Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sebuah Cerita Pendek di Meja Kafe oleh Alexander Robert Nainggolan

Posted on Kam, 15 Jun 2023

Untuk Sandi Firly

Apa yang bisa kau tebak dari waktu? Waktu yang kerap kali melingkar. Berputar dan kembali lagi pada titik semula. Ia mendapati dirinya sendiri di meja kafe, membaca sebuah cerita pendek. Sendirian. Sunyi berbalur dengan denting-denting instrumentalia dari bilah-bilah piano. Sebuah lagu dari Yiruma, melenting jauh, menebar hening dari jubah malam yang semakin malam. Ia masih memegang selembar surat kabar dengan cerita pendek di hadapannya. Cerita pendek yang termuat dengan judul Suatu Malam, Ketika Puisi Tak Mampu Ia Tulis Lagi. Ah, betapa setiap jalinan kalimat, jejalan fragmen yang terpampang di narasi itu dengan segera mengulitinya.

Ia membacanya perlahan-lahan. Kafe semakin temaram, ditemani dengan lampu meja yang pendar, gelas yang tinggal setengah isinya. Mendadak dadanya merasa terbelah. Seperti ditusuk oleh belati. Ada nyeri yang tertinggal di sana, ada genangan yang segera berkemah di kantung matanya. Meskipun tubuhnya tak berdarah.

Memang dulu, bertahun-tahun lalu, orang-orang mengenalnya sebagai penulis puisi di kota ini. Penyair, demikian sematan dari orang-orang yang takjub dan kagum dari setiap puisi yang dituliskannya. Pun banyak kritikus yang tak mampu mencela puisi-puisi yang dituliskannya, tak menemukan celah sedikitpun untuk mengumpat puisi-puisinya. Akhirnya yang keluar dari mulut para kritikus itu hanyalah sanjung dan pujian.

”Diksi-diksinya hebat.”

”Kata-katanya padat.”

”Jika Chairil Anwar mata kanan, Sutardji mata kiri. Puisi-puisi dari penyair Pedro adalah kedua bola mata dari dunia perpuisian.”

”Ia adalah Hermes sejati.”

”Inilah maestro. Calon penerima hadiah nobel puisi dari negeri ini.”

Nyatanya, bertahun-tahun kemudian, ia ternyata telah buntu untuk sekadar menulis puisi. Ia tak lagi menulis puisi. Ia merasa segala inspirasi, imajinasinya atau kata-katanya telah habis. Ia seperti telah dikuliti oleh kenyataan yang lain. ia merasa tak pernah sanggup untuk menuliskan puisi. Dan nyatanya hari-hari terus berlalu, dunia dan negerinya dilanda pandemi. Jalanan mendadak sunyi. Orang-orang mengenakan masker, kantor-kantor, restoran-restoran banyak yang tutup.

Bahkan dengan kondisi negeri yang dilanda wabah, yang begitu banyak ngilu misteri dari sunyi, di mana setiap orang melakukan isolasi diri sendiri. Pandemi yang seharusnya meninggalkan banyak ruang imajinasi. Namun dirinya tak mampu menuliskan puisi. Meskipun ia senantiasa siap sedia membawa bekal notes atau pulpen di kantung jaket atau tas selempangnya. Barangkali ada insipirasi yang hinggap tiba-tiba, dengan begitu ia akan sigap dengan segera mencatatnya.

Pun saat dirinya mencoba kerja kepenyairan yang dilakukan Chairil Anwar dengan mengorek kata sedalam-dalamnya. Ia menulis satu kata, mencoretnya lagi, menuliskannya lagi mencoretnya kembali. Demikian berulang-ulang dilakukannya. Ia tak lagi sanggup menorehkan kata-kata yang baru, hanya didapati kertas yang dipenuhi dengan coretan. Ia merasa hanya bertemu dengan diksi yang serupa. Tak ada kedalaman, tak ada kesegaran.

Meskipun ia teringat saat bertemu Sutardji di stasiun kereta, saat itu ia mengisahkan jika dirinya telah buntu menulis puisi. ”Sabarlah tak perlu tergesa, kelak kata-kata akan mencarimu kembali,” hanya kalimat itu yang terngiang di kepalanya.

*

Hari ini ia mulai menulis puisi lagi. Hal itu terjadi dengan sekejap saja. Sebagaimana juga waktu yang kerap melingkar dan senantiasa melangkah dan menuju titik mula. Saat pandemi wabah sudah berkurang dan dunia kuliner kembali gemerlapan. Jalanan kembali macet. Ketika ia sedang berdiam di kafe memesan secangkir macchiato. Seorang perempuan di meja seberang duduk sendirian, menyapanya, melambaikan tangan dan mengajaknya bergabung satu meja.

”Apakah aku mengenalmu?” ia bertanya dengan spontan

”Tentu, nanti kita akan saling kenal. Tapi aku sesungguhnya telah mengenalmu terlebih dahulu. Kau adalah penyair yang puisinya selalu dipuja orang. Puisinya yang selalu dibacakan di berbagai kesempatan.”

”Itu dahulu, sudah bertahun-tahun aku tak lagi menulis puisi.”

”Isabela.”

”Pedro.”

Sejak hari itu, inspirasi yang tak kunjung menghampirinya bertahun-tahun seolah kembali dengan seketika. Sebagaimana petir di siang bolong, diksi demi diksi mengalir deras seperti air bah di kepalanya. Semua peristiwa seakan melahirkan pengalaman puitik. Saat dirinya berjalan menelusuri jalanan sepanjang kota. Saat ia memeluk tubuhnya di ujung gang. Saat wangi parfumnya bersentuhan di jaketnya. Ketika ia bercinta. Ketika mereka berciuman dengan hangat. Ketika mereka duduk berjam-jam di sebuah kafe kecil.

Mereka seolah pinang dibelah dua. Saling melengkapi. Semacam perpaduan Mahatma dan Dalai Lama.* Dan mulai hari itu, puisi-puisi kembali dituliskannya. Hampir semua media di negeri ini memuat puisi-puisi yang dituliskannya. Dan kembali sanjungan menggema.

”Akhirnya penyair kita telah kembali. Percayalah setelah ini nobel puisi akan diraih negeri ini…”

”Puisi kembali jadi mode kekinian.”

”Puisi ini akan abadi.”

*

”Suka atau tidak suka aku memang harus pergi meninggalkan Pedro,” ucap Isabela pada Nanda, waitress kafe yang juga sahabat lamanya di kafe. ”Dadaku sudah terlalu penuh. Puisi-puisinya harus segera berhenti, sebelum cintaku memudar atau sebelum cintanya beralih kepada yang lain. Ia harus abadi sebagaimana juga puisi yang dituliskannya. Ia mesti tak ada supaya puisinya selalu ada. Dan kau hanya harus menaburkan sedikit di cangkir minumannya.”

Isabela memberikan serbuk sianida dalam bungkusan plastik kecil.

”Tapi…,” kejar Nanda.

”Tak perlu bertanya lagi, tolong demi persahabatan kita. Asmara ini harus berakhir. Ia pemuja Eros sejati, aku tak lagi sanggup…”

Tangisan yang luruh membuat Nanda menganggukkan kepalanya.

*

Dadaku sudah terlalu penuh. Puisi-puisinya harus segera berhenti, sebelum cintaku memudar atau sebelum cintanya beralih kepada yang lain. Ia harus abadi sebagaimana juga puisi yang dituliskannya. Ia mesti tak ada supaya puisinya selalu ada. Dan kau hanya harus menaburkan sedikit di cangkir minumannya.

Ia, lelaki itu berdiam diri di meja kafe, lampu-lampu tumbuh menebar cahayanya yang penuh dengan pijar putih, malam semakin sunyi. Perempuan yang ditunggunya tak kunjung datang. Segalanya seperti pudar dengan sekejap. Tak ada lagi kabar yang bergetar di telepon selulernya. Perempuan itu menghilang seperti hantu. Nomor teleponnya hanya meninggalkan dering telepon panjang yang kering. Tanpa jawaban.

Tiba-tiba ia teringat tentang kematian. Firasat yang terus tumbuh. Cemas yang bergemuruh. Semakin ia tenangkan diri dan hati, semakin dekat bayangan maut itu menyergap. Tiba-tiba ia seperti dihipnotis jika ajalnya sudah dekat. Seperti di pangkal lehernya. Maut yang menguntit dan menjepit tubuhnya. Maut yang bercakap dengannya sepanjang hari.

Dini hari yang dingin. Partikel embun merayap di daun pintu dan jendela kafe. Lelaki itu menunduk dan menyanggahkan kepalanya pada tangan yang terlipat. Di hadapannya ada secangkir macchiato yang tinggal setengah. Juga sesobek cerita pendek berjudul ”Suatu Malam, Ketika Puisi Tak Mampu Ia Tulis Lagi”, dengan lembaran yang telah menguning. Lembaran koran yang tertindih lengan sebelah kanannya. Lembaran yang begitu sering dibawanya untuk dibaca berulang-ulang. Di ujung bibirnya ada buih-buih putih. Matanya terpejam dan nafasnya sudah tak terdengar lagi. Malam memasuki pagi. Di kejauhan terdengar musikalisasi dari sebuah puisi:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya tiada **

2020-2023

Catatan:

* Ingatan pada bait lagu dari Panji Sakti.

** Puisi Sapardi Djoko Damono, ”Aku Ingin”, yang populer dinyanyikan oleh Ari Reda.

***

Alexander Robert Nainggolan (Alex R Nainggolan) lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Bekerja sebagai staf Unit Pengelola Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPPMPTSP) Jakarta Barat. Menyelesaikan studi di Jurusan Manajemen FE Universitas Lampung. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di media cetak dan online. Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016), Dua Pekan Kesunyian (kumpulan puisi, Penerbit JBS, 2023).

sumber : kompas.id, 15 Jun 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme