Di bawah langit senja yang memerah seperti darah, aku masih bisa mendengar bisikan angin membawa aroma kematian. Bubat, tanah yang dulu subur ini, kini menjadi saksi bisu ambisi yang memakan korban. Namaku Jayakatong, penyair istana yang menyaksikan bagaimana cinta dan kekuasaan bisa begitu kejam berdansa.
Semua bermula dari sekuntum melati yang hendak dipetik sang garuda. Hayam Wuruk, raja kami yang agung, jatuh hati pada Dyah Pitaloka, putri Sunda yang konon kecantikannya bisa membuat bulan malu bersembunyi. Namun siapa sangka, di balik rencana pernikahan yang seharusnya menjadi jembatan perdamaian, tersimpan belati tajam bernama ambisi.
“Tuan Penyair,” suara serak itu mengejutkanku. Seorang lelaki tua dengan bekas luka di wajahnya menghampiri. “Masihkah kau ingat hari itu?”
Bagaimana aku bisa lupa? Hari ketika Gajah Mada, sang mahapatih yang diselimuti kabut kekuasaan, mengubah prosesi pernikahan menjadi upacara penghinaan. Rombongan Sunda yang datang dengan hati terbuka dipaksa berlutut, mengakui kedaulatan Majapahit.
Keagungan tak selalu berbanding lurus dengan kebesaran hati.
“Keagungan tak selalu berbanding lurus dengan kebesaran hati,” bisikku pada angin.
Kulihat kembali dalam ingatanku, bagaimana Prabu Linggabuana memilih mati berdiri daripada hidup berlutut. Putrinya, Dyah Pitaloka, seperti bunga yang dipetik sebelum mekar, memilih mengikuti ayahnya ke alam baka. Dan Hayam Wuruk? Ah, cintanya yang tulus kini hanya tinggal puing, seperti istana pasir yang tersapu ombak.
“Maaf,” kata itu terucap dari bibir sang raja, tapi kata-kata tak bisa menghidupkan yang telah mati. Tak bisa menyatukan yang telah terbelah.
Twist yang mengejutkan datang bertahun kemudian. Suatu malam, seorang pelayan tua memberiku gulungan kertas usang. Di dalamnya, tertulis surat rahasia Gajah Mada yang tak pernah tersampaikan – pengakuannya bahwa semua yang ia lakukan adalah untuk melindungi rahasia besar Majapahit: ramalan tentang kehancuran kerajaan jika darah Sunda dan Majapahit bersatu.
Kini, setiap kali melewati tanah Bubat, penduduk setempat berkata bisa mencium aroma wangi yang misterius. Mereka menyebutnya “Jejak Prabu Wangi” – raja yang memilih kehormatan di atas kehidupan. Dan putrinya? Konon, pada malam-malam tertentu, bunga melati di sekitar Bubat akan bermekaran lebih indah dari biasanya, seolah air mata Dyah Pitaloka telah menjadi embun yang memberi kehidupan.
Aku, sang penyair tua, hanya bisa tersenyum getir. Betapa ironis, dari tragedi ini lahir legenda yang tak pernah mati. Prabu Siliwangi, putra yang tak ikut dalam rombongan naas itu, membangun kejayaan baru dengan aroma keharuman yang berbeda – bukan dari darah yang tertumpah, tapi dari kebijaksanaan yang tumbuh dari kepahitan.
Di tanah Bubat ini, aku masih sering duduk sendiri. Membayangkan bagaimana sejarah bisa begitu berbeda jika ambisi tak mengalahkan cinta, jika kekuasaan tak membutakan hati. Tapi mungkin, justru dari luka inilah, kita belajar bahwa keagungan sejati tak diukur dari luasnya wilayah, tapi dari dalam hati yang mampu mengakui kesalahan dan belajar darinya.
Angin senja kembali berbisik, membawa aroma melati yang entah dari mana. Mungkin ini cara Dyah Pitaloka mengingatkan kita: bahwa cinta sejati, seperti wangi bunga, tak pernah benar-benar mati.
Saat matahari mulai tenggelam, aku melihat sosok seorang gadis muda duduk di bawah pohon kenanga. Pakaiannya sederhana, tetapi ada sesuatu yang berbeda dari auranya. Ia mengingatkanku pada seseorang.
“Tuan Penyair,” panggilnya lembut. “Bolehkah aku mendengar kisah yang sebenarnya tentang Putri Dyah Pitaloka?”
Aku menghampirinya perlahan. “Siapa kau, Nak?”
“Aku Sekar, keturunan ke-15 dari pengawal pribadi Putri Dyah Pitaloka yang selamat dari peristiwa Bubat,” jawabnya dengan mata berkaca-kaca. “Keluarga kami menyimpan cerita ini secara turun-temurun, tapi aku ingin mendengar dari saksi mata langsung.”
Malam sebelum tragedi itu, Putri Dyah Pitaloka bermimpi. Dalam mimpinya, ia melihat seekor garuda dan merak menari bersama di langit, menciptakan harmoni yang indah.
Kuceritakan padanya detail yang tak pernah kutuliskan dalam syair-syairku. Tentang bagaimana sebenarnya Dyah Pitaloka sempat menulis surat terakhir untuk Hayam Wuruk – surat yang kemudian dibakar oleh Gajah Mada. Tentang ramalan kuno yang ternyata salah ditafsirkan: bukan kehancuran yang akan terjadi jika darah Sunda dan Majapahit bersatu, melainkan kelahiran era baru yang lebih gemilang.
“Malam sebelum tragedi itu,” aku melanjutkan, “Putri Dyah Pitaloka bermimpi. Dalam mimpinya, ia melihat seekor garuda dan merak menari bersama di langit, menciptakan harmoni yang indah. Tapi ketika ia menceritakan mimpi ini pada dayangnya, Gajah Mada kebetulan mendengar. Dan ramalan itulah yang membuatnya ketakutan.”
Sekar mendengarkan dengan seksama, sesekali menyeka air matanya. “Lalu bagaimana dengan cincin pemberian Hayam Wuruk? Nenekku bercerita bahwa cincin itu masih ada.”
Aku terkejut. Selama ini aku mengira cincin itu hilang bersama jasad sang putri. “Cincin itu masih ada?”
“Ya, disimpan oleh keluarga kami. Konon, cincin itu memiliki ukiran rahasia di bagian dalamnya – sebuah janji Hayam Wuruk untuk mempersatukan dua kerajaan dalam damai, bukan dalam takluk.”
Senja semakin gelap ketika Sekar mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil dari balik selendangnya. Di dalamnya, sebuah cincin emas dengan batu permata biru berkilau lembut. Tanganku gemetar membacakan ukiran di dalamnya: “Dua jiwa satu cinta, dua kerajaan satu nusa.”
“Tuan,” Sekar berbisik, “tahukah kau bahwa setelah peristiwa Bubat, Hayam Wuruk diam-diam membangun sebuah taman rahasia? Taman itu penuh dengan bunga melati dan kenanga – bunga kesukaan Dyah Pitaloka. Setiap malam purnama, ia menghabiskan waktu di sana, membaca puisi-puisi cinta yang tak pernah tersampaikan.”
Dua jiwa satu cinta, dua kerajaan satu nusa.
Informasi ini baru bagiku. Selama ini aku hanya tahu Hayam Wuruk menjadi lebih pendiam dan sering mengurung diri. “Bagaimana kau tahu semua ini?”
“Kakek buyutku adalah tukang kebun taman itu. Ia menyaksikan bagaimana sang raja sering berbicara sendiri, seolah-olah Dyah Pitaloka ada di sampingnya. Dan yang lebih mengejutkan…” Sekar mengeluarkan sepucuk surat usang, “ini adalah salinan surat terakhir Hayam Wuruk untuk Dyah Pitaloka yang tak pernah terkirim.”
Dengan hati-hati kubaca surat itu. Air mataku menetes membaca kata-kata penuh penyesalan dan cinta yang tulus. Di akhir surat, ada sebait puisi yang membuat hatiku mencelos:
“Dalam setiap hembus angin
Yang membawa wangi melati
Kudengar bisikan lembut bibirmu
Mengingatkan bahwa cinta sejati
Tak pernah takluk pada waktu”
“Setelah kematian Hayam Wuruk,” Sekar melanjutkan, “taman itu ditutup dan dilupakan. Tapi konon, setiap tahun pada tanggal kematian Dyah Pitaloka, bunga-bunga di sana bermekaran dengan sendirinya, menyebarkan wangi yang dapat tercium hingga ke Bubat.”
Malam telah turun sepenuhnya. Di kejauhan, kunang-kunang mulai menari, seperti lentera-lentera kecil yang menuntun jiwa-jiwa yang tersesat. Sekar bangkit perlahan, mengembalikan cincin ke dalam kotaknya.
“Tuan Penyair, izinkan aku menjaga kisah ini. Bukan sebagai tragedi, tapi sebagai pengingat bahwa cinta sejati tak mengenal batas kerajaan atau kasta. Dan mungkin suatu hari, ketika dunia lebih bijak, kisah Dyah Pitaloka dan Hayam Wuruk akan menjadi lambang persatuan, bukan perpecahan.”
Setiap tragedi menyimpan benih kebijaksanaan.
Aku mengangguk setuju. Sekar membungkuk hormat sebelum berlalu, meninggalkanku dengan sejuta renungan baru. Di tanah Bubat ini, di mana darah pernah mengalir dan air mata pernah jatuh, kini tumbuh harapan baru. Seperti melati yang tetap mekar di antara bebatuan, cinta sejati akan selalu menemukan jalannya untuk bertahan hidup.
Malam semakin larut, tapi aroma wangi itu tak pernah pudar. Mungkin inilah cara alam mengingatkan kita: bahwa setiap tragedi menyimpan benih kebijaksanaan, dan setiap luka bisa menjadi pintu menuju pemahaman yang lebih dalam tentang arti cinta dan pengorbanan.
Darju Prasetya, pengarang lahir di Tuban, Jawa Timur. Karyanya pernah dimuat di beberapa media cetak maupun online. Buku antologi cerpen terbarunya berjudul “Dunia dalam Warna-Warni”.
sumber : kompas.id, 02 Apr 2025.