Sekiranya matahari sebentar lagi akan terbenam. Kabut yang berasal dari Kintamani katanya akan tiba kira-kira setengah jam lagi. Namun Made Nusa dan teman-temannya masih tetap asik bermain di sekitar pohon singapur. Ada yang masih memanjat untuk memetik satu per satu buah yang sudah merah itu, ada juga yang menguliti batang pohon hingga keluar getah.
Dari arah selatan para orangtua memanggil anak-anaknya untuk segera pulang. Sebentar lagi sandi kawon, yakni peralihan antara sore ke malam sehingga semuanya menjadi samar-samar. Namun Made Nusa dan dua temannya membangkang tidak mau pulang karena ingin memetik buah singapur lagi sebentar.
Keesokan harinya Made Nusa dan kedua temannya demam hingga muntah-muntah. Mereka lalu dibawa ke UGD untuk mendapat perawatan. Namun beberapa saat kemudian dipulangkan karena diagnosa dokter, mereka hanya demam biasa.
Berhari-hari demam itu tidak kunjung turun membuat orang tuanya panik, penyakit apa sebenarnya yang diderita anaknya. Sementara berita yang tersebar di kampung katanya Made Nusa dijilati oleh Wong Samar yang menghuni pohon singapur itu. Ibu pun bertanya ke balian kampung sebelah. Kata balian itu, roh Made Nusa dan teman-temannya sedang diikat di pohon singapur karena telah merusak tempat tinggal bangsa Wong Samar.
Roh Made Nusa serta kedua temannya sedang menangis ingin kembali ke badan kasarnya. Setiap kali mereka akan melarikan diri selalu ditangkap oleh Wong Samar yang badannya tinggi besar itu. Rohnya akan dilepaskan jika keluarga Made Nusa melakukan penebusan dengan ayam hitam serta beberapa sesajen. Prosesi penebusan itu harus dilakukan saat sandi kawon di catus pata desa. Mendengar syarat-syarat tersebut keluarga Made Nusa menyanggupinya.
Tempat itu dari dulu memang angker, bahkan jauh sebelum kejadian ini ada seorang anak hilang di sana. Seharian warga kampung mencari keberadaan anak tersebut hingga mendatangkan banyak balian. Bahkan suara keramaian serta gong ditabuhkan agar anak tersebut mendengarkan tak kunjung ada hasilnya. Hingga seminggu kemudian anak itu ditemukan di antara lebatnya pohon bambu dengan tatapan mata kosong.
Sebentar lagi sandi kawon, yakni peralihan antara sore ke malam sehingga semuanya menjadi samar-samar.
Penyakit Made Nusa semakin tidak masuk akal saja. Menjelang malam dia sering mengamuk tanpa sebab. Dia terus memanggil-mangil nama Dadong Dauh, yakni seorang nenek yang tinggal di sebuah gubuk kumuh. Keluarga curiga bahwa Dadong Dauh menggunakan ilmu leak untuk menyakiti Made Nusa. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Dadong Dauh sakti bisa membuat seseorang sakit tanpa menyentuhnya.
”Pasti Dadong Dauh yang menyakiti Made Nusa!” kata Wayan Sudirga.
”Datanglah ke sana Yan, lalu minta apa saja yang ada di sana sebagai obat anakmu,” kata paman.
”Jangan emosi sebab kita tidak punya bukti apa pun Yan,” kata istrinya.
”Aku akan ke sana bertemu dengan dia langsung,” kata Wayan Sudirga.
Wayan Sudirga pun memberanikan diri datang ke sana sendiri. Dia bertemu Dadong Dauh, lalu bertanya apakah ada sesuatu yang bisa dia minta, lalu Dadong Dauh menyuruhnya untuk duduk dulu sebentar.
”Yan, Dadong tidak punya apa-apa,” kata Dadong Dauh.
”Aku minta tolong Dong, ini untuk kesembuhan anakku,” kata Wayan Sudirga.
”Yan, Dadong tidak melakukan apa pun kepada anakmu. Silakan cari obat di tempat lain saja,” kata Dadong Dauh.
”Kalau Dadong ada dendam dengan keluargaku, maka sakiti saja aku Dong!” kata Wayan Sudirga.
”Anakmu itu diikat oleh bangsa Wong Samar, segera lakukan penebusan di catus pata desa,” kata Dadong Dauh.
Wayan Sudirga pulang dengan emosi, dia ingin menebang pohon singapur itu. Pikirannya kacau, lalu ingin menantang makhluk itu duel satu lawan satu. Warga kampung yang menyaksikan hal tersebut melarang Wayan Sudirga bertindak gegabah. Mereka takut di kampung ini akan terjadi wabah penyakit hingga gering agung. Ketua adat beserta tokoh masyarakat mengadakan musyawarah terkait dengan masalah Wayan Sudirga ini. Mereka bersepakat akan membantu Wayan Sudirga dengan mempersiapkan sesajen hingga mendampingi selama proses penebusan itu berlangsung.
Keesokan harinya masyarakat berbondong-bondong datang ke catus pata desa. Mereka sangat penasaran apa yang terjadi dengan Made Nusa. Gong ditabuhkan mengiringi kedatangan Made Nusa yang dibopong oleh bapaknya. Ayam hitam itu dipotong kepalanya sehingga darahnya muncrat ke mana-mana. Seorang jero mangku memercikkan tirta ke wajah Made Nusa, seketika dia menjerit hilang kendali. Empat lelaki dewasa kewalahan memegang tubuh Made Nusa. Entah dari mana dia mendapatkan tenaga untuk meronta-ronta, padahal di rumah saja dia tidak bisa menggerakkan kedua kakinya.
”Matilah kalian semua. Grubug! Grubug!”
”Kau siapa?” tanya jero mangku.
”Wong Samar.”
”Pergilah, jangan ganggu Made Nusa!” kata jero mangku.
”Siapa pun jangan pernah menebang pohon itu!”
”Ya, kami tidak akan mengganggu tempat tinggalmu,” kata jero mangku.
Made Nusa mereda, namun tatapannya masih kosong. Kesadarannya belum pulih dan kini tidak mampu menopang tubuhnya sendiri. Dia digeletakkan begitu saja di catus pata desa. Sementara warga yang lainnya harap-harap cemas menanti kondisi Made Nusa.
Pohon singapur itu tiba-tiba diselimuti kabut yang entah datang dari mana. Mungkin ada komunikasi niskala antara jero mangku dengan Wong Samar. Sedari tadi dia memejamkan mata terlalu dalam hingga masuk ke ruang dan waktu yang tidak bisa dinalar dengan logika. Jero mangku mengatakan bahwa roh Made Nusa sudah dilepaskan oleh Wong Samar itu. Sementara roh ayam hitam yang dijadikan sesajen itu dimakan oleh Wong Samar yang tinggi hitam tersebut, tubuhnya dicabik-cabik hingga habis tidak tersisa apa pun.
Namun hanya nyawa Made Nusa saja yang bisa diselamatkan, sementara dua temannya yang tidak disebutkan namanya meninggal di rumah sakit. Diagnosa dokter bahwa mereka berdua mengalami kelelahan yang hebat. Hal itu sangat janggal karena kedua anak itu tidak pernah melakukan aktivitas berat. Pada kejadian sandi kawon itu, diketahui merekalah yang menguliti batang pohon singapur itu sampai mengeluarkan getah merah. Namun dia takut mengatakan kepada orangtuanya. Semuanya sudah terlambat! Kedua sahabatnya itu mati dengan tidak wajar. Sampai sekarang keadaan di kampung masih mencekam. Mitos tentang Wong Samar yang badannya tinggi besar itu masih tetap menghantui kehidupan warga.
Sirene ambulans terdengar lirih. Malam seakan begitu panjang ketika melihat tangisan yang tiada henti. Ibunya pingsan beberapa kali, sementara ayahnya hilang kendali. Kerabat terus saja berdatangan, bahkan kabar meninggalnya dua anak muda itu telah sampai di telinga para guru dan teman sekolahnya. Karangan bunga turut berdukacita membuat suasana semakin pilu.
Kidung kematian terus menggema semalam suntuk. Tidak ada tidur yang nyenyak bagi warga desa. Mereka dihantui oleh rasa takut apakah benar sebentar lagi akan terjadi wabah penyakit di desanya.
Kedua jenazah anak muda itu dimakamkan pagi buta sebelum matahari terbit. Ratusan orang mengantarkan kepergiannya. Masih terdengar sisa tangis sejak kemarin yang belum mampu dibendung. Apalagi saat kedua jenazah itu dimasukkan ke liang kubur, membuat keluarga semakin histeris. Hanya berselang beberapa menit saja tubuh anak muda itu rata dengan tanah.
Kepergiannya menyisakan banyak kejanggalan yang kemudian menjadi sebuah tragedi kelam di desa. Sebab, seusai kejadian ini beberapa warga mengalami kesurupan menjelang malam. Fenomena ini terus terjadi sehingga warga tidak berani keluar malam. Desa ini menjadi mati suri ketika sandi kawon tiba. Penduduknya menghabiskan waktu di kamarnya masing-masing. Sementara balian itu membenarkan akan terjadi sebuah wabah penyakit di desa.
Mungkin sebentar lagi mayat-mayat akan ada di mana-mana, tidak peduli tua, muda, atau dewasa sekalipun mereka bisa saja mati tanpa sebab yang jelas. Wong Samar itu benar-benar marah, apalagi pohon singapur yang rimbun itu ditebang oleh orang yang tidak dikenal. Batangnya sengaja dikuliti seperti kulit babi, lalu akarnya dicabut hingga ke lapisan paling dalam.
Ada seseorang yang melakukan balas dendam sehingga semua warga desa kena akibatnya. Terjadi grubug, yakni setiap hari orang mati dengan tidak wajar. Sementara mereka yang masih hidup hanya menunggu giliran saja. Desa ini sebentar lagi akan habis penduduknya. Wabah semakin tidak terkendali. Tatapan mata setiap warga kosong disertai dengan jiwa-jiwa yang hampa. Entah bagaimana menjelaskan tragedi ini dengan nalar dan logika.
Ada seseorang yang melakukan balas dendam sehingga semua warga desa kena akibatnya.
Apakah benar desa ini telah dikutuk bangsa Wong Samar yang menghuni pohon singapur itu. Tidak ada yang berani datang ke sini. Orang luar takut akan mitos yang berkembang itu sehingga banyak pemakaman dilakukan seadanya oleh keluarga yang masih hidup. Bukan hanya manusia saja yang mati, namun peliharaan warga juga mati kelaparan. Bahkan bangkai babi hingga sapi milik warga tergelak di kandangnya masing-masing. Aroma bangkai yang menyengat itu mengundang ribuan lalat datang. Dari arah utara gerombolan burung pemakan bangkai akan berpesta semaunya. Bahkan bisa saja mayat manusia yang mereka temui di sepanjang desa dimakan tanpa belas kasihan.
Demikian adanya tentang wabah di desa ini terjadi terus-menerus. Belum ada seseorang yang mampu membendungnya. Setiap kali sandi kawon tiba, dua sampai tiga penduduk mati. Kematiannya selalu meninggalkan kejanggalan yang tidak bisa dinalar dengan logika. Hingga sampai kehidupan di desa menjadi tandus serta ribuan ternak mati, wabah ini terus terjadi.
Mereka mati mengenaskan. Gering agung itu benar-benar terjadi, menewaskan apa saja yang hidup. Kini yang tersisa adalah tulang belulang manusia berserakan di sepanjang jalan, tanah yang tandus, hingga rumah-rumah kosong. Kehidupan desa yang sejuk dan nyaman itu seketika mati suri ditinggal penghuninya. Saksi kelam tragedi sandi kawon itu bernama I Made Nusa yang kini hanya bisa pasrah melihat satu per satu keluarga hingga kerabat menunggu giliran mati.
I Wayan Kertayasa, pengajar literasi di Yayasan Was. Saat ini penulis tinggal di Banjar Kedungu, Taro, Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali. Novel yang sudah diterbitkan Romansa Lagu (2020) dan antologi puisi Semoga Aku Sampai (2021).
sumber : kompas.id, 24 Jan 2024.