Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Selepas Buhaji Pergi oleh Dwi Ratih Ramadhany

Posted on Ming, 11 Jun 2023

Aku dilarang menangis. Katanya, kepergian adalah hal yang niscaya. Namun, bagaimana mungkin? Akulah yang selama belasan tahun tidur bersamanya, meletakkan jari telunjuk dan tengahku di antara hidung dan mulutnya, memastikan dia masih bernapas.

KUDENGAR suara ibuku mendorong keluar lendir lengket dari rongga hidungnya. Aku tahu dia belum berhenti menangis sejak Buhaji tak lagi mampu bicara. Saat aku datang, ibu buru-buru menyeka kedua mata, memelukku dan berkata lirih, ”Buhaji sudah tiada.”

Dia mengakhiri kata terakhirnya sambil menumpahkan lagi rasa kehilangannya. Aku mengelus-elus punggungnya yang naik turun, apakah mengalir juga perasaan lega di dadanya?

Aku dilarang menangis, tapi ternyata bedakku jadi luntur karena duka itu terus mengalir tanpa bisa kuminta berhenti.

”Buka sebentar saja, cium keningnya. Kalau anak dan cucu tidak apa-apa, masih sedarah,” anak tertuanya membuka kafan bagian wajah dan menyilakan adik serta keponakannya yang baru sampai untuk melihat jenazah Buhaji.

Duka itu kembali menderas dan berhasil meruntuhkan pertahananku saat sekilas kulihat wajah Buhaji. Aku tak bisa menyentuhnya, aku bahkan tidak diajak untuk mendekat demi memperhatikan wajahnya untuk kali terakhir. Sekilas, kulihat tulang pipinya yang menonjol dan warna kulitnya yang pucat. Itu membuat reka ulang kebersamaanku dengannya berputar cepat di kepala.

Cahaya berkilatan dari ponsel orang-orang yang mengelilingi keranda Buhaji. Aku tahu mereka ingin mengabadikan momen ini. Namun, itu tetap terasa menjengkelkan sekali, mengapa mereka sampai hati?

”Ke mana si Amir?”

”Menemani tamu.”

”Sudah ada Hamzah, jangan fafifu terus. Minta dia siap-siap, sebentar lagi kita antar jenazah ibu.”

Amir yang mendengar namanya dipanggil oleh kakak tertua segera bangkit dan pamit pada tamu di hadapannya. Pria berusia 60 tahun itu adalah anak bungsu. Matanya sedikit merah dan agak sembap, mungkin menangis karena akan kehilangan bantuan Buhaji yang selama ini ikut menyokong kehidupannya bersama istri baru dan anak-anaknya.

”Aku ikut Mbak Tin di mobil Cipta ya?”

”Motoran aja, mobilnya enggak cukup. Aku aja nyempil kok sama Mbak Nur.” Anak kedua, perempuan satu-satunya di keluarga itu, menolak dengan judes.

Hampir semua orang tidak menyukai si anak bungsu yang menyusahkan. Beberapa mungkin sekadar memaklumi atau belum mengetahui tabiat si bungsu yang sulit mandiri walau sudah beranak-istri.

Meski tinggal berbeda kota, jarak rumahnya paling dekat dengan Buhaji. Namun, dia justru jadi yang paling jarang mengunjungi ibunya sendiri.

”Datang kalau ada perlunya aja,” begitu ungkap anak ketiga Buhaji tiap kali jadwal kunjungan mereka berbarengan.

Tak hanya itu, dia adalah anak yang, menurut keempat saudaranya, paling dimanja oleh Buhaji. Rumah diberi, sembako tak pernah absen dia ambil sendiri. Pernah dia mencalonkan diri sebagai anggota DPR. Buhaji menjual tanah dan emas untuk dipinjamkan kepada putranya, tapi tak ada hasil yang didapat.

Utang itu kabarnya tak pernah lunas, toh dimakan anak sendiri, katanya.

Selain si anak bungsu ini, anak pertama hingga keempat memiliki sikap yang biasa saja. Biasa menggerutu karena Buhaji dianggap pilih kasih, biasa merepotkan Buhaji dan bhareng1-nya setiap kali datang, dan biasa menyuruh-nyuruh anak angkat untuk menuruti keinginan mereka.

”Aku ingin makan ini.”

”Aku ingin makan itu.”

”Aku ingin makan ini dan itu, banyak sekali.” Tak kenal musim, tak peduli kalau harus dicari atau dipesan jauh-jauh hari. Semua harus ada saat itu, persis yang seperti itu.

Mereka tidak akan memaksa, tapi setiap beberapa jam mereka akan kembali bertanya, ”Kalau ini ada? Kalau itu saja bagaimana? Tidak mau yang ini, harus yang itu. Tidak ada ya? Kalau begitu tidak usah, tapi dulu ada yang seperti ini. Masih belum nemu juga ya?”

***

Para cucu dan orang sekitar memanggilnya Buhaji. Sehari setelah Buhaji pergi, sikap ibu pada kami mulai terlihat berbeda. Frekuensi pertengkaran antara ibu dan adik bungsu kami lebih jauh berkurang. Bahkan ibu tak lagi banyak mengomentari caraku mengasuh anak atau membahas kenapa berat badan anak pertama kakak perempuanku jadi turun banyak.

Padahal, topik-topik itu biasanya jadi bahan bakar adu mulut kami dengan ibu. Dengan adik kami, ibu jadi tak terlalu sering menyemburkan amarah akibat kelalaian adik pada kebutuhannya sendiri. Begitu pun pada ayah, usahanya ikut membereskan rumah setelah pensiun juga semakin jarang dikomentari.

Tentu saja ini adalah kabar baik untuk kami. Ibu juga jadi punya lebih banyak waktu untuk beristirahat dan memikirkan diri sendiri. Sayangnya, kabar baik ini juga melahirkan kekhawatiran lantaran ibu lebih sering menangis, entah karena merasa lega atau sedih?

Selepas Buhaji pergi, tak ada lagi yang menelepon ibu belasan kali sehari. Selepas Buhaji pergi, tak perlu lagi ibu mondar-mandir dari rumah kami ke rumah Buhaji sehari tiga kali. Mungkinkah ini juga yang dialami oleh anak-anak angkat lainnya selepas Buhaji pergi?

Anak-anak angkat itu sangat terikat padanya, lebih dari anak-anak Buhaji sendiri. Mereka tidak akan dibayar sebagaimana Buhaji membayar bhareng.

Anak-anak angkat itu, yang selamanya merasa berutang budi pada Buhaji, dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Tidak, Buhaji maupun lima anaknya itu tidak bersikap buruk pada mereka.

Dari kecil mereka diberi pakaian layak, disekolahkan, diajari cara mencuci dan memasak. Bila beruntung dan sangat cekatan, mereka akan dapat lahan dekat rumah Buhaji secara percuma untuk membangun rumah sendiri. Semua tidak lain akan kembali pada Buhaji dan anak-anaknya. Anak-anak angkat itu tidak pernah memiliki diri mereka sendiri.

Sementara semua anak kandung Buhaji tinggal merantau. Anak pertama, kedua, dan ketiga tinggal di kota S, anak keempat di kota D, dan anak bungsunya di kota P. Mereka menjalani kehidupan bersama anak dan suami atau istri dengan tenang. Setiap bulan akan mengirim uang yang tak seberapa pada Buhaji, untuk biaya sehari-hari dan upah bhareng yang menginap di rumah Buhaji.

”Rumah ini nanti aku saja yang tempati,” si anak bungsu unjuk gigi.

”Enak saja. Lebih baik dibiarkan kosong. Siapa saja dari kita yang datang berkunjung boleh menginap di sini,” ujar anak pertama yang rutin menengok sebulan sekali.

”Tapi kalau rumah ini terlalu lama kosong, nanti dihuni jin,” anak ketiga menolak usul itu dengan hati-hati.

”Nanti kan ada Atun sama Tutik yang bisa ke sini setiap hari, buat buka jendela waktu pagi dan ditutup menjelang magrib. Disapu seminggu dua kali juga sudah cukup.” Si anak keempat yang tinggal paling jauh di kota D adalah anak yang paling banyak mengirim uang bulanan kepada Buhaji. Semua permintaan Buhaji hampir selalu dituruti oleh anak keempat ini.

Aku mendengarkan sambil mengernyit, menghentikan bunyi centong dan gelas yang berbenturan karena menuang es kelapa. Anak kedua tak banyak bicara. Pernah dia berkata pada ibuku bahwa sebagai sesama perempuan, dia tahu rasanya kelelahan mengurus Buhaji.

Dia juga pernah mencoba membawa Buhaji tinggal di kota S bersamanya. Rasa lelahnya bertambah jadi tiga kali lipat karena dia juga harus berusaha membuat Buhaji betah dan bekerja sepanjang hari. Tanpa bantuan pekerja rumah tangga dan anak-anak angkat yang selama ini menuruti setiap perintah Buhaji, dia merasa tak sanggup.

Meskipun santer terdengar ungkapan ”satu ibu sanggup mengurus sepuluh anak, tapi sepuluh anak belum tentu sanggup mengurus satu ibu”, untuk kasus Buhaji aku bisa menjamin semua anak kandung dan angkatnya pasti tetap akan merasa kelimpungan mengurus Buhaji.

Aku tahu. Akulah yang selalu menemaninya sepulang sekolah dan tidur di sampingnya hingga usiaku 17 tahun. Namun, aku juga yang akan jadi sasaran omelan ibuku jika di hari-hari besar aku duduk bersama cucu-cucu kandung Buhaji, ikut makan dari meja utama, atau tidak segera membantu mencuci piring-piring bekas makan mereka.

”Semua sudah dianggap seperti anak dan cucu sendiri. Walau ibu sudah tidak ada, kami akan tetap datang ke rumah ini. Dua-tiga bulan sekali, yang pasti pas Lebaran ke sini,” begitu penjelasan anak-anak Buhaji di depan tamu-tamu yang melayat beberapa hari kemudian.

Aku memandangi ibu. Dia masih bergeming, terlihat sedikit melamun, kemudian membuang napas pelan begitu anak pertama Buhaji mengakhiri kalimatnya.

”Ayo pulang.”

”Sekarang?” tanyaku bingung, tamu-tamu jauh belum juga pulang.

”Kalau kamu masih mau di sini, ibu bisa pulang sendiri.”

Aku segera bangkit dan meninggalkan rumah Buhaji bersama ibu yang membonceng di motor.

Di rumah, ibu menyetel ponselnya ke mode hening. Kulihat belasan telepon tidak terjawab dan beberapa pesan WhatsApp juga tidak dibaca.

Ibu hanya nyengir dan duduk memandangi TV yang menyala, terlihat tidak benar-benar menonton iklan yang sedang tayang. Lalu, kulihat sekilas ibu menyeka hidung dengan baju di bagian lehernya. Aku hanya bisa menebak-nebak isi kepalanya.

Selepas Buhaji pergi, bagaimana ibu akan menghadapi anak-anak kandung itu?

Ibu menghampiri cucu-cucunya, mengusap kedua tangan dengan cairan pembersih, lantas menyuapi mereka dengan es buah segar buatannya. (*)

1Bhareng: pekerja rumah tangga (bahasa Madura)

—

DWI RATIH RAMADHANY : Bekerja sebagai editor dan penulis Silsilah Duka (Basabasi/2019)

sumber : JAWAPOS, Minggu, 11 Juni 2023

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme