Cerpen : Naq Gomboh Selalu Menunjukkan Wajah Kesakitan oleh Arianto Adipurwanto

Naq Gomboh disebut mati bermimpi. Meski tak seorang pun dapat memastikan apakah ia bermimpi sebelum mengembuskan napas terakhirnya. Ketika Maq Boke, suaminya, terbangun pagi itu dan membangunkannya untuk meminta segelas kopi, Naq Gomboh sedikit pun tidak bergerak. Tubuh gempalnya terbaring di atas dipan, bergeming seperti batu kali. Kesal, Maq Boke melayangkan ancaman demi ancaman.

”Saya potong lehermu pakai parang ini!” teriak Maq Boke, seolah parang telah ada di tangannya.

Sumpah serapah Maq Boke berlanjut. Berloncatan dari mulutnya tanpa halangan. Ia sangat sering marah-marah seperti itu dan membuatnya menjadi sangat terlatih. Sering ia terpaksa menyalakan api di tungku dengan tangannya sendiri. Hal itu ia lakukan ketika Naq Gomboh sakit dan benar-benar tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Keadaan yang kemudian semakin sering berulang.

Setiap kali ada kesempatan, Naq Gomboh selalu mengabarkan kepada para warga aneka penyakit yang ia derita. Ia bercerita dengan penuh semangat dan kebanggaan seperti orang yang tengah memberitahukan kabar bahagia. Setiap bercerita ia akan menunjukkan wajah kesakitan meskipun kadang ketika ia tengah mengeluarkan kata-kata itu ia sedang tidak merasakan sakit apa pun. Tak seorang pun yang begitu menghayati penyakit seperti dirinya.

Para warga mengangguk-angguk, sangat bersepakat dengan aneka kesimpulan hidup yang berhasil Naq Gomboh petik selama menjalani masa-masa susahnya. ”Saya tahu bagaimana rasanya di posisi epe,” kata mereka. Tak cukup dikatakan satu orang, yang lain ikut pula mengulang apa yang telah dikatakan rekan mereka.

Rasa puas karena telah berhasil menarik simpati para warga memberi Naq Gomboh tenaga untuk menerima berbagai perlakuan buruk suaminya. Ancaman, kutukan, aneka perintah yang menurutnya hanya mampu dikerjakan laki-laki, sampai hinaan untuk seluruh nenek moyangnya.

Pernah orang-orang masih dapat membedakan kapan Naq Gomboh dalam keadaan sehat walafiat dan kapan ia sedang menderita sakit. Namun, beberapa tahun terakhir dalam hidupnya, ia selalu terlihat pucat, lesu, dan tertangkap basah tengah meringis kesakitan. Bahkan di dalam tidurnya ia sering berteriak-teriak dan dari kedalaman tidurnya terungkapkan hal-hal paling mengejutkan telinga.

Naq Gomboh menceritakan ulang sebuah peristiwa ketika ia diperebutkan oleh kedua orangtuanya di sungai. Peristiwa yang melemparkannya ke tangan perempuan tua miskin yang rela membesarkan anak yang tidak lahir dari rahimnya sendiri hanya untuk menghindarkan diri dari kesepian selama sisa-sisa hidupnya. Naq Gomboh mengungkapkan kembali kata-kata kasar yang ia lontarkan kepada seorang laki-laki yang mendesaknya ke semak-semak dan kemudian mengiriminya penyakit kulit yang tak kunjung minggat dari tubuhnya hanya lantaran ia tidak membiarkan selangkangannya membuka untuk laki-laki itu. Penyakit kulit yang membuatnya harus memakan daging aneka binatang; babi, trenggiling, dan juga seekor tokek gemuk hamil yang ditangkap susah payah seorang tetangga setelah Naq Gomboh menjanjikan sepiring ikan goreng sedaq minum tuak kepada laki-laki itu.

Ketika demam togel melanda hampir seluruh isi kampung, banyak yang mengendap-endap di dekat rumah Naq Gomboh dan mendengar baik-baik apa saja yang Naq Gomboh ungkapkan dalam tidurnya. Nama-nama orang yang ia sebut dihitung jumlah hurufnya dan kemudian dikupas kehidupan mereka satu-per satu. Angka-angka terangkai, diputar balik, bongkar pasang. Kala itu jeritan para warga yang tak kuasa menahan pahitnya kekalahan sering sekali terdengar, memutus tidur para warga.

Demam togel berlangsung cukup lama. Para warga sangat sering mendatangi rumah Naq Gomboh bahkan setelah puncak musim togel berlalu. Mereka membawa tuak dan aneka lauk-pauk. Meskipun sangat banyak uang mereka melayang, tak sekali pun mereka menyalahkan Naq Gomboh. Setelah angka-angka keluar, mereka mengutuk dan mengumpat diri mereka sendiri membabi buta karena menganggap diri merekalah yang tidak kuasa menerjemahkan maksud mimpi Naq Gomboh.

Sesungguhnya para warga tidak selalu kalah. Satu dua dari mereka berhasil memperoleh kemenangan. Namun, uang kemenangan itu dengan cepat habis untuk membeli angka-angka baru yang mereka yakini akan tembus. Maq Boke yang semula tidak percaya pada kata-kata Naq Gomboh ikut juga sekali dua kali sebelum kemudian ia kehabisan sedikit harta benda yang ia punya. Radio, tindik Naq Gomboh, jeriken, dan terakhir daun pintu rumah mereka. Tindakan menjual daun pintu itu membuat rumah mereka selalu terbuka, dan anjing-anjing serta ayam kemudian aneka makhluk-makhluk yang telah lama tidak muncul bebas keluar masuk rumahnya.

Salah seorang dukun yang didatangkan untuk mengobati sakit kepala Naq Gomboh suatu hari berkata, ”Pintu ini mengundang penyakit!” Dengan mulut menguarkan bau tuak sang dukun menceritakan berbagai hal yang membuat para warga terkejut. Kata sang dukun, persis di kebun depan rumah Naq Gomboh melintas jalan, hanya beberapa jengkal di atas tanah. Jalan itu lebar dan ramai. Jalan raya para makhluk halus. Dan ketika sang dukun berkata seperti itu tiba-tiba tangannya menunjuk, “Itu, rombongan dari Gunung Rinjani!”

Para warga kemudian sering mendengar suara berisik dari tempat itu seolah telinga mereka telah diizinkan untuk mendengarkan apa yang tadinya tertutup bagi mereka. Suara mendengung, meraung, suara pesawat, suara sepeda motor, suara gendang, keroncong sapi, suara gemerincing uang logam. Sering sekali para warga yang datang ke rumah Naq Gomboh tersandung dan tersungkur jatuh dan ketika melihat ke tanah tak ada apa-apa yang membuat kaki mereka tersandung.

“Ada kucing di situ, bisa memanjang. Lebih panjang dari pohon kelapa!” kata seorang perempuan tua suatu hari. “Dia yang buat kita tersandung!”

Sejak kedatangan sang dukun, Naq Gomboh semakin sering berada di tempat tidur. Tubuhnya membesar oleh penyakit. Rintihan dan sumpah-serapah memberondong keluar dari mulutnya. Maq Boke sering mengumpatnya habis-habisan dan mendoakan ia cepat mati. Sepanjang malam Lelenggo gaduh oleh perkelahian mereka.

Naq Gomboh semakin sakit dan Maq Boke semakin ingin menyingkirkannya dari dunia.

Perkelahian-perkelahian ini menjauhkan orang-orang yang mencari nomor togel dan bersama satu-satunya warga yang pernah merasakan kemenangan besar, mereka memburu makam-makam keramat, meminta angka yang membuat mereka dapat menyingkirkan seluruh kesusahan hidup yang mereka alami. Setiap bangun pagi dengan tubuh terasa akan demam karena deraan angin malam, mereka yang tidak mendapatkan apa-apa dalam tidur mereka langsung sibuk mencari-cari tempat lain yang lebih keramat dan menjanjikan.

Satu dua orang mengaku mendengar bisikan dalam mimpi mereka untuk tidur di kebun persis depan rumah Naq Gomboh. Dari cerita mereka para warga benar-benar yakin di tempat itu melintang jalan raya yang tidak pernah sepi. Bahkan para warga dapat mendengar denting-denting senjata dan tidak ragu lagi perkelahian hebat tengah berlangsung. Para pemabuk yang sering lewat di tempat itu mengaku sering melihat orang-orang yang telah mati tengah duduk mencangkung, menyangkul, berjalan hilir mudik, dan melakukan apa pun yang mereka sukai selama masih di dunia. Pagi hari ketika Naq Gomboh diketahui telah terbujur kaku di dipan tempat tidurnya, seorang pemabuk yang berjalan sempoyongan dari rumah seorang warga mengaku bertemu dengan perempuan itu.

“Tadi di depan dia berdiri suruh saya mampir!” kata pemabuk itu. Maq Boke tengah berdiri dekat dipan, telunjuknya menuding-nuding ke udara. Beberapa warga berdiri di dekatnya dan berusaha melihat apa yang sesungguhnya telah terjadi. Sebagian warga yang tidak bisa masuk harus puas menunggu di halaman. Tadi para warga itu berduyun-duyun datang karena mendengar suara keras mengkarak-karak Maq Boke dan mendengar ia mengancam akan memotong leher Naq Gomboh.

Maq Boke benar-benar tidak terkendalikan. Ia merasa telah dihina oleh Naq Gomboh yang tidak kunjung bangun membuatkan kopi untuknya. Baginya, Naq Gomboh telah sangat sering menolak permintaannya. Dua hari terakhir Naq Gomboh begitu sehat, tubuhnya menjadi ringan, dan segala sesuatu di rumahnya dibersihkan. Ia seperti tengah menyiapkan kedatangan tamu paling terhormat. Tiga kali sehari ia pergi ke sungai dan pulang menguarkan aroma harum sabun mandi. Ia bahkan berkali-kali berkata kepada dirinya sendiri betapa ia ingin makan daging ayam kuah kuning dengan racikan daun kedondong.

Satu dua orang mengaku mendengar bisikan dalam mimpi mereka untuk tidur di kebun persis depan rumah Naq Gomboh. Dari cerita mereka para warga benar-benar yakin di tempat itu melintang jalan raya yang tidak pernah sepi. Bahkan para warga dapat mendengar denting-denting senjata dan tidak ragu lagi perkelahian hebat tengah berlangsung.

Semua itu membuat Maq Boke yakin seluruh penyakit telah terangkat dari tubuh Naq Gomboh. Karena itu, ia berpikir Naq Gomboh harus bangkit dari tidurnya dan memenuhi permintaannya. Namun, apa pun yang ia katakan, Naq Gomboh tetap tidak bergerak. Sedikit pun tidak berupaya untuk memenuhi permintaannya. Ancaman-ancaman yang ia lontarkan pun tidak membuat Naq Gomboh bangun. Geram, ia keluar mengambil parang yang baru sehari sebelumnya ia asah. Ia teriak-teriak memaksa Naq Gomboh bangkit, tetapi kata-kata lantang-serak itu tidak berpengaruh apa-apa. Maq Boke menetak keras tiang rumahnya dan tetap tidak ada yang berubah. Ia berteriak-teriak masuk mengancam akan memotong leher Naq Gomboh.

Para warga yang takut Maq Boke benar-benar melaksanakan kata-katanya langsung berusaha menghentikannya. Sebagian berusaha membangunkan Naq Gomboh dan memintanya berlari menyelamatkan diri. Begitulah mereka mengetahui Naq Gomboh benar-benar telah tiada. ”Kemarin dia ke sungai, segar-bugar,” kata salah seorang warga. ”Dia mati bermimpi pasti,” tambah yang lain.

Maq Boke masih tidak percaya ketika para warga telah menyelimuti tubuh gempal Naq Gomboh dengan selembar kain apak yang didapatkan dari jemuran yang melintang dari satu tiang ke tiang lain di dalam rumah itu. Ia masih tetap tidak percaya bahkan ketika beberapa jam kemudian tubuh Naq Gomboh diusung ke sudut kampung untuk dikuburkan. Tengah malam ia terdengar melengking nyaring dan menetak-netakkan parangnya. Sementara dari kebun depan rumahnya terdengar suara riuh rendah seperti teriakan para warga yang bersorak-sorai menyemangati dua ayam yang tengah bertarung dengan taji terikat kuat di kaki mereka.*

2 Desember 2020

Biodata:

Arianto Adipurwanto lahir di Selebung, Lombok Utara, 1 November 1993. Kumpulan cerpennya berjudul Bugiali (Pustaka Jaya, 2018) masuk lima besar prosa Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2019.

sumber : kompas.id, 11 Jun 2022.

Tinggalkan komentar