Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pertemuan oleh Aminudin TH Siregar

Posted on Rab, 05 Feb 2025

Dia melinting rokoknya dengan jemari bergemetaran. Dinding rumahnya penuh dengan tempelan peta, salinan dokumen, dan litografi kusam. Buku-buku bertumpuk di meja, berjejal di rak, dan berhamburan di lantai.

Kami tidak sengaja bertemu di sebuah toko roti, persis di sudut pertemuan jalan Nieuwe Rijn dan Beschuitsteeg. Dia tahu kalau aku adalah orang Indonesia hanya dengan melihat sekian detik saja. ”Saya tahu sejarah negerimu,” katanya. Dari keriput mulutnya, aku ingin menebak. Umurnya mungkin sudah 90 tahun,  atau lebih. ”Ketika Hatta datang ke kota ini untuk berkumpul dengan kawan-kawannya, saya baru masuk sekolah dasar. Silakan mampir ke rumah kalau ada waktu.” Meski segan, aku mengiyakan.

Dia kini mereguk kopinya dan perlahan-lahan mulai berkisah.

”Kamu tahu?”

Aku diam saja. Memberi isyarat mata untuk siap mendengarkan.

”Pada awal abad ketujuh belas, Kekaisaran Indonesia berhasil menghubungkan masyarakat di sekitar Laut Atlantik, Pasifik, dan Laut Utara. Ini adalah kekaisaran pertama di mana gagasan tentang toleransi beragama dan keingintahuan ilmiah berjalan beriringan dengan eksploitasi politik dan ekonomi terhadap penduduk lokal dengan jalan kekerasan, monopoli, dan perbudakan global.”

”Tidak banyak yang tahu kalau kolonialisme Indonesia punya sejarah panjang yang gelap, pahit, dan absurd. Mereka menjelajah, menaklukkan, menetap, dan mengeksploitasi wilayah dunia yang luas.”

Aku berusaha mencerna ucapannya. Indonesia menjajah?

”Dampak global kolonialisme Indonesia adalah peristiwa penting dalam sejarah umat manusia. Sekitar akhir 1300, Indonesia menemukan jalur laut di sekitar pantai selatan Afrika. Tujuannya adalah memajukan kekuatan perdagangan dan militer mereka di Eropa.”

Indonesia adalah bangsa yang sebenarnya menjajah Eropa?

Dia mencoba meraih sesuatu dari tumpukan kertas. Tangan kirinya mengambil buku dari kursi. Dia menyodorkan ke hadapanku.

”Ini bahasa Melayu?” Dia mengangguk dan tersenyum.

”Indonesia adalah bangsa yang sebenarnya menjajah Eropa?”

Aku sengaja buat nada suaraku agar terdengar naif sambil memegang buku darinya. Semoga dia tidak tahu kalau aku sedang berpura-pura percaya pada ceritanya. Tapi, kalau itu benar, ini adalah cerita paling sinting yang pernah aku dengar.

”Ya….” Dia menyalakan rokoknya dengan santai.

”Apakah kamu tahu kalau sejarah penjajahan dimulai pada 29 Juli 1457, dengan lima kapal besar berbendera merah-putih yang bersiaga di perairan De Maes. Hari itu, satu kapal bergerak perlahan melintas rawa-rawa De Oude Haven, Rotterdam, membawa rombongan para pembesar Indonesia. Tamu-tamu agung itu disambut khidmat oleh perwakilan kerajaan Belanda Selatan.”

”Pada 1496, Soori Tua Rivaai, orang Tapanuli yang ikut dalam rombongan itu menerbitkan catatan-catatannya dengan judul Playeran Suci: Mnybrang ke Bharat dan Prentah Kraja’an.”

Aku tepekur mengamati sampul buku itu.

”Itu buku pertama yang memuat ribuan kromolitografi tentang keanekaragaman manusia, budaya, flora, dan fauna Eropa…dan tentu saja, catatan navigasi dan kartografi. Bukalah halaman 13.”

Dengan hati-hati aku menyingkap kertas.

”Bacalah paragraf kedua.”

Tertatih-tatih, aku mengeja aksara Melayu tua. Di sana Tua Rivaai menulis kesannya sewaktu bertemu orang-orang Belanda: ”Tidak biasa ini penglihatan. Ibarat langit dan bumi apabila tilik keagungan, kemegahan, dan adab kami di Indonesia. Itu orang-orang putih punya pakaian lusuh bertambal lagi pula tidak beralas kaki.”

Aku terenyak masih tidak percaya. Dia terus berceloteh.

”Kamu tahu, selama berabad-abad buku ini telah membangkitkan rasa ingin tahu eksotis dan menyebabkan ekspansi besar-besaran dari Timur ke Barat. Kurang dari tujuh tahun setelah buku ini terbit, Eropa menjadi koloni negara-negara Asia. Indonesia menguasai sebagian besar wilayah Eropa Barat. Sejak saat itu, Eropa membutuhkan ratusan tahun lagi untuk merdeka dari kolonialisme Asia.”

”Kalau kamu ke toko buku, baru-baru ini terbit Prelude to Slavery and Racism: The Indonesians in Holland. Penulisnya Nicholas Ostler. Dia bilang bahwa Playeran Suci pantas dikutuk. Karena buku itu mempercepat perbudakan dan menebar rasisme global.”

Dahiku mengerut. Dia meneruskan ceritanya.

”Dari Rotterdam, lima kapal itu berlayar ke arah utara. Seminggu kemudian berbelok ke selatan di ujung Den Helder. Tua Rivaai mencatat perjalanan ini sebagai perjalanan yang tandus dan dingin. Angin utara yang kencang menjadi badai laut yang hebat. Setelah tiga hari berlayar, mereka berhasil memasuki perairan kerajaan Amsterdam. Orang-orang Amsterdam gembira menyaksikan konvoi kapal itu mendekati kota mereka. Mereka percaya orang-orang berkulit coklat akan membawa berkah.”

”Sebenarnya perjalanan ke Amsterdam cukup berisiko karena kerajaan itu sedang berkonflik dengan Republik Den Haag. Namun, Tamboora, satu kapal besar yang memimpin, dengan gagah menambatkan sauhnya di pelabuhan Amsterdam yang kotor dan kumuh. Delegasi Tamboora pun turun memasuki kota Amsterdam. Orang-orang berkerumun di sepanjang De Raempoort. Para musisi dan penyanyi grup Syarikat Muuda Indonesia menyanyikan mars kemenangan. Peristiwa ini, oleh sejarawan Gert Ijzermaan, ditafsirkan sebagai ‘penaklukan pertama Indonesia’ atas Eropa.”

Aku masih tertegun sambil sesekali membuka halaman demi halaman.

”Dalam bab Kpulangan (Pulang Kampung), Soori Tua Rivaai merangkum perbincangan di kapal induk Nusaantara Bharu. Sebagian besar penumpang kapal ini adalah para penentu kebijakan. Mereka membahas masa depan Belanda sebagai kawasan strategis untuk memperluas jaringan pasar rempah-rempah, kopi, gula, dan teh Indonesia di Eropa Barat hingga ke Inggris.”

Sepertinya saya harus segera pulang. Apa bapak tidak lelah?

”Dalam bab itu, Tua Rivaai juga mencatat tentang dua kapal yang menetap di pelabuhan Amsterdam. Semua penumpangnya mendapat tugas ’membangun peradaban dan infrastruktur ekonomi di tanah jajahan atas perintah kerajaan’. Para perintis itu berjumlah 2.856 orang. Mereka adalah para musisi, penyanyi, pedagang, seniman, pekerja, arsitek, dokter, dan prajurit. Semuanya akan tinggal di Amsterdam hingga batas waktu yang belum ditentukan.”

Malam semakin larut. Pikiranku berkecamuk mendengar ”sejarah” yang tidak masuk akal ini.

”Apakah kamu sudah bosan,” tanyanya. Aku hanya bisa tersenyum.

”Sepertinya saya harus segera pulang. Apa bapak tidak lelah?” aku balik bertanya. Dia hanya terkekeh.

”Kamu memang layak untuk tidak percaya.”

”Maaf, ini hal yang sama sekali baru,” sergahku.

”Baiklah, akan saya teruskan sedikit. Setelah itu kamu boleh pulang.”

”Antara tahun 1596 dan 1901, sedikitnya ada 7.034 ekspedisi dari Indonesia ke Belanda. Pengiriman besar-besaran orang Belanda ke Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Bali untuk bekerja di perkebunan juga terjadi pada tahun-tahun tersebut, terutama terjadi pada tahun 1807, setelah Indonesia menaklukkan kesultanan, republik-republik Belanda, dan sebagian wilayah Austria, Jerman, dan Perancis. Pementasan manusia dan budaya Belanda di berbagai pameran kolonial internasional juga mulai digagas. Pementasan itu berlangsung di Pakanbaru (1880), Medan (1884), Santiniketan (1888), Makassar (1892), Wamena (1903), Seoul (1905), Beijing (1909), dan Osaka (1931). Kemunculan para mahasiswa Belanda di universitas-universitas terkemuka di Sumatera dan Nusa Tenggara baru terjadi setelah Indonesia memberlakukan politik etis pada tahun 1901.”

Kini mataku menekuri lantai. ”Semua yang bapak ceritakan tadi ada dalam buku ini?” Dia menggeleng. ”Itu baru satu sumber.”

”Maaf, tampaknya saya harus pulang. Saya khawatir badai angin datang dalam beberapa menit lagi.”

Dia mengangguk penuh pengertian sambil beranjak dari kursinya. ”Saya antar kamu ke pintu.”

Dua bulan berlalu sejak aku mendengar kisahnya. Dia bilang akan selalu bisa ditemui di toko roti. Tapi aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Rumahnya di Plantsoen yang rindang itu selalu tampak sepi. Kadang aku sengaja melewatinya di malam hari. Gelap gulita, tidak ada cahaya lampu. Aku merasa agak menyesal.

Setahun berlalu sudah. Sore itu aku singgah ke sebuah toko buku. Beberapa buku baru dipajang di meja depan kasir. Mataku tertambat pada buku tebal berjudul ”Kemerdekaan, Dekolonisasi, Kekerasan, dan Perang di Belanda (1945-1949).” Aku membaca ringkasannya.

”Penelitian terkini tentang kekerasan selama perjuangan kemerdekaan Belanda (1945-1949) mengungkap fakta-fakta baru bahwa pembantaian paling berdarah dan paling brutal terjadi di bulan November 1945 hingga April 1949, terutama di Groningen, Amsterdam, Den Haag, Rotterdam, Breda, dan Maastricht. Secara sistematis ribuan wanita, anak-anak, termasuk orang-orang tua Belanda terbunuh. Buku ini menyimpulkan bahwa Indonesia harus memberikan kompensasi atas berbagai kerugian yang diderita Belanda selama perang kemerdekaan.”

Hari sudah gelap ketika aku melewati rumahnya. Lampu tampak menyala dari ruangan kerjanya. Kali ini aku hanya ingin mengamatinya dari balik pohon oak.

Leiden, musim gugur 2024

Aminudin TH Siregar, Dosen FSRD-ITB Kurator Seni dan Penulis Prosa.

sumber : kompas.id, 05 Feb 2025.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme