali? Bukankah biskuit itu tak luput jadi bahan guyonan andalannya setiap ia berkumpul bersama teman-temannya? Bahkan kalengnya selalu ada di atas meja makan mereka meski isinya telah lama tandas.
Saan mulai menimpakan kesalahan pada buku kumpulan cerpen terakhir yang ia baca. Bukankah selalu jauh lebih mudah mencari kambing hitam daripada mengakui kesalahan sendiri? Di dalam buku itu tertera kata-kata yang membuatnya mati kutu. Ia tidak akan mungkin lupa dengan tanya yang membuat tangannya serasa lumpuh dan otaknya melepuh. Mengapa Menulis Cerpen? Sekilas pertanyaan itu tampak remeh. Saan tidak hendak jadi pewarta, melainkan juru kisah. Begitu cita-cita yang ia rawat. Menurutnya, banyak pewarta sekarang diragukan kredibilitasnya. Labil dan gampang tersulut berita bohong. Seorang Saan Kelana adalah pencerita ulung. Begitu menurut para pengagumnya di media sosial.
Di buku itu juga disebutkan dari mana cerpen dan novel berasal, dengan membawa-bawa nama Milan Kundera. Konon, cerpen dan novel berasal dari tawa Tuhan. Saan kemudian membayangkan Tuhan tertawa-tawa melihatnya sekarang. Mumet mencari ide. Namun, bukankah jika Tuhan dapat tertawa, manusia dapat menuliskannya?
Saan mulai menimpakan kesalahan pada buku kumpulan cerpen terakhir yang ia baca. Bukankah selalu jauh lebih mudah mencari kambing hitam daripada mengakui kesalahan sendiri?
Saan buru-buru mengetik. Sebuah narasi tentang Tuhan yang terbahak melihat seorang penulis kepayahan menulis cerita pendek. Ia tersenyum. Namun, belum tuntas satu paragraf ia tulis, ia terlonjak mendengar ponselnya berdering.
Suasana rumah hening karena istrinya pergi menjenguk ayah dan ibunya. Saat-saat seperti inilah yang seharusnya mendukungnya untuk dapat menulis dengan tenang. Sialnya, ia lupa mematikan ponsel. Dua buah pesan dari dua nomor asing. Satu pesan mengabarkan keberuntungannya menang undian, yang lain menawarkan pinjaman. Ia bertambah jengkel. Ide cemerlangnya menguap.
Saan selalu mematikan ponsel saat menulis. Ia tak ingin terganggu dengan status media sosial penulis-penulis hebat yang ia ikuti. Ralat: supaya ia tidak iri setengah mati melihat Tere Liye yang bukunya laku keras dan dijadikan penyelamat hidup para remaja, atau Eka Kurniawan yang bukunya mendapat penghargaan lagi, atau Aan Masyur yang terus digilai penggemar perempuan meskipun sudah menikah.
Memikirkan Aan, sekilas, Saan melirik cermin yang tergantung di sebelah meja. Pandangannya jatuh pada rambut yang tak dijamah sisir berhari-hari. Istrinya sampai lelah mengomel. Nama hampir mirip, kampung boleh seasal, rambut mungkin sama ikal, tapi nasib beda jauh. Setiap melihat akun Instagram Aan, Saan seperti mengalami ibu jari kakinya terantuk berkali-kali padahal ia sudah berjalan dengan awas.
Ambulans mulai meninggalkan lokasi kejadian ketika Saan selesai menyapa cermin. Orang-orang tetap berkerumun. Sibuk berspekulasi mengenai dua mayat dalam mobil. Apakah sudah mati saat mobil itu mulai terbakar atau masih bernapas.
”Tapi tak ada yang mendengar teriakan minta tolong,” debat seorang pemuda berjaket hitam dengan inisial AW di punggungnya.
”Pelakunya pasti lawan bisnisnya,” kata seorang ibu berdaster cerah.
”Ah, kali aja murni kecelakaan,” seorang laki-laki berkulit putih mulus ikut bersuara. ”Kan pernah tuh, ada merk sedan mewah yang ditarik karena problem mesin, kan?” tanyanya entah kepada siapa.
Saan sudah kembali mengetik di depan laptopnya. Ia teringat berita tentang makam yang dipindahkan gara-gara berbeda pilihan caleg. Di berita itu, orang yang mewakafkan tanah perkuburan berbeda pilihan politik dengan keluarga si mayat. Ia senyam-senyum, tertawa lalu menggeleng saat jari-jarinya menari di atas papan tombol. Tiba-tiba, ia berhenti. Ia merasa ceritanya tak masuk akal.
Tepat saat itu juga, dua orang polisi mendatangi rumah si pemilik mobil. Seorang perempuan cantik yang tampak serapuh porselen membukakan pintu.
Perempuan itu seketika pingsan saat diberi tahu mengenai korban yang ternyata adalah suami dan anak tirinya. Kedua petugas itu menunggu dengan sabar hingga sang janda siuman. Mereka kemudian membawanya ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
Keesokan harinya, di televisi dan portal-portal berita daring, terkuak bahwa perempuan itu adalah dalang pembunuhan suami dan anak tirinya.
”Cepat juga kerja polisi,” istri Saan berbicara dari ruang tengah. Di laptopnya, Saan mengetik, ”Kau punya dua pilihan: mencari tahu siapa pelaku pembunuhan seluruh anggota keluargaku, atau aku sendiri yang akan mengirimmu untuk bertanya langsung kepada Tuhan. Kau pikir untuk apa aku selama ini membayar kepala satuanmu, hah?”
”Kak, pelakunya istrinya sendiri!”
”Pelaku apa?” Ia menyahut malas tanpa menoleh dari laptopnya.
”Ini, berita yang lagi viral. Ternyata dia pernah coba bunuh suaminya pakai santet, tapi gagal. Akhirnya dia sewa orang. Ternyata gara-gara utang.”
Ia berhenti mengetik.
”Kakak tidak baca beritakah?” Istrinya menyodorkan ponsel dengan layar yang menunjukkan foto sebuah mobil yang menghitam. Di bawah foto itu terpampang wajah perempuan yang disebut sebagai pelaku pembunuhan yang tidak lain adalah istri salah seorang korban.
”Ini cerita yang kutulis lalu kuhapus kemarin!”
***
Darmawati Majid, lahir di Bone, Sulawesi Selatan, menulis cerpen dan esai. Ia terpilih sebagai salah satu Emerging Writers dalam Ubud Writers and Readers Festival 2018. Buku kumpulan cerpennya yang berjudul Ketika Saatnya dan Kisah-kisah Lainnya diterbitkan KPG pada April 2019. Cerpennya yang berjudul ”Legacy” terpilih untuk diterbitkan dalam antologi cerpen se-Asia Pasifik, Afrika, dan Amerika Latin: Edges, Borders and Coast, untuk Kampanye Perubahan Iklim yang digagas Agam International dan Institute for Climate and Sustainable Cities. Ia tinggal di Gorontalo.
sumber : kompas.id, 12 Des 2020.