Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Impian Tunggul Ametung Lenyap oleh Risen Dhawuh Abdullah

Posted on Ming, 12 Jun 2022

Kamu begitu bahagia atas apa yang kamu dapatkan. Kenikmatan yang Dewata berikan, sungguh tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Kamu pernah bertanya-tanya dalam hati seakan menyalahkan Dewata meski pada akhirnya kamu melontarkan ucap terima kasih.

”Mengapa Dewata memberikanku kebahagiaan dengan cara menciptakan peperangan? Bukankah perang hanya meninggalkan kesengsaraan?” batinmu.

Masih segar dalam ingatanmu, ketika kamu dipanggil saudaramu, Kertajaya yang baru saja pontang-panting menyelamatkan diri dari prajurit-prajurit Kerajaan Purwwa. Ia menceritakan kepadamu tentang apa yang terjadi.

”Pada intinya aku meminta bantuanmu,” kata Kertajaya kepadamu. ”Aku tidak mau Daha hancur oleh Purwwa.”

Kamu memahami apa yang dirasakan saudaramu. Dengan segenap kesanggupan yang mantap, akhirnya kamu menyusun kekuatan. Kamu mengirim telik sandi untuk mengetahui keadaan pasukan Purwwa.

Singgasana Kertajaya terancam. Jika Daha hancur, putuslah silsilah. Kamu memang sadar diri dalam membantu Kertajaya. Kertajaya telah berperan banyak dalam kehidupanmu, termasuk menjadikanmu mempunyai kesaktian yang tiada tanding. Purwwa pun berhasil kamu kalahkan.

Maka di situlah awal kebahagiaan yang kamu agung-agungkan hingga sekarang. Kertajaya mengangkatmu menjadi akuwu [1] di Tumapel. Tumapel hidup dalam kemakmuran di bawah kepemimpinanmu. Segala kerusuhan yang ada di Tumapel selalu bisa kamu redam.

”Sebenarnya tidak ada yang istimewa, aku hanya melakukan kewajibanku sebagai seorang pemimpin, seperti yang dipesankan Kakang Kertajaya padaku. Dan lagi, semua ini tidak akan terjadi, tanpa restu dari Dewata,” responsmu kepada Kebo Ijo, salah satu tangan kananmu setelah ia memuji kinerjamu.

Semenjak kamu diangkat akuwu oleh Kertajaya, kamu memang melakukan banyak terobosan untuk kemajuan Tumapel. Kamu merekrut punggawa-punggawa untuk keamanan Tumapel. Juga beberapa orang yang kamu percayai untuk menjadi tangan kananmu.

Selain itu kamu juga membangun istana di Tumapel untuk kepentingan pemerintahan. Istana itu kamu namai Pakuwon. Baru-baru ini kamu menetapkan Kutaraja sebagai sentra perdagangan. Harapanmu, hal itu bisa berimbas ke Tumapel; menjadi wilayah yang terkenal di Jawa.

***

Kamu pernah mendengar ucapan dari salah satu punggawamu bahwa kekuasaan memang cenderung membuat seseorang menjadi rakus. Berkuasa membuat seseorang menginginkan apa pun. Kamu mulai mengakui itu. Meski pada awalnya semua yang kamu lakukan itu untuk tujuan kemakmuran Tumapel.

Kini telah kamu berubah. Kamu mulai memperbolehkan perjudian. Kamu berdalih kalau kesenangan itu perlu saat istrimu menegurmu. Tidak sampai di situ, pikiranmu melayang, menemukan angan-angan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Bagaimana jika aku memimpin Daha? Ucapmu dalam hati.

Memimpin Daha? Dua kata itu terus membayang pada hari-harimu.

”Semalam aku bermimpi, wahyu keprabon [2] terbang keluar istana dan menghilang, Kakanda. Hentikan semuanya Kakanda. Ini peringatan dari Dewata. Kakanda bukan orang yang ditakdirkan memimpin Daha,” kata Ken Dedes setelah mengetahui rencanamu membangun benteng pertahanan.

Kamu menganggap mimpi hanyalah bunga tidur semata. Pembangunan benteng-benteng pertahanan di Tumapel dilakukan. Kertajaya mendengar hal itu langsung murka dan memanggilmu. Kamu tidak pernah ada pembicaraan dengannya mengenai pembangunan benteng-benteng tersebut.

“Tentu yang Kakang bicarakan tidaklah benar. Mana mungkin saya memberontak? Kakang telah berjasa besar kepada saya. Pembangunan benteng semata-mata untuk meminimalkan tindak kejahatan. Demi rakyat, Kakang,” ucapmu.

Kamu melanjutkan dan menegaskan kembali bahwa adanya benteng-benteng tersebut membuat orang-orang yang akan berbuat jahat berpikir dua kali. Sebab untuk memasuki Tumapel, akan ada pemeriksaan dari penjaga-penjaga yang sudah disiapkan di setiap pintu masuk.

Kertajaya pun meminta maaf kepadamu. Kamu dalam hati tersenyum dan membodoh-bodohkannya. Dengan adanya benteng tersebut membuat segala hal yang sedang berlangsung di Tumapel tidak banyak diketahui orang, termasuk penyiapan armada perang!

***

Istrimu sedang mengandung buah cinta denganmu. Ia tidak lagi gelisah karena tindakan-pengorbananmu untuk Tumapel. Sementara angan-anganmu semakin mengembang ke mana-mana. Jika perjuanganmu berhasil, tentu kamu akan memberikan singgasana pada anakmu. Kamu akan dikenang sebagai orang yang pernah memimpin Daha.

Lalu kapan impianmu akan terwujud? Kamu mendengar selentingan bahwa Kertajaya kembali curiga dan waswas atas apa yang kamu lakukan. Dari kabar itu, ada seseorang yang menghasut untuk membunuhmu.

”Mana mungkin aku mati dengan mudah? Lagi pula, aku yakin Kertajaya tidak semudah itu terhasut.”

Kamu memahami dirimu sendiri, kalau kamu memang sakti. Sepanjang hidupmu belum pernah ada satu pun orang yang bisa mengalahkanmu dalam olah kanuragan.

”Kakanda harus menyembunyikan diri. Saya yakin, kabar itu bukan sekadar kabar,” ucap istrimu.

Kamu tertawa terbahak-bahak.

”Kabar itu hanyalah kabar yang diembuskan oleh orang-orang yang tidak suka denganku,” katamu.

Apakah itu hanya sekadar kabar? Tiba-tiba dalam hatimu keluar ucapan demikian. Kamu terus meyakinkan kalau itu hanyalah kabar yang belum tentu benar. Ketika istrimu kembali mengingatkanmu, kamu membentaknya. Menyuruhnya untuk diam.

Pertanyaan itu ternyata tidak bisa hilang. Pertanyaan itu membuatmu teringat dengan apa yang pernah istrimu impikan, wahyu keprabon terbang meninggalkan istana.

Maka dengan pikiran kacau kamu datang menemui Empu Gandring. Seorang empu yang terkenal linuwih [3] yang kamu rekrut jadi punggawa di Tumapel untuk memproduksi senjata. Kamu meminta pendapat tentang mimpi istrimu.

Empu Gandring hanya bilang kalau itu hanyalah sebuah mimpi. Dalam menjawab, Empu Gandring tidak begitu antusias. Kamu kecewa, tidak sesuai yang kamu harapkan.

”Keris yang sedang dipegang Empu terlihat bagus sekali,” ucapmu. Empu Gandring menimang-nimang sebuah keris. Keris itu meski belum jadi, kamu bisa merasakan sesuatu yang tidak enak dari keris itu.

”Ini pesanan Ken Arok. Kurang lebih lima bulan yang lalu ia memesan,” kata Empu Gandring.

***

Keris yang katanya pesanan Ken Arok itu membuatmu bergidik. Kemarin saat hendak pulang dari kediaman Empu Gandring, dari keris itu keluar seekor naga yang menakutkan, sorot matanya tertuju kepadamu. Kamu tergeragap dan hampir saja berteriak. Melihat tingkahmu, Empu Gandring bertanya, ada apa dan seketika naga itu hilang? Kamu tidak mengaku yang sebenarnya.

Naga itulah yang membuat kamu terganggu. Kamu padahal berharap, sepulang dari kediaman Empu Gandring kamu mendapat sesuatu hal yang membuatmu tenang setelah terus memikirkan mimpi dan kabar yang mengatakan Kertajaya akan membunuhmu. Nyatanya tidak. Sekarang ditambah bayangan naga, keris, dan Ken Arok.

Kamu terus mencoba untuk tenang dan berupaya untuk berpikir, apakah ada hubungan antara mimpi, kabar, naga, keris, dan Ken Arok? Kamu memanggil Ken Arok.

”Katakan sejujurnya, mengapa kamu memesan keris? Aura keris itu menakutkan sekali, aku tahu itu bukan keris sembarangan,” ucapmu setelah kamu mengatakan kalau kamu tahu, dirinya memesan keris pada Empu Gandring.

Ken Arok terlihat tenang. Matamu menyorot penuh ke arahnya.

”Memang saya memesan keris, Gusti. Tapi bukan atas keinginan saya. Saya hanya disuruh oleh Kebo Ijo. Saya juga tidak tahu, mengapa ia memesan keris itu dan dikerjakan begitu lama,” ucap Ken Arok.

”Aku merasa ada yang kamu tutup-tutupi! Keteranganmu belum lengkap!”

Ken Arok tidak mengatakan apa-apa. Ia terus berucap kalau ia tidak tahu mengapa Kebo Ijo memesan keris itu. Kamu memanggil Kebo Ijo. Pemanggilan tersebut tanpa sepengetahuan Ken Arok.

Kebo Ijo membenarkan kalau dirinya memesan keris kepada Empu Gandring. Kamu terus mengejar Kebo Ijo dengan berbagai pertanyaan, supaya alasan memesan keris terungkap. Dari jawaban-jawaban Kebo Ijo memang terkesan menyembunyikan sesuatu. Kamu tidak menyerah. Kebo Ijo masih bertahan.

Kamu terus mengejar dengan pertanyaan. Sekarang kamu juga menyiksa Kebo Ijo hingga ia kesakitan. Kamu menendangnya, memukulinya, sampai mengacungkan keris ke arahnya. Akhirnya Kebo Ijo mengaku yang sesungguhnya kalau ia disuruh oleh Kertajaya untuk membunuhnya dengan pesanan keris dari Empu Gandring karena ternyata Kertajaya berhasil membuktikan kalau kamu akan memberontak.

Spontan, keris yang kamu pegang langsung mendarat di perut Kebo Ijo.

“Perlu diketahui, Ken Arok juga tidak senang dengan Gusti. Ia menghendaki kematian, Gusti,” ujarnya terbata-bata. Kebo Ijo mati.

Mendengar itu, telingamu seperti menangkap suara guntur. Ken Arok? Menghendaki aku mati? Kamu benar-benar tidak menyangka. Dua orang yang kamu istimewakan telah mengkhianatimu.

Kamu sekarang bisa percaya kalau mimpi itu tidak hanya sekadar mimpi. Kabar itu tidak hanya sekadar kabar. Kamu akan dibunuh dengan keris yang dipesan oleh Kebo Ijo kepada Empu Gandring. Dan Ken Arok? Kamu tiba-tiba menjadi ingat kalau beberapa waktu lalu ada kabar yang lain, kalau Ken Arok dikabarkan jatuh cinta kepada istrimu.

Sekarang pikiranmu kisruh. Kamu membayangkan kekuasaanmu hilang. Kamu mati. Kertajaya semakin jaya. Ken Arok menggantikan posisimu sebagai suami Ken Dedes. Kisruh. Hanya kisruh yang ada. Saat ini, yang kamu bisa hanya bertanya, apa yang harus aku lakukan?

Keterangan:

[1] jabatan setingkat camat

[2] restu dari para leluhur

[3] lebih, andal atau ahli

Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Alumnus Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2021. Menulis kumpulan cerpen Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji. Bermukim di Bantul, Yogyakarta. Bila ingin berkomunikasi bisa lewat @risen_ridho.

Alit Ambara, perupa tinggal di Yogyakarta yang aktif di Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI).

sumber : harian Kompas edisi 12 Juni 2022 di halaman 10 dengan judul “Impian Tunggul Ametung Lenyap”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme