Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ibuku, Perempuan dari Pulau Rote oleh Fanny J. Poyk

Posted on Jum, 26 Jan 2024

Teman-temannya selalu memanggil dia dengan nama Perempuan dari Pulau Rote. Dia memang tak mau menutupi asal-usulnya. Baginya Rote tak sekadar pulau yang membuat dia ada. Tapi, pulau itu telah menggiringnya hingga dia menjadi perempuan yang mampu menghadapi segala problema kehidupan yang dialaminya. Perempuan itu pernah tinggal di sana selama hampir dua belas tahun. Dari pulau itu pula dia memiliki marga, yaitu Saba, marga yang disandang kakek dan ayahnya.

Kakeknya pernah menuturkan kalau silsilah keluarga mereka masih ada hubungannya dengan Raja Bilba yang ke-19. Menurut kisah kakeknya, Raja Bilba itu bernama Stefanus Saba, dia memerintah ndao (pulau) di Rote pada abad ke-18. Perempuan bermarga Saba ini tidak mempermasalahkan jika ia juga dipanggil Nona Rote. Ia pun santai saja tatkala teman-teman menggodanya dengan mengatakan, keturunan Raja Bilba yang tak nyata. Artinya, bisa saja ia berbohong tentang kisah asal-usulnya itu agar disangka keturunan ningrat.

Meski sosok sang raja tak pernah diketahuinya dan apakah dia benar-benar pernah memerintah di Rote Ndao, dia tak mau ambil pusing. Marga ayahnya Saba, itu yang menjadi wujud nyata dari silsilah dan sejarah kehidupannya.

Perempuan bermarga Saba ini tidak mempermasalahkan jika ia juga dipanggil Nona Rote.

Ketika ayahnya yang berprofesi sebagai mantri cacar dimutasikan ke Bima, Sumbawa, maka perempuan yang berasal dari Pulau Rote tersebut menyimpan kenangan tentang tempat tinggalnya di sebuah desa kecil bernama Ba’a. Ia harus ikut orangtuanya ke Bima, ia juga musti mengikuti keinginan Ibunya yang bermarga Taka, masuk ke Sekolah Guru Bawah (SGB) di kota itu.

Bagi Ibunya, menjadi guru adalah profesi yang sangat bermartabat karena bisa mencerdaskan generasi yang akan datang. Dan satu lagi kebanggaan sang Ibu, dengan menjadi guru putrinya si Perempuan dari Pulau Rote itu akan ditahbiskan sebagai pegawai negeri sipil. ”Nanti setelah lulus kau masuk Sekolah Guru Atas. Lalu kami akan mengurus segala persyaratan agar kau menjadi pegawai negeri seperti bibi, paman, dan saudara Ibu yang lain. Jangan mencari pekerjaan yang berbeda, hidupmu akan susah, nanti kau tidak mendapat uang pensiun bulanan. Papamu meski seorang mantri cacar, dia PNS. Itu sebabnya kita tidak pernah kekurangan makanan. Kau camkan nasihat Ibu,” kata ibunya.

Maka, Perempuan dari Pulau Rote itu dengan terpaksa harus meninggalkan pulau yang meski gersang, namun menurutnya indah. Ia sangat cinta pada makanan yang kesemuanya diperoleh dari pohon lontar. Di Bima, pohon lontar mungkin tak ada, pikirnya. Perempuan ini kemudian merenungi kelak seperti apa nasibnya jika tinggal di sana. Namun, ia harus patuh pada orangtuanya. Tinggal di Pulau Rote dengan saudara-saudara ayahnya bukan pilihan yang menggembirakan. Terkadang apa yang mereka ucapkan kerap tak sesuai harapan. ”Iya, nanti kami jaga adik Nona baik-baik di sini. Bu jangan cemas,” ujar pamannya ketika dia melihat Perempuan dari Pulau Rote itu tampak enggan ikut orangtuanya ke Bima.

”Tidak, lebe baek dia ikut kitong. Di Bima pendidikannya akan lebe bagus. Dia harus jadi guru seperti sepupu-sepupu dia pung Mama,” kata ayahnya. Dan, sang ayah tampaknya mengerti benar tentang arti ketulusan ucapan. Ada ungkapan dengan dua kata yang bernada satir. Sindiran dengan sebutan ”otak Rote” pada suku itu, terkadang benar adanya. Ayah Perempuan dari Pulau Rote ini sangat paham dengan karakter orang sekampungnya, yaitu lebih banyak ucapan yang keluar dari mulut, tapi berbeda dengan kenyataan yang ada. Ketika tugas untuk pindah ke Bima dari Rote datang, ia senang. Ia merasa berkarier di Bima akan lebih cerah dan memiliki kehidupan yang lebih baik dibanding dengan kampungnya sendiri.

Dugaannya benar. Karier sang mantri cacar dengan cepat melesat. Di Bima, orang-orang sekitarnya sudah menganggap dia seperti dokter. Tak hanya penyakit cacar, penyakit lainnya pun mampu ia obati. Dan, sang putri si pemilik nama Perempuan dari Pulau Rote ini tetap menggunakan nama itu meski nama tersebut agak panjang dan sedikit aneh. Teman-teman sekolahnya cepat akrab dengannya. Ia cerdas dan pandai ilmu pasti. Selain berwajah cantik, Perempuan asal Pulau Rote ini mulai membaur dengan teman-teman di tempatnya menimba Ilmu. Ia populer, hingga suatu saat, ada seorang guru yang masih bujangan jatuh cinta padanya. Dan, guru itu juga berasal dari Rote Ndao, bersuku Thie. Ia bermarga Messakh.

Gelagat cinta bak Romeo dan Juliet, terbaca oleh sang ayah. Nona Rote ini juga mengalami gejala yang sama. Terpikat dan luluh pada kasih sayang yang disodorkan sang guru. Maka, cinta yang meluncur bagai anak panah itu tertuju pada sasaran yang tepat. Perempuan dari Pulau Rote ini menerima lelaki itu menjadi suaminya usai lulus SGB. Ayahnya si mantri cacar dan sang Ibu tak bisa menolak pinangan Sang Guru, sebab mereka pemuja profesi guru. Pernikahan terjadi sesingkat kisah cinta antara sang murid dan si guru. Adat Rote yang menurut ayah Perempuan dari Rote itu rumit, tidak masuk ke dalam ritual pernikahan ini. Mereka menikah seperti layaknya pernikahan di negeri Barat sana; diberkati di gereja, makan-makan, setelah itu sang pengantin perempuan dibawa oleh si pengantin laki-laki ke rumahnya, sebuah rumah instansi pemerintahan yang dikhususkan untuk para guru.

Empat anak kemudian lahir dari pernikahan itu. Kegelisahan menjadi guru dengan gaji yang kerap datang terlambat di masa itu membuatnya resah. Sang guru yang menyukai dunia teater dan sastra merasa menjadi guru di daerah terpencil tidak lagi memiliki masa depan yang cerah sekaligus memberikan kehidupan yang lebih baik untuk anak-anak dan istrinya. Sepasang suami istri asal Rote Ndao ini mulai memikirkan jalan keluar terbaik yang harus mereka lakukan.

Gelagat cinta bak Romeo dan Juliet terbaca oleh sang ayah.

Sang Guru akhirnya mengambil keputusan yang tegas. ”Kitong harus pindah ke Jakarta,” katanya pada sang istri.

”Lalu, kau mau kerja apa di sana? Kau mau tinggalkan kariermu sebagai guru dan PNS?” tanya istrinya. Perempuan dari Pulau Rote itu terlihat cemas.

”Iya. Sekarang saja kau tahu kitong sudah tiga bulan belum dapat gaji. Untung ada kebon jagung dan ubi. Tapi kalau anak-anak terus makan jagung juga ubi, mereka akan kekurangan gizi. Nanti mereka tidak pandai di sekolah,” ujar sang guru khawatir.

Istrinya merenung. Ia teringat akan ibu dan ayahnya yang selalu bangga dengan profesi guru dan PNS. ”Apa yang terjadi kalau Papa dan Mama tahu kitong pindah ke Jakarta dan kau keluar dari PNS?” tanya istrinya.

Sang Guru terdiam. Setelah menunggu selama empat bulan, gajinya sebagai guru barulah datang dari Jakarta. Dan, Sang Guru sudah tak bisa mentolelir lagi perasaannya, ia siap menghadapi risiko. Ketika dia desersi dari tugasnya sebagai guru SGA yang PNS, lalu memboyong anak-anak dan istrinya ke Jakarta, pemutusan hubungan sebagai menantu terjadi secara sepihak. Ibu si Perempuan dari Pulau Rote mengamuk dan tidak lagi mau mengakui Sang Guru sebagai menantu. Semua barang termasuk sepeda yang menjadi moda transportasi yang pernah diberikan diminta kembali oleh ibu mertuanya.

”Dasar menantu gila. Sudah bagus jadi guru dan PNS, ini malah mau ke Jakarta dan jadi tukang tulis,” gerutunya. Yang ia maksud tukang tulis adalah wartawan. Sebab, seperti yang diucapkan Sang Guru menantunya itu, dia akan menjadi tukang tulis untuk sebuah koran setelah berada di Jakarta nanti. Dia juga akan menghidupi keluarganya dengan gaji dari menulis.

Perempuan dari Pulau Rote pasrah mengikuti alur keinginan sang suami menjadi jurnalis. Sebuah profesi yang baru ia ketahui. Jakarta telah menggiringnya pada wadah kehidupan baru yang jauh berbeda dari tanah Rote.

Tak ada yang pernah menyangka bahwa suatu saat kelak, tatkala sang suami beralih menjadi seorang penulis sastra seutuhnya dan meninggalkan dunia jurnalistik. Kehidupan perekonomian mereka kian bertambah runyam. Perempuan dari Pulau Rote ini harus berjuang dengan bekerja di sebuah perusahaan asuransi untuk membantu perekonomian keluarganya.

”Jika tahu begini nasibku, lebih baik aku tetap berada di Rote Ndao. Kawin dengan pemuda Rote, menyadap nira, membuat gula lempeng, membuat tenun ikat dan menjualnya pada para turis-turis yang melakukan olahraga surfing di Pantai Nembrala. Hidupku akan lebih sejahtera ketimbang menikah dengan lelaki yang memilih jadi seniman ini,” katanya kesal seperti menyalahkan dirinya sendiri. Perempuan dari Pulau Rote itu juga menyesali jalan hidupnya, mengapa ia tidak menjadi guru dan ASN, seperti yang diinginkan ibunya.

Hidupku akan lebih sejahtera ketimbang menikah dengan lelaki yang memilih jadi seniman ini.

Begitulah, kisah mereka kusimpan baik-baik di benak ingatanku. Ayahku Sang Guru yang penulis itu telah tiada, ia dimakamkan di TPU Fatukoa Kupang, Nusa Tenggara Timur. Aku selalu ingat pesannya, ”Nak, beta ingin pulang kampung, tanam jagung dan pohon lontar.”

Tentang ibuku, aku merenunginya bersama absurditas kehidupan yang teramat menyedihkan. Kesedihan dan tempaan hidup membuat Perempuan dari Pulau Rote ini lupa pada dirinya sendiri. Kisah hidupnya menjadi cerita yang sangat memilukan bagiku. Aku selalu meneteskan air mata bila ingat akan ibuku. Ia yang kerap mengitari kota Jakarta, lupa jalan untuk pulang. Penyakit demensia yang ia derita semakin parah, ia menghilang tanpa pernah ditemui jejaknya.

Sebagai anak, janjiku padanya tak pernah terlaksanakan. Perempuan dari Pulau Rote itu selalu berkata ingin kembali kampung halamannya. Ia rindu pada lagu tradisonal Pulau Rote atau Rote Ndao yang berjudul ”Ova Langga”, rindu pada suara petikan sasando yang terdengar sayup-sayup bercampur suara debur ombak Pantai Nembrala. ***

Fanny J Poyk, bernama lengkap Fanny Jonathans Poyk, lahir di Bima, Sumbawa. Menulis cerita anak dan puisi sejak tahun 1973/77 di majalah anak Bobo, Tom Tom, Halo, Ananda, kolom Sahabatku Sinar Harapan, kolom anak Suara Karya, majalah anak Kuncung, dan lain-lain. Menulis cerita dewasa/remaja di majalah Sarinah, Pertiwi, Puteri Indonesia, Gadis, Kartini, surat kabar Sinar Harapan, Jurnal Nasional, Suara Karya, Pikiran Rakyat, Bali Post, Surabaya Post, Kompas, Jawa Pos, Dalang Publishing (Amerika Serikat), Timor Expres, Koran Ekspres Sabah Kinabalu, dan lain-lain. Fanny tinggal di Depok dan masih terus menulis.

sumber : kompas.id, 26 Jan 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme