Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Mengapa Virus Itu Bertandang ke Kampung Kami? oleh Teni Ganjar Badruzzaman

Posted on Kam, 12 Agu 2021

Hari belum terlalu matang, tetapi langit begitu kelam. Kumulonimbus menyelimuti matahari yang hendak berpulang. Musim kemarau yang basah. Titik-titik air mulai berjatuhan membuat bulatan-bulatan di empang, tatkala seorang pria berjalan gontai keluar dari masjid. Itu Abah Rokandi, lurah di kampung yang bertetangga dengan Sungai Citanduy itu.

Abah Rokandi baru saja menyebarkan berita duka lewat pengeras suara. Salah satu warganya, Abah Maman, yang juga teman sepermainannya sejak kecil, telah lebih dulu digandeng Malaikat Izrail. Memang sudah dua hari Abah Maman mengeluh kurang enak badan. Dadanya terasa nyeri katanya. Abah Rokandi mengira Abah Maman hanya sakit biasa, kecapian seperti orang pada umumnya.

Tadi malam selepas shalat Isya, di teras masjid, mereka masih menghabiskan waktu bersama, ngadu bako[1] seperti biasanya.

Namun, tiba-tiba saja tadi subuh, Abah Maman jatuh pingsan. Mantri desa yang memeriksanya menganjurkan agar Abah Maman segera dirujuk ke rumah sakit umum daerah. Maut memang sering kali datang tiba-tiba tanpa diduga. Sekitar empat puluh menit lalu, Abah Rokandi mendapat kabar lewat sambungan telepon tentang berita duka itu. Rasa terpukul Abah Rokandi semakin menjadi saat mendengar kabar lain yang tak kalah mengejutkannya.

”Saya dapat amanah dari Ibu untuk mengabarkan berita duka ini kepada orang di kampung. Tapi, Abah enggak usah repot-repot mengurus keperluan pemakaman dan yang lainnya. Sebab jenazah Bapak tidak bisa dibawa pulang.”

Kendati Abah Rokandi tidak fasih berbahasa Indonesia, telinga tuanya masih bisa menangkap apa yang disampaikan laki-laki di seberang sana, yang tak lain adalah anak Abah Maman. Saat sambungan telepon terputus, Abah Rokandi terkulai lemas, sudut matanya basah, bahunya pun berguncang. Abah Maman ternyata positif terpapar covid-19. Oleh karena itu, jenazah Abah Maman akan dikebumikan di pemakaman khusus covid. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Abah Rokandi masih tak mengerti. Padahal kampungnya itu berjarak ratusan kilometer dari kota yang menjadi sarang virus rakus itu. Bahkan untuk sampai ke ibu kota kabupaten saja memerlukan waktu sekitar dua sampai tiga jam perjalanan dengan menggunakan angkutan pedesaan.

Saya dapat amanah dari Ibu untuk mengabarkan berita duka ini kepada orang di kampung. Tapi, Abah enggak usah repot-repot mengurus keperluan pemakaman dan yang lainnya. Sebab jenazah Bapak tidak bisa dibawa pulang.

Abah Rokandi lama termenung. Bagaimana caranya ia menjelaskan semua itu kepada warga kampung? Mereka yang selalu sigap bahu-membahu menolong siapa pun yang tertimpa musibah. Apalagi, jika ada yang meninggal. Tanpa dikomando warga sekampung sudah tahu apa saja yang harus mereka lakukan. Para pria dewasa berpencar ke masjid, rumah duka, dan tempat pemakaman.

Sementara para wanita dengan cekatan akan menuju pabeasan[2], menyiduk sekitar lima cangkir beras yang kemudian dimasukkan ke sebuah baskom ukuran sedang yang atasnya ditutup sehelai kain, bergegas menuju rumah duka untuk melayat, dan meringankan beban keluarga yang ditinggalkan. Mereka dengan sukarela mengurus persiapan tahlilan yang biasanya diadakan empat puluh hari berturut-turut. Warga di kampung itu diajarkan oleh nenek moyangnya untuk bersahabat dengan takdir, termasuk kematian.

Tidak perlu ada yang ditanggapi secara berlebihan. Sebab setiap yang bernyawa pasti akan mati. Maka sudah turun-temurun, di kampung itu setiap kali ada yang meninggal, selesai dimandikan dan dishalatkan, jenazah harus segera dikebumikan. Jam berapa pun itu, tengah malam sekalipun. Karena mereka yakin bahwa orang yang telah meninggal itu ingin segera sampai di peristirahatan terakhir. Tidak ada istilah menunggu sanak saudara yang jauh.

Namun, kali ini berbeda. Semua warga membisu dan terduduk lemas saat Abah Rokandi menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Butuh beberapa waktu hingga akhirnya mereka bisa menerima keadaan yang menurut mereka tidak masuk akal itu. Warga merasa terpukul saat hanya bisa mendoakan Abah Maman dari jauh, tanpa bisa melihat wajahnya untuk yang terakhir kali. Mereka pun tidak diperbolehkan mendekati rumah duka, meski untuk sekadar mengucapkan belasungkawa.

Wajah orang sekampung hari itu mendung. Hati mereka diliputi perasaan nelangsa. Selama ini, mereka hanya melihat proses pemakaman pasien positif Covid-19 di televisi. Itu pun sudah membuat mereka bergidik ngeri. Saat jenazah dikuburkan begitu saja tanpa diantar keluarga apalagi tetangga yang beriring-iring membawa doa. Kini, mereka mengalaminya sendiri. Suasana kampung semakin mencekam, saat tiba-tiba beberapa orang petugas kesehatan berbaju ninja datang disertai aparat kepolisian. Mereka berkeliling kampung dan meminta semua warga untuk tidak berkerubung, dan tinggal di rumah masing-masing.

Abah Rokandi berbaring di dipan berselimutkan duka. Hatinya semakin pilu, merasa diperlakukan seperti orang tak suci, yang sudah terkena najis. Semua area rumahnya disemprot cairan berbau menyengat, yang membuat tenggorokannya tercekat. Begitu pun yang lainnya, asap putih sejenak mengepul dari rumah-rumah, lalu lesap ditiup angin.

Belakangan, barulah Abah Rokandi mengerti mengapa semua ini bisa terjadi. Selama ini, Abah Maman dan beberapa warga kampung itu memang sudah puluhan tahun mencari nafkah sebagai tukang kiridit [3] di Jakarta. Apa saja mereka bawa ke Ibu Kota untuk dijual secara kredit: sandal, karpet, panci, dan alat rumah tangga lainnya.

Barang dagangan itu mereka ambil dari Juragan Kiridit, setelah sebelumnya harus memberikan BPKB kendaraan, atau AJB tanah sebagai jaminan. Dalam satu bulan, mulai tanggal satu sampai sepuluh, para tukang kiridit itu menyusuri gang-gang sempit di Jakarta untuk menjajakan dagangan sekaligus menagih cicilan dari pelanggannya. Lepas tanggal sepuluh, mereka pulang kampung: bertani, berkebun.

Saat wabah melanda dengan sangat ganasnya, mereka nekat berangkat ke Jakarta. Kebutuhan hidup yang semakin mendesak membuat para tukang kiridit itu berani menjatuhkan diri, menyelam di lautan virus.

Kini, penyesalan sebesar gunung mengimpit Abah Rokandi. Ah, seandainya saja dahulu ia melarang Abah Maman dan rombongannya untuk berangkat ke Jakarta. Mungkin musibah ini tak pernah terjadi. Kala itu, hampir setiap waktu televisi berkicau tentang Jakarta yang berada dalam zona merah. Abah Rokandi tak bisa berbuat apa-apa, saat mobil carteran yang ditumpangi Abah Maman dan empat orang lainnya meninggalkan halaman masjid untuk menuju Jakarta. Ia mengerti mereka pergi dengan perasaan dilema.

Sudah berbilang hari Abah Rokandi berdiam diri di rumah. Bertafakur memohon ampun atas dosa yang mungkin saja ia dan seluruh warga kampung lakukan. Hingga mereka harus menerima ujian yang begitu berat ini. Lingkungan itu sekarang seperti kampung mati. Tidak ada satu warga pun yang berani keluar rumah.

Pun dengan warga dari luar kampung, tidak ada yang berani datang. Mereka masih menunggu hasil swab keluarga Abah Maman, juga keempat warga yang sempat tinggal di kamar kontrakan yang sama dengan Abah Maman di Jakarta. Jika hasilnya negatif, maka warga sekampung bisa bernapas lega. Namun, jika sampai ada salah satu saja yang positif, maka harus diadakan swab massal sekampung.

”Hayu urang ka puskesmas atuh, Bah,”[4] ajak istri Abah Rokandi. Ia begitu khawatir melihat keadaan suaminya yang beberapa hari belakangan ini batuk-batuk hingga wajahnya yang putih berubah memerah.

Abah Rokandi menggeleng, menolak ajakan istrinya itu. Ia takut ”dicovidkan”padahal mungkin saja batuknya itu hanya batuk kering biasa. Abah Rokandi tidak pernah takut mati. Namun, ia ingin jika saat itu tiba, ia tidak banyak merepotkan. Maka, saat tengah malam ia terjaga dari tidur sebab dadanya terasa sakit, Abah Rokandi tak tega jika harus membangunkan istrinya yang terlelap. Ia menyeret kakinya menuju dapur, lalu menenggak segelas air putih hangat.

Akan tetapi, rasa sakit di dadanya tak juga reda. Ia batuk-batuk hingga badannya membungkuk. Semakin lama, rasa sakitnya semakin menjadi. Abah Rokandi merasa dadanya seolah tertekan beban berat hingga napasnya sangat sesak. Susah payah ia berjalan menuju dipan di samping dapur. Dibaringkan tubuhnya yang ringkih di situ. Dengan sisa tenaga, Abah Rokandi berusaha memanggil-manggil istrinya. Rintihannya itu rupanya tak sanggup menembus dinding mimpi yang membuai istrinya. Hingga akhirnya, Abah Rokandi memilih terpejam sambil terus menyebut Gusti Allah di dalam hati. Sesaat sebelum terpejam, sekilas ia melihat Abah Maman tengah berdiri di depan pintu, melihat ke arahnya sambil tersenyum.***

Catatan Kaki

[1] Saling mencicipi bako/tembakau masing-masing, dan di sela menikmati rokok lintingan itu, mereka mengobrol santai, membahas banyak hal.

[2] Wadah yang biasanya digunakan untuk menyimpan persediaan beras.

[3] Orang yang menjual barang dengan cara dikreditkan.

[4] Ayo kita ke puskesmas, Bah!

Teni Ganjar Badruzzaman lahir di Ciamis, 1988. Ibu rumah tangga yang gemar membaca dan menulis cerita. Cerpen dan cerita anaknya dimuat di beberapa antologi bersama dan media massa seperti Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Fajar Makassar, magrib.id, dll.

sumber : kompas.id, 12 Agt 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme