Kabut turun setelah hujan semalaman dan bukit-bukit seperti perempuan berkerudung putih dan hamparan lembah dan rumah-rumah warga tampak samar-samar. Panggih berdiri di sana sejak pukul dua dini hari, di pinggir sungai (batang) Lunto, di tengah putih kabut dan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang-tulang. Air sungai menabrak batu-batu, mengalir deras dengan suara gemuruh menuju batang Ombilin. Air batang Lunto adalah denyut jantung Sawahlunto yang mengubah tanah sawah menjadi emas hitam dengan segala cerita kelam perburuhan di lobang-lobang tambang dan tansi-tansi para kettingganger.
Sudah satu setengah jam Panggih menunggu Asa Menak. Sesekali ia melihat ke arah jembatan, berharap Asa Menak segera muncul; Sesekali ia menggosok-gosok tangannya dan membenarkan kain yang ia lilitkan di lehernya. Panggih menggunakan dua kain di tubuhnya: satu lagi dikerudungkan ke kepala. Ia yakin bahwa Asa Menak pasti akan menjemputnya dan membawanya keluar dari Sawahlunto; keluar dari tanah yang tak memberi harapan apa-apa baginya; tanah yang hanya meninggalkan kepedihan dan kesedihan. Panggih masih menunggu Menak dengan perasaan kian gelisah. Ia tahu bahwa Menak akan siap menanggung segala resiko demi dirinya, termasuk membayarnya dengan nyawa. Ia tetap menjaga apa yang dipesankan Menak kepadanya: “Tunggu aku di hulu batang Lunto.”
Di dalam ingatan Panggih, perlakuan Bapaknya, Soemarto, masih membekas. Ia ketahuan berpacaran dengan Asa Menak, anak dari salah satu bekas mandor para buruh tambang. Soemarto tidak bisa menerima anaknya berpacaran dengan Asa Menak karena kebencian yang tidak bisa dihapusnya dari ingatan dengan bapak anak itu—seorang mandor yang suka menjilat telapak sepatu orang Belanda. Soemarto sudah berkali-kali melarang Panggih berhubungan dengan Menak, tetapi bagi Panggih, Menak adalah perahu satu-satunya yang mampu mengeluarkannya dari gelombang laut. Sekali waktu Soemarto mendapati kamar Panggih dalam keadaan kosong dan ia tahu ke mana anak gadisnya itu pergi. Rahang Soemarto merapat, terlihat sedikit jendolan di kedua pipinya, ia lalu menuju ke arah dapur, mengambil sebilah parang dan pergi mencari Panggih: berjalan menyusuri batang Lunto, ke danau-danau galian tambang, dan rel-rel kereta api yang dulu menjadi pengangkut satu-satunya emas hitam ke Emmahaven, tetapi ia belum juga menemukan Panggih.
Setelah beberapa jam berjalan ke sana ke mari, Soemarto akhirnya mendapatkan Panggih sedang berada di lobang tambang bersama Menak, sebuah lubang tambang yang tak dipakai lagi. Soemarto menarik tangan Panggih ke arah belakangnya dan tangan itu pula menghantam wajah Menak. Pukulan itu tidak terlalu kuat namun cukup membuat Menak menahan perihnya.
Panggih tak mampu berbuat apa-apa; ia hanya menyaksikan Menak menerima tangan yang begitu ringan dan mulut yang begitu tajam dari bapaknya.
“Jika sekali lagi kudapati,” telunjuknya mengarah ke wajah Menak yang memar dan mata Soemarto dengan sorot tajam, “Aku pastikan si bedebah itu hanya bisa meratapimu!” lalu Soemarto menyeret Panggih dan membawanya pulang meninggalkan Menak. Menak melihat Panggih yang menangis dan Panggih menatap Menak dengan mata penuh harap. Sesampainya di rumah, Soemarto langsung memasukkan Panggih ke dalam kamar dan menguncinya dari luar. Panggih menangis dan menyumpahi bapaknya menjadi anjing.
Udara yang dingin tak lagi dirasa oleh Panggih. Hatinya yang gelisah mengalahkan segala perasaan yang masuk ke tubuhnya. Ia hanya ingin Menak segera menemuinya dan rencana mereka untuk meninggalkan Sawahlunto bisa terwujud. Ia membayangkan bisa membangun kisah berdua bersama Menak tanpa harus dibebankan dendam akan cerita masa lalu orang tuanya dan cerita kelam orang-orang Slunto. Namun, di saat ayam jantan sudah mulai berkokok dari atas bukit, Menak tak juga muncul di hadapannya. Orang-orang mulai terjaga, menyiapkan segala keperluan untuk kembali kepada rutinitas. Kabut mulai memendar, meresap dalam dedaunan, namun kecemasan Panggih menjadi berlipat dan kebingungan yang membuncah. Tidak ada jalan untuk kembali kalau bukan mati.
***
“Jangan lagi kulihat kau bertemu dengan keturunan bedebah itu, Panggih!” kata Soemarto sembari mengasah parang yang biasa ia gunakan untuk berladang.
“Kau tak tahu bagaimana ayahnya itu memperlakukan kami.”
Panggih hanya diam sambil mengambil ranting-ranting dan beberapa kayu kering untuk dibakar di atas tungku. Di atas tungku yang satu lagi sebuah panci berisi nasi yang uapnya mengangkat-angkat tutup panci dan asap yang keluar dari dalamnya. Airnya keluar berkali-kali menetes ke tungku dan mengeluarkan suara-suara: tes-tes-tes.
“Mereka itu hanya jongos Belanda,” ucap Soemarto yang masih mengingat-ingat peristiwa yang tak pernah ia lupakan. Lalu ia menarik lengan bajunya dan melihat angka yang melekat pada pangkal lengan disepanjang hayatnya.
Lalu, Soemarto mulai menceritakan peristiwa yang membuat ayah Menak layak dimasukkan dalam daftar kebenciannya. Sejak ia dan ratusan para tahanan yang ada di beberapa tempat—rombongan Soemarto adalah gelombang keempat setelah gelombang yang didatangkan dari Medan dan Jawa—dibawa dari pelabuhan Batavia menuju pelabuhan Emmahaven. Dari Emmahaven mereka dikelompokkan dalam tiap-tiap gerbong dari sebuah lokomotif hitam menuju Sawahlunto.
Di dalam gerbong yang penuh sesak dengan para tahanan, aroma orang-orang yang tak pernah bersentuhan dengan sabun mandi bercampur dengan aroma batubara yang pecahan-pecahannya berserakan di segala tempat—hitam dan lengket, yang terlihat hanya pancaran mata-mata yang kosong dan masa depan dikegelapan terowongan-terowongan. Sesampainya di Sawahlunto, kaki, tangan, dan leher para tahanan itu kemudian dirantai satu-persatu. Pemerintah Hindia Belanda sengaja mengangkut mereka untuk dijadikan buruh tambang batubara tanpa dibayar sepeser pun, menganggap pekerjaan itu sebagai hukuman karena mereka telah berani melawan pemerintahan dan menghasut orang-orang untuk tidak tunduk kepada pemerintahan Hindia Belanda.
Tang-tang-tang! Terdengar bunyi besi-besi pada gerbong dipukul dengan keras dan meminta semua tahanan keluar dari gerbong. Dengan berjalan pelan-pelan karena kaki mereka dirantai berhubungan satu dengan yang lain, mereka berdiri dengan mata memicing-micing karena silau matahari, lalu melihat disekitar dikejauhan orang-orang memasukkan batubara ke lori-lori untuk diluncurkan ke gerbong-gerbong lokomotif hitam. Lalu terdengar keras suara mandor untuk meminta mereka semua tiarap. Soemarto awalnya ragu-ragu melakukannya, tetapi tiba-tiba dari belakang ia merasakan tendangan yang keras menghantam pinggangnya. Soemarto tersungkur dan bibirnya berdarah akibat mencium tanah berbatu. Belum sempat ia melihat siapa yang melakukan tendangan itu ia sudah menerima cambukan dua kali ke punggungnya. Setan! Umpatnya menahan perih.
“O ini yang akan jadi jagoan?” kata seorang mandor. “Sudah tebal kulitnya.”
Lanjut mandor itu sambil terkekeh. Beberapa mandor lain juga terlihat sedang memukuli para tahanan. Mereka yang lemah, sakit, dan tak sanggup berdiri dibawa dan dipisahkan dari yang lain dan setelah itu mereka tak pernah terlihat lagi. Lalu para tahanan dihitung satu per satu dan angka hitungan itulah yang kemudian melekat sebagai identitas tahanan. Nama dan identitas mereka semua hilang dan yang ada hanyalah angka-angka. Sebelum tahanan dibawa ke ruang-ruang gelap, mereka berbaris dan menerima stempel besi panas yang telah dibakar pada setiap lengan-lengan mereka. Ada yang berteriak menahan panas dan ada yang memejamkan matanya tanpa suara sedikitpun menerima tanda-tanda itu.
Setiap pagi, sebelum menuju lobang-lobang gelap, Soemarto dan para tahanan lain berbaris di depan tansi-tansi mereka. Soemarto berada di tansi Rante dengan orang Bali, Madura, dan Jawa; kaki dan tangan mereka dirantai saling berhubungan—suara besi rantai yang beradu sepanjang jalan seperti nyanyian kepedihan yang tak terkatakan. Para tahanan yang ada di tansi Tanah Lapang dan tansi Baru pun juga turut dirantai. Lalu mereka diperintahkan oleh mandor untuk berjalan perlahan-lahan serupa semut menuju sarang yang ada dibeberapa tempat.
Di depan mulut lobang yang kedalamannya entah berapa ratus meter telah tersedia blencong, sekop, dan lampu. Mandor-mandor memberi alat-alat itu ke para buruh tambang dan meminta mereka turun bersamaan dengan lori-lori hitam yang akan berisi penuh batubara. Semakin dalam turun ke dalam lobang semakin sulit bernapas dan ditambah aroma batubaru yang membuat paru-paru semakin mengkerut. Hampir tidak ada waktu istirahat. Mandor-mandor itu terus saja mencambuk para buruh yang kelelahan. Akibat kelelahan itu kadang mereka tak sempat menghindar dari lori-lori yang meluncur membawa batubara.
“Kau tahu Panggih, si mandor itu bahkan pernah membuang jatah makan kami,” ujar Soemarto “Mereka membuangnya sambil terkekeh-kekeh. Teman-temanku mati kelelahan dan mayat mereka dilemparkan saja ke jurang.” Sejak itu, Soemarto sangat mengingat perlakuan ayah Menak kepada dirinya dan beberapa tahanan lainnya.
Tetapi kenapa Menak yang mendapat limpahan kebencian? tanya Panggih dalam hatinya. Ia terus mengaduk-aduk nasi yang hampir matang dengan perasaan benci agar tak meninggalkan kerak di dasar panci.
***
Menak sudah terkepung. Tidak ada celah sedikitpun untuk ia bisa lari dari Soemarto. Menak mencoba memohon agar ia tidak diapa-apakan. Tetapi Soemarto telah berjanji pula dan telah datang bersama gerombolan pendendam: orang-orang dengan segala senjata di tangan mereka—mereka yang dulu pernah merasakan kepedihan di dalam lobang-lobang hitam; mereka yang dulu acap menerima cambukan, tendangan, dan umpatan; dan mereka yang dulu cuma bernama angka-angka. Malam itu, dingin udara mencapai 22 derajat dan rerumputan masih terlihat basah dan membuat lumpur hitam di mana-mana dan petrikor yang mengalahkan aroma batubara. Bagi Menak, ia tak punya pilihan: melawan adalah kemungkinan terbaik untuk bisa menepati janji kepada Panggih yang masih terus menunggunya di Batang Lunto dengan segala resiko.
Jambi, 25 Maret 2021
***
Penulis Ricky A Manik lahir dan besar di Jambi dan aktif menulis artikel ilmiah di jurnal-jurnal ilmiah dan menulis esai, cerpen, dan resensi di media lokal maupun nasional. Beberapa cerpennya terkumpul dalam antologi cerpen Swarnadwipa (2016) dan Tamsil Tanah Perca (2015). Saat ini bekerja sebagai peneliti di Kantor Bahasa Provinsi Jambi dan sedang menyiapkan buku kumpulan cerpennya.
sumber : kompas.id, 14 Okt 2021.