Cerpen : Jejak Wangi di Tanah Bubat oleh Darju Prasetya

Di bawah langit senja yang memerah seperti darah, aku masih bisa mendengar bisikan angin membawa aroma kematian. Bubat, tanah yang dulu subur ini, kini menjadi saksi bisu ambisi yang memakan korban. Namaku Jayakatong, penyair istana yang menyaksikan bagaimana cinta dan kekuasaan bisa begitu kejam berdansa. Semua bermula dari sekuntum melati yang hendak dipetik sang garuda. … Baca Selengkapnya