Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Jejak Wangi di Tanah Bubat oleh Darju Prasetya

Posted on Rab, 02 Apr 2025

Di bawah langit senja yang memerah seperti darah, aku masih bisa mendengar bisikan angin membawa aroma kematian. Bubat, tanah yang dulu subur ini, kini menjadi saksi bisu ambisi yang memakan korban. Namaku Jayakatong, penyair istana yang menyaksikan bagaimana cinta dan kekuasaan bisa begitu kejam berdansa.

Semua bermula dari sekuntum melati yang hendak dipetik sang garuda. Hayam Wuruk, raja kami yang agung, jatuh hati pada Dyah Pitaloka, putri Sunda yang konon kecantikannya bisa membuat bulan malu bersembunyi. Namun siapa sangka, di balik rencana pernikahan yang seharusnya menjadi jembatan perdamaian, tersimpan belati tajam bernama ambisi.

“Tuan Penyair,” suara serak itu mengejutkanku. Seorang lelaki tua dengan bekas luka di wajahnya menghampiri. “Masihkah kau ingat hari itu?”

Bagaimana aku bisa lupa? Hari ketika Gajah Mada, sang mahapatih yang diselimuti kabut kekuasaan, mengubah prosesi pernikahan menjadi upacara penghinaan. Rombongan Sunda yang datang dengan hati terbuka dipaksa berlutut, mengakui kedaulatan Majapahit.

Keagungan tak selalu berbanding lurus dengan kebesaran hati.

“Keagungan tak selalu berbanding lurus dengan kebesaran hati,” bisikku pada angin.

Kulihat kembali dalam ingatanku, bagaimana Prabu Linggabuana memilih mati berdiri daripada hidup berlutut. Putrinya, Dyah Pitaloka, seperti bunga yang dipetik sebelum mekar, memilih mengikuti ayahnya ke alam baka. Dan Hayam Wuruk? Ah, cintanya yang tulus kini hanya tinggal puing, seperti istana pasir yang tersapu ombak.

“Maaf,” kata itu terucap dari bibir sang raja, tapi kata-kata tak bisa menghidupkan yang telah mati. Tak bisa menyatukan yang telah terbelah.

Twist yang mengejutkan datang bertahun kemudian. Suatu malam, seorang pelayan tua memberiku gulungan kertas usang. Di dalamnya, tertulis surat rahasia Gajah Mada yang tak pernah tersampaikan – pengakuannya bahwa semua yang ia lakukan adalah untuk melindungi rahasia besar Majapahit: ramalan tentang kehancuran kerajaan jika darah Sunda dan Majapahit bersatu.

Kini, setiap kali melewati tanah Bubat, penduduk setempat berkata bisa mencium aroma wangi yang misterius. Mereka menyebutnya “Jejak Prabu Wangi” – raja yang memilih kehormatan di atas kehidupan. Dan putrinya? Konon, pada malam-malam tertentu, bunga melati di sekitar Bubat akan bermekaran lebih indah dari biasanya, seolah air mata Dyah Pitaloka telah menjadi embun yang memberi kehidupan.

Aku, sang penyair tua, hanya bisa tersenyum getir. Betapa ironis, dari tragedi ini lahir legenda yang tak pernah mati. Prabu Siliwangi, putra yang tak ikut dalam rombongan naas itu, membangun kejayaan baru dengan aroma keharuman yang berbeda – bukan dari darah yang tertumpah, tapi dari kebijaksanaan yang tumbuh dari kepahitan.

Di tanah Bubat ini, aku masih sering duduk sendiri. Membayangkan bagaimana sejarah bisa begitu berbeda jika ambisi tak mengalahkan cinta, jika kekuasaan tak membutakan hati. Tapi mungkin, justru dari luka inilah, kita belajar bahwa keagungan sejati tak diukur dari luasnya wilayah, tapi dari dalam hati yang mampu mengakui kesalahan dan belajar darinya.

Angin senja kembali berbisik, membawa aroma melati yang entah dari mana. Mungkin ini cara Dyah Pitaloka mengingatkan kita: bahwa cinta sejati, seperti wangi bunga, tak pernah benar-benar mati.

Saat matahari mulai tenggelam, aku melihat sosok seorang gadis muda duduk di bawah pohon kenanga. Pakaiannya sederhana, tetapi ada sesuatu yang berbeda dari auranya. Ia mengingatkanku pada seseorang.

“Tuan Penyair,” panggilnya lembut. “Bolehkah aku mendengar kisah yang sebenarnya tentang Putri Dyah Pitaloka?”

Aku menghampirinya perlahan. “Siapa kau, Nak?”

“Aku Sekar, keturunan ke-15 dari pengawal pribadi Putri Dyah Pitaloka yang selamat dari peristiwa Bubat,” jawabnya dengan mata berkaca-kaca. “Keluarga kami menyimpan cerita ini secara turun-temurun, tapi aku ingin mendengar dari saksi mata langsung.”

Malam sebelum tragedi itu, Putri Dyah Pitaloka bermimpi. Dalam mimpinya, ia melihat seekor garuda dan merak menari bersama di langit, menciptakan harmoni yang indah.

Kuceritakan padanya detail yang tak pernah kutuliskan dalam syair-syairku. Tentang bagaimana sebenarnya Dyah Pitaloka sempat menulis surat terakhir untuk Hayam Wuruk – surat yang kemudian dibakar oleh Gajah Mada. Tentang ramalan kuno yang ternyata salah ditafsirkan: bukan kehancuran yang akan terjadi jika darah Sunda dan Majapahit bersatu, melainkan kelahiran era baru yang lebih gemilang.

“Malam sebelum tragedi itu,” aku melanjutkan, “Putri Dyah Pitaloka bermimpi. Dalam mimpinya, ia melihat seekor garuda dan merak menari bersama di langit, menciptakan harmoni yang indah. Tapi ketika ia menceritakan mimpi ini pada dayangnya, Gajah Mada kebetulan mendengar. Dan ramalan itulah yang membuatnya ketakutan.”

Sekar mendengarkan dengan seksama, sesekali menyeka air matanya. “Lalu bagaimana dengan cincin pemberian Hayam Wuruk? Nenekku bercerita bahwa cincin itu masih ada.”

Aku terkejut. Selama ini aku mengira cincin itu hilang bersama jasad sang putri. “Cincin itu masih ada?”

“Ya, disimpan oleh keluarga kami. Konon, cincin itu memiliki ukiran rahasia di bagian dalamnya – sebuah janji Hayam Wuruk untuk mempersatukan dua kerajaan dalam damai, bukan dalam takluk.”

Senja semakin gelap ketika Sekar mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil dari balik selendangnya. Di dalamnya, sebuah cincin emas dengan batu permata biru berkilau lembut. Tanganku gemetar membacakan ukiran di dalamnya: “Dua jiwa satu cinta, dua kerajaan satu nusa.”

“Tuan,” Sekar berbisik, “tahukah kau bahwa setelah peristiwa Bubat, Hayam Wuruk diam-diam membangun sebuah taman rahasia? Taman itu penuh dengan bunga melati dan kenanga – bunga kesukaan Dyah Pitaloka. Setiap malam purnama, ia menghabiskan waktu di sana, membaca puisi-puisi cinta yang tak pernah tersampaikan.”

Dua jiwa satu cinta, dua kerajaan satu nusa.

Informasi ini baru bagiku. Selama ini aku hanya tahu Hayam Wuruk menjadi lebih pendiam dan sering mengurung diri. “Bagaimana kau tahu semua ini?”

“Kakek buyutku adalah tukang kebun taman itu. Ia menyaksikan bagaimana sang raja sering berbicara sendiri, seolah-olah Dyah Pitaloka ada di sampingnya. Dan yang lebih mengejutkan…” Sekar mengeluarkan sepucuk surat usang, “ini adalah salinan surat terakhir Hayam Wuruk untuk Dyah Pitaloka yang tak pernah terkirim.”

Dengan hati-hati kubaca surat itu. Air mataku menetes membaca kata-kata penuh penyesalan dan cinta yang tulus. Di akhir surat, ada sebait puisi yang membuat hatiku mencelos:

“Dalam setiap hembus angin
Yang membawa wangi melati
Kudengar bisikan lembut bibirmu
Mengingatkan bahwa cinta sejati
Tak pernah takluk pada waktu”

“Setelah kematian Hayam Wuruk,” Sekar melanjutkan, “taman itu ditutup dan dilupakan. Tapi konon, setiap tahun pada tanggal kematian Dyah Pitaloka, bunga-bunga di sana bermekaran dengan sendirinya, menyebarkan wangi yang dapat tercium hingga ke Bubat.”

Malam telah turun sepenuhnya. Di kejauhan, kunang-kunang mulai menari, seperti lentera-lentera kecil yang menuntun jiwa-jiwa yang tersesat. Sekar bangkit perlahan, mengembalikan cincin ke dalam kotaknya.

“Tuan Penyair, izinkan aku menjaga kisah ini. Bukan sebagai tragedi, tapi sebagai pengingat bahwa cinta sejati tak mengenal batas kerajaan atau kasta. Dan mungkin suatu hari, ketika dunia lebih bijak, kisah Dyah Pitaloka dan Hayam Wuruk akan menjadi lambang persatuan, bukan perpecahan.”

Setiap tragedi menyimpan benih kebijaksanaan.

Aku mengangguk setuju. Sekar membungkuk hormat sebelum berlalu, meninggalkanku dengan sejuta renungan baru. Di tanah Bubat ini, di mana darah pernah mengalir dan air mata pernah jatuh, kini tumbuh harapan baru. Seperti melati yang tetap mekar di antara bebatuan, cinta sejati akan selalu menemukan jalannya untuk bertahan hidup.

Malam semakin larut, tapi aroma wangi itu tak pernah pudar. Mungkin inilah cara alam mengingatkan kita: bahwa setiap tragedi menyimpan benih kebijaksanaan, dan setiap luka bisa menjadi pintu menuju pemahaman yang lebih dalam tentang arti cinta dan pengorbanan.

Darju Prasetya, pengarang lahir di Tuban, Jawa Timur. Karyanya pernah dimuat di beberapa media cetak maupun online. Buku antologi cerpen terbarunya berjudul “Dunia dalam Warna-Warni”.

sumber : kompas.id, 02 Apr 2025.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme