Cerpen : Obrolan Para Baboe oleh Lia Laeli Muniroh.

Aku masih menyodokkan sapu ijuk ke bawah jemuran. Gagang sapu berwarna biru tua itu terus saja berulang kali mengambil daun-daun pohon randu yang jatuh beterbangan. Bukan dari pohon di halaman rumahku, melainkan dari kebun belakang tempatku tinggal, entah milik siapa.

Aku sendiri tinggal di daerah ini baru lima tahun. Sebelumnya telah mengontrak berkali-kali pindah rumah. Di deretan perumahan ini aku tinggal dengan tetangga-tetangga yang kebanyakan pendatang. Rumah dengan ukuran tidak lebih dari sebelas kali tujuh meter. Saat transaksi, katanya rumah tipe 36. Tidak terlalu besar. Tapi, tidak juga terlalu kecil untuk ukuran aku yang memiliki satu anak.

Setiap pagi, aku seperti baboe, harus membersihkan bagian depan rumah. Urusan dalam rumah jangan ditanya, semua aku kerjakan sendiri. Bukan karena berat hati melakukan semua itu. Alasannya, bagian depan rumah sering sekali kotor. Apalagi memasuki musim kemarau debu-debu lebih banyak dan daun-daun yang mengering ikut terbang. Hingga mengendapkan dedaunan di teras rumahku.

Memang bukan hanya rumahku yang terkena imbasnya, semua rumah juga sama, penuh dengan daun-daun randu. Jika tidak dibersihkan, tentu aku malu dengan tetangga. Memangnya penghuni rumah tidak ada kerjaan? Serba salah ya jadi perempuan. Apalagi bekerja di rumah via online yang tidak terlihat berseragam dan biasa pergi berdinas. Berangkat pagi pulang sore. Alhasil, diam di rumah dengan seabreg pekerjaan pun tanpa ada harganya. Jika rumah tidak rapi. Sudah dipastikan aku jadi kambing hitam.

Rumahku, urutan ke-tujuh dari dua belas rumah yang saling berdempetan. Antara satu rumah dengan yang lainnya hanya dibatasi dengan dinding tembok. Aku bersebelahan dengan rumah pasangan dosen di sebelah kiri. Belakangan dia hanya mengajar via online, Zoom meeting, katanya. Sementara sebelah kananku, dia bekerja sebagai sekuriti sebuah bank pemerintah dan istrinya di perpustakaan daerah.

Aku sendiri seorang pekerja freelance yang semua waktuku kuatur sendiri. Lebih tepatnya jualan online. Sementara, suamiku bekerja di maskapai penerbangan milik mantan menteri kelautan. Siapa lagi jika bukan menteri yang terkenal dengan slogan “Tenggelamkan.”

Baca juga: Tuan Pengarang

Daun-daun itu bukannya selesai aku bersihkan. Malah datang lagi yang baru. Angin memang tidak bersahabat padaku pagi ini. Sudah aku bangun kesiangan karena banyak dikejar deadline pengiriman barang. Suamiku belum pulang sudah sebulan. Lengkap sudah sialku pagi ini. Siapa sih sebenarnya yang telah menanam pohon randu itu. Aku mengomel sendirian.

Di rumah sebelah yang mengerjakan semua pekerjaan rumah ada pekerja rumah tangga (PRT). Bahasa kasarnya baboe. Hampir semua di tempatku tinggal memakai jasa baboe. Meskipun sebenarnya mereka berasal dari tetangga luar perumahan. Mereka sengaja mengadu nasib menjadi pekerja rumah tangga di komplek yang aku tempati. Sesekali aku juga sering bertegur sapa dengan mereka. Mereka datang di pagi hari saat majikan mereka berangkat bekerja dan pulang di sore hari saat majikan tiba di rumah.

Bibirku tak berhenti mengomel, mengutuk daun-daun yang beterbangan tiada henti. Daun-daun itu seakan menguji kesabaranku. Dari depan rumahku terdengar seorang baboe yang berbicara dengan keras.

“Kenapa kamu diam di depan selokan?”

“Nunggu si Juna lagi beol.”

Juna, nama lengkapnya Arjuna. Anak usia dua tahun yang lagi aktif-aktifnya. Kadang dia menangis dan marah-marah seharian. Kadang aku juga kesal karena tangisannya tak habis-habis. Anakku jadi terganggu tidur siang gara-gara tangisan si Juna. Si Juna sering menyuruh pengasuhnya agar pulang sambil bentak-bentak tak keruan. Mungkin itu efek diasuh oleh orang lain. Tentu saja dengan perkataannya yang masih cadel, ibunya mengajar di sebuah sekolah menengah atas. Sedangkan ayahnya anggota TNI yang jarang pulang. Dia biasa ditinggalkan dan diasuh oleh Bi Mun.

“Si Junanya mana?”

“Lagi sembunyi di bawah meja makan. Katanya aku jangan masuk rumah.”

Bi Mun, wanita yang kira-kira berusia empat puluh tahun. Suaranya selalu keras. Padahal orangnya baik. Dia pernah menawarkan tahu mentah kepadaku. Katanya tahu buatan suaminya tidak tahan lama. Tandanya tidak memakai pengawet apa pun. Aku pun sempat membelinya. Si Juna terdengar memanggil-manggil Bi Mun.

“Bi … pulang sana.”

“Gimana mau pulang, ntar beol-nya mengering. Siapa yang akan cebokin kamu, Arjuna?

“Bibi pulang …. “Aneh-aneh memang tingkah anak-anak jaman sekarang. Si Juna terlihat mengintip dari balik kaca rumahnya, sementara Bi Mun menunggu di luar carport dekat selokan. Aku menggeleng-gelengkan kepala sendirian. Aku kembali pada pekerjaanku. Tapi, aku teringat dengan cucian yang belum aku putar dalam mesin cuci. Aku gegas ke dalam rumah. Mataku sejenak melihat ke kamar anakku. Dia masih tengkurap tidur dengan pulas. Aku lanjutkan ke arah dapur. Tanganku memutar tombol pada mesin cuci, langsung terdengar gerakan dan bunyi mesin. Belum sempat berbalik aku lihat segunung piring kotor. Belum aku sentuh sejak kemarin sore. Aku kerjakan sejenak, lantas kembali ke teras mengambil gagang sapu. Dari bawah jemuran tampaknya sudah bersih tidak ada lagi daun-daun. Tinggal kuseret daun yang terkumpul di bawah sepeda anakku.

“Woi … ada cengek?(1)”

“Ada …. “

“Minta satu aja.”

“Buat apa?”

“Mau makan. Tapi aku gak bisa makan tanpa cengek.”

“Ada satu mah. Tapi kering.”

“Bisa digigit, gak?”

“Ya … kuatinlah gigimu.”

Aku mengangkat jidat. Suara siapa lagi itu dengan lantang. Aku mulai hapal. Pasti suara Bi Roh dari rumah ke-lima meminta cengek kepada Bi Mun. Begitukah mereka saling berbahasa. Aku terus saja mengorek-ngorek daun-daun yang terselip. Kali ini di bawah jajaran sandal-sandal dan sepatu anakku. Memang daun-daun itu menyusahkanku.

Dua baboe lain sedang jalan-jalan menikmati hangatnya mentari pagi. Seorang baboe mendorong stoller dengan anak bayi usia enam bulanan. Seorang lagi mendorong sepeda mini dengan seorang anak di atasnya usia setahun. Aku tahu mereka dari blok lain di komplek ini. Mereka berjalan sangat pelan. Mereka berhenti tepat di depan rumahku. Mereka tengah memegang makanan yang sesekali disuapi kepada anak asuhnya. Mereka tidak menyadari keberadaanku yang terhalang sepeda kumbang.

“Aku kemarin dapat uang dari saku majikan laki-laki.”

“Berapa?”

“Dua lembar warna merah.”

“Kau mengambilnya?”

“Sssttt … “

Baboe yang dikucir rambutnya melihat ke arahku. Dia berbalik badan, dia pura-pura menyuapi anak asuhnya. Padahal aku tahu pembicaraan tadi. Aku terus saja mendorong daun-daun itu dengan sapu ijuk.

“Aku malas makan … hari ini hanya disiapin tempe goreng dengan tumis kangkung. Kayak makanan kampung. Meski kita pekerja, mau donk kali-kali kita disiapin rendang atau apalah yang aneh. Mentang-mentang kita hanya pekerja rumah. Bosen dikasih tempe goreng terus.”

“Coba kalau dapat majikan kayak si Yuli. Beruntung dia. Majikannya dokter. Kalau majikannya pulang telat dia dikasih uang lembur. Lumayan ‘kan sejam dikasih dua puluh rebu, cukup buat telor setengah kilo.”

“Ya … majikan kita kurang peka. Padahal anak-anak mereka kita yang urus. Kita yang cebokin.”

“Mending kamu cuma cebokin anaknya. Aku ada tambahan lagi. Mesti nyebokin jompo juga?”

“Maksudmu?”

“Lah itu mertuanya udah seminggu ikut juga. Dia udah jompo. Pagi-pagi aku suapin baru diam. Kalo gak buru-buru disuapi makan gedor-gedor pintu kamar dia. Ntar siang pas beol, aku juga yang cebokin. Wong anaknya pulang sore.”

Aku menarik napas satu-satu. Aku pun enggan berbasa basi dengan mereka. Aku fokus pada daun-daun yang sudah berupa gundukan. Aku raih pengki yang bersandar di tempat sepatu.

“Kamu itu enak sebenarnya. Ngurusin anaknya cuma satu. Kedua majikanmu bekerja. Ngurus anak tinggal semaumu.”

“Kemarin majikan perempuanku tidak masuk kerja.”

“Kenapa?”

“Katanya suaminya ketahuan selingkuh.”

“Pak Sasa? Dia ganteng, ya?”

“Huss …. “

“Memang iya. Makanya si ibu jadi makan hati. Kurus gak pernah gemuk.”

“Itu bawaan.”

“Bukan dehh!”

“Lalu?”

“Si Pak Sasanya genit.”

“Ihh … amit-amit.”

Sedalam itu ternyata para baboe ikut mendengarkan dan mengikuti kisah para majikannya. Aku khawatir jika memiliki asisten rumah ketahuan semua rahasiaku. Aku memasukkan semua daun-daun randu ke dalam pengki. Belum semuanya masuk. Aku tinggalkan sebentar. Aku ingat belum menyapu dari dalam rumah biar sekalian bersih. Suara mesin cuci masih terdengar. Tak terasa keringat mulai membintik di wajahku. Aku usap pelan dengan punggung tanganku. Sudah kusapu debu-debu dari dalam rumah. Kusatukan dengan setumpuk daun-daun randu di pengki yang menggunung.

“Juna … jangan kabur. Kamu belum cebok.”

Bi Mun terlihat membawa sapu lidi. Dia mengejar si Juna yang berlari hanya mengenakan pokok. Anak itu tanpa memakai sehelai pun baju yang menempel di tubuhnya. Suara Bi Mun nyaring memanggil-manggil anak itu.

“Jangan kabur anak nakal.”

Dua baboe yang tadi ikut mendengus.

“Dasar si Juna Anak nakal susah bener diatur, bikin capek aja.”

Aku menggelengkan kepala berulang kali tanpa sepatah kata pun. Kadang aku tidak mengerti. Apakah orang tua si Arjuna tahu, anaknya sering dimarahi pengasuhnya. Apa tidak menyadari si Juna sering marah-marah mencontoh perilaku pengasuhnya. Padahal, orang tua si Juna sarjana. Mereka pasti tahu, anak usia gorden age, saatnya menjadi peniru ulang, sayangnya orangtua mereka mendahulukan karier.

Tanganku mengambil kresek yang biasa aku selipkan di antara pengait jemuran. Dari rumah sebelah terdengar si Wiwin tengah menyapu halaman juga. Tampaknya dia sedang kesal. Terdengar sapu lidi dia gerakkan dengan keras hingga terdengar bunyinya. Kosrak, kosrak. Dia baboe yang baru tiga bulan bekerja. Masih muda, umurnya sekitar dua puluh tiga tahun. Rumahnya di belakang perumahan yang kami tempati. Sesekali dia membawa anaknya yang baru TK untuk ikut. Katanya di rumah tidak ada siapa pun. Suaminya bekerja serabutan.

“Lah … kerja kok malah marah-marah, Win?” tanya seorang baboe yang sedang menyuapi makan. Pasti dia mengenal Wiwin.

Wiwin terus menggerutu seperti yang aku lakukan tadi.

“Daun-daun randunya banyak sekali. Aku jadi kesal.”

“Jangan salahkan daun randu. Suruh aja pohonnya ditebang sama lakimu. Pohon randu udah tua masih dibiarkan. Kamu ‘kan yang punya pohon randunya?”

“Angin yang bawa terbang ke sini daun-daunnya.”

“Jangan salahkan angin, Win. Rumah majikanku juga sama, dipenuhi daun Randu. Suruh suamimu yang tanggung jawab. Kita juga yang capek tiap hari bersihin halaman berkali-kali.”

Aku hentikan pekerjaanku memasukkan daun-daun randu ke dalam kantong kresek, sepertinya pembicaraan mereka semakin sengit.

“Ibu … aku beol di popok.” Ujar anak yang belum genap dua tahun berdiri di mulut pintu.

Aku mengangkat kedua alisku. Tak ada bedanya pekerjaanku dengan baboe.

Catatan: (1) Cengek: cabe ukuran kecil yang rasanya pedas.

Pangandaran, 7 Agustus 2022

***

Lia Laeli Muniroh. Penikmat sastra dan pegiat literasi. Tinggal di pesisir pantai Pangandaran, Jawa Barat.

sumber : kompas.id, 24 Sep 2022.

Tinggalkan komentar