Makam ini kian hari kian tampak menyeramkan saja. Daun-daun kering berserakan, rumput-rumput meranggas, tulisan-tulisan di batu nisan terkelupas. Suasana seram semakin terasa saat malam datang menjelang, lampu-lampu yang dulu berpendar di beberapa titik kini sengaja dimatikan. Gelap menyelimuti makam-makam itu setiap malam.
Orang-orang tidak lagi pergi ke makam, tidak lagi mencabut rerumputan dan menabur bunga-bunga yang dicampur daun pandan. Mereka seolah mulai lupa untuk mendoakan para leluhur dan keluarga yang lebih dulu terbaring tak bernyawa. Hanya bapak yang masih rutin pergi ke makam untuk menjenguk ibu, menabur bunga dan membaca doa. Dua tahun yang lalu, orang-orang masih melakukan hal yang sama dengan bapak. Setiap hari Kamis, mereka berbondong-bondong pergi ke makam, melewati jalan setapak yang kini rimbun tertutup ilalang. Namun, sejak meninggalnya Pak Sarmin, sesepuh di desa ini, tradisi itu perlahan-lahan ditinggalkan. Ditambah lagi saat anak Pak Sarmin yang pernah menuntut ilmu agama di kota mengisi pengajian di masjid. Ia melarang orang-orang pergi ke makam lantaran dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam. Katanya nyekar itu bid’ah. Sehingga orang-orang merasa bahwa apa yang dilakukan selama ini telah memupuk dosa
”Gendhis, kamu kok masih mau sih diajak bapakmu ke makam? Kan, kamu sudah tahu kalau itu dilarang,” kata seorang tetangga yang melihatku berjalan menyusul bapak ke makam.
Aku hanya terdiam, lalu kembali meneruskan perjalanan dengan rasa kesal. Aku sendiri tak akan mau pergi ke makam jika bapak tak mengajakku. Para tetangga dengan matanya yang sinis menatap langkah kami sepanjang jalan. Dan aku benci itu. Satu hal lagi, terkadang mereka malah bertanya padaku tentang agama bapakku. Ah, jelas-jelas bapakku masih rutin sholat lima waktu.
Hari Kamis Kliwon, Bapak mengajakku kembali pergi ke makam. Bunga-bunga sudah ia siapkan, buku doa sudah ada di tangan. Bapak menghampiriku yang sedang membaca buku di kamar.
”Nduk, ayo ke makam Ibu!”
”Nggak mau, Pak. Capek dipelototin tetangga terus.”
”Kan cuman dipelototin.”
”Iya, Pak. Tapi aku nggak suka tatapan mereka. Lagian kenapa sih Bapak masih mau pergi ke makam? Orang-orang kan sudah lama meninggalkan kebiasaan itu?”
”Nduk, kita pergi ke makam itu untuk mendoakan Ibu dan membersihkan makamnya. Tidak ada yang salah dengan apa yang kita lakukan.”
”Tapi mereka bilang itu dilarang, Pak!”
”Mereka tahu dari mana kalau itu dilarang, Nduk?”
”Dari anaknya Pak Sarmin yang sekarang jadi ustadz itu.”
Bapak tak menjawab apa pun saat kulontarkan kalimat itu. Ia tampak kecewa lalu berjalan keluar kamar dengan membawa sebungkus bunga yang masih ada di tangan. Aku senang karena tidak jadi pergi ke makam.
Malam harinya, saat adzan Isya berkumandang dari masjid dekat rumah, aku dan bapak melangkahkan kaki menuju pintu masjid yang bercat putih itu. Aku masih ingat dulu masjid ini berwarna hijau cerah dengan bedug yang berdiri gagah di dekat jendela. Namun, lagi-lagi kata bid’ah membuat bedug itu harus diungsikan di gudang milik salah satu warga.
Aku merasa banyak sekali perubahan yang terjadi di masjid ini sejak ketakmiran masjid dipegang oleh anak Pak Sarmin. Seperti malam ini, tak ada lagi doa bersama untuk mendoakan para leluhur dan keluarga yang sudah meninggal dunia. Biasanya orang-orang membaca surat Yasin dan doa Tahlil bersama-sama dipimpin oleh Pak Sarmin, terkadang bapak juga. Kini tradisi itu diganti dengan ceramah agama dan anak Pak Sarmin menjadi pengkhotbahnya.
Ustadz Ahmad namanya. Ia memakai sorban putih yang dililitkan di kepala, tidak bersarung, melainkan bergamis putih, dan berjenggot panjang. Penampilan itu sungguh asing bagiku, karena aku terbiasa melihat bapak memakai sarung kotak-kotak, berpeci hitam terkadang putih, dan berbaju koko saat sholat. Orang-orang mulai meniru gaya berpakaian Ustadz Ahmad. Tak lagi membeli sarung di pasar, berganti dengan membeli gamis panjang dan lebar.
Ustadz Ahmad mulai membuka ceramah dengan membaca dalil-dalil yang tidak aku mengerti artinya. Orang-orang tampak khusyuk mendengarkan, memperhatikan setiap gerakan bibir dan tangan Ustadz Ahmad. Padahal aku tahu mereka juga tak paham dengan apa yang diucapkan Ustadz. Orang-orang kampung ini tidak ada yang pernah belajar bahasa Arab, membaca Alquran pun mungkin mereka belum fasih. Ah, membosankan sekali. Aku jadi rindu dengan ceramah Pak Sarmin yang masih memakai bahasa Jawa yang diselipi dengan guyonan renyah.
Setelah membaca dalil-dalil, Ustadz Ahmad menjelaskan tentang bid’ah. Ia menyebutkan satu per satu contoh kegiatan yang dilarang oleh agama Islam. Dan tibalah saat ia menyinggung tentang tradisi nyekar.
”Saudara-saudaraku seagama, nyekar itu termasuk bid’ah. Apalagi dengan membawa bunga-bunga. Untuk apa? Rosulullah tidak pernah mengajarkannya. Itu jelas-jelas dilarang oleh agama. Orang-orang yang masih melakukannya berarti kafir dan haram masuk surga!” ucap Ustadz Ahmad dengan suara lantangnya.
Orang-orang menoleh padaku dan mulai menatapku dengan pandangan yang tak ramah. Aku risih, benar-benar risih. Kata-kata bid’ah, kafir, dan neraka diulang berkali-kali dengan suara yang lantang. Hatiku pilu bukan main, ini semua gara-gara bapak yang masih sering mengajakku ke makam. Orang-orang menyudutkanku saat itu, dan akhirnya kuputuskan untuk keluar dari masjid dengan mata basahku.
Saat keluar dari masjid, bapak sudah berdiri menunggu. Ia menggandeng tanganku lalu beranjak pergi meninggalkan masjid yang mulai aneh ini. Wajah bapak tampak merah padam menahan gelombang, sedangkan di mataku rintik-rintik itu mulai jatuh. Sesampainya di rumah, pintu ruang tamu ia kunci rapat.
”Semua ini gara-gara bapak yang masih pergi ke makam. Orang-orang menjadi benci pada kita!” kataku saat bapak baru saja duduk di ruang tamu.
”Nduk, dari dulu sampai sekarang nyekar itu tidak pernah dilarang. Kecuali jika kita punya maksud tidak baik, seperti meminta pertolongan pada arwah leluhur. Kita itu ke makam untuk mendoakan ibumu, Nduk.”
”Tapi kenapa mereka bilang kalau nyekar itu dilarang, Pak? Sampai-sampai Ustadz mengatakan bahwa orang yang masih melakukannya itu kafir dan haram masuk surga?”
”Ustadz Ahmad itu ilmu agamanya tidak sedalam apa yang dipikirkan orang-orang, Nduk.”
Bapak pergi seolah tak ingin lagi membahas perkara ini. Sementara aku masih mempertanyakan mengapa orang-orang begitu mudahnya berubah. Tradisi yang dulu sangat dijaga Pak Sarmin kini pudar oleh anaknya sendiri.
”Nduk, sudah malam. Lekas tidur!” suara bapak dari dalam kamar mengurai lamunanku.
Aku bergegas mematikan lampu, berjalan menuju kamar untuk melentangkan badan di pangkuan malam yang menyebalkan. Aku terlelap. Aku bermimpi, di dalam mimpi itu aku melihat ibu. Ia memakai baju putih, wajahnya berseri-seri. Ia berjalan mendekatiku yang berdiri termangu. Lalu semerbak aroma bunga mawar dan melati segera menusuk hidung, wangi sekali.
“”Gendhis, bunga-bunga yang kamu taburkan untuk ibu telah merasuk bersama doa-doa bapakmu. Terima kasih sudah menjaga makam ibu, teruslah menabur bunga dan doa-doa. Ibu mencintai kamu dan bapakmu.” Ibu tiba-tiba saja menghilang, menyisakan seberkas cahaya putih bersama aroma bunga mawar dan melati.
Malam harinya, saat adzan Isya berkumandang dari masjid dekat rumah, aku dan bapak melangkahkan kaki menuju pintu masjid yang bercat putih itu. Aku masih ingat dulu masjid ini berwarna hijau cerah dengan bedug yang berdiri gagah di dekat jendela. Namun lagi-lagi kata bid’ah membuat bedug itu harus diungsikan di gudang milik salah satu warga.
Aku terbangun saat adzan shubuh berkumandang. Sayup-sayup terdengar suara terompah di luar kamar. Pintu kamar terbuka, tampak bapak sudah rapi dengan baju kokonya.
”Gendhis, ayo ke masjid!” ajak bapak. Aku masih terdiam, mengingat mimpi yang semalam.
”Pak, tiap hari Kamis kita tetap ke makam kan, Pak?”
”Iya, Nduk. Kenapa kok tiba-tiba tanya begitu?”
”Aku tadi mimpi bertemu ibu. Ibu baunya harum sekali.”
Bapak tersenyum.
”Katanya kamu takut dipelototin para tetangga kalau pergi ke makam?”
”Ah, biar saja, Pak. Yang penting makam ibu tetap bersih dan wangi.”
Iya, kubiarkan orang-orang menatap sinis setiap kali kami pergi ke makam. Kubalas saja mereka dengan senyuman, begitupun dengan yang bapak lakukan. Bapak membuka jalan ke makam lebih lengang. Ilalang-ilalang yang dulu rimbun ia tebang. Dan dari pintu masuk kuburan akan tampak sebuah makam yang bebas dari rerumputan. Kedua batu nisan makam itu dinaungi pohon kamboja yang setiap hari berguguran bunga putihnya. Sejuk sekali aku melihatnya, namun sayang mengapa hanya satu makam yang seperti itu? Sementara lainnya sudah rusak karena lama menunggu.
****
Nur Sholikhah, santri Pondok Pesantren Darun Nun Malang. Salah satu kontributor buku Jodohku Bersabarlah dan buku Menapaki Jalan Menuju Ahli Ilmu, serta penulis di darunnun.com.
sumber : kompas.id, 30 Jan 2021.