Cerpen : Selepas Buhaji Pergi oleh Dwi Ratih Ramadhany
Aku dilarang menangis. Katanya, kepergian adalah hal yang niscaya. Namun, bagaimana mungkin? Akulah yang selama belasan tahun tidur bersamanya, meletakkan jari telunjuk dan tengahku di antara hidung dan mulutnya, memastikan dia masih bernapas. KUDENGAR suara ibuku mendorong keluar lendir lengket dari rongga hidungnya. Aku tahu dia belum berhenti menangis sejak Buhaji tak lagi mampu bicara. … Baca Selengkapnya