Kemarin, tak lama setelah kepergianmu, anjing kampung itu beranak di halaman belakang. Cuma satu ekor. Bulu putihnya berlumuran darah dan cairan lain yang—aku tak yakin—sepertinya itu ketuban. Baunya amis. Harus aku apakan? Kamu tahu aku tak suka binatang. Aku sempat marah saat November dua tahun lalu kamu pulang kerja sambil menggendong seekor anjing kecil. ”Kakinya pincang, tak sengaja aku tabrak di jalan tadi,” jawabmu ketika kutanya untuk apa. Katamu, kamu akan melepasnya setelah dia pulih. Tapi semakin hari kulihat kamu semakin akrab dengannya. Kamu bahkan memberinya nama dan mengajaknya jalan-jalan setiap sore.Untungnya sore kemarin Sam, adik laki-lakiku, datang untuk menginap. Dia bersihkan anak anjing itu dengan air hangat dan memberi makan induknya selagi aku memasak pasta gnoci, satu-satunya sisa makanan yang ada di dapur.Kamu tahu, di malam ketika kamu putuskan untuk pergi, anjing itu menggonggong keras, membuatku terbangun dan menyadari ketiadaanmu. Aku mendengar sepeda motor matic-mu meninggalkan halaman depan, menjauh, dan menghilang. Aku membayangkan rute pelarianmu, setiap tikungan yang kamu pilih dengan kesal, rasa kecewamu terhadapku setiap kamu menarik tuas gas. Dan aku menggigil membayangkan angin malam yang menerpa tubuhmu. Malam itu aku bangun dari tempat tidur dan tidak melakukan apa-apa. Tapi, apa kamu berkendara sambil berurai air mata? ”Anjing itu hamil,” katamu saat kita menonton televisi bersama.”Kenapa bisa?” Pertanyaan bodoh itu keluar karena aku tak tahu harus merespons apa.”Karena dia anjing betina, Elly,” jawabmu. ”Setiap yang punya rahim seharusnya bisa hamil.”Aku refleks pergi ke dapur untuk mengambil segelas air dingin. Obrolan semacam itu membuatku gerah. Tapi kamu tetap berbicara, ”Mungkin dia jatuh cinta pada seekor anjing jantan saat aku membawanya jalan-jalan di taman.”
”Apa?” aku berteriak dari dapur. ”Aku tak bisa mendengarmu, suaramu tertutup suara televisi.””Aku bilang, anjing itu membuat anak di taman,” kamu balik berteriak. Aku pura-pura tak mendengar.”Anjing kita betina, dia punya rahim, dan sebentar lagi akan punya anak,” kamu berteriak.
Aku masih pura-pura tak mendengar dan tanpa kusadari aku mulai menangis. Dan masih suka menangis saat mengingat-ingat itu lagi—seperti saat ini.Kuseka air mata sialan ini saat Sam datang ke dapur menggendong anak anjing yang sudah dibersihkan itu.”Anjing laki-laki,” katanya. ”Mau diberi nama siapa?”Aku mengangkat kedua bahu. Kutuang pasta sialan ke wadah sialan dan membawanya ke meja makan sialan. ”Apa aku sudah cukup pucat dan kurus seperti orang kehilangan?” tanyaku pada Sam.
Sam mengerutkan alis dan menatap ke arahku dengan heran seolah bertanya apa yang ingin kukatakan.”Tobias,” kubilang. ”Anak anjing itu kuberi nama Tobias.”
Sam diam saja. Setelah kau pergi, perkara makan pasta begini saja sanggup membuatku kesal. Garut, 30 Januari 2022 Tentang penulis: Hendri lahir di Garut dan mulai menulis di pertengahan 2017
sumber : kompas.id, 10 Mar 2022.