Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Soto Kerbau oleh Marta Mahardika

Posted on Kam, 28 Jan 2021

Setiap mudik ke rumah orangtua di Kudus dalam rangka liburan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh, aku selalu suka makan siang di warung soto kerbau Pak Di yang dibuka di dalam Pasar Kliwon.

Sejak dulu, kata banyak orang, soto kerbau yang disajikan di warung Pak Di paling lezat di dunia. Aku setuju karena bagiku soto kerbau di warung Pak Di memang sangat lezat dan karena itu aku selalu menyantapnya dua mangkuk sekaligus. Sehabis menyantap dua mangkuk soto kerbau, biasanya aku langsung kenyang dan mandi keringat segar, lantas mengantuk dan kemudian tidur sampai sore.

Soto kerbau di warung Pak Di diwadahi mangkuk China, bukan mangkuk bakso. Mangkuk China lebih kecil dibanding mangkuk bakso. Dinamakan mangkuk China karena konon bangsa China yang pertama kali memproduksinya.

Menurut Papa dan Mama, warung soto kerbau Pak Di sudah dibuka sebelum Indonesia merdeka, dan kini yang mengelolanya adalah generasi ketiga, atau cucu Pak Di.

Menurut sejarahnya, sebelum membuka warung sotonya di dalam Pasar Kliwon Kudus, Pak Di berjualan soto kerbau dengan cara dipikul atau angkringan yang setiap hari mangkal di sudut-sudut kota Kudus. Pelanggannya banyak, di antaranya adalah warga keturunan China.

Ketika masih kecil, menjelang tidur siang, aku sering diajak Papa makan soto kerbau di pojok perempatan dekat rumah sambil jongkok. Setelah perut kenyang, Papa dan aku langsung pulang dan kemudian tidur pulas sampai sore.

Mama sering ngomel jika Papa dan aku baru bangun tidur menjelang senja. ”Kalian jadi malas seperti kerbau karena suka makan soto kerbau.”

Omelan Mama selalu ditanggapi Papa dengan tertawa dan bersuara seperti kerbau. Lalu Mama ikut-ikutan tertawa.

***

Pada liburan Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh kali ini aku kembali mudik ke Kudus. Sejak lulus kuliah aku bekerja di sebuah kantor bank swasta di dekat Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Aku sangat senang karena banyak rekanku yang ingin ikut liburan di Kudus. Mereka ingin mencoba ikut menikmati soto kerbau di warung Pak Di yang sering kuceritakan.

Mereka mengaku tiba-tiba sangat ingin mencoba menikmati lezatnya soto kerbau di Kudus setelah menyaksikan aksi unjuk rasa sekelompok massa yang membawa seekor kerbau untuk menyindir Presiden SBY, lalu SBY menanggapinya dengan nada prihatin.

Menurut sejarahnya, sebelum membuka warung sotonya di dalam Pasar Kliwon Kudus, Pak Di berjualan soto kerbau dengan cara dipikul atau angkringan yang setiap hari mangkal di sudut-sudut kota Kudus. Pelanggannya banyak, di antaranya adalah warga keturunan China.

Peristiwa politik yang melibatkan seekor kerbau itu memang sangat menarik sehingga kemudian menjadi pemberitaan hangat di media. Banyak orang kemudian mendiskusikan binatang besar bertanduk yang suka berkubang di dalam air berlumpur dan suka makan sepanjang siang malam itu.

Ketika berdiskusi tentang kerbau dengan rekan-rekan di kantor, aku tiba-tiba khawatir binatang besar itu akan punah sehingga anak cucuku tidak bisa menikmati lezatnya soto kerbau. Sejauh ini belum pernah ada pendataan yang akurat tentang jumlah populasi kerbau di Indonesia. Tapi seingatku, sekarang semakin jarang aku melihat kerbau merumput di persawahan-persawahan.

Pada tahun lalu, aku sempat berkunjung ke rumah kerabat di beberapa desa di Kudus. Di desa-desa itu sudah tidak ada warga yang memelihara kerbau. Padahal, ketika aku masih kecil banyak warga di desa-desa itu yang memelihara kerbau. Dulu aku juga sering melihat kerbau sedang dimanfaatkan untuk menarik pedati atau untuk membajak sawah.

Dulu, setiap kali melihat kerbau yang berjalan lambat sedang menarik pedati atau menarik luku (alat untuk membajak sawah) aku sering tersenyum sinis dan berkomentar dalam hati. ”Bangsa ini bisa menjadi bangsa terbalakang jika selalu beraktivitas serba lamban seperti kerbau.”

Lalu aku jadi teringat omelan Mama karena Papa dan aku suka tidur siang sehabis menikmati soto kerbau yang lezat. Omelan Mama terasa relevan untuk didengungkan pada saat ini, ketika pemerintah dinilai serba lamban dalam menyelesaikan banyak masalah. Karena itu rasanya tidak berlebihan jika muncul aksi unjuk rasa yang membawa seekor kerbau untuk menyindir pemerintah.

***

Setibanya di Kudus, aku langsung mengajak rekan-rekan makan siang di warung soto kerbau Pak Di.

”Soto kerbau ternyata betul-betul sangat lezat,” kata rekan-rekanku sepulang dari warung Pak Di. Mereka tadi begitu lahap sehingga masing-masing mampu menghabiskan dua mangkuk soto kerbau sekaligus. Mereka tampak segar bermandikan keringat.

Begitulah, semua orang pasti akan menjadi segar dan berkeringat sehabis menyantap soto kerbau yang disajikan dalam keadaaan masih panas.

Setibanya di rumahku, karena perut mereka kenyang, rekan-rekanku langsung tidur sampai sore. Dan ketika bangun tidur, mereka ingin kembali menyantap soto kerbau.

”Eh, soto kerbau hanya nikmat disantap pada siang hari. Jadi, besok siang saja kita kembali menikmatinya di warung Pak Di,” ujarku sambil tersenyum. Aku senang melihat mereka tampak puas menikmati lezatnya soto kerbau dan ingin mengulangi kepuasannya itu.

”Kalau suatu saat SBY mengunjungi Kudus ini, pasti suka menikmati soto kerbau,” seloroh seorang rekanku.

”Eh, jangan mencoba memancing diskusi politik di Kudus. Lagi pula, SBY tidak akan berani mengunjungi Kudus ini,” tukasku.

Rekan-rekanku menatapku dengan penuh tanda tanya.

Eh, soto kerbau hanya nikmat disantap pada siang hari. Jadi, besok siang saja kita kembali menikmatinya di warung Pak Di.

Aku kemudian menjelaskan tentang mitos yang sangat populer di Kudus. Bahwa sejak zaman Kerajaan Demak pada masa kejayaan Walisongo, tidak ada raja atau orang berpangkat yang berani mengunjungi Kudus karena takut lengser atau kehilangan pangkatnya.

Konon, tanah Kudus telah dipagari dengan rajah (sejenis jimat) oleh Sunan Kudus agar semua orang berpangkat yang mengunjungi Kudus segera lengser jika pernah berbohong kepada rakyatnya.

Gara-gara mitos itu, semua Presiden Indonesia, kecuali Gus Dur, tidak berani mengunjungi Kudus. Entah kebetulan atau memang karena mitos itu, beberapa pekan sehabis mengunjungi Kudus, Gus Dur langsung mundur sebagai Presiden dan kemudian digantikan oleh Megawati.

”Kalau begitu SBY pasti tidak berani mengunjungi Kudus dan karena itu tidak akan bisa menikmati lezatnya soto kerbau,” ujar rekanku sambil menerawang. Entah apa yang dibayangkannya.

***

Lezatnya soto kerbau di dalam mangkuk tiba-tiba membuatku ingin membuka warung soto kerbau di banyak kota di China dalam rangka perdagangan bebas yang mulai berlaku tahun ini. Lalu gagasan itu kusampaikan kepada rekan-rekan. Mereka langsung setuju karena sama-sama ingin mengubah nasib menjadi pengusaha di mancanegara.

”Kita harus mengekspor warung soto kerbau ke China agar bangsa China suka makan soto kerbau dan kemudian makin gemuk lantas serba lambat sehingga kita bisa mengalahkannya,” tuturku bergurau.

”Ya, kayaknya kita baru bisa mengalahkan bangsa China dalam persaingan global jika bisa membuatnya gemuk dan malas sehingga serba lambat dalam banyak hal.” Rekan-rekanku sependapat denganku.

Lantas kami kembali ke Jakarta lagi, sehabis perayaan Cap Go Meh. Di samping tetap bekerja di kantor bank swasta, kami sibuk menyusun proyek proposal ekspor warung soto kerbau ke China.

Ketika proyek proposal itu kami sodorkan ke lembaga-lembaga berwenang, langsung disetujui. Sejumlah investor dari dalam negeri maupun dari luar negeri juga langsung sepakat mendukung permodalan yang kami perlukan.

Langkah berikutnya kami segera pergi ke daratan China untuk menentukan sejumlah lokasi yang akan kami gunakan untuk membuka warung soto kerbau. Kami kemudian memutuskan untuk membuka warung soto kerbau di dalam mal-mal dan pusat-pusat keramaian di sejumlah kota di China.

Acara pembukaan warung soto kerbau di sejumlah kota di China kami lakukan secara serentak dengan menampilkan lomba makan soto kerbau terbanyak dan tercepat yang diikuti oleh gadis-gadis cantik. Acara ini ternyata sangat menarik. Banyak gadis China yang cantik-cantik mengikutinya. Bahkan, putri-putri pejabat tinggi China juga mengikutinya.

Kemudian, pada setiap malam akhir pekan, kami menggelar pementasan barongsai dengan atraksi utama barongsai makan soto kerbau. Acara ini pun sangat digemari warga China. Mereka pun sangat lahap menyantap soto kerbau di warung-warung milik kami.

”Aku akan bikin acara yang lebih heboh lagi.” Aku tiba-tiba mendapat gagasan baru yang diilhami kisah kerbau mengamuk di pusat kota Kejaraan Demak pada masa lalu. Bahwa Mas Karebet alias Jaka Tingkir adalah pemuda gagah perkasa dari desa yang menyusup ke pusat kota dengan membawa seekor kerbau besar.

Kerbau besar itu kemudian dilepas di tengah kota Demak setelah lubang telinganya dimasuki seekor serangga hitam dan kemudian disumpal dengan tanah liat. Merasa telinganya sakit, kerbau besar itu pun mengamuk, menerjang apa saja dan siapa saja yang ada di depannya.

Pasukan keamanan dikerahkan untuk menangkapnya. Tapi kerbau besar itu sulit untuk ditangkap. Bahkan, semakin liar dan semakin beringas, mengamuk membabi buta. Lantas Raja Demak menggelar lomba: Siapa yang mampu menaklukkan kerbau besar yang mengamuk itu akan dijadikan menantu Sang Raja.

Mas Karebet alias Jaka Tingkir kemudian berhasil menaklukkan kerbau besar yang mengamuk itu, lalu menjadi menantu Sang Raja.

”Aku akan melepas beberapa ekor kerbau di pusat kota-kota di daratan China. Siapa yang mampu menangkapnya akan mendapat hadiah makan soto kerbau di warung setiap siang selama satu tahun. Pasti sangat menarik.” Gagasan ini kemudian terlaksana. Banyak wartawan internasional meliputnya. Soto kerbau kemudian menjadi sangat terkenal di seluruh dunia.

”Eh, ayo bangun! Jangan tidur lama-lama, nanti kamu bisa mimpi aneh-aneh dan gemuk seperti kerbau!” seru Mama sambil mengguncang-guncangkan kepalaku. Aku langsung tersentak bangun dari tidur siangku yang sangat nyenyak sehabis menyantap dua mangkuk soto kerbau di warung Pak Di…***

Joglo Pilar Papat, 2021

***

Marta Mahardika lahir pada 10 Mei 1993. Penulis banyak menghasilkan karya prosa, esai, puisi dan features. Dia juga menjadi peneliti kebudayaan di Skala Prioritas Institute.

sumber : kompas.id, 28 Jan 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme