Saya ingin menceritakan tentang orang itu, orang yang namanya berulang kali disebutkan beberapa jam yang lalu di mesjid. Roni namanya. Ia tidak terlalu populer di kampung, karena memang ia pendatang baru dan ia pun jarang ikut nimbrung di pos ronda pas lagi ramai-ramainya, jarang meramaikan gotong royong, apalagi ke mesjid. Jadi kabar kematiannya tidak menimbulkan duka yang berlarut-larut. Bahkan orang-orang pada bertanya-tanya: “Roni siapa?” saking tidak banyaknya orang yang mengenal dia. Tetapi aku tahu Roni, dan mungkin hanya aku satu-satunya orang di muka bumi ini yang paling akrab dengannya. Ia seorang pemuda yang terlalu banyak bertanya. Tuhan, kitab suci, surga, neraka, dan lain sebagainya. Ia sering membagikan sesuatu yang didapat dari buku yang dibacanya kepada saya.
Keseharian Roni sederhana, pagi-pagi sekali ia masih tertidur. Suara azan yang masuk melalui jendela di kamarnya yang sering kali terbuka tidak mengganggu waktu tidurnya. Sekitar pukul tujuh, baru ia terbangun dan terlihat berangkat kerja, lalu pulang sore harinya. Di waktu malam tibalah kami sering menghabiskan waktu bersama. Saya ingat betul kali pertama saya berjumpa dengan dia. Waktu itu pukul 12 malam. Saya tengah berjaga di pos ronda. Dari kejauhan saya mendengar jejak kaki, dan tampak wajahnya disinari lampu jalanan, menembus kegelapan malam.
Awalnya saya tidak mengenal siapa Roni, sampai ketika ia pertama kali mengucapkan namanya dan menjabat tangan saya. Suara itu, suara serak-serak ketika ia melontarkan namanya, keluar seakan-akan menampakkan sifatnya yang seorang rendah diri dan baik tabiatnya. Benar, Roni adalah orang yang baik, hanya saja pemikirannya yang liar sedikit mengganggu saya.
Jadi dia di malam itu bercerita tentang dirinya. Seorang yang sebatang kara, tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini, oleh sebab itu ia merasa hidup ini tidak adil baginya. Saya pun turut bersedih, bahkan kaget ketika mendengar bahwa ibunya menjadi gila dan mati karena menggorok lehernya sendiri ketika suaminya memutuskan untuk kawin lagi dan meninggalkan mereka. Itu ketika ia berumur tujuh belas tahun. Dan setelah kejadian itu, ia harus mencari uang sendiri dengan menjadi perajin gesper. Hingga datang seorang manajer bank yang baik hati, menjadikan Roni sebagai karyawannya setelah berhasil membantunya mendapatkan kembali dompet yang dicuri pencopet kala itu di pasar, tempat Roni biasa membuka lapaknya.
“Saya turut bersedih, memang terkadang hidup ini tidak adil.”
“Sudah tidak usah begitu, saya juga sekarang sudah mendingan,” ia tersenyum, menepuk punggung saya, “Sudah punya pekerjaan, rumah, tapi ada satu yang saya belum punya.”
“Apa itu?”
“Istri.”
Kami terbahak-bahak. Menepis semua keheningan malam.
Kedatangannya di malam itu awalnya memang sedikit mengganggu, karena memang saya sebenarnya adalah orang yang kurang senang bila diajak bicara oleh orang baru. Tapi lama-kelamaan saya mulai nyaman ngobrol dengannya, Lama kami berbincang, setelah itu Roni pamit, tetapi bukan untuk pulang, katanya ia ingin pergi berjalan-jalan.
“Kok jam segini jalan-jalan?”
Dia tertawa, lalu dengan masih terkekeh-kekeh ia bilang, “Biasa, mencari udara segar, pusing otak saya mikir kerjaan.”
Kami tertawa lagi, lalu tubuhnya hilang ditelan kabut malam.
Saya tidak merasakan keanehan apa-apa di malam itu. Saya pikir itu hal yang wajar, mengingat Roni bekerja di bank yang setiap hari berurusan dengan angka-angka yang membingungkan. Tetapi, kejadian itu terulang lagi dua hari selanjutnya. Ketika saya tengah asyik menonton bola di hp saya. Tiba-tiba saja Roni bertanya, “berapa skornya,” membuat saya terperanjat dan tak sengaja menjatuhkan HP saya ke tanah.
“Kok bisa ada di sini?”
Ia terkekeh-kekeh, “Kamunya aja yang keasyikan nonton bola.”
Saya kemudian mengambil hp yang jatuh, lalu membersihkannya dari debu kerak-kerak lumpur akibat hujan mengguyur tadi sore.
“Kamu tahu tidak, kalau kita sebenarnya itu memilih untuk menjadi manusia, bukan dipilih.”
“Tidak tahu, betul itu?”
Setelah itu ia bercerita tentang buku yang dibacanya, dan membandingkannya dengan buku lain yang ia baca pula. Banyak sekali buku yang dibaca, tetapi itu tidak membuat saya merasa kagum, melainkan khawatir akan pola pikirnya. Pasalnya buku-buku yang dibacanya itu buku yang ‘berbahaya’ bila dibaca dan ditafsirkannya seorang diri, tanpa berguru. Terlebih mengingat, Roni dulunya adalah anak badung, dia sering menceritakan tentang kenakalannya di SMA dan sering dimarahi guru karena nilai sekolahnya selalu rendah. Buku-buku itu sepertinya akan meracuni dirinya lebih dalam lagi hingga saya lama-kelamaan berpikir, kalau Roni akan menjadi gila suatu hari nanti apabila terus membaca buku yang seperti itu.
“Ron, sudahlah, tidak usah mikir terlalu jauh, apa peduli kamu tentang itu, toh kita dilahirkan di dunia untuk menyebarkan kebaikan dan tunduk kepada Tuhan, sudah itu saja.”
“Tidak bisa, bung! Saya tidak bisa seperti itu, saya ingin tahu lebih banyak tentang seluk-beluk asal muasal semua ini bermula.”
“Nihil, tidak akan kamu temukan jawabannya, Ron!”
Setelah itu ia tertawa, lalu pamit, tetapi bukan pulang, melainkan sama seperti dua hari yang lalu, mencari angin segar.
Sering sekali kami berjumpa malam-malam seperti itu dan selalu diakhiri dengan Roni ingin mencari angin segar. Sampai pada suatu malam, yaitu tadi malam, terakhir kali saya berjumpa dengan dia. Dia dengan masih mengenakan pakaian kerjanya, kemeja putih yang ia sisingkan dan celana kain hitam, ia datang menghampiri saya di pos ronda.
“Adi, kamu percaya Tuhan itu ada?”
Langsung saya terperanjat kaget, “Kamu sudah gila, Ron! Tanya pertanyaan yang seperti itu, ada-ada saja.”
“Saya serius, Di!”
Saya kemudian menatap matanya, benar, ia tidak berkedip sedikitpun, dan saya melihat satu titik keringat mengalir dari pelipisnya. Ia tidak terlihat main-main.
“Iya, saya percaya, kenapa memangnya?”
“Baguslah.”
Kemudian ia mengalihkan topik pembicaraan. Setelah sekian pertemuan, baru semalam ia bertanya mengenai kehidupan saya, dan itu membuat saya merasa ada yang aneh. Saya pun meng-iyakan, dan bercerita panjang lebar kepadanya. Hingga berselang dua jam kemudian, ia pamit seperti biasa, ingin mencari angin segar.
Di detik itu, saya sangat penasaran, apa yang ia lakukan. Kenapa sering sekali kelayapan malam-malam untuk mencari angin segar.
Tetapi sekarang, saya merasa menyesal telah mengikuti jejaknya.
Saya tinggalkan kegiatan saya, kemudian mengikuti ke mana ia berjalan. Saya tak tahu pasti apa yang ia lakukan, tetapi ia berjalan seakan tidak ada tujuan, sesekali melompat, menendang batu, berdiam diri dan mengamati sekitar, bahkan terkadang ia berlari seperti orang yang baru saja kabur dari penjara. Setelah itu saya melihat ia masuk ke sebuah kebun. Dari yang saya lihat, itu kebun Pak Ahmad, karena tercium bau ayam dan kotorannya yang begitu menyengat, serta suara desahan kuda, hanya Pak Ahmad yang memilikinya di kampung ini.
Ia memasuki kebun itu, dengan melompat kawat pagar, lalu berhenti di bawah pohon kelapa, duduk dan menyandar pada batangnya. Saya bersembunyi di semak-semak di belakangnya, tepat di samping kandang ayam. Terlihat begitu jelas punggungnya, ia seperti orang yang kebingungan, sesekali mengasrak-gusruk kepalanya. Tak beberapa lama kemudian, ia mulai berbicara sendiri, ngelantur tidak jelas. Saya tidak tahu pasti apa yang ia katakan, dan sesekali saya mendengar ia tertawa kecil. Di saat itu saya merasa Roni adalah seseorang yang sudah gila.
Lama sekali ia di situ, membuat banyak sekali nyamuk yang sudah menggigit saya, ditambah bau ayam dan tahinya itu begitu busuk membuat saya memutuskan untuk ingin cepat kembali ke pos ronda.
Namun, tepat sebelum saya melangkah mundur dengan perlahan, saya ingat betul, Roni meninggikan suaranya, membuat kata-kata terakhirnya itu begitu jelas terdengar, “Apakah saya akan masuk surga, Tuhan? Jika iya, berikan pertanda kepada saya”. Lucu mendengar perkataannya, saya pun tak sengaja terkekeh-kekeh dan mengejutkan seekor ayam jago di kandang sebelah yang membuatnya berkokok riuh ke seluruh penjuru kampung, dan memancing ayam-ayam warga lain untuk berkokok.
Setelah itu saya panik, ingin berlari tetapi ketika melihat Roni melompat-lompat kegirangan, saya terdiam sejenak, menatapnya heran. Meledak tawa di dalam hati saya melihat tingkah aneh Roni.
Kemudian entah kenapa, Roni menengadah ke atas lalu meneriakkan ucapan terima kasih dengan lantang dan bercucuran air mata, lalu setelah itu ia bersujud-sujud. Membuat saya yakin bahwa selama ini, Roni, teman saya, adalah seseorang yang tidak waras. Dengan masih tersisa tawa di dada, saya pun bergegas kembali ke pos ronda.
Tadi pagi, sekitar pukul enam, ketika saya hampir saja berhasil memejamkan mata, terdengar kabar bahwa Roni sudah meninggal. Seketika saya langsung terbangun, berpakaian lalu segera pergi ke sumber suara. Saya tak melihat dengan pasti jasad Roni, hingga saya tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tetapi setelah saya bertanya sana-sini, katanya Roni menggantung dirinya di kebun Pak Ahmad tadi malam, dengan meninggalkan selembar kertas kecil bertuliskan: tenang, saya sudah di surga.
Tubuh saya seketika bergemetar. Sebuah ketakutan yang teramat besar hinggap di hati saya. Asam lambung saya naik, membuat otak tak karuan, mata berkunang-kunang, dan sekujur tubuh saya seketika terasa lemas. Saya ingat, tepat sebelum saya terjatuh dengan pandangan hitam, saya menyumpah Roni.
Semoga kebodohannya juga membuatnya terbunuh di sana. []
Banda Aceh, 25 Februari 2021.
Nuzul Ilmiawan, merupakan mahasiswa jurusan Sastra Indonesia di Universitas Andalas, Padang. Lahir di Bireun,19 Oktober 2001.
sumber : kompas.id, 14 Agt 2021.