Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Nusantara Abad 16 oleh Eko Darmoko

Posted on Ming, 25 Sep 2022

Saya harap kamu masih hidup ketika membaca surat ini. Supaya kelak saya bisa membunuhmu, Syahbandar Kalianak; lelaki paling jahanam di abad 16. Saya sengaja menulis surat ini dalam bahasa Melayu. Sebab saya tahu, manusia teluk macam kamu pasti hanya bisa bahasa ibu dan sedikit Melayu, mustahil menguasai bahasa Spanyol, apalagi Portugis. Saya imbau, kamu tak perlu cemas saat saya menelanjangi masa lalumu dan menggeledah dosamu.

SYAHBANDAR Kalianak yang Terkutuk, tentunya kamu kenal dan masih ingat dengan perempuan mulia bernama Maria Anna San Jose. Kamu pasti kaget ketika saya menyebut nama itu. Tahan amuk ombak yang bergejolak dalam dirimu! Sebaiknya tuntaskan surat ini! Buang niatmu untuk merobek atau membakarnya! Setelah membacanya, jangankan merobek atau membakarnya, bahkan saya rela bila kamu memakan surat ini.

Di pengujung 1566, Maria Anna San Jose kabur dari kapal pemburu rempah-rempah berpanji Spanyol. Tentunya kamu tahu persis mengapa ia kabur dari kapal itu. Ia lebih memilih terdampar di teluk antah-berantah ketimbang menjadi budak berahi ratusan pelaut. Apalagi, kapal itu sudah dikuasai Skorbut dan Setan Columbus. Kamu pasti bergidik membacanya. Saya tahu banyak tentangmu, termasuk ketika kamu hampir mampus gara-gara diserang wabah Skorbut dan Setan Columbus; dua penyakit laknat yang mencengkeram pelaut abad 16 imbas kekurangan vitamin C dan kebanyakan main pelacur.

Sampai di sini, pasti jidatmu sudah ditumbuhi bulir-bulir keringat yang jatuh membasahi gulungan kertas yang kamu pegang. Teruskan membaca! Jangan berhenti sebelum khatam!

Maria Anna San Jose selama berbulan-bulan dalam kapal itu berhasil mempertahankan kesuciannya dari incaran para pelaut fakir berahi. Sejak kapal angkat sauh di Samboanga, ia membuat drama tentang penyakit ruam misterius di selangkangan dan kelaminnya. Drama inilah yang menyelamatkannya dari cengkeraman berahi para pelaut karena takut tertular ruam misterius. Namun, ketika kapal itu menuju perairan utara Pulau Jawa sisi timur, drama Maria Anna San Jose terbongkar. Laksana dayung bersambut, para pelaut mulai memburunya di kapal. Beruntung ia pandai dan licin dalam bersembunyi. Pekerjaannya sebagai tukang masak pun ditinggalkan. Ia sembunyi dari lorong ke lorong.

Oleh sebab tak tahan dengan perburuan yang kian gencar serta takut jadi guling bergilir para pelaut, Maria Anna San Jose memilih terjun ke laut setelah dilihatnya Pulau Jawa sudah agak dekat. Ia berenang, mengerahkan seluruh tenaganya agar bisa sampai daratan. Ketika ia sampai di Teluk Kalianak, napasnya sudah penghabisan. Nah, di sinilah, kamu datang meraihnya, lalu mengangkatnya ke atas sampan yang kamu tunggangi. Jangan kaget membacanya, sudah saya bilang sejak awal; saya tahu banyak tentangmu. Bahkan tentang bagaimana kamu tertular dan akhirnya selamat dari Skorbut dan Setan Columbus, saya tahu sampai ke akar-akarnya. Kamu doyan main pelacur ketika bergabung dengan sindikat bajak laut Bandot Berkumis; aku punya bukti surat tagihanmu dari sejumlah rumah bordil di Kepulauan Sulu.

Setelah mengangkut Maria Anna San Jose, kamu membawanya masuk ke dalam pos pantau yang letaknya tak jauh dari dermaga di Teluk Kalianak. Di sebuah dipan, kamu membaringkannya dan menungguinya hingga sadar dari semaput karena lelah berenang. Bahkan saya tahu saat kamu membuatkannya air jahe serta menyuguhinya kentang rebus yang sudah dingin. Saat itu kamu masih menyandang cap lelaki mulia. Namun, tak butuh waktu lama, capmu berganti menjadi lelaki paling jahanam di abad 16. Setan!

Saya tahu persis dan hafal percakapan yang kamu buat dengan Maria Anna San Jose ketika sadar dari semaput. Kamu mengaku sebagai syahbandar kepadanya. Cuih! Syahbandar gadungan. Maria Anna San Jose pun tahu bahwa kamu hanya membual. Tapi setidaknya, ia merasa aman; menemukan suaka untuk berlindung dari ledakan berahi para pelaut. Meskipun berasal dari pedalaman Samboanga, Maria Anna San Jose sudah akrab dengan dunia kelautan sejak kanak-kanak. Dan tentunya ia tahu tentang pengertian syahbandar. Tidak mungkin Kalianak yang hanya teluk kerdil di pedalaman, jauh dari sorot peradaban, memiliki seorang syahbandar. Di masa-masa itu, berdasar jurnal perompak Venesia, jabatan syahbandar terdekat ada di Selat Kamal Perak yang memisahkan Jawa dan Madura serta Pelabuhan Tandes.

Mungkin kamu belum tahu; ketika Maria Anna San Jose berusia sekitar 12 tahun, ia sudah menjadi juru tulis, membantu Syahbandar Samboanga dalam hal surat-menyurat dengan sekutunya dari pulau-pulau yang berada di selatan Samboanga, seperti Celebes, Borneo, dan Halmahera. Bahkan, surat yang ditulisnya atas titah Syahbandar Samboanga juga dikirim ke pulau jauh; Swarnadwipa di barat Selat Melaka, Malta di Mediterania, dan Istanbul.

Saat kamu membaringkannya di sebuah dipan di Kalianak, Maria Anna San Jose berusia kira-kira 19 tahun. Sedangkan kamu hampir 30 tahun. Ia sungguh cantik. Kulitnya putih bersinar, mewarisi darah Eropa. Sedangkan rambut hitamnya warisan Sulu. Sejak awal, kamu sudah berniat untuk menidurinya. Namun kamu sungkan, setidaknya waktu itu, lebih tepatnya kamu takut menjamah perempuan berperawakan Eropa.

Tentunya kamu tahu seluk-beluk Samboanga melalui kisah-kisah yang disampaikan Maria Anna San Jose dalam bahasa Melayu. Tapi saya ingin memastikan ingatanmu segar kembali, makanya saya perlu memugarnya dalam surat ini. Ratusan tahun silam, Samboanga sudah menjalin kongsi dengan negeri-negeri di khatulistiwa Asia Tenggara, termasuk Jawa di selatan khatulistiwa.

Dari Samboanga yang terletak di utara Celebes, kapal yang ditumpangi Maria Anna San Jose berlayar ke selatan, belok tipis ke barat melewati celah perairan antara Celebes dan Borneo. Tiba di utara Kepulauan Nusa Tenggara, kapal belok ke barat menuju selatan Borneo atau utara Jawa. Selanjutnya kapal terus ke selatan hingga tiba di Selat Kamal Perak; di sini ia mulai merancang pelarian demi menghindari berahi para pelaut, sebab lelah bersembunyi.

Jatuh ke tanganmu, Maria Anna San Jose merasa dekat dengan kampung halamannya. Celoteh orang-orang di Teluk Kalianak tidak begitu asing di telinganya. Bukankah kamu menyadari bahwa antara bahasa Tagalog di Samboanga, Melayu, dan Jawa ada kemiripan; begitu penilaian Maria Anna San Jose setelah berminggu-minggu menginap di pos pantau bersamamu. Sementara itu, kapal berpanji Spanyol masih belum angkat sauh dari Kamal Perak. Konon, kapal sandar di sana sampai pertengahan tahun atau sampai lambung kapal sudah dipenuhi rempah-rempah hasil merompak.

Di awal 1567, kamu sudah berani menyentuh lengan Maria Anna San Jose, bahkan menggerayangi tubuhnya ketika ia terlelap. Tabiatmu culas, khas komplotan Bandot Berkumis. Berahi menjelma setan mengerikan dalam benak lelaki, tak peduli bangsa dan bahasa yang digunakannya. Jangan marah! Itulah tafsir perempuan kebanyakan, termasuk saya.

Pada sebuah senja, ketika kabut menyelimuti Teluk Kalianak, Maria Anna San Jose menangis di atas ranjang setelah mengetahui roknya copot serta menemukan bercak darah dan mani di sekitar kemaluannya. Sementara kamu buru-buru mengenakan celana, bersikap seolah-olah tidak terjadi sesuatu yang memalukan. Belakangan, ia tahu bahwa kamu telah menaburkan bubuk biji apel pada secawan teh yang kamu suguhkan padanya, sore harinya. Ramuan biji apel itulah yang membuatnya tersirep hingga kamu leluasa merenggut kesucian yang pernah ia pertahankan dari ancaman para pelaut.

Sejak peristiwa jahanam itu, hampir tiap malam kamu meniduri Maria Anna San Jose. Tentu saja, kamu terpaksa harus puasa berahi ketika ia datang bulan. Ia tak punya pilihan lain. Bahkan untuk sekadar menolak, ia tak berani, lebih tepatnya sungkan demi membalas budi baikmu yang sudi menampungnya. Cuih! Budi baik? Lihatlah, betapa ia pantas menyandang cap perempuan mulia. Tidak sepertimu, cap lelaki jahanam sangat pantas untukmu. Bahkan bila ada kata bermakna mengerikan selain jahanam, kamu masih layak mengenakannya.

Sudah pasti kamu masih ingat ketika kabar kehamilan disampaikan tabib yang memeriksa Maria Anna San Jose. Saat itu kamu enteng berkata kepadanya di hadapan tabib: Saya akan menjagamu dan buah hati kita. Kita akan membesarkannya di teluk ini.

Kehamilan Maria Anna San Jose menjadi kabar gembira bagi orang-orang Teluk Kalianak. Mereka seakan sanggup memastikan bahwa anak yang kelak lahir memiliki paras rupawan, warisan dari ibu dan bapaknya. Cuih, persetan dengan si bapak. Lelaki paling jahanam di abad 16. Setan Kalianak!

Di pertengahan 1567, ketika kamu menjala ikan dari atas sampan di Teluk Kalianak, kamu didatangi dua sekoci berisi sejumlah pelaut Spanyol dan lelaki lokal sebagai juru alih bahasa. Mereka sedang mencari keberadaan perempuan Samboanga. Mereka akan menukarnya dengan sekantong keping emas dan sekotak opium dari utara Swarnadwipa. Di sinilah perangai aslimu muncul, wahai Syahbandar Kalianak gadungan.

Kamu menyeret Maria Anna San Jose dari rumah, maksud saya pos pantau, lalu menyerahkannya kepada pelaut-pelaut itu. Sementara sampanmu sudah terisi keping emas dan opium. Saat itu Maria Anna San Jose rela berlutut di kakimu, memohon agar kamu tidak menukarnya dengan emas dan opium. Namun, harta dan candu membuatmu silau, mengingkari janji untuk menjaganya serta membesarkan anak di kandungannya. Mulai detik itu, ia menjalani hari-hari mengerikan di lambung kapal rempah-rempah selama pelayaran di Kepulauan Sulu atau oleh bangsamu disebut sebagai Nusantara sebelum kapal pulang ke Samboanga.

Ingin rasanya saya menggeledah masa lalu dan dosa-dosamu lebih panjang lagi dalam surat ini. Namun saya perlu menahannya, biar sisanya saya tuangkan langsung ke mukamu. Surat ini saya tulis ketika ziarah ke makam Maria Anna San Jose di Ujung Pandang, Celebes Selatan. Ia meninggal dunia dua tahun lalu saat pemberontakan rempah-rempah berkecamuk di pesisir.

Ada hal yang tidak kamu ketahui, Maria Anna San Jose gagal pulang ke Samboanga. Sebab ia dibuang bersama bayi perempuan yang baru dilahirkannya ketika kapal buang sauh di Celebes Selatan. Kamu pasti heran mengapa awak kapal membuangnya saat sandar sejenak. Tentunya kamu bisa membayangkannya; mana ada lelaki yang tahan meniduri perempuan hamil yang jiwa dan raganya sudah bobrok, seperti mayat hidup dan terlihat gila, akibat kenestapaan. Kenestapaan yang kamu ciptakan, Setan Kalianak!

Beruntung dalam masa pembuangan itu Maria Anna San Jose dan bayi perempuannya dipungut oleh kelompok nelayan. Lambat laun kenestapaan pada dirinya lenyap, berganti kobaran semangat untuk melanjutkan hidup. Ia mengabdikan diri pada rutinitas pesisir hingga akhir hayat. Sedangkan bayi perempuan itu kini tumbuh menjadi gadis cantik pujaan Celebes.

Perlu kamu catat, beberapa minggu setelah kamu membaca surat ini, saya sudah tiba di Teluk Kalianak dan berdiri di hadapanmu. Tak sabar saya untuk membunuh lelaki paling jahanam di abad ini. Jaga dirimu baik-baik! Saya akan datang untuk mengeluarkan jantungmu. Demikian sumpah saya.

Celebes, 4 Juli 1586, Caroline Putri Maria Anna San Jose. (*)

—

EKO DARMOKO : Prosais kelahiran Surabaya. Masuk daftar 10 Penulis Emerging Indonesia dalam Ubud Writers and Readers Festival 2022. Buku kumpulan cerpennya Revolusi Nuklir (Basabasi, 2021) masuk 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2021. Bergiat di Komunitas Sastra Cak Die Rezim Surabaya.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 25 September 2022

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme