Cerpen : Suara Tangis di Malam Lebaran oleh Alexander Robert Nainggolan

Bulan, aku mau lebaran. Aku ingin baju baru,tapi tak punya uang. Ibuku entah di mana sekarang,sedangkan ayahku hanya bisa kubayangkan.Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam?Bulan terharu: kok masih ada yang membutuhkanbajunya yang kuno di antara begitu banyakwarna-warni baju buatan. Bulan mencopot bajunyayang keperakan, mengenakannya pada gadis kecilyang sering menangis di persimpangan jalan.Bulan rela telanjang di … Baca Selengkapnya

Cerpen : Sebuah Cerita Pendek di Meja Kafe oleh Alexander Robert Nainggolan

Untuk Sandi Firly Apa yang bisa kau tebak dari waktu? Waktu yang kerap kali melingkar. Berputar dan kembali lagi pada titik semula. Ia mendapati dirinya sendiri di meja kafe, membaca sebuah cerita pendek. Sendirian. Sunyi berbalur dengan denting-denting instrumentalia dari bilah-bilah piano. Sebuah lagu dari Yiruma, melenting jauh, menebar hening dari jubah malam yang semakin … Baca Selengkapnya

Cerpen : Pedro dan Selembar Resep oleh Alexander Robert Nainggolan

Seperti apakah warna kesedihan? Barangkali memang ia serupa dengan angin yang tak bisa diwarnai dengan nyata dan terang, namun dapat dirasakan. Kesedihan adalah rasa yang bertalu dan tumbuh di sepanjang tubuh. Ia menyekap di relung dada, menciptakan kehampaan yang panjang dan tak pernah bisa diukur. Dan akhirnya memang hanya menciptakan puluhan penyesalan. Penyesalan yang kerapkali … Baca Selengkapnya

Cerpen : Sepotong Malam oleh Alexander R Nainggolan

Sepotong malam itu, akhirnya sampai juga padamu. Mungkin tak pernah sempat kau tolong. Mungkin pula engkau hanya sekadar mendengar lolongannya—yang serupa jeritan seekor anjing kurus. Engkau mengingat-ingat, barangkali masih ada yang terlupa. Tetapi kau tak menemukan apa-apa di rongga kepalamu. Kau merasa telah mengingat segalanya: perempuan yang pernah menambat hatimu berulang kali, teman-teman lama, atau … Baca Selengkapnya

Cerpen : Sepasang Mata dan Tato untuk Seorang Perempuan oleh Alexander Robert

Ketika jarum tipis mencacah setiap lapisan kulit dan membekukan darah, menyatu dalam warna yang membentuk gambar baru di jangat tubuh. Maka aku tidak ingin engkau bersedih terlalu lama, meskipun kehidupan ini dibangun dari helai demi helai elegi. Bergegaslah, cintaku. Akan kutempuh kesakitan demi kesakitan untukmu. ** Sekadar membuktikan rasa cintaku padanya, maka aku membuat sebuah … Baca Selengkapnya