Sebuah perkampungan dekat pantai, kaki dan bahu penduduknya yang kuat mendorong sampan dan menahan dingin angin malam. Para pria menjemput malam sekaligus pagi setelah menjelajahi laut. Setelah lelah bertarung dengan laut, mereka kembali untuk menghitung nasib dan perkiraan berapa pendapatan yang masuk setelah ikan-ikan dikumpulkan. Menjadi alat tukar untuk menjaga asap dapur. Para perempuan sejak subuh memulai hari untuk menyiapkan sarapan dan membangunkan anak-anak mereka. Menyelesaikan tugas rumah sebelum berangkat ke sekolah.
***
Ros anak perempuan dari nelayan tua di kampung sudah sejak kecil terlatih mandiri, selalu bangun pagi untuk menggantikan tugas ibu yang sedang merantau, merawat dapur dan selanjutnya mengawasi kedua adiknya untuk mengerjakan tugas rumah serta bergantian ke kamar mandi untuk bersiap ke sekolah. Setelah bapak pulang dari laut menurunkan tangkapan dan melihat anak-anaknya sudah rapi dengan seragam, waktunya memberi kunci motor dan menerima kecupan salam sebelum mereka beranjak ke sekolah.
”Jalan hati-hati, sekolah baik-baik. Sebentar bapak mau bersihkan kebun jadi setelah pulang sekolah, ikut bapak ke kebun.”
”Iya bapak, kami pamit dulu bapak.”
Ros menjadi juru kemudi, menjamin keselamatan kedua adiknya sampai di depan gerbang sekolah. Motor melaju, memasuki beberapa gang dengan sedikit lubang bekas perbaikan yang belum selesai. Menyapa siapa saja yang lewat, melewati balai desa sebelum meluncur di jalan raya beraspal. Tak jauh dari balai desa, sebuah pos ronda yang terbengkalai telah berubah menjadi sebuah base camp untuk pemuda desa. Ros masih sempat melihat beberapa masih tertidur pulas di sana. Mereka akan berkumpul ketika mulai sore, beberapa datang setelah menyelesaikan pekerjaan di kebun atau pulang dari proyek serabutan menjadi tukang atau kondektur. Sisa kelelahan dan kecemasan masih terbawa, tetapi mereka tahu di tempat ini semuanya bisa terlupakan sejenak. Pemuda yang lain datang setelah mandi, melumuri parfum murah dari pasar dan sedikit handbody di sekujur tubuh, minyak rambut sachet harga seribuan menjadi stimulan rasa percaya diri, sandal jepit sudah disikat bersih. Semua persiapan ini dianggap sebagai pemikat ketika para gadis melintas di pinggir jalan, walau tak disapa setidaknya bisa terlihat tampan.
Cinta itu racun, racun yang dituangkan ke dalam gelas oleh sosok yang disebut perempuan.
***
Pos ronda bisa menjadi ruang tempat paling nakal sampai tempat paling sakral. Mabuk sampai hampir mati, ditegur para warga karena suara yang parau beserta dengan dawai gitar kacau dengan tali senar yang tak utuh membuat tempat itu sering dikutuk. Tetapi yang sebagian orang tidak tahu, tempat itu menjadi ruang penenang yang menggantikan rumah. Mereka menangis di tengah putaran gelas alkohol, senandung dari gitar butut itu seperti mewakili sesuatu yang tersembunyi di dalam sana.
”Cinta itu racun, racun yang dituangkan ke dalam gelas oleh sosok yang disebut perempuan. Saya kalah, dia sudah pergi. Semoga selalu bahagia dengan pengganti yang lebih baik,” seorang pemuda yang baru saja patah hati bercerita, rencana setelah SMA untuk merantau bersama kandas setelah wanitanya hamil dengan laki-laki lain.
”Saya tidak pikir tentang kuliah, uang dari mana, lebih baik merantau saja. Atau langsung cari kerja, kebun dan ternak sudah habis untuk kakak saya yang sampai sekarang juga belum diwisuda,” ungkap Toni yang sudah tamat SMA dua tahun lalu.
Hidup itu ujian, penderitaan dan kebahagian adalah bagian dari perjalanan. Kita semua tidak bisa lari atau bersembunyi dari cobaan.
”Hidup itu ujian, penderitaan dan kebahagian adalah bagian dari perjalanan. Kita semua tidak bisa lari atau bersembunyi dari cobaan,” Usman memberikan wejangan, pemuda yang pulang kampung setelah di-DO dari kampus karena skripsi yang tidak selesai-selesai, dia selalu dikagumi dengan nasihat atau kata-kata motivasi yang dikutip dari Facebook atau status WA temannya yang kuliah filsafat.
Cinta, kerinduan, penyesalan, keputusasaan, harapan, penantian semuanya ditumpahkan dan melebur, berujung menjadi nasihat atau ratapan bersama.
***
Hali sudah bangun lebih dulu, membersihkan kotoran yang menempel di mata, memulihkan kesadaran lalu beranjak pulang untuk tugas keseharian yang sudah menanti. Dia tidak perlu beranjak ke sekolah, dia tidak punya kesempatan dan kemampuan melakukanya. Sejak sekolah dasar dia sudah ditinggal kedua orangtua untuk merantau. Sejak itu, tidak ada kabar, tidak ada pulang, tidak ada pelukan hangat. Neneknya menjadi pengasuh sejak kecil, tetapi neneknya sudah menjadi janda, bahkan sebelum Hali lahir. Hali lebih asing dengan rumah daripada kebun atau pos ronda. Hari ini kegiatan dilakukan seperti biasa, mengganti pakaian di rumah, beranjak ke kebun, memberi makan ternak, memeriksa perangkap yang dipasang untuk ayam hutan, apakah ada yang tertangkap ataukah perangkapnya rusak akibat ulah hewan atau pesaing lain. Hali juga menjadi pekerja tambahan untuk proyek renovasi perpustakaan, hasil dana desa. Walaupun selalu ada renovasi, tempat itu tetap sepi pengunjung.
Hari-hari berjalan seperti biasa, yang selalu dilakukan, seperti sebelumnya. Sebuah rutinitas untuk bertahan dan melaksanakan hidup. Tidak terlalu banyak perubahan, terasa berat, berjalan dengan pelan.
Hari yang panas, atau bisa dibilang semakin panas. Para nelayan dan petani di kampung matahari mengeluhkan hal yang sama, sepertinya panas yang dirasakan semakin terik dari tahun ke tahun. Entah apa yang terjadi, tetapi mereka percaya bahwa jarak matahari semakin dekat dengan bumi. Panas matahari yang semakin terik memicu keringat yang berlebihan, dan ini berdampak bau dan kotornya pakaian yang digunakan. Ros juga merasakan hal yang sama. Setiap pulang sekolah dia harus mencuci ulang pakaian seragamnya agar besok bisa dikenakan lagi, permasalahan ini membuat dia berpikir untuk mempunyai seragam baru sebagai cadangan, tetapi permintaan ini akan dibicarakan lagi dengan bapak setelah tunggakan sekolah dilunaskan.
Hari-hari berjalan seperti biasa, yang selalu dilakukan, seperti sebelumnya. Sebuah rutinitas untuk bertahan dan melaksanakan hidup. Tidak terlalu banyak perubahan, terasa berat, berjalan dengan pelan. Sesuatu yang mengganjal dan terasa sebagai sebuah batu di dalam kepala yang menahan mati semua mimpi yang tumbuh, bahkan untuk tebersit atau menjalar di dalam kepala. Anak-anak tumbuh, beranjak dewasa, dan kampung tetap sama sebagaimana adanya. Ros, Hali, dan anak-anak lain tetap melanjutkan kehidupan seperti biasa, menjadi warga yang baik, yang menerima takdir dan tidak berpikir lebih untuk menjadi sukses atau berhasil selain dapat makan hari ini.
Di tepi pantai, tempat berkumpul dan bercengkerama para anak muda, tempat para nelayan beranjak mengarungi lautan, serta sumber kehidupan warga kampung. Ros dan Hali tanpa sengaja bertemu, seperti sesuatu yang digariskan takdir. Senyum malu tersimpul, maklum, mereka pernah punya kenangan asmara waktu sama-sama duduk di bangku SMP. Sedikit canggung, tetapi tetap saling menyapa. Pertanyaan tentang kabar dan keadaan menjadi pembuka, sebelum pelan-pelan, mereka memasuki percakapan yang lebih dalam.
”Ros, sebentar lagi kau tamat SMA, apakah kau punya rencana setelah tamat SMA?” Hali bertanya tanpa menatap, menjaga sikap dan posisi yang akan membuatnya sebagai lelaki perkasa sambil menatap cakrawala yang mulai memasuki senja.
”Mau buat rencana apa, Hali? Saya pernah bilang mau tes polwan, tapi saya punya bapak bilang tidak cukup uang dan juga tidak ada orang dalam. Saya tidak terlalu mengerti, tapi itu berarti sebuah penolakan, saya tidak punya rencana, saya hanya mengikuti rencana. Kata bapak, setelah tamat SMA, saya akan ikut mama saya merantau, setidaknya untuk membantu agar adik saya tetap melanjutkan sekolah,” Ros menjawab dengan posisi yang sama. Tanpa menghadap Hali, dan sambil melihat beberapa laki-laki yang mulai menaiki sampan.
”Berarti tidak lama lagi. Kapan kau akan pulang?’
”Kita punya pengalaman yang sama tentang perantauan, mungkin akan sangat lama.”
”Tentunya akan ada yang merindukanmu,” kali ini Hali berpaling dari senja dan menatap Ros.
”Senang mengetahuinya, kau mungkin salah satunya,” Ros juga sama menatap Hali, lalu berpaling setelah melihat ayahnya sudah datang untuk mulai mengarungi laut.
Mereka berdua tertawa kemudian berpamitan, Hali harus segera pergi ke pos ronda, dia harus segera membawa hasil tangkapan siput dan sedikit kepiting untuk menjadi lauk malam di pos ronda. Ros harus segera pulang setelah membantu ayahnya mempersiapkan sampan, pekerjaan rumah dan tugas sekolah sudah menanti. Momen yang singkat dan langkah, maklum, keduanya punya rutinitas yang padat, perasaan rindu dan cinta akan pelan-pelan terobati ketika memulai hari esok dengan pekerjaan untuk bertahan hidup.
Itulah kampung matahari, teriknya abadi, tidak hanya pagi atau tengah hari, dia sudah menjalar ke dalam tubuh, api yang membakar kulit serta impian, mengeringkan luka sekaligus cinta. Warga kampung matahari sudah melebur ke dalam panas kampungnya, menjadi abu atau debu untuk menimbun dan menumpuk semua kelelahan. Ros menatap Hali, dari kejauhan punggung laki-laki muda dengan luka dan kerinduan itu mulai menjauh. Hali terbenam pada ingatan tentang Ros, sedikit lamunan tentang masa SMP ketika mereka masih bersama dan mulai menjalani tahap remaja untuk berani memahami cinta. Mereka berdua terbakar asmara, tetapi sebentar lagi semuanya akan kembali seperti biasanya, hari-hari yang biasa, pekerjaan juga rutinitas, kelelahan dan pelampiasan, kemudian berujung pada tidur tanpa mimpi.
Dominiko Ariyanto Djaga, seorang penulis dan kurator, mahasiswa filsafat di IFTK Ledalero. Mengaktivasi beberapa platform pertunjukan dan pameran, menjadi tim riset dari Komunitas KAHE dan peneliti di Tena Pulo Research.
sumber : kompas.id, 07 Feb 2025.