Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Dongeng dari Selatan Fort De Kock oleh Beri Hanna

Posted on Sab, 16 Okt 2021

Lucas van Pieter, seorang letnan yang bertugas di selatan Fort De Kock telah mencuri hati Anne Murdock lewat tatapan mautnya. Waktu itu mereka berdua tidak sengaja berpapasan di perkebunan kopi. Dan lewat sekuntum angin yang berembus, Anne Murdock terbius wangi lelaki tampan bertubuh tegap itu. Ia tersipu malu saat Lucas van Pieter menyapanya.

Sepulang dari perkebunan, Anne Murdock seperti lumpuh. Ia dapat merasakan ngilu merambat ke sekujur tubuh, menguasai dirinya akan kepurbaan harapan mendapat pelukan dari Lucas van Pieter.

Hingga hari menjadi gelap, Anne Murdock hanya terbaring di kasur. Ia gelisah dan amat menyesali peristiwa itu terjadi begitu singkat, tanpa pembicaraan sekadar berbasa-basi.

“Mengapa dia tidak memulai percakapan?” tanya Anne Murdock untuk dirinya sendiri.

**

Pagi hari ketika matahari belum muncul dan kuda masih di alam mimpi, Anne Murdock telah melompat dari kasur untuk memaksa si kuda meringkik dan memacu kaki-kaki kakunya berlari seperti di arena balapan.

Lucas van Pieter yang selalu tidur seperti ayam, terjaga karena mendengar hentakan kaki kuda. Ia bangkit dan mengintip dari jendela.

“Bagaimana perempuan itu tahu tempat tinggalku,” ia bergumam.

Dengan sikap seorang letnan, Lucas van Pieter menyambut kedatangan perempuan konyol itu. Ia tetap tenang meski Anne Murdock memasang wajah menggoda. Dan tanpa mengucapkan sepatah kata, Anne Murdock memeluknya dan menyatakan apa yang telah ia rasakan semalaman ini.

“Tatapan Tuan membuatku berani melakukan ini,” katanya.

“Aku harap Anda tidak sedang mengigau, Nona,” Lucas van Pieter berbisik sambil tangannya mengelus rambut Anne Murdock.

Anne Murdock bahkan tidak menundukkan kepala ketika Lucas van Pieter menatap bola matanya yang telah berlinang.

“Aku tidak pernah bertemu perempuan seperti Anda sebelumnya,” ucap Lucas van Pieter.

“Itu berarti tak ada orang selain aku yang lebih serius dari semuanya,” kata Anne Murdock.

Lucas van Pieter tahu itu kalimat godaan. Ia amat menyukai perempuan Belanda. Namun, untuk menunjukkan sikap lemah atas pernyataan cinta, itu bukan caranya sebagai seorang letnan. Ia tetap tegap dan menyilakan Anne Murdock untuk masuk dengan alasan angin pagi akan menusuk kulitnya yang lembut.

**

Di Garu, selatan Fort De Kock, Lucas van Pieter terkenal kejam. Ia pernah meracuni kerabat kerjanya hanya karena tidak berdoa sebelum makan. Ia juga pernah memotong leher seorang jenderal karena kesal dengan caranya menaiki kuda. Dan kepada buruh, Lucas van Pieter selalu bersikap tegas bahkan lebih sering seperti iblis. Ia selalu menghantam dan melecut punggung para buruh dengan atau tanpa alasan yang jelas.

Anne Murdock mula-mula tidak suka pada sikap kejam Lucas van Pieter yang demikian, namun entah kenapa, setelah terlalu sering melihat kekerasan yang dilakukan Lucas van Pieter, Anne Murdock semakin tertarik dan dalam hati ia selalu berharap tidak hanya seorang buruh yang harus mati di tangan Lucas van Pieter, melainkan beberapa dengan cara yang lebih keji.

Dan doa itu terjawab setelah seorang buruh bernama Amin, meregang nyawa atas amukan Lucas van Pieter. Banyak orang menyaksikan Amin dibuang ke dalam lubang pembakaran. Dan mendengar bagaimana suara Amin berseru meronta-ronta sebelum dagingnya menjadi abu, para buruh tak pernah terlihat duduk sedetik, mereka selalu bekerja siang malam hingga jatuh dan mati kelelahan.

**

Selain Amin korban pembakaran hidup-hidup, tentu ada Amin lain, dan Amin lain inilah yang berani pada Anne Murdock. Semasa menjadi buruh dan sering disiksa, Amin lain ini selalu berharap diberi kesempatan untuk membalas dendam. Dan saat Lucas van Pieter dan Anne Murdock berpesta anggur, Amin melihat peluang lebih berpihak padanya.

Jauh sebelum kesempatan itu ada, Amin sering membicarakan hal ini pada temannya sesama buruh, dan temannya menganggap Amin orang yang berbahaya. Larut waktu berlalu, tak ada seorang yang ingin dekat dengan Amin, sebab mereka tak ingin ada masalah serius dalam hidup mereka.

Dan di malam itu, Amin membuktikan semuanya. Lucas van Pieter yang menyeret Anne Murdock ke dalam kamar—setelah dikuasai anggur—, telah tertidur pulas sebelum menindih Anne Murdock. Dan Anne Murdock yang seperti terbang, tidak menyadari Aminlah yang menguasai tubuhnya sebanyak jam kerjanya, alias tiada henti sampai Lucas van Pieter mendapat kesadarannya kembali, lalu melihat kenyataan Anne Murdock ditunggangi seperti kuda lumpuh. Lucas van Pieter marah dan memecut punggung Amin sampai ia mampus. Dan Anne Murdock yang kesetanan saat itu, ditinggalkan Lucas van Pieter setelah lebih dulu tubuhnya dikencingi.

**

Lewat selembar surat, kuasa wilayah Garu, selatan Fort De Kock diserahkan seutuhnya pada Anne Murdock. Dan Anne Murdock sering tidak ditakuti oleh para buruh, sebab wajahnya teramat menggairahkan. Hampir tiap malam, satu per satu buruh menjadi berani. Mereka seperti dirasuki hantu Amin untuk menggarap Anne Murdock.

Semakin hari Anne Murdock semakin kewalahan. Hampir setiap buruh telah menidurinya. Hingga pada malam ketika Anne Murdock merasa perutnya membesar, ia lari dari Garu dengan perahu buatan tangan buruh.

Dalam perjalanan Anne Murdock selamat sampai di sebuah pulau. Ia disambut lelaki Belanda lain bernama Gockn Hern, lebih rupawan serta kejam dibanding Lucas van Pieter. Namun setelah sempat saling berhubungan, Gockn Hern terpaksa meninggalkan Anne Murdock  setelah rahasia Anne Murdock yang diperkosa buruh, terbongkar olehnya. Dan yang lebih menyakiti Anne Murdock, dia bukan satu-satunya orang yang ditinggalkan, melainkan korban dari banyaknya yang lain. Anne Murdock tahu setelah banyak bercerita dengan para buruh.

Dan seperti yang telah terjadi, Anne Murdock menjadi pemimpin di wilayah baru itu. Untung baginya, karena buruh-buruh lebih kalem dan lebih tunduk padanya dibanding tempat perkebunan yang dulu. Sampai tak ada satu yang berani melihat betis atau leher Anne Murdock, meski mereka diajak bicara dan berani bercerita banyak hal. Sampai Anne Murdock melahirkan dan bayi itu dibuangnya. Dan dia pergi entah ke mana, tanpa diketahui oleh seorang pun.

**

Bandol, seorang buruh yang di masa lalu sering ditendang kepalanya oleh Gock Hern, menyelamatkan bayi itu setelah empat puluh delapan jam terjepit di sebuah batu. Bandol merawatnya dan memberinya nama Van Jan Melk, persis seperti nama orang Belanda yang pernah mempekerjakannya sebelum diserahkan pada Gock Hern.

Hingga Van Jan Melk tumbuh dewasa, Bandol dibunuh dengan cara dipanggang hidup-hidup. Bukan sebuah rahasia bahwa pantat Van Jan Melk sering disodom Bandol, karena semua buruh sering dibunuh lantaran menceritakan kebiasaan Bandol menyodom sapi. Gock Hern benci hal semacam itu dan dia lebih suka membunuh setiap waktu.

Setelah membunuh Bandol, Van Jan Melk mendapat kekuasaan. Tidak lain karena ia orang Belanda yang mampu berpikir dan membaca. Dan entah benar atau salah apa yang dibaca olehnya, tak satu pun orang dapat menjamin, sebab semua buruh di wilayahnya buta huruf. Van Jan Melk hanya mengangkat surat, menerawang dan menyimpulkan, lalu memberi tugas pada semua buruh untuk bekerja seperti mesin.

Van Jan Melk lebih banyak memerintah sesuai dengan apa yang ada di pikirannya. Dan tidak heran bila angka kematian buruh di wilayah itu lebih tinggi ketimbang wilayah lain. Kadang Van Jan Melk meminta buruh mencongkel batu yang ada di atas gunung, kadang memindahkan pohon-pohon, kadang menguras sungai supaya ia dapat melihat dasarnya.

Van Jan Melk selalu bersikap kejam sampai ia bertemu perempuan yang membuatnya jatuh cinta. Tidak lain perempuan itu orang Belanda yang memohon diberi kesempatan hidup karena ia putus asa setelah dihinakan oleh buruh bernama Amin.

Tidak butuh waktu lama bagi Van Jan Melk untuk menemukan Amin, apa lagi membunuhnya. Dan setelah membunuhnya, Van Jan Melk menyatakan cintanya pada perempuan Belanda itu. Mereka saling mengasihi dan memutuskan untuk melaut ke tempat yang belum pernah mereka kunjungi.

Sampai di sebuah pulau tanpa penghuni, mereka turun dan membangun sebuah pondok. Beberapa waktu setelah hidup bersama di pulau itu, perempuan Belanda melahirkan seorang bayi laki-laki yang semakin hari semakin mirip Van Jan Melk.

Hingga di usia tuanya, Van Jan Melk mati dalam pelukan perempuan Belanda yang dicintainya. Dan perempuan Belanda mati dalam pelukan Van Jan Melk. Sedangkan anak mereka yang bernama Melk Jan, menyaksikan kematian kedua orangtuanya, tanpa rasa bersalah.

Dan Melk Jan kini kehilangan arah. Ia berjalan tanpa tujuan dan menemukan tulang rangka manusia dalam keadaan setengah hangus. Dan entah dari mana Melk Jan yakin, tulang rangka itu adalah kakeknya yang malang karena mati dibakar.***

Beri Hanna adalah penulis kelahiran Bangko, Jambi. Ia sering terlibat dalam beberapa pertunjukan teater berbasis riset tubuh dan tata ruang, baik sebagai dramaturg, aktor, dan tim artistik bersama Tilik Sarira. Ia memenangi Sayembara Novel Renjana, 2021. Ia bergiat di Kamar Kata Karanganyar. Bukunya akan terbit berjudul Menukam Tambo.

sumber : kompas.id, 16 Okt 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme