Cerpen : Seekor Anjing yang Kunamai Namamu oleh Hendri
Kemarin, tak lama setelah kepergianmu, anjing kampung itu beranak di halaman belakang. Cuma satu ekor. Bulu putihnya berlumuran darah dan cairan lain yang—aku tak yakin—sepertinya itu ketuban. Baunya amis. Harus aku apakan? Kamu tahu aku tak suka binatang. Aku sempat marah saat November dua tahun lalu kamu pulang kerja sambil menggendong seekor anjing kecil. ”Kakinya … Baca Selengkapnya