Cerpen : Selepas Buhaji Pergi oleh Dwi Ratih Ramadhany

Aku dilarang menangis. Katanya, kepergian adalah hal yang niscaya. Namun, bagaimana mungkin? Akulah yang selama belasan tahun tidur bersamanya, meletakkan jari telunjuk dan tengahku di antara hidung dan mulutnya, memastikan dia masih bernapas. KUDENGAR suara ibuku mendorong keluar lendir lengket dari rongga hidungnya. Aku tahu dia belum berhenti menangis sejak Buhaji tak lagi mampu bicara. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Sepetak Surga Suatu Hari oleh Dwi Ratih Ramadhany

TIDAKĀ ada yang istimewa dari desa itu, kecuali gulungan ombak setinggi bukit yang menerjang kediaman mereka pada sebuah malam yang sunyi. Angin seperti berembus hati-hati menerpa dedaunan dan menepuk tengkuk hingga ujung kaki. Penduduk desa tidur amat nyenyak malam itu, laut menelan jerit para nelayan yang luput membaca pertanda dari langit lepas sepertiga malam. Ketika fajar … Baca Selengkapnya