Cerpen : Kiai Sili (Sebuah Otobiografi) oleh Ida Fitri

Aku terlahir cukup sehat dari ibu yang sehat, namun aku tak punya nama, aku tak suka itu! Tak punya nama memang lazim untuk kami, yang hidup berkelompok dengan bapak yang meletakkan air mani di banyak puki. SAAT kutanyai ibu, ia menjawab, ”jangan berlebihan,” lain kali, ”jangan aneh-aneh.” Tetap saja aku ingin punya sebuah nama, seperti … Baca Selengkapnya

Cerpen : Komisi Kebenaran (Sebuah Reportase) oleh Ida Fitri

Oleh IDA FITRI — Aku sedang menyedot kopi hitam dingin kala Yah Wa muncul dan mengempaskan pantatnya di kursi besi di depanku sambil memaki, ”Celaka! Komisi Kebenaran celaka!” AKU terbatuk-batuk beberapa kali, dan hampir tersedak sedotan. Sebagai komisioner termuda sekaligus satu dari dua komisioner perempuan, ucapan Yah Wa menyetrum tubuhku, lebih tepatnya menyetrum aku yang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Perihal Lukmanul Hakim dan Kisah dalam Kitab Suci oleh Ida Fitri

Sebuah nama yang terlalu berat untuk disandang manusia biasa, yang melambangkan kebajikan, yang dipenuhi hikmah, yang telah terstempel malaikat surga; itulah Lukmanul Hakim. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepadanya, Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah, sesungguhnya itu adalah benar-benar kezaliman yang besar (QS Luqman: 13). DEMI … Baca Selengkapnya

Cerpen : Wabah oleh Ida Fitri

Setelah kejadian lintah menempel di kulit putihnya, Cuda Aminah selalu merasa ada sesuatu yang dingin di lipatan kaki, yang membuat perempuan itu mengulangi gerakan yang sama; menarik ke atas kain sarung yang menutupi betis, memastikan tidak ada makhluk menjijikkan itu yang menempel di kakinya. — MASIH takut, Cuda?” tanya Kak Limah. Tumpuk beunyeut yang dicabutnya … Baca Selengkapnya

Cerpen : Dua Belas Kebijaksanaan oleh Ida Fitri

”Aku dibesarkan dengan hikayat para prajurit berkuda Mongol yang membakar buku-buku di Rumah Kebijaksanan dan membuang abunya ke sungai Tigris, yang membuat air sungai itu berubah hitam,” ujarku kepada Tuan Aiyubi, pendongeng di kota Tralala, dalam salah satu perjalananku. Semenjak memutuskan menjadi pengembara, aku sudah menyinggahi banyak kota, bertemu dengan orang-orang dari berbagai warna kulit; … Baca Selengkapnya