Untuk Sandi Firly
Apa yang bisa kau tebak dari waktu? Waktu yang kerap kali melingkar. Berputar dan kembali lagi pada titik semula. Ia mendapati dirinya sendiri di meja kafe, membaca sebuah cerita pendek. Sendirian. Sunyi berbalur dengan denting-denting instrumentalia dari bilah-bilah piano. Sebuah lagu dari Yiruma, melenting jauh, menebar hening dari jubah malam yang semakin malam. Ia masih memegang selembar surat kabar dengan cerita pendek di hadapannya. Cerita pendek yang termuat dengan judul Suatu Malam, Ketika Puisi Tak Mampu Ia Tulis Lagi. Ah, betapa setiap jalinan kalimat, jejalan fragmen yang terpampang di narasi itu dengan segera mengulitinya.
Ia membacanya perlahan-lahan. Kafe semakin temaram, ditemani dengan lampu meja yang pendar, gelas yang tinggal setengah isinya. Mendadak dadanya merasa terbelah. Seperti ditusuk oleh belati. Ada nyeri yang tertinggal di sana, ada genangan yang segera berkemah di kantung matanya. Meskipun tubuhnya tak berdarah.
Memang dulu, bertahun-tahun lalu, orang-orang mengenalnya sebagai penulis puisi di kota ini. Penyair, demikian sematan dari orang-orang yang takjub dan kagum dari setiap puisi yang dituliskannya. Pun banyak kritikus yang tak mampu mencela puisi-puisi yang dituliskannya, tak menemukan celah sedikitpun untuk mengumpat puisi-puisinya. Akhirnya yang keluar dari mulut para kritikus itu hanyalah sanjung dan pujian.
”Diksi-diksinya hebat.”
”Kata-katanya padat.”
”Jika Chairil Anwar mata kanan, Sutardji mata kiri. Puisi-puisi dari penyair Pedro adalah kedua bola mata dari dunia perpuisian.”
”Ia adalah Hermes sejati.”
”Inilah maestro. Calon penerima hadiah nobel puisi dari negeri ini.”
Nyatanya, bertahun-tahun kemudian, ia ternyata telah buntu untuk sekadar menulis puisi. Ia tak lagi menulis puisi. Ia merasa segala inspirasi, imajinasinya atau kata-katanya telah habis. Ia seperti telah dikuliti oleh kenyataan yang lain. ia merasa tak pernah sanggup untuk menuliskan puisi. Dan nyatanya hari-hari terus berlalu, dunia dan negerinya dilanda pandemi. Jalanan mendadak sunyi. Orang-orang mengenakan masker, kantor-kantor, restoran-restoran banyak yang tutup.
Bahkan dengan kondisi negeri yang dilanda wabah, yang begitu banyak ngilu misteri dari sunyi, di mana setiap orang melakukan isolasi diri sendiri. Pandemi yang seharusnya meninggalkan banyak ruang imajinasi. Namun dirinya tak mampu menuliskan puisi. Meskipun ia senantiasa siap sedia membawa bekal notes atau pulpen di kantung jaket atau tas selempangnya. Barangkali ada insipirasi yang hinggap tiba-tiba, dengan begitu ia akan sigap dengan segera mencatatnya.
Pun saat dirinya mencoba kerja kepenyairan yang dilakukan Chairil Anwar dengan mengorek kata sedalam-dalamnya. Ia menulis satu kata, mencoretnya lagi, menuliskannya lagi mencoretnya kembali. Demikian berulang-ulang dilakukannya. Ia tak lagi sanggup menorehkan kata-kata yang baru, hanya didapati kertas yang dipenuhi dengan coretan. Ia merasa hanya bertemu dengan diksi yang serupa. Tak ada kedalaman, tak ada kesegaran.
Meskipun ia teringat saat bertemu Sutardji di stasiun kereta, saat itu ia mengisahkan jika dirinya telah buntu menulis puisi. ”Sabarlah tak perlu tergesa, kelak kata-kata akan mencarimu kembali,” hanya kalimat itu yang terngiang di kepalanya.
*
Hari ini ia mulai menulis puisi lagi. Hal itu terjadi dengan sekejap saja. Sebagaimana juga waktu yang kerap melingkar dan senantiasa melangkah dan menuju titik mula. Saat pandemi wabah sudah berkurang dan dunia kuliner kembali gemerlapan. Jalanan kembali macet. Ketika ia sedang berdiam di kafe memesan secangkir macchiato. Seorang perempuan di meja seberang duduk sendirian, menyapanya, melambaikan tangan dan mengajaknya bergabung satu meja.
”Apakah aku mengenalmu?” ia bertanya dengan spontan
”Tentu, nanti kita akan saling kenal. Tapi aku sesungguhnya telah mengenalmu terlebih dahulu. Kau adalah penyair yang puisinya selalu dipuja orang. Puisinya yang selalu dibacakan di berbagai kesempatan.”
”Itu dahulu, sudah bertahun-tahun aku tak lagi menulis puisi.”
”Isabela.”
”Pedro.”
Sejak hari itu, inspirasi yang tak kunjung menghampirinya bertahun-tahun seolah kembali dengan seketika. Sebagaimana petir di siang bolong, diksi demi diksi mengalir deras seperti air bah di kepalanya. Semua peristiwa seakan melahirkan pengalaman puitik. Saat dirinya berjalan menelusuri jalanan sepanjang kota. Saat ia memeluk tubuhnya di ujung gang. Saat wangi parfumnya bersentuhan di jaketnya. Ketika ia bercinta. Ketika mereka berciuman dengan hangat. Ketika mereka duduk berjam-jam di sebuah kafe kecil.
Mereka seolah pinang dibelah dua. Saling melengkapi. Semacam perpaduan Mahatma dan Dalai Lama.* Dan mulai hari itu, puisi-puisi kembali dituliskannya. Hampir semua media di negeri ini memuat puisi-puisi yang dituliskannya. Dan kembali sanjungan menggema.
”Akhirnya penyair kita telah kembali. Percayalah setelah ini nobel puisi akan diraih negeri ini…”
”Puisi kembali jadi mode kekinian.”
”Puisi ini akan abadi.”
*
”Suka atau tidak suka aku memang harus pergi meninggalkan Pedro,” ucap Isabela pada Nanda, waitress kafe yang juga sahabat lamanya di kafe. ”Dadaku sudah terlalu penuh. Puisi-puisinya harus segera berhenti, sebelum cintaku memudar atau sebelum cintanya beralih kepada yang lain. Ia harus abadi sebagaimana juga puisi yang dituliskannya. Ia mesti tak ada supaya puisinya selalu ada. Dan kau hanya harus menaburkan sedikit di cangkir minumannya.”
Isabela memberikan serbuk sianida dalam bungkusan plastik kecil.
”Tapi…,” kejar Nanda.
”Tak perlu bertanya lagi, tolong demi persahabatan kita. Asmara ini harus berakhir. Ia pemuja Eros sejati, aku tak lagi sanggup…”
Tangisan yang luruh membuat Nanda menganggukkan kepalanya.
*
Dadaku sudah terlalu penuh. Puisi-puisinya harus segera berhenti, sebelum cintaku memudar atau sebelum cintanya beralih kepada yang lain. Ia harus abadi sebagaimana juga puisi yang dituliskannya. Ia mesti tak ada supaya puisinya selalu ada. Dan kau hanya harus menaburkan sedikit di cangkir minumannya.
Ia, lelaki itu berdiam diri di meja kafe, lampu-lampu tumbuh menebar cahayanya yang penuh dengan pijar putih, malam semakin sunyi. Perempuan yang ditunggunya tak kunjung datang. Segalanya seperti pudar dengan sekejap. Tak ada lagi kabar yang bergetar di telepon selulernya. Perempuan itu menghilang seperti hantu. Nomor teleponnya hanya meninggalkan dering telepon panjang yang kering. Tanpa jawaban.
Tiba-tiba ia teringat tentang kematian. Firasat yang terus tumbuh. Cemas yang bergemuruh. Semakin ia tenangkan diri dan hati, semakin dekat bayangan maut itu menyergap. Tiba-tiba ia seperti dihipnotis jika ajalnya sudah dekat. Seperti di pangkal lehernya. Maut yang menguntit dan menjepit tubuhnya. Maut yang bercakap dengannya sepanjang hari.
Dini hari yang dingin. Partikel embun merayap di daun pintu dan jendela kafe. Lelaki itu menunduk dan menyanggahkan kepalanya pada tangan yang terlipat. Di hadapannya ada secangkir macchiato yang tinggal setengah. Juga sesobek cerita pendek berjudul ”Suatu Malam, Ketika Puisi Tak Mampu Ia Tulis Lagi”, dengan lembaran yang telah menguning. Lembaran koran yang tertindih lengan sebelah kanannya. Lembaran yang begitu sering dibawanya untuk dibaca berulang-ulang. Di ujung bibirnya ada buih-buih putih. Matanya terpejam dan nafasnya sudah tak terdengar lagi. Malam memasuki pagi. Di kejauhan terdengar musikalisasi dari sebuah puisi:
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya tiada **
2020-2023
Catatan:
* Ingatan pada bait lagu dari Panji Sakti.
** Puisi Sapardi Djoko Damono, ”Aku Ingin”, yang populer dinyanyikan oleh Ari Reda.
***
Alexander Robert Nainggolan (Alex R Nainggolan) lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Bekerja sebagai staf Unit Pengelola Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPPMPTSP) Jakarta Barat. Menyelesaikan studi di Jurusan Manajemen FE Universitas Lampung. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di media cetak dan online. Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012), Silsilah Kata (kumpulan puisi, Penerbit basabasi, 2016), Dua Pekan Kesunyian (kumpulan puisi, Penerbit JBS, 2023).
sumber : kompas.id, 15 Jun 2023.